NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi Bisu x Sidang Kampus

‎   Pelataran Gudang Teater Lama yang tadinya sepi layaknya kuburan mendadak riuh rendah. Dua petugas keamanan kampus memegangi kedua lengan Reza dengan kuat, sementara Pak Yanto masih menatap pemuda itu dengan tatapan jijik seolah Reza adalah kecoa yang merayap di atas meja makannya. Di sudut lain, Siska dan Maya sibuk menenangkan Dini yang pandangannya kosong menembus dimensi lain, membisu bak patung pualam yang retak.

‎

‎Di tengah ketegangan yang menyesakkan dada itu, dari arah semak belukar yang membatasi kampus dengan stasiun, terdengar suara gemerisik kasar dan napas terengah-engah yang menyerupai suara banteng asma.

‎

‎Poltak Hasibuan muncul dari balik ilalang. Penampilannya sungguh mengenaskan. Kemejanya kotor dipenuhi sisa duri tanaman, rambut ikalnya dipenuhi jaring laba-laba, dan wajahnya merah padam karena kehabisan napas. Pengejarannya nihil. Dua preman pasar induk itu menghilang bagai ninja berbadan kulkas di tengah keramaian stasiun.

‎

‎"Sialan... anjing... babi ngepet pelari maraton..." racau Poltak sambil membungkuk memegangi lututnya. Namun, saat ia mendongak dan melihat kerumunan di depan pintu Teater Lama, matanya langsung terbelalak lebar. Jantungnya rasanya mau copot, melompat keluar dari kerongkongan, dan berlari pulang ke Medan.

‎

‎Sahabatnya, si pemuda kurus bermental baja itu, kini sedang dikunci tangannya oleh petugas keamanan. Di pipi Reza, tercetak jelas bekas tamparan merah yang masih segar, bersanding harmonis dengan lebam keunguan sisa hajatan preman semalam.

‎

‎"Woy! Woy! Tunggu dulu! Ada apa ini?!" teriak Poltak, berlari gontai menghampiri kerumunan.

‎

‎Ia menatap satpam, lalu menatap Pak Yanto, dan terakhir menatap Reza. "Kenapa si Reza yang kalian tangkap?! Yang nyulik Kak Dini itu dua preman botak yang baru aja kukejar sampai paru-paruku mau meledak! Reza ini pahlawan, Pak! Dia yang masuk duluan buat nolongin!"

‎

‎Pak Yanto menoleh dengan sinis. "Pahlawan kamu bilang? Teman kamu ini tertangkap basah berduaan dengan Dini dalam kondisi... tidak pantas! Dini trauma berat, dan bajingan ini malah menyangkal!"

‎

‎Poltak ternganga. Otaknya butuh waktu tiga detik untuk memproses tuduhan absurd tersebut. Begitu ia paham, darah Bataknya langsung mendidih hingga ke ubun-ubun.

‎

‎"Bapak dosen kalau ngomong jangan sembarangan pakai pantat panci!" raung Poltak, suaranya menggelegar membuat burung-burung di pohon beringin berterbangan. "Bapak lihat badan si Reza ini?! Tulangnya aja pada nongol macam gitar spanyol! Tadi malam dia dihajar preman sampai kursinya patah! Mana mungkin dia punya tenaga buat nyeret Kak Dini sampai ke mari?! Yang narik itu dua gorila!"

‎

‎Poltak beralih ke arah Dini yang masih dipeluk Siska. "Kak Dini! Tolonglah Kak bicara! Kasih tahu bapak-bapak ini! Bilang kalau bukan si Reza yang ngelakuin! Kasihan dia, Kak, masa depannya dipertaruhkan ini!"

‎

‎Namun, Dini tetap membisu. Matanya berkedip lambat, namun tak ada satu pun kata yang keluar dari bibirnya yang pucat. Trauma pelecehan itu telah menggembok pita suaranya rapat-rapat. Jiwanya masih tertinggal di sudut gelap ruang properti.

‎

‎Melihat Dini yang tak bergeming, Poltak semakin frustrasi. Ia maju selangkah hendak menarik Reza dari tangan satpam. "Lepaskan kawan aku! Kalian semua buta!"

‎

‎"Tahan dia!" perintah Pak Yanto pada satpam yang lain.

‎

‎"Udah, Tak. Berhenti," suara Reza akhirnya terdengar. Sangat pelan, namun cukup tegas untuk menghentikan amukan Poltak. Reza menatap sahabatnya dengan tatapan pasrah namun tenang. Senyum getir menghiasi bibirnya. "Percuma lo marah-marah, Tak. Nggak ada gunanya. Saksi kuncinya lagi nggak bisa ngomong. Biar gue ikut mereka aja."

‎

‎"Tapi Za! Ini fitnah, Kawan! Fitnah lebih kejam dari ibu tiri!" rengek Poltak, matanya mulai berkaca-kaca melihat ketidakadilan yang begitu telanjang di depan matanya.

‎

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!