Mengandung Unsur 21+ di pertengahan cerita.. Harap lebih bijak dalam memilih bacaan.
Andita, ia bernasib buruk pada pernikahan pertama dengan suaminya yang bernama Tio.
Hidupnya penuh dengan pengkhianatan dan kekerasan, dimulai dari hadirnya mertua tiri atau bapak tiri suaminya yang tidak beres. Hingga ia harus menerima kenyataan bahwa suaminya juga menyimpan banyak rahasia.
Namun takdir Andita berkata lain. ternyata ia masih memiliki kebahagiaan yang menunggunya didepan, kebahagiaan yang teramat besar, Yaitu Rifqan suami Andita yang kedua.
Simak perjalanan hidup Andita selengkapnya di dalam novel yang berjudul PESONA suami yang kedua.
Jangan lupa follow Author ya, love you mmmuaachh..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELVI Ya Ya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkemas dan pergi
"Eh,, mas Tio? kok bengong sih.. lihatin apa memangnya."
"Ini lho.. itu ! maksudnya ditangan kamu itu apa? "
Hesty benar-benar membuatku salah fokus. Tapi ku akui dia memang janda yang sangat cantik. Ah, aku sangat berdausa jika sampai berfikiran macam-macam.
"Hehe, ini ya mas?" Hesty mengangkat rantangnya sejajar di kedua dadanya itu. Mungkin dia sengaja untuk memancingku.
"Iya? apa isinya."
"Sebentar dulu, Andita kemana?
"Tadi selesai shalat Magrib dia langsung berbaring untuk istirahat, kan kamu tau sendiri bagaimana kondisinya sekarang. Lagi hamil besar."
"Oh iya mas. Benar banget dia harus banyak istirahat."
"Yasudah mas, kita kedalam ya? Bukanya didalam aja, biar makannya tambah enak." Suaranya semakin mendayu, seakan sedang memberikan isyarat. Apa fikiran ku saja yang sudah berlebihan.
"Iya silahkan-silahkan."
"Mas, jangan berisik ya? kasian Andita nanti dia bisa kebangun." Hesty langsung berjalan menuju kedapur.
"Oh iya, okey"
"Kalian sudah makan belum?" Hesty meletakkan rantang itu diatas meja.
"Kebetulan belum, Andita sudah nggak sanggup masak. Dia juga sudah keburu tidur, katanya.. nanti aja makannya jam 8. Aku beliin dulu diluar."
"Nggak usah lho mas, ini aku bawain buat kalian. Sini mas liat dulu." Aku menghampiri Hesty dan masih menjaga jarak 30 centimeter darinya.
"Ini mas, udang balado buatanku. Udang baru lho mas rasanya masih segar." Hesty meletakkan satu anak rantang yang berisikan udang balado ukuran besar didepanku, sambil melangkahkan kakinya untuk lebih mendekat dengan ku.
"Ukuran jumbo ya Hes, pasti enak sekali."
"Iya dong, aku sengaja beliin udang ini. Karena aku sangat suka yang ukurannya besar-besar lho mas." Hesty Kembali membuat kode dengan menatap nakal kearahku.
"Hehe kamu bisa aja. Itu apa? kelihatannya enak juga."
"Ini sayur lodeh mas. Enak banget dimakan sama udang balado. Kamu mau makan sekarang? aku juga bawa nasi nih."
"Nggak usah Hes, belum lapar. nanti aja bareng Andita."
"Yasudah kalau gitu, aku mau pamit dulu ya mas?"
"Okey, makasih banyak Hes. Rantangnya besok saja dikembalikan sama Andita ya?"
"Tenang mas, itu gampang." Hesty keluar dari dapur sambil menatap kesegala arah.
"Wah, rumah kamu besar juga ya mas, kamarnya ada berapa?" Sambil berjalan barengan melewati beberapa kamar, akupun menunjukkannya pada Hesty.
"Ada empat. Yang keempat tadi ada dibelakang dekat dapur, tapi nggak ada wcnya didalam. Nah, kalau yang ini kamar ketiga ada wcnya. Itu mushallanya ada disamping.. sedangkan dua kamar lagi ada didepan, termasuk kamar aku dan Andita. Letaknya setelah melewati ruang tamu ini."
"Mas, bentar deh. Aku mau lihat WC yang ada dikamar ini." Hesty langsung menarik lenganku lalu masuk kedalam kamar ketiga.
