INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
***Bab 21 Badai diatas lautan Tenang
🌸🌸🌸🌸
Tiga bulan setelah malam penganugerahan Cakrawala Global Media Group, kejayaan Nadia Kirana di dunia bisnis nasional makin kokoh. Namun, di dalam ekosistem industri finansial papan atas, ketenangan yang tampak di permukaan selalu menyimpan arus bawah yang mematikan.
Di ruang kerja VVIP lantai teratas gedung PT Cakrawala Capital, Nadia berdiri memandang deretan pencakar langit Jakarta yang disiram cahaya pagi. Blazer berwarna putih gading yang dikenakannya memancarkan aura kepemimpinan yang makin matang.
Klek.
Bimo melangkah masuk tanpa mengetuk pintu dengan ketukan biasa. Wajah Manajer Senior itu tampak sangat tegang, memegang sebuah tablet digital dan berkas tebal bersampul merah.
"Nadia, ada guncangan di pasar saham internasional pagi ini," kata Bimo dengan suara rendah seraya meletakkan tablet di meja kerja Nadia.
Nadia membalikkan badan, menatap layar tablet yang menampilkan grafik pergerakan nilai saham PT Cakrawala Capital yang mendadak mengalami penurunan tajam sebesar delapan persen hanya dalam dua jam pertama pembukaan bursa.
"Penjualan masif secara serentak?" tanya Nadia tenang, tanpa kepanikan di raut wajahnya.
"Bukan cuma penjualan masif," jawab Bimo tegang.
"Ada konsorsium investasi asing asal Singapura, Helios Investment Corp, yang secara mendadak memborong saham-saham publik kita di pasar sekunder melalui lima anak perusahaan cangkang.
Mereka sudah menguasai empat belas persen saham beredar dalam waktu semalam."
Nadia menatap grafik tersebut dengan mata menyipit. "Helios Investment Corp... Siapa nama pimpinan konsorsium itu?"
" Julian Thorne," pangkas Bimo. "Pengusaha keturunan Indonesia-Inggris yang terkenal dengan julukan The Corporate Raider.
Metode bisnisnya sangat agresif: membeli saham perusahaan yang sedang berkembang pesat, mengambil alih kendali secara paksa melalui hostile takeover, lalu memotong asetnya untuk dijual kembali dengan keuntungan berlipat."
Nadia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin seorang Ratu Bisnis yang siap menyambut tantangan baru.
"Julian Thorne pikir Cakrawala Capital adalah perusahaan lemah yang bisa dicaplok dengan permainan modal asing," gumam Nadia seraya menduduki kursi pimpinannya. "Bagaimana dengan posisi saham kita saat ini?"
"Kita masih memegang lima puluh dua persen saham mayoritas mutlak," terang Bimo. "Tapi Helios sudah mulai mengirimkan surat permohonan kursi Dewan Komisaris dengan alasan kepemilikan saham signifikan."
"Tolak surat permohonan itu," perintah Nadia tegas tanpa ragu. "Jadwalkan rapat darurat dengan tim analisis risiko dan siapkan dana cadangan sepuluh triliun rupiah untuk melakukan buyback saham publik jika Helios mencoba memborong kembali."
Sementara itu, di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang, suasana sangat jauh dari kata mewah.
Reno Pratama duduk di atas bangku kayu panjang di ruang kunjungan khusus. Seragam tahanan berwarna biru lusuh yang dikenakannya tampak kebesaran pada tubuhnya yang kian kurus. Wajahnya yang dulu bersih dan terawat kini tampak kusam, diliputi rasa frustrasi dan keputusasaan yang mendalam.
Setiap hari di dalam sel, Reno harus mematuhi aturan ketat, memakan makanan seadanya, dan hidup bersama para terpidana kasus kriminal lainnya. Penyesalan atas kehancuran hidupnya terus menggerogoti jiwanya setiap malam.
Klek.
Pintu ruang kunjungan khusus terbuka. Seorang pria bersetelan jas mahal berwarna kelabu melangkah masuk dengan gaya anggun dan cermin mata hitam yang bertengger di hidungnya. Di belakangnya, dua pengacara pribadi berseragam rapi mengiringi.
Pria itu melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata berwarna cokelat terang yang dingin. Ia adalah Julian Thorne.
Reno mengerutkan dahi, menatap pria asing di hadapannya dengan bingung. "Siapa Anda? Saya tidak merasa mengajukan jadwal kunjungan."
Julian menduduki kursi di seberang Reno, menyilangkan kakinya dengan sangat rileks. Ia mengisyaratkan pengawalnya untuk menjaga jarak.
