Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan
Anin sudah mendengar semua kenyataan yang sangat pahit, bahkan sulit untuk ia terima. Anin menyeka air matanya, menenangkan hatinya, lalu berjalan meninggalkan ruangan El, dan membiarkan El bersama Elvira berdua.
"Sayang..." ucap El mencoba menahan lengan Anin, namun Anin berhasil melepaskannya dan berjalan dengan cepat keluar dari kantor El
Elvira menahan El untuk tidak mengikuti Anin, dengan menahan lengan El.
"El.." ucap Elvira seolah memberi kode bahwa jangan mengejar Anin.
El kembali terdiam, terlihat jelas frustasi diwajahnya. Ia merasa sudah benar-benar menyakiti perasaan Anin, dengan kehadiran Erina juga Elvira.
"Biarkan dia sendiri menenangkan dirinya, El.." ucap Elvira memberi penjelasan
El menuruti ucapan Elvira, lalu mendudukan tubuhnya di sofa ruangannya itu dengan sedikit kencang.
"Maafkan aku El, kami tak ada niat untuk menghancurkan rumah tangga mu dengan Anin. Kami datang kesini hanya karena..." ucap Elvira tiba-tiba tertahan, matanya berkaca-kaca memandangi amplop coklat yang ia bawa itu.
"Karena apa?" tanya El penasaran, dengan tatapan tajam membunuh kearah Elvira
"Karena berkas ini.. Aku ngerasa pernikahan kita harus segera di selesaikan" ucap Elvira menjelaskan lalu menyimpan amplop coklat itu diatas meja di hadapan El
...----------------...
Anin memanggil taxi, lalu segera masuk kedalam dengan cepat karena takut untuk diikuti oleh El.
"Jalan Pak.." ucap Anin pada supir taxi berbaju biru itu
"Baik Bu, tujuannya mau kemana ya?" tanya supir taxi itu karena belum mendapat tujuan
Anin lalu mengarahkan supir taxi itu untuk kerumah yang kini ia tempati bersama El, dengan meminta kecepatan tinggi agar segera sampai dirumah.
Sesampainya dirumah Anin, segera masuk kedalam.
"Tunggu sebentar ya Pak, saya mengambil barang dulu, lalu antarkan saya kembali" ucap Anin meminta ditunggu oleh supir taxinya
Supir taxi itu mengerti akan perintah Anin, ia menunggu dihalaman rumah Anin. Anin dengan cepat masuk kedalam kamarnya, membawa koper dan memasukan beberapa baju juga barang-barangnya.
Anin kembali keluar menuju taxi itu.
Inem melihat Anin yang terburu-buru itu.
"Bu Anin, mau kemana?" tanya Inem dengan sedikit berteriak
Anin tak menghiraukan Inem, ia langsung kembali masuk kedalam taxi yang sudah ia pesan tadi.
"Antarkan saya ke Bandung, Pak.." ucap Anin dengan cepat pada supir taxi itu
Supir taxi itu mengerti, dan langsung menjalankan mobilnya menuju Bandung, seperti yang di minta oleh Anin.
Di perjalanan, sesekali air mata itu kembali menetes, tatapan kosong ke sembarang arah, pikiran kesana kemari.
Anin tak tahu harus kemana, ia hanya ingin pulang kerumah tempat dimana ia dibesarkannya dengan kasih sayang dan cinta sesungguhnya dari orang-orang yang tak pernah menyakiti dirinya.
Sesampainya dirumah, Anin langsung masuk kedalam. Ia tahu ayahnya pasti belum pulang, karena rumah masih sepi. Anin punya kunci cadangan rumahnya itu, jadi ia bisa langsung masuk ke dalam.
Anin langsung mengunci dirinya di kamar.
Air mata terus mengalir deras dari matanya, ia memeluk erat bantal kesayanganny, kesakitan itu rasanya tak mampu ia bendung lagi. Rasa tak percaya, kecewa jelas sekali memuncak dalam hatinya.
"Kenapa sakit hati seperti ini aku rasakan lagi Tuhan?" ucap Anin disela-sela tangisnya
Waktu semakin larut malam, Anin tertidur saat menangis. Matanya sembab, wajahnya memerah, rambutnya kusut, tak sama sekali ia hiraukan.
