NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lulus

Pengumuman kelulusan disiarkan langsung di aula sekolah, dipenuhi sorak-sorai dan tepuk tangan meriah dari seluruh siswa, guru, dan orangtua yang hadir. Kepala Sekolah berdiri di atas panggung, memegang mikrofon dengan penuh kebanggaan.

"Dan untuk peraih nilai tertinggi tahun ini, bukan hanya di sekolah kita, tetapi tingkat provinsi... Haruna!" serunya lantang, disambut gemuruh tepuk tangan yang menggetarkan seisi aula.

Haruna melangkah maju menuju panggung, kakinya yang tak sempurna melangkah tertatih namun penuh kebanggaan. Disambut sorak-sorai dan siulan riang dari teman-teman sekelasnya yang selama ini menyaksikan sendiri betapa keras perjuangannya.

Kepala Sekolah menyerahkan piala emas berkilau beserta piagam penghargaan, berjabat tangan erat sambil membisikkan kata-kata pujian.

"Sekolah ini bangga banget punya murid seperti kamu, Haruna," ucap Kepala Sekolah tulus.

Sorotan kamera dari beberapa wartawan lokal yang sengaja diundang untuk meliput prestasi gemilang itu berkelip-kelip, mengabadikan momen bersejarah tersebut. Setelah acara di panggung usai, satu per satu guru dan teman-temannya menghampiri Haruna, memberikan ucapan selamat yang tulus.

"Selamat, Har! Nilai kamu paling tinggi se-provinsi, lho, keren banget!" seru salah satu temannya, memeluknya erat.

"Terima kasih," jawab Haruna, tersenyum lebar, meski di balik senyuman itu tersimpan sesuatu yang begitu dalam dan menyakitkan.

Berbagai tawaran datang bertubi-tubi dari beberapa universitas ternama lain yang mendengar prestasinya, masing-masing menawarkan beasiswa penuh dengan berbagai fasilitas menggiurkan.

Namun Haruna tetap teguh pada pilihannya sejak awal... universitas yang pernah ia lihat langsung bersama Kirana, kampus impian yang menjadi saksi tekad besar yang tumbuh dalam dirinya sejak masih remaja.

"Haruna udah mantap sama pilihan awal, Pak. Terima kasih banyak atas semua tawarannya," jawab Haruna sopan kepada salah satu perwakilan universitas yang mencoba membujuknya. Sebelum kembali menegaskan keputusannya kepada Pak Broto yang sejak tadi mendampinginya.

Seluruh warga sekolah tak henti membicarakan kisah inspiratif Haruna... gadis yang dulu dibuang orangtuanya sendiri karena kondisi kakinya yang tak sempurna, yang selama bertahun-tahun menghadapi cemoohan dan hinaan dari orang-orang di sekitarnya. Kini berdiri tegak sebagai lulusan terbaik yang membanggakan seluruh provinsi.

Namun di tengah gemerlap kebahagiaan dan pujian yang terus mengalir sepanjang hari itu, ada satu ruang kosong yang terus menghantui hati Haruna.

Setiap kali seseorang memberi selamat, setiap kali tepuk tangan bergema memenuhi ruangan. Senyumnya tetap terkembang. Namun jauh di dalam dadanya, ada tangisan yang tak pernah benar-benar berhenti.

Nek Lasmi tidak ada di sana untuk menyaksikan momen ini.

Wanita yang telah mengorbankan segalanya, yang rela hidup sederhana demi memastikan cucunya bisa terus bersekolah. Yang selalu mendoakan kesuksesan Haruna di setiap sujudnya, kini tak lagi bisa hadir untuk melihat buah dari perjuangan panjang itu. Tak bisa lagi memeluknya dengan bangga seperti yang selalu ia lakukan setiap kali Haruna membawa pulang piala kemenangan.

Begitu seluruh rangkaian acara kelulusan usai, dan teman-temannya mulai berpencar untuk merayakan bersama keluarga masing-masing, Haruna memilih jalan yang berbeda.

Dengan tas berisi piala, piagam penghargaan, dan beberapa hadiah dari sekolah tergantung di pundaknya. Ia melangkah menuju satu tempat yang selama ini menjadi tujuannya di setiap momen penting kehidupannya, pemakaman sederhana di ujung desa.

