NovelToon NovelToon
SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Time Travel
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.

Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.

Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.

Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Hukum Alam

Di puncak Gunung Awan Tinggi, suasana di Aula Utama terasa hening dan penuh kegelisahan.

Di tengah ruangan, Batu Perekam memancarkan bayangan jernih — hasil penerimaan murid Sekte Surgawi Langit baru saja berakhir, rekaman itu didapatkan oleh mata-mata di luar gerbang.

Angka 666 orang terpilih, dan nama-nama seperti Su Yao, Zhang Hu, Qing Yue, hingga Li Chen yang mencapai tangga ke-100... semua itu membuat para Tetua dan Ketua Sekte Chang terdiam lama tanpa kata.

"Enam ratus enam puluh enam orang..." gumam Ketua Sekte Chang pelan, tangannya mengetuk pelan lengan kursi kebesaran. "Dan di antara mereka... ada banyak sekali bibit berbakat yang luar biasa. Tapi anehnya... tidak satu pun dari nama-nama itu yang pernah kami dengar."

Salah satu Tetua Inti mengangguk dengan wajah penuh keraguan. "Benar. Su Yao, Zhang Hu, Qing Yue... saya sudah mencari tahu, tapi tidak ada catatan tentang mereka di sekte mana pun. Mereka bukan murid dari sekte kecil, bukan anak dari keluarga kultivator terkenal — mereka seolah muncul tiba-tiba dari mana saja, namun bakat mereka sungguh luar biasa."

"Jika mereka begitu berbakat..." ucap Tetua Ming pelan, suaranya terdengar berat dan penuh keresahan. "Kenapa mereka baru muncul sekarang? Dan kenapa keluarga mereka tidak pernah mendaftarkan mereka ke Sekte Awan Tinggi? Kami sudah berdiri ratusan tahun. Nama kami tersohor di seluruh benua. Fasilitas kami, teknik kami... seharusnya tempat pertama yang mereka tuju adalah ke sini."

Tetua Ming berhenti sejenak, wajahnya berubah serius. Dia sendiri pernah berdiri di depan gerbang giok Sekte Surgawi Langit, melihat kemegahan yang bahkan belum masuk ke dalamnya saja sudah membuatnya merasa kecil.

"Namun..." lanjutnya pelan namun tegas. "Saya tidak berani meremehkan Sekte Surgawi Langit itu. Saya sendiri pernah melihat gerbang mereka — kemewahan dan kekuatan yang terpancar dari sana... jauh melampaui apa yang kita miliki. Beberapa hari yang lalu kita pun masih berdebat tentang betapa kayanya sekte itu. Jadi wajar jika mereka bisa menarik orang-orang berbakat itu."

"Tapi tetap saja..." sahut Tetua lainnya dengan nada tak puas. "Mereka baru muncul! Bagaimana bisa mereka mengetahui bakat-bakat yang tersembunyi itu sebelum kita menemukannya?"

***

Kekhawatiran itu tidak hanya ada di Sekte Awan Tinggi. Di ibu kota Kerajaan Langit Biru, di dalam aula pertemuan istana, Kaisar, para pejabat tinggi, dan Putra Mahkota juga menyaksikan hasil itu melalui Batu Perekam. Wajah Putra Mahkota terlihat gelap dan penuh keraguan.

"Su Yao... Zhang Hu... Qing Yue... dan Li Chen" gumam Putra Mahkota pelan. "Tidak ada yang tahu asal-usul mereka. Mereka bukan bangsawan, bukan dari keluarga pejabat. Namun bakat mereka... luar biasa. Mengapa kita tidak pernah menemukan mereka sebelumnya?"

"Yang Mulia," ucap salah satu penasihat kerajaan dengan hati-hati. "Rakyat mulai berbisik-bisik. Mereka berkata — selama ini, banyak anak berbakat dari keluarga miskin tidak pernah mendapat kesempatan. Mereka tidak punya uang untuk membayar biaya masuk sekte besar, tidak punya koneksi, tidak punya siapa-siapa. Bakat mereka terpendam tanpa ada yang tahu. Dan sekarang... ada sekte yang menerima mereka tanpa melihat asal-usul, tanpa melihat harta. Hanya melihat hati dan ketulusan."