" Nah pintu WC nya itu disebelah lemari. Ukurannya 1,5 x2.. Ya, tidak terlalu besar sih. Yang Paling besar ada depan, didalam Kamar utama." Aku tau maksud Hesty Menarikku kedalam. Tapi aku masih bersikap polos sambil menjelaskan semuanya.
"Depan mana mas paling besar?" Tanya Hesty, akupun berbalik badan kearahnya.
"Hesty ! apa yang kamu lakukan?" Aku sangat terkejut, melihat Hesty yang sudah menanggalkan pakaiannya diatas lantai.
"Kenapa mas, tidak boleh?" Tanya Hesty.
"Bukan seperti itu? kalau ada yang melihat kamu polos gitu bagaimana?" Akupun berlari kearah belakangnya untuk segera mengunci pintu.
"Melihat apa mas, trus ngapain kamu ngunci pintu? Ayolah mas nggak usah bohong. Kamu juga mau kan." Hesty berjalan kearah ranjang. Dia duduk disana mengodaku sambil mengelus-elus kulitnya yang halus.
"Benaran? " Tanya ku menyakinkannya. Sebenarnya aku sudah tidak bisa menahan diri lagi melihat pemandangan didepan ku. Tapi aku bisa apa, Nafsuku sudah meronta-ronta. Karena aku juga sudah lama tidak mendapatkannya dari Andita.
Aku pun terbuai dalam..
"Stop mas ! Jangan teruskan lagi cerita bodoh kamu itu. Apa kamu juga ingin menceritakan pada kami, bagaimana nikmatnya kalian ketika itu. Dasar nggak waras." Aku bukannya berubah fikiran. Malah tambah jadi benci sama mas Tio.
Mas Tio juga sangat bodoh. Dia sedikitpun tidak bisa berbohong tentang nafsunya terhadap Hesty. Dan menceritakan semuanya secara jujur hingga membuatku bertambah jijik.
"Andita. Laki-laki itu tidak akan berkhianat atau selingkuh, kalau perempuannya tidak memberi kesempatan."
"Sama saja. Dan bodohnya aku malam itu, aku juga mengatakan.. Mas? Hesty baik sekali ya sampai mau ngasih makanan sebanyak ini untuk kita. Tanpa ku tau, ternyata dia sudah mengambil yang jauh lebih banyak dariku."
Ku lihat kearah Hesty. Seandainya tidak ada janin itu didalam kandungannya, mungkin aku sudah menjambaknya dan menamparnya berulang kali.
Hmm, tapi aku harus tetap menahan diri. Apalagi melihat para tetangga mulai berdatangan mondar mandir dijalan. Mereka mungkin sudah tau apa yang sedang terjadi.
"Mas, aku minta hak ku sebagai istri sekarang juga. Aku mau pulang sudah muak disini terus. Oh iya, jangan lupa termasuk uang untuk menebus surat kepemilikan salon ku, yang ada ditempat pegadaian." Ucap Hesty dengan begitu Marah.
Wah, aku tidak menyangka. Mas Tio sama saja seperti menggali lobang untuk menutup lombang. Dia memberikan uang untuk Hesty lalu menggadaikan salon Hesty sebagai gantinya.
Biar tau rasa mas Tio. Mempunyai selingkuhan ternyata membuat hidupnya tidak tenang. Tubuhnya terjerat dengan berbagai tuntutan, hingga dia merasa selalu tidak berkecukupan.
"Kamu minta hak Hesty. Sini kamu, sini ! tempat kamu itu diluar. Sana pergi ! Tidak tau diri. Selama ini aku beri kamu 3 juta sebulan, itu sudah sebanding dengan utang pegadaian." Ucap mas Tio sambil teriak-teriak. Dia sudah menarik tubuh Hesty dan mendorongnya keluar.
"Mas?" Aku merasa tidak tega. Bagaimana kalau bayi itu sampai kesakitan, itu yang terlintas difikiranku.
"Sudah Andita. Duduk saja, biarkan mereka." Ucap Rifqan padaku. akupun menurutinya dan duduk kembali.
" Jika kamu tidak memberikan hak ku, maka aku juga akan melaporkan kamu ke polisi." Ancam Hesty.
"Silahkan ! cepat lapor sana." Akhirnya mas Tio langsung menutup kedua pintunya.
