hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 31
Elizabeth melangkah cepat mendekati meja dapur, segera menurunkan tangan Draven yang sibuk memegang pisau dengan canggung di atas sayuran. Asap tipis mulai mengepul dari pan di atas tungku, dan aroma yang samar berbau hangus mulai menyebar di udara.
"Sudah, biarkan aku yang memegang pisau itu," ucap Elizabeth lembut namun tegas, jari-jarinya menyentuh punggung tangan Draven. "Kau memotong wortel itu seolah-olah kau sedang berperang dengan musuhmu."
Draven menurunkan pisau, menatapnya dengan wajah sedikit cemberut namun tidak marah. "Aku hanya ingin... setidaknya sekali saja, aku yang menyiapkan makanan untuk kalian.
Leon bilang pria yang tidak bisa memasak bukan pahlawan. Dan aku ingin menjadi ayah yang bisa diandalkan."
Hati Elizabeth terasa bergetar mendengar kata-kata itu. Ia menatap wajah pria itu—raja yang ditakuti seluruh benua, yang bisa menghancurkan pasukan dalam sekejap mata, namun sekarang berdiri canggung di hadapan tumpukan sayuran seolah itu adalah sihir paling rumit yang pernah ia temui.
"Kau sudah menjadi pahlawan bagi kami, Draven," jawab Elizabeth pelan, lalu tersenyum tipis. "Tapi baiklah... kalau begitu, mari kita memasak bersama. Aku ajarkan, dan kau ikuti caraku.
Jangan pakai kekuatan sihirmu, ya? Pisau ini harus dipotong dengan tangan, bukan dengan api atau angin."
Draven mengangguk patuh seperti anak kecil yang baru saja diberi tugas penting. "Baik. Aku janji."
Mereka berdiri berdampingan di meja dapur yang luas itu. Elizabeth memegang tangan Draven, membimbing jari-jarinya yang besar dan kuat untuk memegang pisau dengan benar. "Lihat... jari telunjuk dan ibu jari menahan bagian atas gagang, sisanya memegang erat di bawah. Pisau harus tajam, tapi yang lebih penting adalah pergerakan tangan yang stabil. Jangan terburu-buru."
Draven mengikuti gerakan Elizabeth dengan saksama, matanya tak lepas dari tangan wanita itu. Setiap kali pisau itu berhasil memotong sayuran dengan rapi.
meski kadang tidak terlalu lurus, secercah kebanggaannya terlihat di matanya yang merah menyala itu.
"Begitu?" tanyanya ragu saat sepotong wortel terpotong lumayan rapi.
"Ya, begitu! Bagus sekali," puji Elizabeth tulus, menambahkan bumbu ke dalam pan yang mulai berasap. "Sekarang, aduk perlahan. Jangan terlalu cepat, nanti bumbunya terpercik."
Draven mengambil sendok kayu, mengaduk masakan itu dengan hati-hati seolah-olah sedang memegang benda paling rapuh di dunia. "Rasanya... aneh," gumamnya pelan. "Selama ratusan tahun hidupku, aku hanya tahu rasa darah dan kekuasaan.
Tapi berdiri di sini, di dapur ini, mencium aroma bawang dan rempah... rasanya lebih hangat dari apa pun yang pernah kurasakan."
Elizabeth berhenti sejenak, menatap pria itu dalam-dalam. "Karena ini bukan sekadar makanan, Draven. Ini dibuat dengan hati. Dengan kasih sayang untuk orang yang kita cintai."
Draven menatapnya, lalu perlahan tersenyum—senyum yang begitu tulus, begitu lembut, hingga membuat seluruh ruangan itu terasa lebih terang. "Kalau begitu... biarkan aku menambahkan sesuatu yang milikku."
Ia mengangkat tangannya sedikit, dan dengan lembut tanpa menyakiti, seberkas cahaya perak menyelimuti masakan itu, membuat aromanya semakin harum dan menggugah selera. "Bukan sihir untuk menghancurkan. Tapi untuk melindungi dan memberi kehangatan."
Elizabeth tertawa kecil, suara itu renyah dan penuh kebahagiaan. "Kau curang, Raja Besar. Tapi... aku suka."
Mereka berdua terus bekerja sama di dapur itu—satu manusia penyihir, satu raja vampir abadi—sambil berbicara pelan, berbagi cerita, tertawa saat sayuran terpotong tidak beraturan, dan saling membantu menata meja makan.
Asap yang tadinya berbau hangus kini berubah menjadi aroma masakan yang lezat dan hangat, memenuhi seluruh ruangan itu, seolah menandakan bahwa di sini, di antara uap panas dan aroma rempah, dua hati yang telah terpisah lima tahun akhirnya benar-benar bersatu kembali.