Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
Senin pagi, suasana SMA Garuda berubah drastis dari pekan sebelumnya yang tegang dan penuh tekanan ujian. Papan pengumuman besar di dekat gerbang sekolah telah dihiasi poster berwarna-warni dengan tulisan.
‘Class Meeting & Pensi SMA Garuda, Show Your Real Power’
Sorak-sorai murid-murid terdengar bersahut-sahutan dari arah lapangan outdoor. Berbagai kompetisi antar kelas, mulai dari futsal, basket hingga tarik tambang resmi dimulai.
"Gue pokoknya gak mau tahu ya, Kir!" cetus Maya seraya menarik lengan Kirana di pinggir lapangan basket. "Kelas kita XII IPA 2 harus menang menjadi suporter terbaik! Lo harus ikut sorak paling kencang pas tim basket kelas kita tanding lawan XII IPS 1!"
Kirana terkekeh melihat ke antusias sahabatnya. "Iya, May, siap. Tapi lo jangan heboh banget sampai serak, besok kan ada lomba nyanyi solo Pensi!"
"Tenang aja, tenggorokan gue udah dikasih larutan penyegar sama emak gue tadi pagi," balas Maya cengengesan.
Mata Kirana menyapu area lapangan. Di sudut tribun VIP yang menaungi meja panitia, terlihat sosok Kenan berdiri dengan kemeja OSIS yang lengan panjangnya digulung hingga siku. Tampak gagah dan berwibawa, Kenan sambil memberi arahan kepada divisi acara.
Tiba-tiba, seolah memiliki radar khusus, Kenan menoleh lurus ke arah tempat Kirana berdiri. Tatapan mereka beradu di tengah riuhnya kerumunan murid. Kenan tidak tersenyum tipis karena berada di depan umum, namun ia menaikkan ibu jarinya pelan, memberi sinyal kecil yang hanya dipahami oleh Kirana 'Semangat harinya.'
Pipi Kirana memerah. Ia membalas dengan pura-pura merapikan kuncir rambutnya sambil mengangguk pelan.
Interaksi rahasia di tengah ribuan mata itu membuat dada Kirana berdesir hangat.
"Woi, Kir! Ngeliatin siapa sih lo? Kok melamun sambil senyum-senyum sendiri?" tegur Maya menepuk bahunya.
"E-eh! Enggak, ini... ngeliatin jadwal pertandingan di HP," kilah Kirana cepat, langsung mengalihkan pandangan.
"Halah, alasan! Eh tuh lihat, Kapten Basket kebanggaan sekolah kita udah masuk lapangan!" panggil Maya menunjuk ke arah tengah lapangan.
Rendy berjalan masuk bersama tim basket XII IPS 1. Mengenai jersey merah bernomor punggung 07, Rendy tampak begitu dominan. Teriakan histeris dari siswi-siswi pendukungnya langsung membahana di seluruh tribun.
Namun, sebelum mengambil posisi tip-off, langkah Rendy sengaja berbelok menuju pinggir lapangan tepat di depan tempat Kirana dan Maya berdiri.
"Kirana," panggil Rendy dengan senyum menawan yang biasa meluluhkan hati banyak murid perempuan.
Kirana agak terkejut, namun berusaha bersikap sopan. "Eh, Rendy. Semangat tandingnya ya."
Rendy melepaskan handuk kecil di lehernya, lalu mengulurkannya ke arah Kirana. "Bisa tolong pegangin handuk sama botol minum gue selama babak pertama? Biar gue mainnya makin fokus kalau di semangatin langsung sama lo."
Aksi terang-terangan Rendy itu seketika memancing kasak-kusuk heboh dari murid-murid di tribun sekitar! Maya bahkan sampai menutup mulutnya dengan mata membelalak lebar.
Kirana merasa sangat canggung dan tidak nyaman. Dari kejauhan di meja panitia, Kirana bisa merasakan aura dingin dari arah Kenan. Kenan menatap lurus ke arah tangan Rendy yang terulur.
