NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Sayap Iblis dan Pengejaran di Langit Alfheim

"Pakai jubah kain itu sekarang! Jangan sampai keberadaan fisik manusiamu terlihat oleh siapa pun di area istana ini."

Elisa melotot tajam penuh amarah, jemari manusianya menyibak jubah sutra yang sempat menutupi pandangan matanya.

"Kau... dasar makhluk tidak sopan! Kau pikir permukaan wajahku ini adalah tong sampah umum, hah?! Seenaknya sendiri main lempar barang ke wajah orang!"

Jonas sama sekali tidak memedulikan rentetan protes pedas dari gadis itu. Ia melongokkan kepala besarnya ke dalam jendela kereta, mengunci pergerakan Elisa dengan sepasang mata hitam pekat yang menancapkan tatapan mengancam.

"Cerewet sekali mulutmu itu," desis Jonas rendah. "Cepat pakai jubah itu dan jangan banyak bertanya lagi. Kau memiliki keinginan besar untuk pulang ke duniamu, bukan? Aku akan melempar tubuh manusiamu kembali ke dunia fana sekarang juga."

Elisa berdecak kesal menahan jengkel, namun ia tetap menuruti perintah itu, memakai jubah hitam berukuran besar milik Justin hingga kain mewahnya menutupi seluruh lekuk tubuh mungil manusianya.

Begitu sepasang kaki telanjangnya melangkah keluar melompati pintu kereta, ia langsung menyalak berang,

"Kau ini sebenarnya berniat tulus untuk menolongku atau benar-benar sedang ingin membunuhku secara perlahan, hah?!"

"Berisik."

Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan lisan apa pun, Jonas secara mendadak menyambar pinggang kecil Elisa, mengangkat tubuh manusianya ke atas udara dalam sebuah gendongan bridal style yang kokoh.

Detik berikutnya, sepasang sayap bulu hitam legam sepekat malam yang luar biasa lebar mendadak mencuat keluar membelah bagian belakang kemeja hitam Jonas.

Sayap itu mengepak kuat, membelah pasokan udara dengan suara kibasan yang teramat masif. Dalam satu kedipan mata saja, tubuh keduanya telah melesat tinggi menembus langit dimensi Alfheim dengan kecepatan supernatural yang gila.

Elisa memekik syok, separuh jiwanya terasa mau terbang terlepas akibat kejutan ekstrem ini. Kedua tangan manusianya refleks merangkul erat leher kekar Jonas demi keselamatan jiwanya.

"Kau... kau ini bukannya berasal dari bangsa Vampir?! Kenapa kau bisa memiliki sepasang sayap hitam besar menyerupai burung gagak begini?! Dan... kenapa ada sepasang tanduk hitam melengkung di atas kepalamu?!"

Jemari tangan Elisa yang menyisakan getaran dingin nekat bergerak meraba permukaan tanduk hitam melengkung yang mencuat di sela rambut hitam ikal Jonas, berharap dengan sangat bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk akibat kurang tidur.

"Sudah kubilang, kau adalah gadis fana yang teramat berisik!" bentak Jonas di sela-sela deru hantaman angin langit yang kencang.

"Aku memang merupakan bagian dari bangsa Vampir, tetapi aku adalah sesosok keturunan hibrida berdarah murni. Di dalam tubuhku mengalir perpaduan darah dari ras Vampir, Demon, dan Mermaid. Darah murni bangsa Demon di dalam tubuhku inilah yang memberiku sepasang sayap untuk terbang membelah langit. Sekarang tutup mulut bisingmu itu jika kau tidak memiliki keinginan untuk kujatuhkan dari ketinggian langit ini!"

Mendengar ancaman dingin itu, Elisa tidak berani lagi mengeluarkan suara dari mulutnya. Ia justru semakin mempererat cengkeraman kedua tangannya di sekeliling leher Jonas, merasa teramat takut jika ia melonggarkan pegangannya barang sedikit saja, tubuh manusianya akan langsung jatuh terhempas bebas menuju ke arah hamparan hutan purba Alfheim yang luas di bawah sana.

Ia memejamkan sepasang matanya rapat-rapat, membiarkan embusan angin kencang menerpa permukaan wajahnya dan mengacak-acak helaian rambut cokelat bergelombangnya yang sudah terlanjur berantakan sejak pagi.

****

Sementara itu, di sebuah kompleks rumah bergaya elegan minimalis di Kota Luminara manusia fana. Cedric Valerius baru saja menapakkan sepasang kakinya kembali di dalam rumah, dan dalam sekejap, jiwanya langsung didera oleh gelombang rasa panik yang teramat hebat. Ia sama sekali tidak mendapati keberadaan tanda-tanda fisik Elisa di setiap sudut ruangan rumahnya.

