Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 20
Lelah itu pasti, tapi pekerjaan yang memberatkan kaki tuk melangkah itu tidak membuat Yudha ingin menyerah seperti kala itu. Karena tanggung jawabnya ini mungkin akan jauh lebih besar ketimbang dimana saat dia bersama dengan Lingga.
Apalagi saat artikel yang baru saja dirilis siang tadi membuat berbagai sumber di media terus memposting hal-hal yang menyangkut Malla. Entah itu secara positif ataupun negatif.
Yudha tidak sengaja melihat ke arah kaca kecil dalam mobil. Tepat di mana Malla berada, yang tengah melihat layar handphonenya itu. Membuat Yudha tersenyum kecil dan kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Kau harus mengistirahatkan mata cantik mu. Karena itu sangat penting untuk saat ini." Pinta Yudha, yang langsung dituruti oleh Malla.
"Aku tahu. Aku hanya ingin tahu, bagaimana respon mereka. Jika pun tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan..." kepala Malla mengangguk kecil. "...tapi setidaknya masih ada orang yang mau berada di pihak ku."
"perusahaan pun juga pasti akan memihak ku. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun." Entah kenapa rasa tidak percaya diri itu semakin besar menguasi pikiran Malla. Karena satu komentar yang menurut Malla itu hal yang wajar dirinya dapatkan. Akan tetapi, batinya sedikit kecewa.
Bukan kecewa dengan siapapun, Malla hanya kecewa pada dirinya sendiri. Karena Malla tidak memiliki pendidikan. Tapi setidaknya Malla bukanlah seorang perundung.
"Kau khawatir, akan status mu yang seharusnya masih sekolah tapi tidak berada di sekolah?" Cetus Yudha tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa aku boleh menyesal saat ini?" Malla menyandarkan kepalanya. Wajah cantik itu sedikit terlihat kusut.
"Untuk apa kau menyesal jika kau sudah yakin dengan apa tujuan mu? Bukankah sejak awal sudah aku peringatkan? Semakin kau meyakinkan perusahaan jika kau mampu, itu akan terus membuat mu berjalan di tepi jurang." Entah itu saran atau hanya sebuah penekanan. Yudha mengatakannya tanpa perasaan.
"Perusahaan hanya membantu mu untuk mendapat pekerjaan yang lebih sedikit baik dari hidup mu sebelumnya. Tapi perusahaan juga tidak akan bisa membohongi media soal data dirimu. Karena jika perusahaan melakukannya, itu akan berakhir sangat rumit." Sambung Yudha, perlahan menjelaskan semua yang ada di perusahaan. Entah itu baik ataupun buruk.
Mau bagaimana pun, Yudha harus tetap mengatakannya pada Malla. Karena Malla sudah termasuk anggota dalam perusahaan. Dia harus tahu, jika bisnis tetaplah bisnis. Untung rugi itu pasti akan dilihat lebih dahulu.
"Benar, aku yang memaksa mereka untuk menerimaku. Dan aku juga yang harus menanggung resikonya. Sebenarnya__" Malla diam sejenak menelan ludahnya.
"Aku hanya ingin pergi jauh dari orang yang terus membuat hidup ku menderita. Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Karena dia tahu, sekarang aku tinggal di mana." Sambung Malla di bawah senyum getirnya. Melihat keluar jendela dengan pandangan sayu. Pikirannya melayang entah kemana. Yang jelas, Malla hanya bisa berharap. Keputusan yang dirinya ambil saat ini adalah jalan yang tepat untuk bisa membalas jasa orang-orang baik itu.
"Jika kau tidak melakukan kesalahan. Jalani hidupmu seperti biasa tanpa memusingkan hal yang mungkin akan membuat napsu makan mu hilang. Jadi, kau harus percaya pada dirimu sendiri. Jika orang itu kembali, bukankah kau harus melawannya?" Yudha memberi tanggapan yang tidak membuat Malla merubah posisinya.
"Jika kau diam karena takut. Pengorbanan orang yang sayang itu pasti akan berakhir sia-sia. Apa kau ingin membuat saudara-saudara mu menderita karena kau kembali di kehidupan mereka?" Sebenarnya Yudha tidak ingin membahas hal itu. Tapi entah kenapa, bagi Yudha kalimat itu pasti akan ampuh untuk membangkitkan semangat yang telah redup di jiwa Malla.
Tidak begitu cepat, Malla menenggak punggungnya. Menatap Yudha yang masih fokus pada tugasnya itu. "Kau tahu, siapa saja saudaraku?" Keraguan ada dalam diri Malla. Berharap jika Yudha hanya asal bicara.
