Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiang Listrik yang Menyebalkan
Sementara itu, di rumah, Yulia masih duduk di ruang tengah dengan ponsel di tangan. Tatapannya tertuju pada ruang percakapannya dengan Nafisa. Sejak tadi, ia sudah mengirimkan dua pesan kepada putrinya, tetapi belum ada satu pun balasan yang diterima. Bahkan, pesan tersebut masih menunjukkan tanda centang abu-abu.
Yulia mengusap layar ponselnya dengan ibu jari, berharap ada perubahan. Namun, layar itu tetap sama.
“Nafisa, kamu masih marah sama Ibu?” gumamnya lirih.
Ia terdiam sesaat, mencoba mencari alasan mengapa putrinya belum juga membalas pesannya.
Yulia mengembuskan napas panjang. Ia tak kunjung menemukan jawaban yang bisa menenangkan pikirannya.
Akhirnya, ponsel itu ia letakkan di atas meja.
Pandangannya beralih ke arah kamar yang biasa ditempati Nafisa dan Damar. Rumah terasa begitu sepi tanpa kehadiran putrinya. Tak ada suara percakapan ataupun langkah kaki yang biasanya terdengar dari dalam kamar. Hanya detak jarum jam yang sesekali memecah keheningan.
Yulia merapatkan kedua tangannya, lalu bangkit dari duduknya. Ia membutuhkan udara segar untuk menenangkan pikiran yang sejak tadi tak kunjung berhenti berputar.
Langkahnya membawa dirinya melewati ruang tengah menuju pintu belakang. Begitu tiba di halaman, ia menghirup udara dalam-dalam sebelum berjalan lebih jauh.
Namun, tatapannya tertuju pada bangunan gudang yang kini tinggal menyisakan sebagian dinding menghitam. Sisa kebakaran itu masih tampak jelas, dengan puing-puing berserakan di sekitarnya.
Yulia mematung.
Ia masih sulit menerima kenyataan bahwa tempat yang selama ini menjadi rahasia dirinya dan Damar telah hangus terbakar.
Perlahan, jemarinya mengepal. “Nafisa, apa malam itu kamu belum minum susu yang Ibu kasih?” gumamnya.
Tatapannya tak beranjak dari sisa bangunan tersebut.
. . .
Waktu berlalu tanpa terasa. Sejak pagi, Nafisa masih disibukkan dengan pekerjaannya sebagai kepala tim desain. Beberapa lembar sketsa sudah memenuhi meja, sementara layar komputernya menampilkan kerangka desain gaun yang tengah ia susun untuk klien.
Sesekali, ia menggerakkan tetikus untuk mengatur detail rancangan, lalu mencatat beberapa ide yang muncul di kepalanya.
“Naf, sudah waktunya makan siang, nih.”
Suara Variz membuat Nafisa mengalihkan pandangan dari layar komputer. Ia menoleh sekilas kepada rekan kerjanya itu, lalu kembali memusatkan perhatian pada desainnya.
“Kalian duluan saja, Riz. Aku masih mau menyelesaikan ini.”
“Yaudah, gue beliin makanan buat Lo. Lo mau apa, Naf?”
Nafisa menghentikan gerakan tetikusnya. Ia berpikir sejenak, kemudian melirik Dea, Xia, dan beberapa anggota tim lainnya yang masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Susu sama kue isi cokelat saja.”
“Oke, beres!”
“Tidak perlu ke mana-mana. Saya sudah membawakan makanan untuk kalian.”
Suara yang begitu dikenalnya itu membuat beberapa karyawan serentak menoleh.
“Pak Dewangga!” seru Dea spontan.
Nafisa sendiri hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap layar komputer. Ia sudah bisa menebak siapa yang datang tanpa perlu bersusah payah mengangkat kepala.
Bunyi langkah sepatu pantofel terdengar mendekat. Tak lama kemudian, Dewangga berhenti tepat di samping meja kerjanya dan meletakkan beberapa paper bag berlogo restoran ternama di atas meja.
“Kalian sibuk, jadi saya bawakan makanan. Tidak perlu repot-repot keluar kantor.”
“Wah, terima kasih banyak, Pak!” sahut Variz dengan wajah semringah.
Ucapan terima kasih pun terdengar dari beberapa anggota tim lainnya.
Nafisa akhirnya menghentikan pekerjaannya. Pandangannya beralih pada paper bag di atas meja, lalu perlahan naik menatap Dewangga yang ternyata sedang memperhatikannya.
Pria itu membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa jarak beberapa sentimeter di antara mereka.
“Tenang saja, tidak ada racun,” bisiknya.
Mata Nafisa membulat sesaat. Ia bisa merasakan tatapan beberapa rekan kerjanya mulai mengarah kepada mereka. Tidak ingin menimbulkan bahan gosip baru, Nafisa segera mendorong bahu Dewangga pelan agar pria itu kembali menjaga jarak.