"Elisa! Di mana keberadaanmu?!" teriak Cedric lantang sembari melangkahkan kakinya dengan cepat, memeriksa ke setiap sudut kamar tamu dan ruangan.

Sisa aroma manis bunga lili yang menjadi karakteristik khas dari tubuh Elisa sebenarnya masih tercium samar merayap di udara, namun wujud fisik gadis itu seolah-olah telah hilang lenyap ditelan bumi fana.

Pikiran Cedric langsung terkunci pada satu kemungkinan terburuk. Ia berlari cepat menuju ke arah area dapur, dan jantung Immortal-nya nyaris saja berhenti berdetak saat sepasang matanya menatap ke arah lemari kayu antik di sudut ruangan.

Pintu lemarinya tampak sedikit terbuka. Cedric mendadak menyadari bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan fatal hari ini; ia lupa menutupi permukaan lemari sakral itu menggunakan kain penyaru sihir.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Cedric menarik lebar pintu lemari antik tersebut dan langsung melesatkan tubuh tegapnya masuk ke dalam, menembus gerbang gaib yang menghubungkan dapurnya menuju ke tengah jantung Hutan Alfheim.

"Cedric!" sebuah suara lembut nan agung milik seorang wanita seketika menghentikan pergerakan langkah kaki cepatnya di atas tanah hutan Alfheim.

Cedric memutar tubuhnya dengan cepat ke arah belakang. Di sana, tampak berdiri tegak sosok Stefany Elves, sang Putri dari faksi Elf Hutan, yang saat itu sedang didampingi oleh kedua anak kandungnya; Caelum Pendragon yang berusia sepuluh tahun, serta si bungsu Lyra Pendragon yang masih berusia tujuh tahun.

"Yang Mulia..."

Cedric bergegas menundukkan kepala dan membungkukkan tubuh besarnya dalam-dalam dengan penuh rasa hormat yang mutlak. Ia tampak teramat terkejut mendapati kehadiran istri dari Alan Pendragon itu berada di jalur perbatasan perlintasan gaibnya.

"Apakah... apakah Anda baru saja menyelesaikan kunjungan penting ke dimensi ini, Yang Mulia?"

Iya, aku sedang menjemput kedua anakku untuk bersiap pulang kembali menuju ke kediaman kami di Kota Luminara," jawab Stefany dengan mengulas seulas senyuman ramah yang menenangkan.

Ia sudah mengenal sosok Cedric dengan sangat baik semenjak pria pirang itu masih kanak-kanak; Cedric adalah putra tunggal dari mantan panglima prajurit Elf Hutan terhebat di Alfheim, yang memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya menetap di dunia manusia dan kini menjabat posisi politis penting sebagai Wali Kota Luminara fana.

"Kau sendiri... kenapa tampak sedang terburu-buru dan dilingkupi kepanikan yang luar biasa, Cedric? Mau pergi ke mana kau dengan tergesa-gesa seperti ini?"

Raut wajah Cedric mendadak berubah menjadi teramat gugup, butiran peluh dingin mulai membanjiri permukaan keningnya yang mulus.

"Saya... saya saat ini sedang memiliki sebuah urusan pribadi yang teramat penting dan sangat mendesak di dalam hutan, Yang Mulia. Saya harus segera pergi menyelesaikannya sekarang juga. Mohon permisi, Yang Mulia."

Cedric kembali membungkukkan tubuhnya memberi penghormatan, lalu tanpa menunggu untaian jawaban lebih lama lagi dari mulut sang putri, ia kembali membalikkan badan, berlari secepat kilat menyusuri rimbunnya vegetasi Hutan Alfheim. Ia terus menajamkan indra penciuman Elf-nya yang super sensitif, mati-matian mengikuti sisa jejak aroma manis tubuh Elisa yang kian menipis tertiup angin di udara.

Wussshhh!

Sebuah hembusan angin kencang yang membawa tekanan energi tidak alami mendadak menyapu hebat puncak pepohonan raksasa Alfheim, membuat dahan-dahannya bergoyang dengan ritme yang ekstrem.

Pergerakan langkah kaki Cedric mendadak terhenti seketika. Ia menatap tajam lurus ke arah langit, menembus celah-celah rimbunnya kanopi dedaunan purba.

Meskipun visualnya agak tertutup oleh bayangan awan, sepasang mata Elf milik Cedric sanggup menangkap sebuah siluet pergerakan terbang yang sangat ia kenali karakteristik energinya.

Sesosok makhluk dengan sepasang sayap hitam legam yang masif tampak melintas cepat membelah langit. Dan di sana, berada erat dalam dekapan posesif sosok bersayap itu, tampak tubuh mungil Elisa yang terbungkus jubah hitam besar.

"Kurang ajar! Dia membawanya!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!