"Selamat pagi, Terdakwa Reno Pratama," sapa Julian dengan bahasa Indonesia beraksen asing yang sangat fasih dan berkelas. "Saya Julian Thorne, Chairman dari Helios Investment Corp."
Mendengar nama Helios Investment Corp, mata Reno yang muram sedikit berkilat. Pria itu sudah cukup lama bergelut di dunia bisnis untuk mengetahui skala raksasa konsorsium investasi internasional tersebut.
"Julian Thorne...?" ulang Reno parau. "Mau apa pimpinan konsorsium raksasa seperti Anda mendatangi tahanan seperti saya?"
Julian tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kalkulasi bisnis. Ia menyodorkan sebuah foto berukuran besar ke atas meja. Foto itu memperlihatkan Nadia yang sedang berdiri di panggung Gala Night dengan gaun mewahnya, dikelilingi oleh para petinggi negara.
Melihat foto Nadia, dada Reno terasa seperti dihantam batu besar. Rasa cemburu, sakit hati, dan kekalahan kembali membakar pikirannya.
"Saya datang untuk menawarkan Anda sebuah kesepakatan, Reno," ujar Julian dengan suara rendah seraya menopang dagunya.
"Kesepakatan apa?" tanya Reno curiga
"Saya tahu Anda adalah orang yang membangun Apex Media dari nol sebelum mantan istri Anda, Nadia Kirana, mengambil alih seluruh kekuasaan dan melemparkan Anda ke dalam penjara ini," papar Julian seraya menatap mata Reno dengan tajam.
Reno mengepalkan tangannya di atas meja, giginya bergelut menahan emosi. "Nadia merebut semuanya dari saya! Dia menghancurkan hidup saya!"
"Benar," sela Julian dengan nada memprovokasi yang sangat halus. "Nadia tidak hanya merebut perusahaan Anda, tetapi juga mempermalukan Anda dan keluarga Anda di depan publik. Dan saat ini, dia sedang menikmati kejayaan di atas penderitaan Anda di dalam sel ini."
Julian melangkah satu tingkat lebih jauh dalam memanipulasi situasi.
"Saya sedang melakukan proses pengambilalihan atas PT Cakrawala Capital," terang Julian. "Namun, Nadia memiliki sistem keamanan data dan arsip keuangan yang sangat ketat. Saya butuh dokumen rahasia, celah hukum lama, atau kunci enkripsi cadangan dari proyek awal Apex Media yang hanya diketahui oleh Anda selaku mantan Direktur Utama."
Reno menatap Julian dengan ragu. "Jika saya memberikan informasi rahasia itu... apa keuntungan buat saya? Saya masih harus menjalani hukuman empat tahun lebih di sini."
Julian terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Saya memiliki tim pengacara internasional yang bisa mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas kasus Anda dengan membawa bukti-bukti baru," janji Julian dengan mata berkilat beracun.
"Saya bisa memotong masa tahanan Anda menjadi kurang dari satu tahun, menyediakan rumah baru untuk ibu dan adik Anda, serta memberi Anda dana pensiun lima puluh miliar rupiah setelah Cakrawala Capital jatuh ke tangan saya."
Lima puluh miliar rupiah... dan bebas dari penjara.
Kata-kata Julian bergema bak bisikan iblis yang begitu manis di telinga Reno. Bayangan untuk bisa keluar dari sel tahanan yang dingin, mengembalikan kemewahan keluarganya, dan yang paling utama—melihat Nadia berlutut kalah dari tahta bisnisnya—membuat rasa dendam di dalam diri Reno terbakar kembali.
Reno menelan ludahnya, menatap Julian dengan mata yang kini dipenuhi aura kegelapan baru.
"Informasi kunci itu tidak gratis, Tuan Julian," bisik Reno serak.
Julian menyunggingkan senyum puas, mengetahui bahwa ia baru saja menemukan senjata paling beracun untuk meruntuhkan benteng pertahanan Nadia.
"Tentu saja," jawab Julian seraya menyodorkan sebuah berkas perjanjian rahasia di atas meja. "Ker kerja sama ini adalah awal dari kehancuran mantan istri Anda."
Di ruang kerja mewahnya di SCBD, Nadia berdiri di balik jendela kaca, merasakan hembusan angin sore yang membawa aroma hujan.
Nadia belum tahu bahwa di balik dinding sel tahanan yang dingin, sebuah persekutuan gelap baru telah terbentuk untuk meruntuhkan kerajaannya.
Pertempuran tahap kedua yang jauh lebih berdarah dan penuh intrik internasional baru saja resmi dimulai.
🌸🌸🌸🌸🌸