“Terima kasih makanannya, Pak,” ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
“Kalau begitu, saya tinggal. Habiskan makanannya, jangan sampai ada yang tersisa.” Ia melirik seluruh anggota tim sebelum kembali menatap Nafisa. “Kalau ada yang tidak memakannya, beri tahu saya. Biar orang itu saya paksa makan.”
Nafisa menyipitkan mata. ‘Jelas-jelas ucapan itu ditujukan kepadaku.’
Namun, ia memilih tidak menanggapi. Percuma berdebat dengan atasannya itu, terlebih di depan rekan-rekan kerjanya.
Dewangga kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan dengan langkah santai.
Begitu pria itu menghilang dari ambang pintu, Dea langsung menghampiri meja dan mengintip isi paper bag yang dibawanya.
“Wah, makanan mahal! Jarang-jarang kita dibelikan makanan semahal ini,” serunya antusias.
Xia ikut mendekat, sementara Variz mulai membagikan kotak-kotak makanan kepada anggota tim.
“Naf, lo enggak ambil?” tanya Dea ketika menyadari Nafisa masih duduk di depan komputer.
“Nanti saja. Kalian makan dulu.”
Xia yang sudah membuka kotak makanannya langsung menggeleng.
“Aduh, kalau enggak dimakan sekarang, nanti makanannya keburu dingin. Enggak enak, loh.”
“Iya, Naf. Ingat ucapan Pak Dewangga tadi,” sambung Dea sambil menunjuk kotak makanan yang masih tersisa. “Katanya kalau ada yang enggak makan, bakal dipaksa.”
Nafisa mengembuskan napas panjang. Ia tahu rekan-rekannya hanya bercanda, tetapi mendengar nama atasannya disebut berulang kali membuat kepalanya terasa pening.
“Ya, ampun. Iya, aku makan.”
Akhirnya, ia menggeser kursinya sedikit, mengambil satu kotak makanan, lalu membukanya. Aroma masakan yang masih hangat langsung tercium, membuat perutnya yang sejak tadi kosong ikut terasa lapar.
“Bismillah,” gumamnya sebelum mengambil sendok.
Nafisa menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut. Setelah mengunyah dan menelannya, ia kembali mengarahkan pandangan ke layar komputer.
.
Dewangga yang kini berdiri di depan pintu ruang kerja Tim A. Ia belum benar-benar pergi, bahkan pandangannya masih tertuju pada Nafisa melalui celah pintu yang belum tertutup sempurna.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat wanita itu akhirnya menyantap makanan yang dibawanya.
Kedua sudut bibir Dewangga terangkat tipis.
“Pak.”
Suara Kalendra membuatnya mengalihkan pandangan sedikit. Asistennya itu berdiri tak jauh darinya dengan ekspresi serius.
“Ada informasi soal kejadian kemarin sore dan semalam.”
“Apa?” tanya Dewangga singkat.
Namun, pandangannya kembali menyelinap ke dalam ruangan.
“Nafisa sudah tahu pengkhianatan suami dan ibunya. Apalagi gudang itu.”
“Terus?”
“Setelah itu, malam harinya, orang tua Damar datang. Saya juga mendapat informasi mengenai percakapan mereka, terutama saat Nafisa—”
Dewangga mengangkat satu tangan, menghentikan ucapan asistennya sebelum Kalendra sempat menyelesaikan kalimat.
“Tidak perlu dilanjutkan. Saya bisa menebak sisanya.” Ia menghela napas pendek. “Mereka ketahuan, kan? Dan Nafisa ingin bercerai.”
Kalendra mengangguk pelan. “I-iya, Pak.”
Dewangga tidak segera menjawab. Ia kembali memandang ke dalam ruangan, tepat ke arah Nafisa yang kini sedang menyuapkan makanan sambil tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Sementara itu, di perusahaan AeroTea Group, Damar berdiri di hadapan atasannya dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya saling bertaut di depan tubuh, sementara Pak Ahmad menatapnya tajam dari balik meja.
“Per hari kamu hanya mampu menjual lima kardus?” tanya Pak Ahmad dengan nada tidak percaya.
Damar mengangguk pelan. “Iya, Pak.”
Brak!
Tubuh Damar sontak menegang ketika Pak Ahmad menggebrak meja. Ia mengangkat wajah sedikit, tetapi kembali menunduk saat mendapati tatapan atasannya semakin tajam.
“Kamu ini bisa kerja atau tidak, sih?! Menawarkan produk perusahaan saja tidak becus!”
“Maaf, Pak,” jawab Damar lirih.
“Coba lihat Dendi, Afif, dan Rizal! Belum genap seminggu, mereka sudah bisa menjual sampai dua puluh kardus. Sementara kamu?” Pak Ahmad menunjuk ke arahnya. “Apa yang kamu kerjakan selama ini?”
Damar meremas jemarinya sendiri. Ia tahu hasil penjualannya memang jauh dari target, tetapi mendengar dirinya dibandingkan dengan rekan-rekannya membuat harga dirinya terasa diinjak-injak.
“Saya sedang ada masalah, Pak. Jadi, akhir-akhir ini saya sulit berkonsentrasi.”
