NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Di Luar Jangkauan

Langkah kaki Naya terseret cepat menyusuri trotoar jalan raya yang ramai oleh lalu lalang kendaraan. Kepala dan dadanya serasa mau meledak. Angin pagi yang menuju siang berhembus kencang pun tak mampu mendinginkan suhu tubuhnya yang panas akibat panik.

Masker di wajahnya terasa berat, membuatnya kewalahan menyuplai udara ke paru-parunya.

Naya terus berjalan tanpa arah, mengabaikan klakson kendaraan dan tatapan heran dari orang-orang yang berpapasan dengannya. Tentu saja aneh, seorang wanita muda, di siang hari berjalan sendirian, terlebih tak punya tujuan.

Entah sudah berapa kali Naya mencengkeram dadanya guna menyalurkan kepahitannya. Namun dadanya tetap sakit. Ia menarik udara dalam-dalam, menahan tangisnya yang siap melebur, dan sialnya yang muncul justru isakan kecil, membuat tenggorokannya semakin sesak.

Sebetulnya, kala merasa sakit begini, Naya biasanya pulang, memeluk Bunda dan bercerita sedikit banyaknya. Namun, keadaannya kini tak memungkinkan. Yang ada hanya membawa petaka.

Bayangan Ibunya yang tersenyum menyambutnya di rumah, lalu tiba-tiba mengusirnya setelah tahu masalah ini, itu saja sudah membuatnya menggila. Di susul surat pemutusan hubungan kerja dari kantor, sebab membuat skandal. Serta cemoohan sanak keluarga berputar liar bagai gasing di kepalanya.

"Gayanya polos, rupanya topeng aja."

"Nakal juga ya Naya, yang keliatan tenang di luar ternyata liar."

"Aduh ngikut siapa itu kelakuannya? pasti bundanya salah didik."

Tidak tidak, Naya tidak mau itu terjadi, dan tidak boleh terjadi!

Kini rasanya seluruh sendinya remuk. Ia sudah membayangkan semuanya, menyatukan kengerian itu sampai nafasnya sesak.

Pandangan Naya membayang kabur, bukan hanya oleh air mata, melainkan oleh gelombang serangan panik yang merayap cepat. Lagi-lagi serangan panik itu, yang lama sudah tidak menyapa dirinya sejak tiga bulan terakhir.

Sampai ketika di perempatan, ada taksi yang kebetulan berhenti di lampu merah, Naya menghampiri taksi itu, masuk ke dalam dan meminta supir untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Dan entah sejak kapan, ia memikirkan tempat itu sebagai pelarian.

Beberapa menit setelahnya, mereka sampai. Naya memberikan satu lembar uang, turun tanpa kembalian. Supir memanggilnya, namun Naya mengisyaratkan dengan tangan, bawa saja.

Supir pun berterimakasih, kembali membawa mobilnya ke tengah kota.

Dan disinilah Naya, di tempat Ibra membawanya satu bulan yang lalu. Ketika semuanya mengerikan, dan kini tambah mengerikan lagi.

Naya sedikit berlari menuju sebuah pohon, ia teruduk di bawah pohon yang rindang. Naya merapatkan kedua lututnya ke dada, lalu menyembunyikan wajahnya di sana seraya terisak hebat dalam diam sementara rambutnya yang kini tergerai bergerak-gerak terbawa angin.

Bagaimana ini? Bagaimana Naya akan menghadapi semua ini?

Oh Tuhan, kesalahan apa yang Naya buat sehingga mendapatkan musibah seperti ini? Tentu saja semua pertanyaannya tak akan mendapat jawaban.

Hanya suara kendaraan yang terus berlalu dan angin yang menyentuh tubuhnya. Naya akhirnya hanya bisa menangis, memeluk lututnya semakin erat.

***

Ibra membasuh wajahnya berkali-kali di atas wastafel sampai sedikit membasahi kemeja bagian depannya, namun ia sama sekali tak peduli.

Pria itu menatap pantulan dirinya di cermin, mata merah, wajah kusam, dan tatapan kosong seorang pria yang baru saja kehilangan segalanya.

Sesaat ia hanya berdiri di sana. Tidak tahu harus melakukan apa. Pikirannya penuh, tetapi tidak satu pun mampu tersusun menjadi jalan keluar

Testpack terbungkus tisu itu ia simpan rapat-rapat di dalam saku dalam jas kerjanya, menempel pas di atas dadanya seolah menjadi beban seberat ratusan ton yang harus ia pikul.

Ia tidak bisa berdiam diri di sini. Naya pergi dalam kondisi hancur, dan membiarkan gadis itu berkeliaran sendirian dalam keadaan syok adalah hal paling berbahaya yang bisa terjadi. Terlebih, Ibra mengingat banyak bekas di tangan kiri Naya, sungguh menakutkan jika sesuatu terjadi.

Bayangan wajah Naya sebelum meninggalkan lift kembali terlintas di kepalanya-pucat, sembap, dan sama sekali tidak menatapnya. Entah kenapa, firasat buruk itu justru semakin kuat.

Dengan langkah cepat, Ibra keluar dari toilet, mengabaikan ponselnya yang bergetar di saku—notifikasi pesan dari Dion yang mempertanyakan keberadaannya setelah rapat tadi, tak lagi penting.

Tanpa kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil tas atau berpamitan pada siapa pun, Ibra langsung melangkah lebar menuju pelataran parkir, menuju mobil, menyalakannya, dan melaju membelah jalanan.

