NovelToon NovelToon
999 ISYARAT CINTA

999 ISYARAT CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKISAN FENOMENAL

Di luar galeri, kendaraan terus melintas. Suara mesin, klakson, dan percakapan orang-orang di jalan memenuhi udara siang itu.

Namun, Luna seolah tak mendengar apa pun.

Ia masih berdiri di depan lukisan wajahnya sendiri. Tatapannya terpaku pada setiap detail yang tergurat di atas kanvas, mulai dari lekuk wajah hingga senyum tipis yang terasa begitu alami.

Entah sudah berapa lama ia berdiri di sana.

Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika melihat dirinya sendiri melalui mata orang lain. Terlebih lagi, orang yang melukisnya adalah Bandung—pria yang selalu menyangkal bahwa dirinya memiliki perasaan istimewa terhadap siapa pun.

Tiba-tiba, dering telepon memecah keheningan.

Bandung segera meraih ponselnya.

“Hallo?”

“Bandung, gue lagi OTW nih. Mau lihat lukisan pesanan gue.”

Bandung tersenyum.

“Silakan, Miss Arnelia. Lukisannya udah ready, kok.”

“Oh ya, Bandung. Gue ajak teman gue dari Jerman. Dia masih keturunan Indonesia, tapi sekarang tinggal di sana. Dia kolektor sekaligus pengamat seni.”

“Wah, suatu kehormatan buat gue.”

“Ya udah, mungkin setengah jam lagi gue sampai.”

“Oke, gue tunggu.”

Telepon ditutup.

Bandung meletakkan ponselnya, lalu melirik meja yang masih dipenuhi piring bekas makan mereka. Ia bangkit hendak membereskannya.

Namun, Luna yang melihatnya langsung bergerak cepat.

“Biar gue aja!”

Ia meraih piring di meja, tetapi karena gerakannya terlalu tergesa-gesa, tangannya justru bertemu dengan tangan Bandung.

Keduanya terdiam.

Jari-jari mereka saling bersentuhan, sementara tubuh mereka berdiri begitu dekat hingga Luna bisa merasakan hangatnya tubuh pria itu.

Bandung menoleh.

Luna pun mendongak.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk beberapa saat, keduanya seolah kehilangan kemampuan untuk bergerak. Luna merasakan tubuhnya menegang. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada satu kata pun yang berhasil keluar.

Bandung pun mengalami hal yang sama.

Ia tak tahu mengapa, tetapi jarak sedekat itu membuatnya sulit berpikir jernih. Biasanya, ia bisa dengan mudah melontarkan lelucon untuk mencairkan suasana. Kali ini, bahkan untuk mengatakan sesuatu yang sederhana pun terasa sulit.

Luna perlahan melepaskan genggaman tangannya.

Namun, alih-alih menjauh, kedua lengannya justru melingkar di pinggang Bandung.

Bandung tertegun.

Mereka saling menatap tanpa berkata-kata.

Waktu seolah berjalan lebih lambat. Suara kendaraan di luar masih terdengar, tetapi terasa semakin jauh, seperti berasal dari dunia yang berbeda.

Wajah mereka perlahan mendekat.

Sedikit demi sedikit.

Hingga jarak di antara bibir mereka semakin tipis.

Bandung tak lagi tahu apakah dirinya sedang berusaha mendekat atau justru kehilangan kemampuan untuk mundur.

Luna pun tak bergerak.

Mereka hanya saling menatap, seakan ada sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi tak satu pun berani memulainya.

Tepat ketika bibir mereka hampir bersentuhan—

“Tut... tut... tut...”

Ponsel Bandung kembali berdering.

Keduanya sontak tersadar.

Luna segera melepaskan pelukannya dan berbalik mengumpulkan piring. Bandung pun buru-buru menjauh, meraih ponselnya, lalu menjawab panggilan itu dengan suara yang berusaha terdengar biasa.

“Hallo, Miss Arnelia? Udah sampai mana?”

“Gue udah di depan gang. Tapi mobil kita nggak bisa masuk karena ada mobil mogok di depan.”

“Oh, oke. Langsung masuk aja, Miss. Gue tunggu di galeri.”

Bandung mengakhiri panggilan.

Ia mengembuskan napas panjang, lalu melirik Luna yang sedang sibuk di dekat wastafel.

Tak ada yang membicarakan kejadian beberapa detik sebelumnya.

Namun, entah mengapa, Bandung merasa jantungnya masih berdetak lebih cepat daripada biasanya.

