NovelToon NovelToon
MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Rumahhantu
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Iephe Tyo

Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.

keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Belum sempat Bu Sri menjawab, tiba tiba ....

 *TAK! TAK! TAK!*

Suara ketukan keras beruntun terdengar memecah keheningan. Kali ini sumbernya bukan dari pintu depan atau jendela samping, melainkan berasal dari area belakang rumah, arah pintu dapur tua yang berbatasan langsung dengan kebun belakang yang gelap gulita.

Suara ketukan itu disusul oleh bunyi kayu berderit lambat, seolah-olah ada sesuatu yang amat berat sedang mencoba mendorong pintu belakang dari luar.

*Sreeekkk... sreeekkk...*

"Mas Joko..." panggil Tiara setengah berbisik dengan nada panik, matanya tertuju lurus ke arah lorong remang-remang yang menuju ke dapur belakang.

Joko yang berada di ruang tamu bergegas setengah berlari menuju ke ruang tengah. Melihat raut ketakutan di wajah Bu Sri dan Tiara, ia segera berdiri pasang badan di depan mereka.

"Ndoro Putri, Mbak Tiara, tenang dulu... Njenengan berdua diam di sini saja," ujar Joko mencoba menyunggingkan senyum tegang untuk menenangkan mereka.

Jujur, bulu kuduk Joko sendiri sudah berdiri merinding setengah mati. Jantungnya berdegup kencang bak genderang perang. Namun, mengingat amanah besar yang dititipkan Theo kepadanya, Joko memaksakan nyalinya naik ke permukaan. Rasa tanggung jawab mengalahkan rasa takutnya.

Dengan langkah yang dibuat-buat tegap walau agak gemetar, Joko berjalan menuju lorong remang yang mengarah ke area dapur belakang. Dapur yang terbilang cukup luas nan cukup megah dimana di area kanan ruangan itu terdapat kamar mandi berada. Alih-alih membawa pemukul kayu atau senyata tajam, Joko justru merogoh saku celananya dan mengacungkan ponselnya dengan flashlight menyala terang.

Tingkahnya mendadak berubah kocak untuk menutupi rasa gugup yang memuncak. Joko berjalan jinjit-jinjit dengan posisi ponsel digenggam erat mirip kamera polisi yang sedang melakukan sidik lokasi.

"Hayo! Siapa itu di belakang?! Keluar kamu!" seru Joko dengan suara yang digelarkan, namun ujungnya terdengar agak sumbang dan cempreng.

Ia berhenti tepat di ambang pintu dapur yang gelap, menembakkan kilatan cahaya lampu ponsel ke arah sudut-sudut kamar mandi dan Pintu kayu belakang.

"Dengar ya, Setan, Demit, atau siapa pun kamu! Jangan macam-macam ya di rumah ini! Saya ini Joko! Saya yang diamanahi Mas Theo buat jaga rumah!" teriak Joko seraya mengarahkan layar HP-nya ke kegelapan. "Kalau kamu nekad mengganggu Ndoro Putri sama Mbak Tiara, tak foto wajahmu, tak bikin story WhatsApp, tak live TikTok sekalian biar kamu viral se-Indonesia! Biar kapok!"

Tiara dan Bu Sri yang tadinya tegang setengah mati di ruang tengah, mendadak saling berpandangan. Tiara tak sanggup menahan senyum tipisnya di balik rasa takut, mendengar celotehan kocak Joko yang bertingkah bak pemburu hantu modern di tengah dapur tua yang mencekam itu.

Namun, di tengah aksinya yang bertingkah konyol itu, mata Joko mendadak melotot tajam saat Flashlight ponselnya menangkap sesuatu...

Layar ponsel Joko bergoyang-goyang ketika matanya menangkap sebuah bayangan tinggi tegap berdiri di sudut remang-remang dekat pintu kamar mandi belakang. Hawa dingin seketika merambat naik dari telapak kakinya ke ubun-ubun.

Bukannya kabur, Joko malah makin mengepalkan tangan kirinya yang gemetar, sementara tangan kanannya tetap mengarahkan Flashlight ponsel lurus ke arah bayangan tersebut.