"Maaf, Kak," tolak Kirana halus tapi tegas, menarik tangannya ke belakang. "Di sana kan ada manajer tim basket. Mending titip ke mereka aja biar gak hilang."
Senyum manis Rendy memudar tipis, digantikan oleh kilatan kecewa namun secepat mungkin ia sembunyikan. "Oh... oke, gak apa-apa. Tapi selesai pertandingan ini, jangan pergi dulu ya. Ada yang mau gue omongin soal acara penutupan Pensi."
"Hemm… oke" balas Kirana seadanya.
Rendy akhirnya kembali ke tengah lapangan. Pertandingan basket berlangsung sangat sengit. Rendy bermain sangat agresif, mencetak angka demi angka seolah ingin memamerkan kehebatannya di depan seluruh sekolah dan terutama di depan Kenan yang menonton dari meja panitia.
Saat jeda istirahat babak kedua, Kirana pamit pada Maya untuk pergi ke toilet di gedung belakang. Lorong gedung belakang sepi karena sebagian besar murid berkumpul di area lapangan utama.
Namun saat Kirana baru keluar dari toilet perempuan, sosok Kenan sudah berdiri bersandar di dinding koridor dekat dispenser air.
Kirana menengok kanan-kiri memastikan situasi aman sebelum menghampiri Kenan dengan nada berbisik. "Kenan? Lo ngapain di sini? Nanti kalau ada yang lihat gimana?"
Kenan tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat, mendorong pelan tubuh Kirana hingga bersandar di dinding dekat ceruk tangga darurat yang terlindung dari pandangan luar.
"Kenan...?" cicit Kirana kaget.
"Tadi kenapa gak ditolak dari awal pas dia ngasih handuk?" tanya Kenan. Suaranya rendah dengan suara yang terdengar begitu tidak suka. Kirana tertegun, lalu terkekeh geli melihat muka cemberut Kenan yang sangat jarang terlihat itu. "Kan udah gue tolak, Kenan! Gue bilang titip ke manajer tim aja. Masa gue harus teriak 'Gue udah punya suami!' di depan umum?"
Kenan menatap mata Kirana dalam-dalam, lalu helaan nafas berat keluar dari bibirnya. Ia menyandarkan dahinya di bahu Kirana sikap manis yang hanya pernah ia perlihatkan kalau mereka sedang berada di rumah berdua.
"Gue gak suka dia ngeliatin lo kayak gitu di depan orang banyak," gumam Kenan pelan, suaranya teredam di kain seragam Kirana. "Rendy itu tipe cowok yang nekat. Gue khawatir dia bakal bikin hal yang bikin lo tertekan pas Pensi nanti."
Hati Kirana meleleh seketika. Ia mengusap rambut belakang Kenan dengan lembut. "Percaya sama gue, ya? Mau dia nekat kaya apa juga, jawaban gue bakal tetap sama. Gue cuma milik Ketua OSIS yang paling galak ini."
Kenan menegakkan tubuhnya kembali, menatap Kirana dengan pandangan hangat. Perlahan, ia mengecup dahi Kirana dengan durasi yang cukup lama, membuat jantung Kirana berdesir manis.
"Awas kalau genit-genit sama yang lain," ancam Kenan pura-pura galak sebelum mengacak rambut Kirana gemas. "Kembali ke kelas sana. Dua puluh menit lagi ada lomba bakiak antar kelas, lo ikut kan?"
"Iya, Bapak Ketos yang terhormat!" seru Kirana sambil memberikan hormat jahil lalu berlari kecil meninggalkan lorong.
Hari-hari Class meeting berlalu cepat dengan penuh kemeriahan. Hubungan Kenan dan Kirana di rumah makin manis dan harmonis. Momen-momen kecil seperti memasak makan malam bersama, saling menyuapi buah sambil menonton TV, hingga Kenan yang sabar mengeringkan rambut Kirana dengan hairdryer menjadi rutinitas indah yang mengikis sisa-sisa canggung di antara mereka.