Tak lama kemudian, pintu galeri terbuka.

Bandung segera menyambut dua tamunya.

Seorang perempuan berwajah kebule-bulean masuk lebih dahulu, diikuti seorang pria berambut putih dengan mata biru yang tampak tajam dan penuh perhatian.

“Miss Arnelia!”

“Bandung!”

Mereka bersalaman dengan akrab.

Setelah memperkenalkan temannya yang bernama Bryan, Arnelia mulai berbincang dengan Bandung mengenai lukisan yang dipesannya. Bryan sendiri terlihat sibuk mengamati berbagai karya yang terpajang di dinding galeri.

Namun, perhatiannya kemudian tertuju pada sebuah lukisan yang masih tertutup kain.

Ia belum sempat bertanya ketika Arnelia lebih dahulu mendekatinya.

“Wah, ini lukisan gue, ya?”

Ia menoleh kepada Bandung.

“Langsung gue lihat, ya!”

Bandung hendak menjawab, tetapi Arnelia sudah menarik kain penutupnya.

Begitu lukisan itu terlihat, matanya langsung membelalak.

Bryan yang berdiri di belakangnya ikut mendekat. Ia bahkan sedikit membungkukkan badan, berusaha memperhatikan setiap detail pada kanvas.

“Wah, Bryan! Lihat ini!”

Arnelia memanggil temannya dengan penuh semangat.

“This is fantastic!”

Bryan tidak langsung menjawab.

Ia mengamati lukisan itu dalam diam, lalu mengeluarkan kaca pembesar kecil dari tasnya. Dengan hati-hati, ia memeriksa guratan-guratan kuas pada permukaan kanvas.

Bandung menarik sebuah kursi kayu, kemudian duduk di samping mereka.

Arnelia masih terpukau.

“Bandung, ini luar biasa. Gue udah sering lihat lukisan bagus, tapi ada sesuatu yang berbeda dari karya ini.”

Bryan akhirnya angkat bicara.

“Arnel, lukisan ini seperti dibuat bukan hanya dengan mata terbuka, melainkan juga dengan mata yang terpejam.”

Ia mengamati bagian wajah pada lukisan itu.

“Seolah-olah mata hati dan perasaan pelukisnya yang menggerakkan kuas. Guratan-guratannya halus, ekspresinya lembut, dan semuanya terasa begitu alami.”

Bryan berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.

“Sekilas seperti dibuat tanpa sengaja. Tapi justru itu yang membuatnya terasa sangat manusiawi. Ada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh teknik.”

Bandung tersenyum tipis mendengar penilaian itu.

Namun, ketika melihat Luna berjalan dari arah belakang galeri, senyumnya langsung menghilang.

Ia buru-buru berdiri dan menutup kembali lukisan tersebut dengan kain.

“Waduh, Miss. Itu bukan lukisan pesanan Anda. Mari, saya tunjukkan lukisan Anda yang sebenarnya.”

Arnelia mengernyitkan dahi.

“Loh, terus yang tadi apa?”

“Pokoknya bukan yang itu.”

Bandung segera mengajak Arnelia dan Bryan ke sisi lain galeri.

Sayangnya, ia baru menyadari kesalahannya setelah mereka sampai di depan lukisan pesanan Arnelia.

Lukisan wajah Luna terpajang tepat di sebelahnya.

Bandung terdiam.

Waduh. Mati gue.

Bryan memperhatikan kedua lukisan itu secara bergantian.

Ia mengamati lukisan Arnelia cukup lama, mengangguk kecil, lalu menyentuh bagian tepi kanvas dengan hati-hati.

Namun, ketika pandangannya beralih ke lukisan Luna, ekspresinya berubah.

Ia kembali mengamati wajah pada kanvas itu, kali ini lebih lama.

Arnelia pun melakukan hal yang sama.

Setelah beberapa saat, ia menepuk bahu Bryan.

“Bryan, yang ini lebih gila lagi.”

Bryan menoleh.

Arnelia menunjuk lukisan Luna.

“Lihat senyumnya. Natural banget. Ini seperti dibuat oleh seseorang yang sedang jatuh cinta.”

Ia terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil.

“Tapi yang paling menarik, senyum ini justru bikin orang yang melihatnya ikut merasakan sesuatu. Seolah-olah ada cinta yang begitu kuat, tetapi sulit diakui.”

Bryan mengangguk perlahan.