"Hae! Jangan sembunyi kamu ya! Saya tahu kamu di situ!" seru Joko dengan nada sok garang, walau suaranya sudah naik dua oktaf menjadi melengking. "Ayo keluar! Jangan cuma berani main bayangan! Saya ini mantan ketua karang taruna Bojasari, tidak takut sama yang begituan!"

*Sreeek... Sreeek...*

Bayangan itu perlahan bergerak maju mendekati jangkauan cahaya lampu ponsel. Gesekan kakinya di atas lantai keramik tua menimbulkan suara yang bikin ngilu. Joko refleks mundur tiga langkah, mengambil posisi kuda-kuda silat yang sangat tidak sempurna—kaki kanan terlalu depan, tangan kiri menyilang, dan HP tetap dipasang mode kamera.

"A-Awas ya! Tak pencet tombol rekam ini! Tiga... dua... satu...!" ancam Joko gagap.

Kain putih kusam yang menyapu lantai mulai terlihat. Sesosok figur tinggi dengan wajah yang tidak jelas tertutup rambut panjang melangkah makin dekat. Keringat dingin Joko menetes deras dari pelipisnya.

Melihat sosok itu makin rapat, nyali Joko yang tadinya dipaksakan setinggi gunung langsung ambrol seketika.

"Loh, loh, kok makin mendekat?! Woi! Jaga jarak aman sesuai protokol kesehatan!" teriak Joko panik. Tanpa pikir panjang, ia memencet tombol flash beruntun di HP-nya bak fotografer red carpet.

 *JEPRET! JEPRET! JEPRET!*

 Kilatan cahaya putih memenuhi dapur tua yang gelap itu.

"Mampus kamu! Tak silaukan mata batinmu!" pekik Joko sambil terus memotret secara membabi buta.

Sosok itu sempat berhenti sejenak, tampaknya kaget atau ikut bingung dengan serangan kilatan lampu ponsel yang tiada henti itu. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh Joko.

"Ndoro Putri! Mbak Tiara! Tolonggg! Setannya tidak mempan di-viral-kan!" teriak Joko memecah keheningan malam sambil balik badan dan lari terbirit-birit menuju ruang tengah.

Namun, karena panik dan mata yang masih silau akibat kilatan flash ponsel nya sendiri, kaki Joko menyandung pinggiran karpet tua.

*BRUK!*

Joko sukses meluncur mulus di atas lantai keramik dengan posisi tengkurap tepat di depan kaki Bu Sri dan Tiara yang terperanjat kaget. Ponselnya terlempar melayang dan mendarat pas di atas pangkuan Bu Sri.

"Aduh... Gusti pangeran..." ringis Joko sambil memegangi lututnya, wajahnya yang pucat pasi menengadah menatap Tiara. "Mbak Tiara... setannya... setannya anti-kamera..."

Tiara yang tadinya tegang setengah mati, kini bingung antara ingin menjerit takut atau tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Joko yang merayap di lantai seperti cicak panik.

Melihat Joko yang tengkurap konyol di lantai, Bu Sri menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus dada. Ia mengambil ponsel Joko yang terlempar ke pangkuannya, lalu menyerahkannya kembali pada pria yang masih meringis memegangi lututnya itu.

"Sudah, Joko, sudah... Jangan aneh-aneh," ujar Bu Sri lembut tapi tegas. "Ayo, Tiara, kita masuk ke kamar Uti. Lebih aman di dalam, urusin tingkah Joko, malah stres sendiri kita." Ujar Bu Sri sambil menarik lembut lengan cucu menantunya itu.

Tiara mengangguk cepat sambil tertawa kecil melihat tingkah Joko. Bersama Bu Sri, Tiara bergegas melangkah masuk ke dalam kamar utama lantai bawah yang luas itu. Sebelum mengunci pintu rapat-rapat, Tiara sempat menoleh ke arah Joko.

"Mas Joko, langsung masuk kamar juga ya! Hati-hati! Awas setannya ngikut." bisik Tiara sambil sedikit tertawa agak mengejek Joko.

"Mbak Tiara jangan ngomong gitu dong Mbak." sahut Joko sambil berjuang berdiri dari lantai. Kaki kanannya masih terasa agak terkilir dan ngilu akibat aksi meluncur mulusnya tadi.

