Gea seorang gadis desa yang ceria mencintai Dio teman sejak kecil dengan diam-diam. Ia mengejar cita- citanya dengan melanjutkan studinya di kota. Dengan sekelumit masalahnya di sana.
Dio teman Gea yang jatuh hati pada Gea sejak sekolah. Seorang pemuda dari kalangan biasa yang menjadi tulang punggung keluarga, dan terjebak dalam perjodohan dengan Desi anak majikannya.
Jarak memisahkan mereka apakah cinta mereka dapat diperjuangkan?
Demi kemanusiaan Dio melepaskan rasa cinta yang ada pada dirinya yang telah lama. Menerima perjodohan yang datang tiba-tiba.
Dapatkah cinta mereka bersatu, atau hanya memendam rasa cintanya dalam diam.
Novel ini khusus untuk dewasa bijaklah dalam membacanya.
terimakasih
Revisi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Utiks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PACAR TAMPANKU
**Jangan lupa like & vote nya **
Setelah menerima telpon dari bosnya Dio masuk ke dalam kantor menemui Desi. Gadis itu tertidur di sofa dengan masih menggunakan seragam sekolahnya, mungkin lelah habis pulang sekolah langsung kerja.
Memeriksa beberapa berkas yang ada di meja yang harus dia selesaikan buat laporan, Dio membangunkan anak bosnya.
" Des, Desi.. bangun sudah sore" ternyata sulit juga bangunin bocah ini.
Dio semakin mendekati sofa memandang wajah Desi yang cantik kagum, walaupun posisi tidur.
Sedikit menggoyangkan tubuh Desi dengan tangannya. Namun tiba-tiba tangannya ditarik dan tubuh Dio jatuh kedalam pelukan menimpa tubuh anak bosnya itu.
" Eh... " Dio mencoba bangun dan melepaskan pelukannya. Desi membuka mata dan terkejut melihat Dio ada dihadapannya.
" Kak Dio ada apa ?" bengong setengah sadar sampai hampir menetes liurnya.
" Ha ha.. kamu ini Des tuh. hampir jatuh ilernya 😀" tertawa
" Kak Dio awas ya, aku bilang papa nanti!" sungutnya mencari cermin dan membasuh mukanya di toilet terlebih dahulu.
" Mau bilang apa hah ? ayo sudah sore nih mau pulang gak?" menarik tangan.
" Papa gak ke sini ya kak? "raut kecewa pada wajahnya.
" Tidak tadi pesan sama kakak suruh antar kamu pulang, sopir kamu sama pak Hendra sekarang soalnya" ucap Dio menjelaskan.
" Ya sudah tapi nanti mampir dulu ya ke supermarket ,beli sesuatu "
Dio menganggukkan kepala dan mengambil sepeda motornya. Dia sudah terbiasa mengantarkan Desi pulang ke rumah dengan motornya saat pak Hendra lagi ke luar kota. Asalkan hari gak hujan, kalau hujan ya naik taksi. Desi memang lebih suka dibonceng sepeda motor biar bisa merasakan udara bebas katanya.
Sampai di supermarket mereka turun, banyak yang melihat pasangan ini berdecak sangat serasi. Tapi mereka cuek tak menggubris bisik-bisik pengunjung lain. Sehingga sampai antri di depan kasir.
" Sudah selesai mbak belanjanya? wah pacarnya tampan sekali 😄 " kata mbak kasir.
Ini kasir kog usil banget apa memang begini pelayanannya ? perlu ada komplain pelanggan nih.
" O, itu dia.. " belum selesai bicara Dio menutup mulut Desi dengan jari telunjuknya memberi isyarat supaya diam.
" Mesra sekali, terimakasih sudah belanja hati-hati ya mbak pacar tampannya dijaga biar gak diambil orang " kata mbak kasir terseyum😄😄
Mereka berjalan keluar dari supermaket tiba-tiba datang dua orang lelaki menjahili Desi.
" Adik manis maukah pergi denganku? " kata pemuda itu.
Dio pasang badan di depan Desi.
" Heh! kamu ! Apa gak lihat ya dia pacarku jangan berani - beraninya ganggu!! " teriak Dio.
Pemuda itu mencengkram dan menarik baju Dio sedang yang satunya berusaha mendekati Desi.
Secepatnya Dio menendang keduanya dan Brukk.. terjatuh..
" Pergi kalian !! " Dio berteriak mencoba menendang mereka lagi.
Keduanya lari terbirit-birit,tak menoleh lagi ke arah belakang.
" Ka.. kakak gak pa-pa ?" tanya Desi mendekati Dio mencari kalau ada yang luka.
" Enggak ayo pulang sudah gelap" ajak Dio
" Aku kagum sekali sama kakak satu lawan dua andai saja kakak pacarku senang sekali 😄" tanpa sadar Desi mengucapkan kalimat itu.