“Benar. Lukisan ini bukan sekadar menggambarkan wajah seseorang. Ada perasaan yang tertinggal di dalamnya.”

Dari kejauhan, Luna mendengar percakapan mereka.

Ia memandangi lukisan wajahnya sendiri, lalu melirik Bandung yang berdiri tak jauh dari sana.

Menurut gue, itu karena Bandung lagi emosi.

Luna mengerutkan hidung.

Pasti dia kesal karena gue gangguin terus. Makanya dia melampiaskan kekesalannya lewat lukisan.

Pikiran itu membuatnya sedikit lega.

Setidaknya, menurutnya, ada alasan yang masuk akal mengapa Bandung bisa melukis wajahnya sedetail itu.

Sementara itu, Arnelia kembali menatap kedua lukisan tersebut.

“Bandung, kalau masing-masing seribu dolar, gue masih berani beli.”

Luna yang mendengar kata seribu dolar langsung menoleh.

“Deal!”

Ketiganya serentak memandang ke arahnya.

Luna berjalan mendekat dengan wajah berbinar.

“Seribu dolar, nggak apa-apa! Nanti Bandung bisa bikin lukisan gue lagi!”

Bandung menutup wajahnya dengan telapak tangan.

“Ya ampun, Luna...”

Arnelia dan Bryan saling berpandangan, lalu kembali melihat lukisan di dinding.

Bryan tersenyum geli.

“Wah, kalau sumber inspirasinya seperti ini, wajar saja kalau pelukisnya sampai terbawa ke alam bawah sadar.”

Bandung buru-buru mendekati Arnelia dan menempelkan telunjuk ke bibirnya.

“Ssst! Jangan terlalu banyak memuji. Nanti dia jadi besar kepala.”

Luna langsung menoleh.

“Siapa yang besar kepala?”

Ia mendekat, lalu mencubit lengan Bandung.

Bandung meringis.

“Aduh! Main cubit aja!”

Arnelia dan Bryan tertawa melihat tingkah mereka.

Di mata kedua pengamat seni itu, ada sesuatu yang menarik dari cara Bandung dan Luna berinteraksi. Keduanya seperti dua orang yang belum sepenuhnya memahami perasaan masing-masing, tetapi tanpa sadar telah menciptakan sesuatu yang bisa dirasakan orang lain.

Arnelia kemudian kembali mendekati lukisan yang tertutup kain.

“Bandung, boleh gue lihat yang tadi sekali lagi?”

Bandung terdiam.

Ia melirik Luna, lalu memandang lukisan tersebut.

Setelah beberapa saat, akhirnya ia mengangguk.

“Silakan.”

Bryan mengangkat kain penutup dengan hati-hati.

Begitu lukisan itu terlihat, Luna langsung membeku.

Di atas kanvas tergambar dirinya dan Bandung sedang terjatuh bersama di tengah galeri. Posisi tubuh mereka begitu dekat, ekspresi wajah mereka tertangkap dengan detail, dan keseluruhan adegan itu terasa begitu hidup.

Luna menatap lukisan tersebut, kemudian berbalik kepada Bandung dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Bandung, lu udah gila, ya?”

Bandung mengangkat alis.

“Kenapa lagi?”

“Gue aja malu kalau ingat kejadian itu. Elu malah bikin jadi lukisan!”

Bandung segera membela diri.

“Lu jangan geer. Itu bukan lukisan elu sama gue!”

Luna mengernyitkan dahi, kemudian kembali melihat kanvas.

“Terus siapa?”

Bandung terdiam.

Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.

Bryan menahan senyum, sementara Arnelia memperhatikan Bandung dan Luna secara bergantian.

Bryan kemudian berkata pelan, seolah sedang menyimpulkan sesuatu yang sejak tadi ia amati.

“Lukisan ini terasa seperti seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan perasaannya.”

Ia menunjuk bagian wajah kedua tokoh di atas kanvas.

“Tapi justru karena berusaha menyembunyikannya, perasaan itu malah muncul dengan sendirinya.”

Arnelia mengangguk.

“Dan itu yang membuatnya menarik. Pelukisnya mungkin tidak berniat mengungkapkan apa pun, tetapi hasil karyanya justru berbicara lebih jujur daripada dirinya.”

Bandung berdeham.

“Udah, udah. Kalian ini pengamat seni atau ahli membaca pikiran, sih?”

Arnelia tertawa.

“Dua-duanya bisa, kalau lukisannya memang punya sesuatu untuk diceritakan.”

