Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 9 panggilan setiap pagi
Di rumah keluarga Fernansyah...
Arga baru saja menuntaskan simpul tali sepatu kets hitamnya. Seragam putih-abu-abunya terpasang sangat rapi. Di bahu kirinya, tas ransel hitam tersampir santai, berisi tumpukan buku pelajaran serta map biru tebal yang memuat berkas formulir pendaftaran anggota baru tim basket.
Di ruang tamu, Pak Surya sedang duduk tenang menikmati seruputan kopi hitam hangatnya.
"Udah rapi aja, Ga. Mau langsung berangkat?" tanya Pak Surya.
"Iya, Yah."
"Udah sarapan tadi?"
"Udah, Yah. Aman."
"Bekal dari Mama jangan lupa dibawa."
"Udah masuk tas semua, Yah," sahut Arga mantap.
Pak Surya mengangguk-angguk puas. "Yaudah, nanti bawa motornya hati-hati di jalan."
"Siap, Ayah."
Tak lama, Bu Dita melangkah keluar dari arah dapur sambil membawa kotak makan kecil. "Eh, bentar, Jagoan!"
Arga menghentikan langkahnya di ambang pintu, memutar badan. "Kenapa, Ma?"
"Nih, bawa roti bakar cokelat. Buat ganjel perut kalau nanti waktu istirahat pertama kamu lapar habis muterin lapangan," tutur Bu Dita manis.
Arga menyunggingkan senyum lebarnya. "Wah... makasih banyak ya, Ma!"
"Sama-sama, Nak." Bu Dita berdiri menyamping, memandangi putranya yang kini tingginya sudah hampir menyamai sang suami. Senyum keibuan terukir indah di bibirnya. "Duh... nggak kerasa ya..."
"Nggak kerasa kenapa, Ma?"
"Anak Mama yang dulu suka nangis kalau ditinggal les... sekarang udah kelas dua belas aja. Udah mau jadi mahasiswa."
Arga tersenyum tipis, matanya berbinar hangat. "Iya, Ma... Waktu cepat banget jalan. Doain Arga terus ya, Ma, Yah."
"Pasti, Nak. Doa Mama sama Ayah nggak pernah putus buat kamu," bisik Bu Dita lembut.
Pak Surya berdiri menghampiri Arga, lalu menepuk-nepuk bahu tegap putranya dengan bangga. "Semoga semua urusan kamu hari ini dilancarkan, ya."
"Aamiin..." Arga kemudian merengkuh jemari kedua orang tuanya, mencium punggung tangan mereka bergiliran penuh hormat. "Arga berangkat dulu. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati, Ga!"
Arga melangkah keluar menembus udara pagi yang segar. Di halaman rumahnya, motor Kawasaki Ninja berwarna hitam mengilap kesayangannya sudah terparkir gagah.
Motor itu bukan sekadar kendaraan biasa bagi Arga. Kuda besi itu adalah hadiah dari Pak Surya saat ia berhasil lulus SMP dengan nilai memuaskan.
Tentu saja, lengkap dengan perjanjian tak tertulis yang sangat ketat: nilai akademis tidak boleh merosot, dilarang keras ugal-ugalan, wajib pakai helm standar, dan hanya boleh digunakan untuk keperluan sekolah atau kegiatan positif. Pesan yang selalu Arga pegang teguh hingga hari ini.
Arga meraih helm full-face hitamnya, mengenakannya hingga berbunyi klik, lalu memeriksa tekanan ban dan spion dengan sigap—sebuah kebiasaan peninggalan ayahnya.
"Sip, ready."
Brummm...
Suara deru mesin motor Ninja itu membelah heningnya pagi. Arga membiarkan mesinnya berputar stasioner beberapa detik agar hangat. Setelah terasa pas, ia mendorong pelan motornya keluar melintasi batas gerbang.
Namun bukannya langsung tancap gas ke jalan raya... Arga justru membelokkan stang motornya dan berhenti tepat di depan pagar besi rumah sebelah.
Ini adalah bagian dari ritual wajib yang sudah teruji oleh waktu. Selama bertahun-tahun, jika Nadira belum menampakkan batang hidungnya di luar... maka tugas mutlak Arga adalah menjadi alarm hidupnya.
Arga membuka sedikit visor helmnya, lalu mengambil napas dalam-dalam.
"Diraaaaaaaaaaa...!"
Suaranya yang lantang melengking tinggi, memecah ketenangan halaman rumah keluarga Adhitama.
"Diraaaaa... Yuhuuuu!"
Beberapa ekor burung gereja yang sedang asyik bertengger di ranting pohon mangga bahkan sampai terbang berhamburan karena terkejut.
Tak sampai sepuluh detik... pintu kayu rumah Adhitama terdorong lebar.