Pak Hendra baru saja tiba dirumahnya. Ia tak menyadari adanya Anin didalam rumah, karena kondisi rumah yang gelap dan lampu yang belum menyala menandakan memang tidak ada siapa-siapa di dalam. Tanpa curiga, Pak Hendra masuk kedalam, menyalakan lampu, memasukan motor ke dalam rumahnya, lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
"Anin apa kabar ya sekarang?" ucap Pak Hendra pelan, tiba-tiba perasaannya ingat pada putrinya itu.
...----------------...
El baru saja tiba dirumahnya, ia sudah mengurus Elvira untuk sementara tinggal di apartemen miliknya, bersama dengan Erina.
El dengan cepat mencari Anin, ke kamarnya. Tak ada pikiran buruk dalam benaknya, ia menerka-nerka bahwa Anin hanya akan menangis dan mengurung diri di kamarnya. Dengan langkah terburu-buru El menuju kamar dirinya bersama Anin.
Inem yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, menghidangkan malam makan seperti biasa. Ia melihat majikannya itu berjalan terburu-buru, ia sudah menebak bahwa Anin dan El sedang ada masalah lagi.
"Pak..." ucap Inem memanggil El, seraya ingin memberi tahu bahwa Anin tidak ada
El tak menghiraukan Inem, ia langsung masuk ke dalam kamarnya mencari-cari Anin. Tapi Anin tak ada juga disana. El kembali keluar dari kamarnya, hendak mencari keruangan lain.
"Pak El.." ucap Inem dengan nada ketakutannya
"Dimana Anin?" tanya El dengan langsung pada Inem
"Itu dia yang ingin saya bilang Pak.. Bu Anin tadi pulang dan terburu-buru membawa kopernya, lalu pergi lagi.." ucap Inem dengan tergagap-gagap
El langsung merasa frustasi, ia tak habis fikir bahwa istrinya akan langsung pergi meninggalkannya.
El terduduk di sofa ruang tamu, mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
El langsung menghubungi nomor ponsel Anin, tapi tidak juga tersambung. Beberapa kali El mencobanya, hingga akhirnya ia lelah sendirian.
El memutuskan untuk menghubungi Pak Hendra, Ayah mertuanya. Karena ia sudah tak mampu lagi berpikir.
"Ttttuuuutttt...." sambungan telepon itu tersambung ke ayah mertuanya
Pak Hendra yang masih terdiam terduduk bersandar di sofanya, terkaget dengan suara ponsel yang ada di dalam saku celananya. Dengan cepat ia mengambilnya, dan menekan tombol terima.
"El?" ucap Pak Hendra sembari menekan tombol terima di layarnya
"Halo El.." ucap Pak Hendra lebih dulu menyapa menantunya itu
"Halo Papa.. Assalamu'alaikum.." ucap El dengan nada suara getirnya
"Walaikumsalam El.. Kamu kenapa? Ada apa?" tanya Pak Hendra merasa cemas ketika mendengar suara menantunya yang bergetar itu
"Pa, apa disitu ada Anin?" tanya El dengan perlahan, karena takut mengagetkan ayah mertuanya itu
"Anin? Bukannya Anin bersama kamu? Papa ini dirumah, Papa sendirian kok" jawab Pak Hendra dengan pertanyaan bertubi-tubinya
"Iya Pa.. Kami sedang ada masalah, tadi Anin nangis dan ternyata Anin tidak ada dirumah.." ucap El penuh penyesalan
Pak Hendra terkaget mendengar ucapan menantunya itu. Membuat ia sampai tak mampu lagi berkata-kata.
"Ini pasti masalah yang berat, Anin tidak mungkin sampai pergi jika hanya masalah biasa. Aku tahu Anin" ucap Pak Hendra dalam batinnya
"Pa, maafkan aku.. Maaf membuat Papa cemas. Aku janji akan menyelesaikan semuanya dengan baik, aku akan mencari Anin.." ucap El dengan langsung karena Pak Hendra tak juga menjawab ucapan dirinya
"Iya El.. Papa percaya sama kamu.. Apapun masalahnya selesaikan dengan hati yang dingin, dan pikiran yang terbuka.. Papa selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.." ucap Pak Hendra berusaha menenangkan hatinya di hadapan El, padahal hatinya sangat cemas pada putrinya itu
Sambungan telepon itu berakhir. Lagi-lagi El mengusap kasar wajahnya, frustasi terlihat jelas diwajahnya. Pak Hendra menaruh ponselnya di atas meja, dengan cepat ia berjalan menuju kamar putrinya itu, untuk sekedar mengingat putrinya itu.