Rumput di sekitar makam Nek Lasmi sudah mulai tumbuh subur, menandakan waktu yang telah berlalu sejak kepergian wanita itu.

Haruna berjongkok pelan di depan nisan kayu yang mulai lapuk dimakan cuaca, menata piala dan piagam itu rapi di atas gundukan tanah, seolah memamerkannya kepada sosok yang paling ia rindukan.

"Nek, Haruna lulus," bisiknya pelan, suaranya bergetar menahan haru yang membuncah. "Nilai Haruna paling tinggi lho, Nek. Bukan cuma di sekolah, tapi se-provinsi. Nenek pasti bangga banget kalau lihat ini."

Angin sore berembus lembut, menggoyangkan rerumputan di sekitar makam, seolah menjadi jawaban tak terucap dari seorang nenek yang kini telah tenang di alam baka.

"Haruna juga udah putusin buat masuk universitas impian, Nek. Yang dulu Haruna sama Kak Kirana lihat bareng-bareng, inget kan, Nek? Yang Haruna pernah cerita ke Nenek dulu," lanjut Haruna, air matanya mulai menetes perlahan, membasahi pipinya yang sudah lama tak lagi menangis sederas ini sejak hari pemakaman.

Ia duduk bersila di samping makam itu. Menceritakan setiap detail hari itu dengan begitu detail... dari sorak-sorai teman-temannya, pujian dari Kepala Sekolah, hingga tawaran-tawaran universitas lain yang harus ia tolak dengan sopan.

"Haruna kangen banget sama Nenek," bisiknya lirih di penghujung cerita, mengusap permukaan nisan itu dengan lembut. "Tapi Haruna janji, Nek, Haruna akan terus jaga janji Haruna. Haruna akan jadi orang sukses, biar Nenek di surga bisa terus bangga lihat Haruna dari atas sana."

 

Jauh di kota, di sebuah rumah mewah bertingkat dua dengan pagar besi tinggi mengelilinginya, suasana justru begitu kontras dengan kebahagiaan yang tengah dirasakan Haruna.

Suara bentakan menggema memenuhi ruang keluarga yang dipenuhi perabotan mahal, memecah kesunyian sore yang seharusnya damai.

"Nilai kayak gini kamu sebut lulus!" bentak seorang pria paruh baya, melempar selembar kertas rapor ke atas meja marmer dengan keras, suaranya menggelegar penuh amarah. "Papa udah bayar guru les mahal-mahal, tapi hasilnya cuma segini!"

Seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun berdiri membisu di hadapan pria itu. Kepalanya tertunduk, tangannya terkepal erat menahan emosi yang sudah lama terpendam. Wajahnya menyiratkan campuran antara rasa takut dan kemarahan yang selama ini selalu ia sembunyikan.

"Reynan, kamu ini anak dari keluarga terpandang! Malu-maluin aja nilai kayak gini!" lanjut pria itu, matanya menyala penuh kekecewaan.

Tak lama, seorang wanita paruh baya bergegas masuk ke ruangan itu, wajahnya pucat mendengar suara teriakan yang menggema hingga ke lantai atas. "Ada apa ini? Kenapa berisik banget?"

"Ini, lihat hasil didikan kamu!" pria itu langsung mengalihkan amarahnya, menyodorkan kertas rapor itu kasar ke tangan istrinya. "Anak kamu dapet nilai pas-pasan! Kamu ke mana aja selama ini, nggak pernah perhatiin pendidikan anak sendiri!"

"Aku... aku juga udah usaha, Pah," jawab wanita itu, suaranya gemetar ketakutan, "aku udah suruh dia belajar tiap hari..."

"Usaha apa? Kalau usaha, harusnya nilainya bagus, bukan begini!" potong pria itu tajam, membuat sang istri terdiam ketakutan, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Melihat ibunya ikut disalahkan, sesuatu dalam diri Reynan akhirnya meledak. Selama bertahun-tahun ia memendam kekecewaan yang tak pernah berani ia ungkapkan. Namun kali ini, kemarahan itu tumpah begitu saja.