“Masalah apa?” Pak Ahmad menyandarkan punggungnya pada kursi. “Lihat Dendi! Dia juga sedang punya masalah dengan istrinya, tetapi tidak membawa urusan rumah tangga ke pekerjaan. Dia tetap bisa mencapai target!”
Damar kembali terbungkam.
Ia ingin membantah, tetapi tak tahu harus mengatakan apa. Pikirannya memang sedang kacau sejak beberapa waktu terakhir.
Ruangan mendadak hening. Pak Ahmad mengembuskan napas kasar sebelum menutup buku catatan yang sejak tadi berada di hadapannya.
“Kalian boleh melanjutkan pekerjaan. Kecuali Damar, kamu tetap di sini. Saya masih perlu bicara denganmu.”
Beberapa karyawan yang sejak tadi berdiri di dalam ruangan segera berpamitan. Damar hanya diam ketika suara langkah mereka menjauh, disusul bunyi pintu yang akhirnya tertutup.
Kini, hanya ada dirinya dan Pak Ahmad.
“Jadi, apa maumu sekarang, Damar?”
Damar mengangkat kepala. “Saya akan lebih fokus bekerja, Pak.”
“Bagus.” Pak Ahmad mengetukkan jarinya ke permukaan meja. “Tapi kalau hasil penjualanmu masih begini, jangan salahkan saya kalau gajimu dipotong sesuai aturan perusahaan.”
Damar menelan ludah. “B-baik, Pak.”
“Sekarang, lanjutkan pekerjaanmu. Saya tidak mau mendengar alasan yang sama lagi.”
Damar mengangguk cepat. Setelah berpamitan, ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah berat.
Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia berhenti di lorong. Punggungnya bersandar pada dinding, sementara kepalanya mendongak menatap langit-langit.
“Brengsek!” desisnya pelan.
Ia mengusap wajah dengan kedua tangan, berusaha meredakan kekesalan yang sejak tadi tertahan.
“Ini semua gara-gara Nafisa!” Rahangnya mengeras. “Kalau bukan karena masalah dengannya, aku gak mungkin kehilangan konsentrasi seperti ini.”
. . .
Waktu berlalu begitu cepat. Kesibukan di kantor perlahan mereda seiring matahari yang mulai condong ke barat. Langit siang yang semula cerah kini berubah menjadi jingga, menandakan sore telah tiba.
Di lobi perusahaan, Nafisa sudah berdiri sejak beberapa menit lalu. Sesekali, ia melirik jam di ponselnya, berharap sosok atasannya segera muncul. Namun, hingga jarum jam menunjukkan pukul setengah lima sore, Dewangga belum juga menampakkan batang hidungnya.
Nafisa mengembuskan napas panjang. Ia menyilangkan tangan di depan dada, lalu kembali menatap layar ponselnya.
“Pak Dewangga lama sekali. Apa jangan-jangan dia sengaja mengulur waktu?” gumamnya kesal.
“Kalau iya, kenapa?”
Bahu Nafisa sedikit terangkat saat suara familiar itu tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Ia segera menoleh dan mendapati Dewangga sudah berdiri di sana dengan satu tangan di saku celana.
Nafisa mengerutkan kening. “Pak, lama sekali! Bapak sengaja, ya?”
Dewangga menatapnya datar, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak penting.
“Masalah? Lagipula, saya atasanmu. Terserah saya mau membuatmu menunggu sampai kapan.”
Mata Nafisa membelalak. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jawaban pria itu. Bukannya meminta maaf, Dewangga justru berbicara seolah membuat orang menunggu merupakan hak istimewanya sebagai atasan.
‘Menyebalkan.’
Nafisa menggerutu dalam hati, tetapi memilih menahan diri.
“Ya sudah, ayo buruan. Saya mau segera pulang, terus beristirahat,” ujar Dewangga sambil berbalik.
Tanpa menunggu jawaban, pria itu melangkah lebih dahulu. Namun, baru beberapa langkah, ia tiba-tiba melemparkan tas kerja yang dibawanya ke arah Nafisa.
“Eh!”
Nafisa buru-buru menangkap tas tersebut sebelum jatuh ke lantai. Ia menatap benda di tangannya, kemudian mendongak ke arah Dewangga yang sudah berjalan menjauh.
Untung saja ia berhasil menangkapnya. Tas itu bukan tas sembarangan, melainkan tas kulit asli yang harganya mungkin bisa membuat dompetnya menangis.
Nafisa mendengus pelan. Pandangannya beralih ke punggung atasannya yang semakin jauh.
“Dasar tiang listrik! Badan saja yang atletis, tetapi beraninya menindas orang lemah,” gerutunya.
“Ngapain bengong?”
Suara dingin Dewangga kembali terdengar, membuat Nafisa tersentak.
Nafisa buru-buru merapatkan bibir. Ia mengeratkan pegangannya pada tas kerja Dewangga, lalu bergegas menyusul pria itu.
“Iya, Pak. Ini juga jalan!” sahutnya.
kasih kaca yg gede emakmu Nafisah, perut dah gede gitu ..dah tua juga, masih ga insaf juga...
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.