"Dia fikir aku tidak berani terhadapnya." Ucap mas Tio lalu berjalan kembali untuk duduk diatas sofa didekatku.
"Auw sakit. Awas kalian jangan menyentuhku." Teriak Hesty kembali dari luar.
Akupun langsung berlari dan membukakan pintu. Kulihat beberapa tetangga sedang mengerumuninya. Termasuk mbak Tutik. Aku tau, para tetanggaku sangat kasihan melihatku dan begitu membenci Hesty.
"Ternyata benar ya, kamu itu perusak rumah tangga Andita. Cepat minggat dari kompleks ini ! Kami tidak mau punya tetangga macam kamu.
Ya, mereka hanya menarik-narik baju Hesty tidak menyakitinya. Jadi aku tidak memperdulikannya lagi. Akupun langsung masuk kedalam supaya urusanku cepat selesai.
"Andita. Demi Mila Andita." Hanya itu ucapan mas Tio mungkin dia sudah kehabisan kata-kata.
"" Demi Mila kata kamu mas? dulu saat kamu melakukan semua ini, apa pernah kamu memikirkan Mila, tidak kan? Bahkan Mila tidak tau bagaimna kasih sayang dari seorang papanya. Mungkin dia menyebut kamu sebagai papa. Tapi kata papa itu hanya sebatas sebutan." Mas Tio menunduk mendengar ku.
"Coba tanyakan mila, apa yang dia tau tentang kamu. Tanyakan juga, apa dia mau bermain dengan kamu. Jalan ketaman berdua, makan berdua. Apa dia mau kamu temani tidurnya. Aku yakin, dia hanya akan menggeleng-gelenngkan kepala. Dia merasa asing sama kamu mas ! Jadi jangan sebut-sebut Mila lagi." air mataku terus berderai dan tak bisa kutahan.
"Sudah Andita. Ini harus cepat selesai jangan diperpanjang lagi." Ucap Rifqan. Mungkin dia kasihan melihat ku menangis.
"Baik Rifqan." Kulihat dia mengeluarkan amplop kuning yang sedikit tebal.
"Tio.. Ini pesangon kamu." Rifqan meletakan amplop itu diatas meja.
"Maksud kamu apa, pesangon apa? Memangnya kamu siapa, hah?"
"Kamu dipecat. Perusahaan ku tidak bisa lagi menerima karyawan yang tidak jelas seperti kamu. Memiliki permasalahan rumah tangga yang sudah sangat fatal sehingga membuat kamu tidak bisa fokus dalam bekerja. contohnya,, kamu pernah beberapa kali meminta cuti dengan alasan yang berisi kebohongan. Apalagi sekarang kamu berstatus sebagai pemakai barang haram. Dan tidak lama lagi kamu akan dikejar hukum. Jadi ini sudah keputusan yang terbaik dariku, sebagai pemilik perusahaan yang tidak ingin nama baik perusahaan tercoreng."
"Ini surat pengunduran kamu. silahkan ditandatangani" Ucap pak Hardian. Tidak kusangka, ternyata perusahaan tempat mas Tio kerja, pemiliknya adalah Rifqan.
Kulihat mas Tio yang semakin diam tak berkutik. Tatapannya sudah mulai kosong. Ia mengambil surat itu dan menandatanganinya.
"Surat perceraian, silahkan ditandatangani juga." Ucap pak Hardian kembali. Mas Tio pun menurutinya.
"Okey, sekarang sebagian rumah ini sudah menjadi milik Andita, jadi dia berhak untuk mengambilnya kapan saja. Dan untuk beberapa hari kedepan kamu harus siap mengikuti persidangan." Ucap Rifqan sedangkan mas Tio masih tidak menjawab.
Ada perubahan yang kulihat dari mas Tio yang tidak seperti biasanya. Tatapannya itu mengarah ke atas hingga memutari seluruh rumah. Yang pastinya dengan tatapan kosong dan setengah melamun.
"Andita, cepat berkemas ya. Aku tunggu di teras !"
"Baik Rifqan, sebentar."
Kubiarkan mas Tio dengan gelagatnya yang sudah aneh. Akupun masuk kedalam untuk berkemas. Dan pak Hardian juga minta izin untuk pulang.
BERSAMBUNG.
Wah, Tio kenapa ya itu?
.he he