"Tahu, Rama dan Yumna. Mereka saudara tiri mu, bukan?" Tanpa basa-basi, Yudha memberi balasan.
"Bukankah, mereka akan menutup mulut? Mereka juga janji untuk tidak mengatakan siapa saja saudaraku." Kecewa Malla. Karena Tirtha memberinya janji jika tidak akan mengumbar nama saudara-saudaranya.
"Tidak semua karyawan di perusahaan tahu, hanya beberapa orang tertentu yang tahu. Salah satunya diriku. Karena aku bertugas untuk selalu berpihak padamu, dan aku juga perlu tahu siapa saja orang-orang yang kenal. Agar itu memudahkan ku untuk menjalankan tugas." Sebentar Yudha melihat Malla dari balik kaca kecil itu.
"Syukurlah jika begitu." Napas lega keluar dari mulut Malla.
Yumna keluar dari obrolannya bersama Rama, jemari itu menekan satu aplikasi yang langsung menampilkan sebuah postingan gila. Membuat Yumna tersenyum getir. Sungguh tidak percaya dengan apa yang ada di pikiran pemilik akun itu.
"Kenapa dia selalu mencari masalah dengan perusahaan?" Gumam Yumna yang begitu penasaran. Tapi segera mungkin Yumna meletakkan handphonenya untuk menghabiskan makanannya lebih dahulu, sebelum kembali ke perusahaan.
Tapi pandangan Yumna kini tidak sengaja melihat ke arah seorang wanita yang tengah menyeruput minumannya, dengan tangan kiri sibuk memainkan layar handphone putih itu. Dan hal itu membuat Yumna semakin yakin, jika wanita itu memanglah pemilik akun anonim.
Kepala Yumna menggeleng kecil dengan napas gusar. Kembali menyumpal mulutnya dengan tenang, tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita itu. Kini terlihat seperti tengah menunggu seseorang.
Dan tidak membutuhkan waktu lama, Yumna telah menghabiskan semua makanannya. Tapi wanita itu masih duduk ditempatnya. Bukannya Yumna tidak mau kembali bekerja. Hanya saja, Yumna ingin tahu siapa yang akan bertemu dengan wanita itu.
"Apa dia kekasihnya?" Gumam Yumna, melihat seorang pria asing dengan kemeja hitam melekat di tubuh pria itu, yang duduk di hadapan sang wanita.
"Apa pria itu bekerja di perusahaan yang sama dengan ku?" Satu persatu pertanyaan itu muncul di kepala Yumna, yang sangat berani mengarahkan kamera handphone pada dua insan itu.
"Jika iyaa, kenapa aku baru melihatnya." Monolog Yumna, yang spontan tersenyum miris. Karena bola mata milik sang wanita melihat ke arah Yumna. Dengan lengkungan sempurna. Dan wanita itu juga menyempatkan melambaikan sebentar tangannya. Langsung membuat Yumna menyimpan handphone, secepat mungkin pergi dari tempat itu. Apalagi pria itu juga melihat ke arah Yumna dengan sorot mata penuh arti.
"Kau begitu berani Yumna." Sungutnya yang berjalan melewati dia orang itu dengan pandangan yang berusaha untuk tidak berkontak dengan mereka.
Saat berada di luar tempat makan itu Yumna belum sepenuhnya merasa lega. Karena Yumna yakin, jika mereka pasti akan selalu mengingat wajahnya.
Huft..
"Seharusnya aku diam saja." Lesu Yumna kembali melangkah ke arah di mana tempat kerjanya berada. Akan tetapi, kedua kakinya spontan terhenti saat tangan kekar entah milik siapa yang begitu berani mencengkeram lengan tangannya.
"Siapa namamu?" Suara asing yang menatap pendengaran Yumna. Membuat Yumna membalikkan tubuhnya. Langsung mendapati soal pria yang bersama wanita itu.
"Maaf__" ucap Yumna setelah pria itu menjauhkan tangannya dari lengan Yumna.
"Aku tidak bisa langsung menuduhmu. Mungkin bisa jadi tadi kau mengambil wajah mu sendiri."
Bukannya lega, Yumna malah merasa tidak enak mendengar penuturan dari sang pria. Tapi Yumna juga tidak bisa berkata jujur saat ini. Karena Yumna harus menanyakan pria di depan matanya saat ini kepada Tama lebih dulu.
"Jadi siapa nama mu?"