NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 : Cara yang tidak tercatat

Siang telah melewati puncaknya. Cahaya matahari menekan ruangan, membuat udara terasa berat meski pendingin menyala.

Blair masih duduk di kursinya. Ia tidak bekerja. Tidak membaca berkas. Tidak menyentuh apa pun.

Waktu berlalu tanpa arti.

Akhirnya ia menghela napas panjang, mengusap rambutnya ke belakang, lalu berdiri dengan gerakan kasar. Kenangan di jembatan kembali muncul, membuat rahangnya mengeras.

Tuk.

Tinju itu menghantam meja.

Blair melangkah menuju pintu. Begitu daun pintu terbuka, sosok tinggi sudah berdiri di hadapannya.

Theodore.

Jas hitamnya rapi, wajahnya kembali tertutup ketenangan yang sulit ditembus. Tidak ada sisa emosi dari kemarin, setidaknya di permukaan.

“Kita perlu bicara,” ucapnya.

Blair menyipitkan mata. “Di sini?”

“Tidak.”

Theodore berbalik lebih dulu. Blair mengikutinya tanpa bertanya.

Mereka keluar gedung dan berhenti di taman samping. Angin berembus pelan. Di kejauhan, lalu lintas kota bergerak tanpa peduli.

Keduanya bersandar di pagar taman, menatap ke depan.

Hening.

“Apa yang kau dengar kemarin,” kata Theodore akhirnya, “tidak akan masuk ke laporan mana pun.”

Blair menoleh perlahan. “Karena?”

“Karena laporan tanpa ujung hanya akan menyakiti orang yang sudah hancur,” jawab Theodore tenang. “Dan tidak menyentuh siapa pun yang seharusnya bertanggung jawab.”

Blair mengepalkan tangannya. “Jadi kau menyebut itu… kebijaksanaan?”

Theodore tidak langsung menjawab. Ia menatap kota di bawah sana.

“Sistem hukum tidak runtuh karena ketidakadilan,” katanya pelan. “Ia runtuh karena ketidaksabaran.”

Blair terkekeh singkat, pahit. “Kedengarannya seperti alasan untuk diam dan menunggu.”

“Tidak,” Theodore menoleh sedikit. “tapi itu alasan untuk tidak bertindak ceroboh.”

Blair menghadapnya sepenuhnya. “Seorang anak mati. Ibunya hampir melompat dari jembatan. Dan kau bilang… jangan bertindak ceroboh?”

Tatapan Theodore menyempit, tapi suaranya tetap stabil.

“Aku bilang, pilih waktumu.”

Blair terdiam.

“Orang-orang yang terlibat,” lanjut Theodore, “tidak akan jatuh karena satu teriakan. Mereka jatuh karena kesalahan kecil yang dicatat, disimpan, lalu dikunci pada saat yang tepat.”

Blair menelan ludah. “Dan kalau tidak pernah ada saat yang tepat?”

Theodore memandangnya lama.

“Selalu ada,” katanya. “Tapi tidak oleh orang yang berdiri terlalu dekat dengan api.”

Hening kembali turun.

Blair mengalihkan pandangan. “Jadi kau menyuruhku lari?"

“Aku menyuruhmu tetap hidup,” jawab Theodore. “Dan tetap bersih.”

Ia meluruskan tubuhnya. “Apa pun yang kau lakukan setelah ini, lakukan seolah kau tidak pernah mendengar cerita itu.”

Blair menatapnya, tajam. “Dan kau?”

Theodore berbalik. “Aku bekerja dengan waktu. Bukan emosi.”

Ia berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Blair tetap di sana.

Angin menyapu wajahnya. Perlahan, rahangnya mengeras, matanya menggelap.

Ia tersenyum tipis.

“Kalau begitu,” gumamnya, “aku akan bekerja dengan cara yang tidak tercatat.”

Tangannya mengepal.

“Bukan sebagai hakim.”

...

Kelas itu riuh oleh suara istirahat. Beberapa siswa duduk berkelompok sambil membuka bekal, sebagian lain menyandarkan kepala di meja, terlelap tanpa peduli kebisingan di sekitarnya. Di sudut ruangan, tawa kecil terdengar ringan, seolah tak ada beban apa pun di dunia mereka.

Di sanalah Emily duduk, bersama tiga temannya. Mereka membentuk lingkaran kecil, saling condong satu sama lain, membicarakan sesuatu dengan nada geli. Senyum di wajah mereka lebar, sesekali diselingi tawa tertahan.

Pintu kelas tiba-tiba terbuka keras.

Seorang siswi berlari masuk, napasnya terengah. Langkahnya goyah, nyaris tersandung ambang pintu sebelum berhasil menjaga keseimbangan. Wajahnya pucat, matanya liar mencari seseorang.

“Emily!” panggilnya, suara itu terdengar panik dan terlalu keras untuk ruang kelas yang penuh orang.

Beberapa kepala menoleh. Tawa di sudut ruangan langsung mereda.

Emily mengangkat wajahnya. Alisnya terangkat, ekspresinya tetap santai, nyaris bosan. “Apa sih?” jawabnya, nada suaranya datar, seolah gangguan itu tak penting.

Ia berdiri dan melangkah cepat menghampiri gadis itu. Dengan satu lirikan tajam ke arah teman-temannya, ia memberi isyarat agar mereka diam. Senyum-senyum di wajah mereka menghilang, digantikan tatapan waspada.

“Apa yang bikin kamu ribut begini?” tanya Emily pelan, keningnya berkerut saat mereka berhenti di dekat jendela.

Gadis itu menelan ludah. Ia mencondongkan tubuh, merendahkan suaranya hingga nyaris tak terdengar. “Ada orang,” bisiknya tergesa, “yang mau nyebarin rekaman itu. Ke publik.”

Wajah Emily berubah seketika.

Santainya lenyap. Rahangnya mengeras, matanya menyipit. “Apa maksudmu?” suaranya kini dingin.

“Aku dengar langsung,” lanjut gadis itu, tangannya gemetar. “Katanya… ada yang pegang salinannya. Dan kali ini... nggak bisa dibeli.”

Emily terdiam beberapa detik. Ruang kelas terasa menjauh, suara tawa, obrolan, bahkan bel sekolah seolah tenggelam. Ia menoleh sekilas ke arah sudut ruangan, ke teman-temannya yang kini memperhatikan dari jauh dengan ekspresi tegang.

“Siapa?” tanyanya akhirnya.

Gadis itu menggeleng cepat. “Aku nggak tahu. Tapi mereka bilang… semua yang ada di video itu bakal dipanggil. Satu per satu.”

Jari Emily mengepal di sisi roknya. Senyum tipis perlahan terukir di bibirnya bukan senyum lega, melainkan senyum penuh tekanan.

“Tenang,” katanya, suaranya kembali rendah. “Jangan bilang siapa-siapa.”

Ia melangkah pergi, kembali ke sudut kelas. Teman-temannya langsung berdiri mengelilinginya.

“Kenapa?” salah satu dari mereka berbisik.

Emily mengangkat dagunya sedikit. Tatapannya tajam, waspada, dan untuk pertama kalinya… terlihat takut.

“Masalah lama,” jawabnya singkat. “Dan kayaknya… belum selesai.”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!