Namun, bukan gadis berkerudung putih yang muncul dari balik pintu, melainkan sosok pria paruh baya yang berpenampilan sangat rapi. Pak Hadi Adhitama melangkah keluar mengenakan kemeja batik lengan panjang, dengan tas kerja kulit yang tersampir di bahunya.
Melihat Arga berdiri di atas motor di balik pagar, Pak Hadi seketika mengulas senyum ramah. "Pagi, Arga!"
Arga menurunkan standar motornya, lalu menegakkan visor helmnya penuh sopan santun. "Pagi, Om Hadi!"
"Udah siap berangkat, Ga?"
"Udah dong, Om. Tinggal nunggu personel satu lagi nih," cengir Arga.
Pak Hadi terkekeh pelan. "Tunggu sebentar ya."
"Siap, Om."
Pak Hadi kemudian memutar badannya kembali menghadap ke dalam rumah. Dengan volume suara yang tak kalah menggelegar dari Arga tadi, beliau memanggil putri tunggalnya.
"Naaakkk...! Ini Arga udah siap di depan!"
Suara Pak Hadi memantul hingga ke lantai dua.
"Diraaa... Ayo cepetan, Sayang! Kasihan Arga udah nungguin dari tadi!"
Dari arah dalam rumah, terdengar derap langkah kaki tergesa-gesa yang riuh.
"Iyaaa, Papaaa! Sebentar lagi, ini lagi pakai sepatu!" teriak Nadira samar-samar dari dalam.
Pak Hadi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli. Beliau melangkah mendekati pagar untuk menghampiri Arga.
"Duh, Arga... Kalau udah urusan berangkat sekolah, dari dulu yang bertugas jadi 'penunggu setia' pasti kamu terus ya," goda Pak Hadi.
Arga tertawa renyah. "Ah, nggak apa-apa kok, Om. Udah biasa juga dari jaman kita masih bau kencur."
Pak Hadi menatap Arga dengan binar hangat. "Iya juga ya... Dipikir-pikir dari jaman SMP sampai mau lulus SMA gini, kalian berdua berangkat-pulang sekolah barengan terus."
"Iya, Om. Lagian kan rumah kita cuma berjarak lima langkah, sayang aja kalau berangkat sendiri-sendiri. Mending sekalian," sahut Arga santai.
"Nggak pernah merasa bosan tiap hari ketemu sama Dira?" tanya Pak Hadi bercanda.
Arga menggeleng mantap sambil tertawa. "Bosan sih enggak, Om. Paling cuma gemes aja kalau nungguin jurus 'sebentar'-nya dia."
Pak Hadi tertawa puas mendengar jawaban Arga. Beliau menepuk pelan lengan Arga yang terbalut jaket. "Bagus deh. Papa nitip Dira ya, Ga. Saling jaga kalian di jalan."
"Siap dilaksanakan, Om!"
Pak Hadi mengikis jarak sedikit, menurunkan nada suaranya menjadi lebih santai. "Nanti pulangnya juga barengan kan, Ga?"
"Rencananya gitu, Om. Cuma kan hari ini Arga ada pendaftaran basket, terus Dira juga ada rapat OSIS." Arga mengingat-ingat jadwalnya sejenak. "Tapi nanti Arga tungguin kok, Om. Kalau misal selesainya beda jauh, nanti Arga pasti kabarin Om Hadi atau Tante Maya dulu lewat WhatsApp."
Senyum Pak Hadi makin terkembang lebar, terkesan sangat puas dengan kedewasaan cowok di hadapannya ini. "Nah! Itu dia yang Papa suka dari kamu, Ga. Pengertian dan selalu komunikasi. Jadi orang tua di rumah nggak perlu cemas mikirin kalian."
"Siap, Om. Tenang aja."
Tak lama kemudian, suara derap langkah kaki yang terburu-buru menuruni anak tangga kayu makin terdengar jelas dari dalam rumah.
"Ayo cepat, Dira! Itu kasihan Arga sama Papa udah nunggu di depan!" seru suara Bu Maya mengiringi dari arah dapur.
"Iya, Mamaaa... ini Dira udah lari!"
Pak Hadi dan Arga saling bertukar pandang, lalu terkekeh bersamaan melihat kekacauan kecil saban pagi itu.
"Sama aja kan, Ga?" kekeh Pak Hadi. "Dari jaman SD sampai udah mau kuliah... kalau dipanggil berangkat, mantra sakti yang keluar dari bibirnya selalu kata 'sebentar'."
Arga ikut tertawa geli seraya menggelengkan kepala. "Iya banget, Om. Istiqamah betul dari dulu nggak berubah-ubah."
Kedua laki-laki beda generasi itu pun sama-sama menoleh ke arah pintu utama yang perlahan terbuka lebar.