"Maka wajar jika mereka berbondong-bondong ke sana," tambah Kaisar dengan nada getir. "Kita tidak kehilangan mereka karena Sekte Surgawi Langit lebih kuat. Kita kehilangan mereka karena selama ini kita tidak pernah memberi mereka kesempatan yang adil."

***

Kembali ke Sekte Awan Tinggi, perdebatan terus berlanjut. Ketua Sekte Chang menghela napas panjang, wajahnya penuh kekesalan sekaligus kesadaran yang pahit.

"Kita sibuk mencari murid dari keluarga terkenal, dari bangsawan, dari mereka yang kaya raya," ucapnya pelan. "Sementara itu, di desa-desa terpencil, di gubuk-gubuk miskin... ada banyak anak berbakat yang tidak pernah kita temui. Sekte Surgawi Langit tidak perlu mencari mereka — merekalah yang datang karena satu-satunya sekte yang membuka pintu untuk semua orang."

"Kita tidak boleh meremehkan mereka. Sejak awal, saya sudah merasakan kekuatan yang berbeda dari sekte itu. Gerbang mereka saja sudah menunjukkan kekayaan yang tak terbayangkan. Sekarang dengan bibit berbakat yang berkumpul di sana... waktu akan berpihak kepada mereka. Jika kita tidak berubah, dalam beberapa tahun saja posisi kita bisa terbalik."

Tidak ada yang membantah. Semua orang tahu — Tetua Ming benar. Dia sudah melihatnya sendiri, dan sekarang mereka semua melihatnya melalui Batu Perekam. Sekte Surgawi Langit tidak hanya kuat — mereka juga menarik orang-orang terbaik yang selama ini terabaikan. Dan itulah kekuatan yang paling berbahaya bagi mereka.

"Tapi kenapa?" tanya salah satu Tetua muda dengan wajah bingung. "Kenapa mereka tidak memilih kita? Apa yang kurang dari Sekte Awan Tinggi ini?"

Tidak ada yang menjawab. Karena di lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka semua tahu jawabannya, namun tidak ada yang berani mengucapkannya dengan lantang.

...----------------...

Sementara itu, di Puncak ke-10 Sekte Surgawi Langit, Lin Yue berdiri menatap cahaya lampu aula dan tempat tinggal murid mulai menyala satu per satu, seperti bintang-bintang yang turun ke bumi.

Mo Yuan berdiri di belakangnya, melaporkan segala hal yang terjadi di luar sana.

 "Biarkan mereka bertanya-tanya," jawab Lin Yue pelan namun tenang. "Bakat itu ada di mana-mana, di desa miskin, di kota besar, di mana saja. Selama orang-orang memandang harta dan asal-usul, bakat sejati akan tetap tersembunyi. Kita hanya membuka pintu lebar-lebar — dan mereka datang sendiri."

Lin Yue menoleh sedikit, dan melanjutkan "Mulai besok, ajarkan mereka dengan sepenuh hati," ucapnya lembut namun tegas. "Jangan sia-siakan kepercayaan yang mereka berikan kepada kita. Mereka memilih kita — maka kita harus membalasnya dengan menjadikan mereka orang-orang terkuat di seluruh benua ini."

"Siap, Tuan Sekte!" jawab Mo Yuan dengan penuh semangat.

Saat Lin Yue hendak melangkah masuk, suara Sistem tiba-tiba bergema jelas di benaknya — kali ini bukan sekadar pemberitahuan biasa, melainkan informasi mendalam tentang empat murid inti barunya.

[ INFORMASI MURID INTI — RAHASIA MASA LALU ]

• ZHANG HU — Dibuang keluarga karena lahir dengan tanda yang dianggap pembawa sial. Dipukuli, dikurung tanpa makan. Adik perempuannya satu-satunya yang membelanya — dipukuli sampai mati oleh ayah mereka sendiri saat mencoba memberinya makan. Zhang Hu kabur saat mendengar pendaftaran dibuka, tubuhnya penuh luka dan demam.