Hingga akhirnya, hari Sabtu yang ditunggu-tunggu tiba, Puncak Pentas Seni (Pensi) SMA Garuda.
Panggung megah berukuran besar berdiri di tengah lapangan utama, dilengkapi dengan tata lampu warna-warni dan sistem suara yang menggelegar. Seluruh murid mengenakan pakaian bebas bertema retro-casual.
Maya tampil memukau saat membawakan lagu pop-rock di panggung utama dan berhasil meraih juara pertama lomba nyanyi solo. Kirana bersorak paling kencang di depan panggung sambil memeluk Maya saat sahabatnya itu turun panggung membawa piala.
"Gue berhak dapat es krim dua scoop dari lo!" seru Maya gembira.
"Beres! Nanti gue beliin di kantin!" balas Kirana tertawa.
Acara terus berlanjut hingga malam puncak. Lampu-lampu sorot panggung mulai meredup, menciptakan suasana romantis yang hangat. Pembawa acara naik ke atas panggung untuk mengumumkan penutupan.
"Nah, sebelum kita masuk ke penutup acara oleh Ketua OSIS kita, ada satu penampilan special request dari Kapten Tim Basket kita, Rendy dari kelas XII IPS 1!" seru MC disambut sorak-sorai riuh penonton.
Lampu sorot putih langsung mengarah ke tengah panggung. Rendy berjalan naik membawa sebuah gitar akustik. Ia mengenakan kemeja putih kasual yang digulung lengannya, tampak sangat tampan dan menawan.
Mata Kirana di barisan depan langsung membelalak kaget. “Jangan-jangan... ucapan Kenan waktu itu beneran”! batin Kirana panik.
Rendy duduk di atas kursi tinggi di tengah panggung, memegang mikrofon. Suasana lapangan mendadak menjadi tenang, menunggu apa yang akan dilakukan sang kapten basket.
"Selamat malam semuanya," ujar Rendy lembut melalui mikrofon, suaranya menggema di seluruh lapangan. "Malam ini, gue mau membawakan satu lagu khusus. Lagu ini buat seorang cewek yang udah mencuri perhatian gue sejak pertama kali dia masuk ke sekolah ini."
Murid-murid langsung bersorak heboh! "Siapa tuh. Siapa ceweknya?!" teriak beberapa murid dari belakang.
Dari balik panggung bagian samping, Kenan berdiri mematung. Jemarinya mencengkram erat pinggiran papan sirkuit lampu panggung. Rahangnya mengetat keras, matanya menatap Rendy dengan ketajaman yang amat dingin.
Rendy memetik senar gitarnya, menyanyikan sebuah lagu akustik romantis dengan suara merdunya. Selama bernyanyi, pandangan mata Rendy sama sekali tidak berpaling dari Kirana yang berdiri di barisan depan penonton bersama Maya.
Seluruh pasang mata di lapangan mulai menyadari arah tatapan Rendy. Bisik-bisik heboh mulai terdengar di sekeliling Kirana.
"Eh, lihat deh! Rendy ngelihatin Kirana terus!"
"Demi apa?! Rendy suka sama Kirana?!"
"Wah, gila sih romantis banget!"
Maya menepuk-nepuk lengan Kirana dengan wajah syok. "Kir! Rendy suka sama lo. Gila, ini seriusan?!"
Kirana hanya bisa membeku di tempatnya, merasa risih dan ingin segera menghilang dari tempat itu.
Saat lagu selesai dipetik, petikan terakhir bergema manis. Seluruh murid bertepuk tangan riuh. Rendy meletakkan gitarnya di samping kursi, lalu mengambil mikrofon dan melangkah menuju bagian depan panggung.