Saat pintu itu hendak dibuka, Pak Hendra merasa bingung, pintu yang sangat sulit dibuka.
"Kenapa pintunya susah dibuka? Padahal tadi pagi masih bisa, sudah saya bersihkan juga" ucap Pak Hendra pelan pada dirinya sendiri
"Apa pintunya macet ini teh yaaa.." lanjut ucap Pak Hendra sembari terus berusaha membukanya dengan paksa
Anin terbangun karena mendengar suara pintu kamarnya seperti akan terbuka. Matanya jelas sangat sembab, kepalanya terasa sangat pusing.
"Iya sebentar.." ucap Anin dengan suara lirihnya
Pak Hendra langsung terkaget ketika mendengar suara putrinya dari dalam kamar. Pak Hendra sangat tercengang, tak percaya.
Anin membukakan pintunya, berjalan perlahan mendekat ke pintu.
"Anin?" ucap Pak Hendra tak percaya
"Iya Pa, sebentar.." jawab Anin dengan nada malas bangun tidurnya
Tak lama pintu itu terbuka, Pak Hendra sudah menatap dalam ke arah putrinya itu. Terlihat jelas bahwa putrinya pasti sedang merasakan sedih yang luar biasa. Pak Hendra langsung memeluk erat tubuh putrinya itu.
"Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Pak Hendra tak percaya
"Papaaa.." ucap Anin lirih, rasanya ingin sekali kembali menumpahkan air matanya tapi sulit, mungkin karena sudah terlalu lama ia menangis
"Papa maafin Anin yaaa.." ucap Anin dengan kembali memeluk Papanya itu
"Kamu ada apa sebenernya teh, Anin? El tadi yang ngomong ke Papa.." ucap Pak Hendra sembari mengelus rambut putrinya
Anin mengajak ayahnya itu untuk duduk di kursi meja makan. Anin menuangkan air minum untuk dirinya juga ayahnya itu, Anin lalu meneguk segelas penuh karena ia merasa haus dahaga.
"Nin, coba atuh cerita sama Papa.. Papa mah yakin, pasti ada masalah yang cukup besar, soalnya kamu sampai seperti ini.." ucap Pak Hendra lagi dengan penasaran
Anin menatap dalam mata ayahnya itu, lalu memegang tangan Ayahnya yang tersimpang di meja makan itu.
"Papa.. Sebenarnya El sudah pernah menikah, bahkan sudah punya anak, dan El belum pernah menceraikan istri pertamanya.." ucap Anin dengan mata sendunya, suaranya semakin lirih
"Apa?" ucap Pak Hendra merasa tak percaya dengan apa yang anaknya ucapkan itu
Anin mengangguk, ia tak mampu lagi berkata-kata. Ia terus memandang dalam kearah mata ayahnya itu.
"Papa maafin Anin.. Lagi-lagi Anin nyakitin hati Papa.." ucap Anin dengan terus memegang tangan Ayahnya itu
"Papa emang lebih sakit hati.. Tapi luka mu lebih menganga dan sulit di obati bukan?" ucap Pak Hendra pada Anin dengan tatapan harunya
"Kita selesaikan besok ya.. Kita temui orangtua El.." lanjut ucap Pak Hendra berusaha mencari solusi.
...----------------...
Sementara El hingga larut malam ia belum juga kembali kerumah, ia mencari Anin tanpa tujuan. El sudah hampir mengelilingi kota Jakarta, tapi belum juga menemukan Anin.
Pikirannya semakin penat, rasa bersalahnya terus menggelayuti, frustasi terlihat jelas di matanya.
"Kamu kemana Nin?" ucap El ketika mobilnya memilih untuk menepi di pinggir jalan