Naya tak dapat dihubungi. Berkali-kali Ibra menelepon dan hanya ada suara operator. Sial! Ibra mendecak, bahkan sampai memukul stir mobilnya.

“Angkat, Nay...” gumamnya lirih, meski ia tahu tidak ada yang akan menjawab dari seberang sana.

Di tengah kegelisahannya ini, Ibra hanya mementingkan Naya, yang sekarang entah dimana. Jujur saja, Ibra sudah membayangkan sesuatu yang buruk, yang fatal. Skenario itu begitu saja di kepalanya.

Bahkan, Ibra menabrak lampu merah, membuat banyak kendaraan lain mengklakson dan menyumpah serapahinya. Tapi Ibra tidak peduli, hanya satu, Naya. Ibra harus menemukannya.

Lama berkeliling, tersemat satu tempat, yang mungkin saja Naya datangi. Tempat di mana ia membawa Naya meluapkan emosi, jauh dari keramaian.

Ibra pun banting stir, berbelok patah, sangat membahayakan dirinya, menuju tempat itu.

Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai kesana. Dan seampainya di area jembatan, Ibra memarkirkan mobilnya sembarangan, turun dari mobil, setengah berlari menuju jalan setapak di bawah jembatan.

Mata Ibra bak elang, menyapu segala penjuru, namun tak temukan apapun. Sehingga ketika ia lebih maju lagi, matanya langsung menangkap sosok ber-hoodie hitam yang meringkuk dibalik pohon.

Langkahnya langsung terhenti sesaat. Ada sedikit kelegaan yang menyusup, tetapi lenyap begitu cepat sebab Naya terlihat sangat terpuruk.

"Naya..." panggil Ibra dengan suara bergetar, terengah-engah usai berlari.

Sosok itu tersentak pelan. Naya perlahan mendongak, menunjukkan matanya yang sembap dan kulit wajahnya yang pucat. Begitu mendapati Ibra berdiri di hadapannya, ketakutan di mata Naya mendadak berubah menjadi kilatan kemarahan dan rasa benci yang meluap-luap.

"Pergi..." bentak Naya, suaranya serak dan hampir habis. "Ngapain kamu ke sini?! Pergi!"

Ibra tertegun sejenak, matanya bergerak tak fokus. "Naya, tolong... tenang dulu, ya," Ibra merendahkan tubuhnya, berlutut di atas tanah rumput yang kotor tepat di depan Naya agar posisinya sejajar. "Saya cari kamu dari tadi--"

"Gara-gara kamu!" Naya tiba-tiba memukul dada Ibra dengan kepalan tangannya yang gemetaran. Pukulan itu pelan, tak bertenaga, namun menghantam ulu hati Ibra jauh lebih keras dari apa pun.

"Gara-gara kamu hidup aku hancur! Masa depan aku habis! Aku harus bilang apa sama Bunda?! Aku harus gimana sekarang, hah?!!"

Isakan Naya pecah lagi, makin keras dan menyayat hati, beradu dengan gemericik air sungai di bawah mereka. Ibra tak membalas, tak pula menepis tangan Naya. Ia membiarkan gadis itu meluapkan seluruh emosi dan kemarahannya, seperti satu bulan yang lalu.

Kepalan tangan Naya perlahan melemah, tetapi air matanya justru semakin deras. Tubuhnya yang sejak tadi menegang akhirnya kehilangan tenaga, seolah seluruh kekuatan yang tersisa habis bersama tangisnya.

Pria itu menyerap setiap pukulan dan makian Naya sebagai hukuman atas kesalahan mereka.

"Iya... ini salah saya. Semuanya salah saya, Naya," cicit Ibra lirih, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga dari sudut matanya, membasahi pipinya, tapi cepat-cepat ia usap.

Tangannya perlahan terangkat, memegang kedua bahu Naya dengan sangat hati-hati. "Kamu boleh benci saya, kamu boleh pukul saya sepuas kamu... tapi tolong, jangan hadapi ini sendirian."

Naya menggeleng lemas, menatap aliran air sungai di bawah sana dengan pandangan hampa. "Aku takut... aku takut banget..."

Ibra terdiam beberapa detik. Ia tidak akan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, sebab kenyataan terlalu pahit di depan sana. Ia sendiri tidak tahu seperti apa hari-hari mereka setelah ini. Yang bisa ia lakukan hanyalah memastikan Naya tidak menghadapinya seorang diri.

Ibra menarik napas panjang, berusaha menguasai dirinya kembali. Langkah awal harus segera diambil, tidak peduli seberapa mengerikannya kenyataan ini.

"Hari ini... kita periksa ke dokter kandungan, ya?" bujuk Ibra amat lembut, memanjatkan doa dalam hati agar Naya tak menolaknya. "Kita harus tahu kondisi kamu di dalam sana. Kita cari rumah sakit yang jauh dari area kantor dan rumah, yang diluar jangkauan siapapun. Atau kalau perlu kita keluar kota. Saya yang urus semuanya. Jadi tolong... ikut saya sekarang, Naya."

Naya terpaku, menatap wajah Ibra yang dipenuhi rasa takut dan keputusasaan yang sama besarnya dengan apa yang ia rasakan.

Dalam keremangan kolong jembatan itu, dua manusia yang sama-sama hancur itu saling mengunci pandangan--menghadapi awal dari badai panjang yang baru saja dimulai.

1
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!