Lampu sorot panggung seketika mengikuti langkahnya, dan satu lampu sorot tambahan tiba-tiba menembak lurus ke arah Kirana berdiri.
Kirana tersentak saat dirinya mendadak menjadi pusat perhatian seluruh sekolah.
“Ck, ngapain sih nih cowok pakai nembak gue segala!” Kirana hanya bisa menggerutu dalam hati.
"Kirana..." suara Rendy terdengar mantap dari speaker utama. "Gue tahu selama ini kita cuma sebatas teman seangkatan. Tapi malam ini, di depan semua teman-teman SMA Garuda, gue mau jujur..."
Rendy berlutut di tepi panggung, menatap Kirana lurus-lurus di bawahnya.
"Gue suka sama lo. Mau gak lo jadi pacar gue?"
WHAT! RENDY NEMBAK KIRANA
Sorakan dan jeritan histeris murid-murid seketika meledak seperti bom di seluruh lapangan! "TERIMA! TERIMA! TERIMA!" teriak ratusan siswa bersahut-sahutan.
Kirana berdiri mematung di bawah kilatan lampu sorot. Dadanya berdegup kencang, bukan karena terharu, melainkan karena rasa panik dan canggung yang amat sangat. Ia melirik ke arah samping panggung tempat Kenan berdiri dalam kegelapan.
Kenan menatapnya. Raut wajah cowok itu tidak marah, melainkan memancarkan rasa percaya yang penuh pada sang istri.
Kirana menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya. Ia mengambil langkah maju satu langkah, mendongak menatap Rendy yang masih menunggu di atas panggung.
Suasana lapangan perlahan hening kembali, menantikan jawaban dari Kirana.
"Sorry, Ren..." suara Kirana terdengar jernih dan tegas tanpa keraguan sedikitpun. "Terima kasih banyak atas perasaan dan lagu indah yang Lo bawakan malam ini. Tapi... gue gak bisa nerima perasaan lo."
!!
Suasana lapangan seketika menjadi hening mencekam. Sorakan penonton terhenti seketika. Maya membelalakkan mata tak percaya, begitu pula murid-murid lainnya.
Rendy tertegun, wajahnya pucat pasi di atas panggung. "K-Kirana... kenapa? Apa gue kurang cepat? Atau lo udah punya cowok lain?"
Kirana menyunggingkan senyum tipis yang sopan namun penuh jarak. "Hati saya sudah milik orang lain. Dan tidak ada tempat lagi untuk siapa pun."
Tanpa menunggu balasan lagi dari Rendy yang terpaku kaku, Kirana membalikkan badan dan melangkah tenang keluar dari kerumunan penonton menuju arah gedung belakang yang sepi.
Di samping panggung, Kenan menghembuskan napas lega yang teramat panjang. Senyuman penuh kebanggaan dan rasa cinta terpancar jelas di wajah tampannya. Rencana Rendy untuk menggoyahkan mereka gagal total.
Namun, saat Kenan hendak menyusul Kirana ke belakang panggung, ponsel di saku celananya bergetar hebat.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal lengkap dengan sebuah lampiran foto.
Foto dokumen, Lembar Fotokopi Kartu Keluarga asli milik keluarga Kenan, di mana nama Kirana terdaftar resmi sebagai anggota keluarga dengan status 'ISTRI'.
Pesan di bawahnya,
"Penolakan yang bagus di panggung tadi. Tapi sayang... gue udah pegang dokumen KK asli kalian yang berhasil dicetak sama sepupu gue di kantor dinas kependudukan tadi siang. Kalau lo gak mau foto KK ini tersebar di grup Whatsapp seluruh guru dan murid besok pagi, datang ke ruangan laboratorium Biologi sekarang juga. Kita bicara bertiga, Gue, Lo, dan Kirana."
“Sialan!” Mata Kenan membelalak lebar. Buku-buku jarinya mencengkeram ponsel hingga bergetar keras. Ternyata anak itu masih belum terima.
Bersambung…