Setelah memastikan pintu kamar Bu Sri terkunci rapat dari dalam, Joko mengelus lututnya sambil menggerutu pelan. Dengan langkah pincang dan setengah jinjit, ia berjalan secepat yang ia bisa menuju kamar tamu. Matanya terus melirik curiga ke arah lorong dapur yang kini kembali sunyi mencekam.

Klek.

Joko menyelinap masuk ke kamar tamu dan langsung mengunci pintunya rapat-rapat. Ia bernapas lega, mengusap dada yang masih berdegup kencang bak ditabuh drum.

Di atas kasur empuk kamar tamu, tampak Marni dan Jalu sudah tertidur amat lelap. Jalu meringkuk nyaman di balik selimut tebal, sementara Marni tidur terlentang dengan mulut sedikit terbuka, mengeluarkan suara dengkuran halus namun konsisten.

Khroookk... khroookk...

Mereka berdua sama sekali tidak terganggu oleh aksi dramatis Joko di dapur tadi, apalagi suara gedebuk jatuhnya yang cukup keras.

Joko mendekati tempat tidur sambil memegangi lututnya yang makin terasa cenat-cenut sakit. Ia menatap istrinya dengan pandangan tak percaya.

"Gusti Allah... Dasar kerbau betina!" gerutu Joko berbisik gemas sambil menepuk jidatnya sendiri. "Suaminya di luar hampir dicaplok demit dapur sampai dengkul mau copot, dia di sini malah asik ngorok, enak betul! Dasar Marni, Marni..."

Marni hanya mengeliat sedikit, merapatkan selimutnya tanpa membuka mata sama sekali, lalu kembali mendengkur halus.

Joko merawat lututnya yang memar sambil meringis pelan. Walau masih gondok dengan sang istri, ia perlahan merebahkan tubuhnya yang lelah di sisi kosong tempat tidur, menyelinap di bawah selimut tebal.

Rasa jengkel karena ditinggal tidur saat ia ketakutan di dapur tadi berubah menjadi ide jahat di kepalanya untuk mengerjai sang istri.

Dengan menahan rasa sakit di lututnya yang memar, Joko perlahan merayap mendekati Marni. Ia bermaksud mengganggu tidur pulas istrinya itu dengan godaan-godaan kecil. Joko mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu di telinga Marni, memeluk erat Marni dari belakang, lalu mulai menjahili istrinya dengan mencoba mengajaknya berhubungan suami istri di tengah malam yang dingin itu.

Namun, menggerakkan badan dengan kondisi lutut terkilir ternyata bukan perkara mudah. Setiap kali Joko mencoba mengubah posisi, sendi lututnya ngilu luar biasa.

"Aduh...

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh... Bakalan ada apa lagi, nih?
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Tita Tata
sumpahhhh penasaran bgt sama kelanjutannya
Tita Tata
pokoknya terus lanjut bacaa
Tita Tata
suara apa itu thorrrrrrr
Tita Tata
lanjut thor ... semakin seruuuu
Tita Tata
jadi Theo pernah se trauma itu yaaa
Tita Tata
aku suka bngt sama tulisan author ini
Tita Tata
apa yang akan terjadi selanjutnya yah
Tita Tata
tegang bgt sumpah
Tita Tata
lanjut thorrrr
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Loh, wafatnya Kakung Theo belom dikasih kabar ke orang tuanya kah??? 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kira-kira Theo bisa "merasakan" kejanggalan di rumah peninggalan Kakeknya gak, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Owalaaah... Jadi makhluk-makhluk yang mengganggu itu kiriman orang lain ternyataaa... Gak bisa dibiarin terus kalo begitu...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh, saya bener-bener jadi inget sama Almarhum Mbah saya pas baca BAB ini, Kak... Emosi memorinya kuat banget... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Jangan-jangan semua makhluk yang ada di rumah Almarhum Kakek Theo itu, sosok penjaga rumah itu kah???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya suka banget nih, ceritanya semakin mendebarkan... 🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Siapa sih, wanita yang menangis itu? Penasaran banget jadinya...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waaah, nostalgia banget pas baca kata "Playstation"... Jadi sama-sama inget masa SMP dulu, mirip kayak Theo... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waduh, ada rahasia apa di balik rumah dan peternakan Almarhum Kakek Theo, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah... Makin seru ceritanya Thor!

Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???

🤨🤨🤨🤨🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!