Bryan kembali mengamati lukisan itu.

“Arnel, kalau yang ini dijual seribu dolar, gue juga masih berani mengambilnya.”

Arnelia tersenyum lebar.

“Kalau begitu, Bandung, gue mau beli lukisan ini juga.”

Bandung menatapnya.

“Yang ini?”

“Iya. Tapi gue mau minta satu tambahan.”

“Apa?”

Arnelia menunjuk sudut kanan atas kanvas.

“Tambahkan judul di sana. Karena nuansanya romantis banget, gue ingin judulnya sederhana saja.”

Ia berpikir sejenak.

“Aku Jatuh Padamu.”

Bandung terdiam.

Entah mengapa, kata-kata itu terasa begitu dekat dengan sesuatu yang selama ini berusaha ia hindari.

Namun, ia segera mengalihkan pikirannya.

“Oke. Gue tambahin sekarang.”

Ia mengambil kuas kecil dan mulai menuliskan judul di sudut kanan atas lukisan.

Satu per satu huruf terbentuk.

AKU JATUH PADAMU.

Ketika selesai, Bandung mundur beberapa langkah untuk melihat hasilnya.

Bryan tersenyum puas.

“Dengan tambahan judul ini, gue yakin bukan cuma kolektor-kolektor kolot seperti kita yang bakal menyukai lukisan ini. Anak-anak muda juga pasti tertarik. Suasananya romantis, tapi nggak berlebihan.”

Arnelia segera mengeluarkan ponselnya.

Ia memotret lukisan tersebut, lalu mengunggahnya ke media sosial.

Awalnya, mereka kembali berbincang santai sambil menikmati kopi.

Namun, belum lama berselang, ponsel Arnelia mulai bergetar berkali-kali.

Notifikasi berdatangan tanpa henti.

Arnelia membelalakkan mata, lalu menunjukkan layar ponselnya kepada Bandung.

“Bandung, lihat ini!”

Bandung melirik layar tersebut.

“Ada apa?”

“Hampir semua kolektor yang gue kenal bertanya lukisan ini dibuat oleh siapa dan di mana mereka bisa mendapatkannya.”

Arnelia menggulir layar ke bawah.

“Lihat komentar yang terakhir. Ada kolektor yang mau membeli lukisan ini seharga dua ribu dolar untuk dipamerkan di sebuah pameran seni di London.”

Luna yang berdiri di samping Bandung langsung terbelalak.

“Dua ribu dolar?”

Arnelia mengangguk.

“Iya.”

Luna menatap layar ponsel itu, lalu menoleh kepada Bandung.

Pria itu hanya mengangkat bahu, seolah harga tersebut bukan sesuatu yang luar biasa.

“Kalau memang dia suka, ya silakan saja. Selama harganya cocok dan lukisannya memang mau dia beli.”

Luna terdiam.

Baru sekarang ia benar-benar memahami bahwa lukisan yang dibuat Bandung bukan sekadar gambar indah yang dipajang di dinding galeri. Karya itu bisa memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.

Matanya berbinar.

Senyum lebar muncul di wajahnya.

Namun, di balik kegembiraan itu, ada sesuatu yang lain yang membuat jantungnya kembali berdebar.

Ia menoleh ke arah lukisan Aku Jatuh Padamu.

Kemudian pandangannya beralih ke lukisan yang menggambarkan dirinya dan Bandung saat terjatuh bersama.

Kejadian yang menurutnya memalukan itu ternyata mampu melahirkan sebuah karya yang dikagumi banyak orang.

Dan yang paling mengganggunya bukanlah harga lukisan tersebut.

Melainkan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.

Mengapa Bandung memilih melukis kejadian itu?

Apakah benar hanya karena ia seorang pelukis yang terbiasa mengabadikan apa pun yang dilihatnya?

Ataukah, tanpa disadari, ada sesuatu di dalam hati Bandung yang telah lebih dahulu memilih adegan itu untuk dikenang?

Luna kembali menatap pria di sampingnya.

Bandung sedang berbincang dengan Arnelia dan Bryan, tampak santai seperti biasa.

Namun, kali ini Luna merasa ada bagian dari pria itu yang belum ia kenal.

Sesuatu yang mungkin bahkan belum dikenal Bandung sendiri.

Dan semakin lama ia memikirkannya, semakin sulit pula baginya untuk menganggap lukisan-lukisan itu sebagai kebetulan belaka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!