" Yang bener kamu mau jadi pacar kakak?" menggoda Desi.
Desi malu dan sadar dengan kata-kata tadi, langsung berjalan di depan Dio menuju tempat parkir sepeda.
" Lupakan kak ayo pulang" wajahnya merah ketahuan.
Sepanjang perjalanan yang biasanya diisi candaan kini sunyi gak ada yang berucap sedikitpun sampai tiba di halaman rumah Desi yang sangat megah.
" Masuk dulu kak, nunggu papa ya? "
" Kamu takut sendirian atau pengin dekat saja denganku?"ucap Dio.mencoba menggoda
"Aiss.. sudah pulang sana aku bisa sendiri, ada mbok yem di belakang ,gak usah temani aku" sungut Desi kesal berjalan masuk ke rumahnya.
Dio hanya bermaksud menggodanya mengikuti dari belakang dan ikut masuk disambut mbok yem.
" Den Dio silahkan mandi dulu sudah mbok siapkan handuknya, tadi tuan besar pesan sama saya " kata mbok yem yang usianya sudah tua, sehingga pak Hendra selalu khawatir bila meninggalkan Desi hanya berdua dengannya.
Dio mandi di kamar tamu yang sudah disiapkan sesuai permintaan Hendra. Ini pertama kali Dio mandi dan membersihkan diri di sini, tak enak menolak permintaan bosnya, karena hari juga sudah petang. Pakaiannya juga sudah ada, seperti sudah disiapkan semuanya oleh bosnya itu.
Walau masih dengan rasa keheranan tapi Dio tak ambil pusing memikirkannya.Yang terpenting baginya kerja tanpa mengkhianati kepercayaan dari pak Hendra.
Selesai mandi dan sholat Dio beranjak keluar dan disana disambut mbok yem yang mengajaknya makan malam dengan Desi.
" Sebentar ya mbok saya telpon rumah dulu" ucap Dio mengambil ponselnya. Menghubungi ibunya mengatakan pulang malam karena lembur, karena keluarganya selalu menunggunya pulang dan makan malam bersama.
"Assalamu'alaikum ibu "
"Wa'alaikumsallam kamu kog belum pulang nak? "
"Ya bu, ini Dio ijin pulang agak malam ada lembur "
"Ya gak pa - pa hati - hati, jaga dirimu baik - baik ya nak assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsallam"
Selesai telpon menuju meja makan yang masih kosong, Desi belum turun masih di kamarnya.
" Saya panggil non Desi di kamar dulu den" pinta mbok yem pergi ke kamar Desi yang ada di lantai dua. Desi turun terkejut mendapati Dio ada sana.
" Katanya pulang gak mau menemani aku" ucapnya masih marah
" Aduh jangan cemberut dong nanti cantiknya ilang " merah wajah Desi di puji seperti itu.
Mereka makan dengan lahapnya. Dio memang sering mengantarkan Desi pulang tapi baru kali juga makan bersama di rumah besar ini.
Mereka semakin akrab akhir-akhir ini karena pak Hendra sering ke luar kota, atau memang sengaja membiarkan mereka lebih dekat.
Seperti saat ini, sambil menunggu kepulangan papanya Desi dan Dio nonton tv bareng di ruang tengah. Mereka bercanda seperti sepasang kekasih. Dio seperti sudah mulai melupakan Gea.
" Desi sudah punya pacar apa belum? "tanya Dio.
" Belum kak dan mungkin tidak pacaran " ucapnya santai.
"Kenapa ? mau langsung nikah saja hem? "
" Ha ha.. kakak lucu pacaran saja kagak apalagi nikah ogah.. "
" Ya sekarang bilang begitu, suatu saat malah minta di pacari atau dinikahi ha ha ... "
" Yee ... ogah gak mau " menimpuk Dio dengan bantal sangat keras"
" Kamu mau nempel sama papa terus memangnya gak pengen punya teman yang ganteng bisa diajak jalan gitu ?"
"Em ... gak tahu kayaknya pengen juga sih tapi kalau lihat di sinetron itu semua laki-laki kog gak setia ya kak ... "
" Kebanyakan nonton sinetron kamu" mengelus kepala Desi lembut.Yang merasa dielus merah mukanya diam nurut.
KOG DEG-DEG AN GINI YA.. batin mereka berdua.
Melepaskan tangannya dari kepala Desi ,sedikit menjaga jaraknya.Menatap mata dan bibir indah didepannya, Desi tersipu malu.
" Des, kamu mau gak punya pacar yang tampan ?"
OOH My God jantung Desi hampir copot mendengarnya. 😍😍
***
Tunggu UP berikutnya yaaa... 😄😄
semangaat 🆙😍
semangaat🆙😍
semangat 🆙😍