• SU YAO — Putri dari keluarga pedang yang ingin menikahkannya dengan orang kaya demi status. Saat ia menolak, ia dikurung, disiksa, dan diperkosa oleh calon suami sebagai pelajaran. Ibu yang berusaha menolongnya diracun sampai mati di depannya. Ia kabur di tengah malam yang hujan darah, berjanji akan menghancurkan seluruh keluarga itu.

• QING YUE — Dijual oleh orang tuanya ke kelompok pedagang manusia demi sebungkus beras. Disiksa setiap hari karena peka terhadap energi roh dan sering "membuat masalah". Kakaknya yang menukarkan dirinya untuk membebaskannya... dikorbankan dalam ritual hitam di depannya. Ia berlari tanpa arah sampai melihat arah ke Gunung Puncak Langit.

• LI CHEN — Dianggap aneh karena sering berbicara sendiri (sejak kecil ia bisa merasakan energi roh). Keluarga besarnya memukuli kakeknya yang membelanya sampai meninggal. Li Chen dikunci di gua gelap selama tiga bulan tanpa cahaya. Ia kabur saat pintu gua itu terbuka karena kelalaian penjaga — berjalan kaki berbulan-bulan tanpa tahu arah, hanya berharap ada tempat yang menerima orang sepertinya.

~~ PERINGATAN SISTEM: Keempat orang ini tidak datang karena mencari kekuatan semata. Mereka datang untuk BALAS DENDAM. Bukan sekadar hinaan — mereka disiksa, dicaci, dilecehkan, dan melihat orang terkasih tewas di depan mata. Nyawa telah diambil — maka nyawa pula yang akan ditebus. Jangan berharap mereka memaafkan.

~~ HUKUM ALAM: Nyawa dibayar nyawa. Darah dibayar darah.

Lin Yue berdiri terpaku, jantungnya berdegup kencang. Di bawah sana, empat sosok itu sedang berjalan menuju tempat tinggal mereka — tampak tenang, patuh, dan tulus.

Namun di balik mata mereka yang jernih... tersimpan lautan api yang membara sejak lama sekali.

"Jadi begitu..." bisik Lin Yue pelan, cadarnya bergetar tertiup angin malam yang tiba-tiba terasa dingin. "Bukan sekadar diabaikan. Mereka dihancurkan oleh darah daging sendiri. Orang-orang yang seharusnya melindungi mereka... justru yang paling kejam."

Mo Yuan menatap bingung melihat ekspresi Lin Yue. "Tuan Sekte? Ada yang salah dengan murid-murid itu?"

Lin Yue menggeleng pelan, namun matanya kini tampak jauh lebih tajam dan tegas.

"Tidak ada yang salah," ucapnya perlahan namun penuh penekanan. "Mereka adalah murid yang paling tulus. Dan juga... yang paling berbahaya bagi musuh-musuh mereka. Biarkan mereka berkultivasi dengan giat. Biarkan mereka menjadi kuat. Karena ketika mereka kembali... tidak ada yang bisa menahan keadilan yang mereka bawa."

Di kejauhan, empat sosok itu berhenti serentak dan menoleh ke arah Puncak ke-10.

Cahaya bulan memantul di wajah mereka — tanpa kata, tanpa suara, namun di mata mereka terlihat satu tekad yang sama, satu janji yang tak bisa dibatalkan.

Kita hidup kembali. Kita diterima. Dan mereka... akan membayar semuanya.

Angin malam berhembus kencang, menggoyangkan dedaunan Pohon Roh yang bersinar pelan.

Sekte Surgawi Langit kini bukan sekadar tempat berkultivasi. Bagi empat orang itu... ini adalah tempat di mana pedang balas dendam mulai ditempa.

.

.

.

.

1
Alia Chans
Hadirr Thor
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!