"Papa selalu maksa aku buat jadi kayak yang Papa mau!" teriak Reynan, mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke mata ayahnya dengan penuh amarah yang selama ini terpendam. "Aku nggak pernah dikasih kesempatan buat pilih apa yang aku suka! Semua harus sesuai maunya Papa... les ini, les itu, harus jadi juara, harus masuk sekolah bisnis, padahal aku sama sekali nggak minat sama semua itu!"

"Kamu berani ngelawan Papa!" pria itu semakin murka, wajahnya memerah padam menahan amarah yang meluap-luap.

"Aku capek, Pa! Capek terus-terusan ditekan buat jadi sempurna kayak yang Papa mau! Papa nggak pernah tanya, aku sebenarnya pengen apa!" balas Bagas, air matanya mulai menetes, campuran antara amarah dan kesedihan yang selama ini terpendam dalam.

Pria itu, Bagas... mengangkat tangannya, hampir saja menampar wajah anaknya jika sang istri tak segera menahan lengannya dengan panik.

"Pah, jangan! Kendaliin diri, Pah!" pekik Larasati, air matanya ikut tumpah menyaksikan kekacauan yang tengah terjadi di depan matanya.

Suasana mencekam itu berlangsung beberapa saat, hingga akhirnya sang ibu, dengan suara bergetar, mencoba melerai. "Reynan udah, masuk kamar dulu, ya, Nak. Biar Mama yang urus ini sama Papa."

Reynan menatap kedua orangtuanya bergantian, matanya masih memerah menahan tangis dan amarah yang belum sepenuhnya reda.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik, melangkah cepat menaiki tangga menuju kamarnya, membanting pintu dengan keras hingga menggema ke seluruh rumah.

Meninggalkan kedua orangtuanya yang masih terdiam dalam keheningan yang begitu canggung. Sementara di balik pintu kamar yang tertutup rapat itu, Reynan terduduk lemas, menangis dalam diam, merasakan beban hidup yang begitu berat sebagai anak tunggal dari keluarga yang tampak sempurna di mata orang lain. Namun menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh sejak bertahun-tahun lalu.

1
Ilfa Yarni
semangat haruna wujudkan mimpimu jd orang sukses agar nenekmu bahagia diatas sana
Muft Smoker
wooah semangat trus harunaa ,,
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
Ilfa Yarni
emang gmn cara km tes drive
Muft Smoker
test Drive ,, test Drive ,, Dy fikir si Haruna sirkuit Mandalika kali yx/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilfa Yarni
jgn coba comblangin haruna dgn laki2 lain ya vania
Sayekti 0519
bukannya tobat ,malah laknat.seharusnya ada jln untuk sadar.terima dengan niat baik
Ilfa Yarni
awas ya reynan jgn sampe luluh km
Muft Smoker
astgaaaa ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Sayekti 0519
ngerawat nenek lah.balas budi.kuliah bisa menyusul.
Muft Smoker
semoga Bagas cepat dpat karma ny ,,
Ilfa Yarni
aku ingin bagas cepat hancur jahat banget jadi manusia
Muft Smoker
tunggu karma menghampiri mu Bagas ,,
Ilfa Yarni
dasar orangtua jahat tunggu lah kehancuranmu suatu saat keboho ganmu terbongkar
Muft Smoker
semangat Haruna ,, jgn biarkan pak Bagas meremehkan mu ,,
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
Ilfa Yarni
Ya ampun ga nyangka Ada orangtua yg seperti ini aku doakan Haruna cepat jadi konglomerat Dan bagas hancur oleh perbuatannya sendiri
Muft Smoker
yakin laa reynan kalo Haruna bakal bisa melewati semua ini ,, udh banyak pahit kehidupan yg di lalui haruna ,,
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,
Ilfa Yarni
tenang aja reynan haruna akan membuktikannya klo dia bisa sukses km cukup doakan saja dan of saat nya tiba bagas akan menyesal perbuatannya
Ilfa Yarni
nah lol feeling ga ya nyonya larasati pd Haruna bahwa Haruna adalah ank kandungnya biasanya antara ibu Dan ank itu Ada ikatan bathin yg kuat
Dew666
💟
Ilfa Yarni
aduh hbs penasaran dongv thor Mana upnya cuma 1 sehari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!