Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Bzzzt! Bzzzt!
Ponsel di saku celana Helga bergetar pendek.
Ia tidak merogohnya.
Remang sore di sepanjang Jalan Lingkar Luar sudah sepenuhnya tenggelam oleh guyuran hujan yang deras, membuat air meluap di tepi trotoar.
Helga membelokkan motor matic hitamnya melewati pintu gerbang beton bertuliskan RUMAH SAKIT UMUM DAERAH.
Mesin motor dimatikan di bawah kanopi parkiran roda dua.
Klek.
Helga melepas helm bogo hitamnya yang basah kuyup, menggantungkannya di spion, lalu mengusap sisa air hujan yang menetes dari ujung rambut ke pelipisnya.
Bukannya bergegas masuk, ia berdiri diam di samping motor selama hampir setengah menit, memandang ujung sepatu ketsnya yang terendam air semata kaki.
Aroma antiseptik dan kaporit langsung menyengat indra penciuman begitu Helga mendorong pintu kaca otomatis gedung Instalasi Gawat Darurat.
Sreeek...
Lantai keramik putih di dalam lorong berkilau tertimpa cahaya lampu neon yang terlampau terang.
Suara roda brankar besi yang didorong terburu-buru beradu dengan ubin—Krieeek, krieeek—menciptakan ritme yang konstan di ruangan yang sibuk itu.
Helga berjalan melewati meja administrasi tanpa menoleh, langkah sepatunya meninggalkan jejak air tipis yang kotor.
Di bilik nomor empat, yang hanya dibatasi oleh tirai kain hijau kusam, sesosok wanita paruh baya berbaring di atas ranjang dorong standar.
Beberapa selang kecil terhubung ke hidung dan punggung tangannya yang tampak pucat.
Helga menggeser tirai hijau itu pelan. Srett.
Wanita itu tetap memejamkan mata.
Napasnya pendek, memicu naik-turun yang lemah pada dada di balik selimut rumah sakit yang kasar.
Bunyi monitor detak jantung di sudut ruangan terdengar monoton.
Pip... Pip... Pip...
Helga menarik sebuah kursi plastik kelabu yang salah satu kakinya agak pincang, lalu duduk di samping ranjang.
Ia menumpukan kedua sikunya di atas lutut, menatap jemari ibunya yang terpasang alat pengukur saturasi oksigen.
Jari-jari itu kurus, kulitnya keriput, sangat berbeda dengan ingatan Helga sebulan lalu sebelum ranjang ini menjadi tempat tinggal tetap ibunya.
"Gua gak langsung balik ke rumah, Mah," bisik Helga. Suaranya serak, tenggelam oleh suara bising pendingin ruangan yang bergetar di atas langit-langit.
Hummm...
Ibunya tidak bergerak. Lipatan matanya tetap tenang, tertidur pulas di bawah pengaruh obat.
Helga menjulurkan tangan kanan, menyentuh pinggiran kasur busa tanpa menyentuh kulit ibunya.
"Tadi gua abis nganter anak orang. Namanya Regina. Anak IPA 2, pinter, galak lagi. Mamanya juga baik banget, tadi gua ditawarin pisang goreng pas nyampe rumahnya."
Helga tertawa tipis, tawa yang tidak menyisakan ruang bagi keceriaan.
Ujung sepatunya mengetuk lantai sekali. Tuk.
"Rumahnya rapi banget, Mah. Pagar putih, ada tanaman di pot, bokap nyokapnya nungguin di depan pintu pas anaknya balik. Keluarga cemara banget lah, persis kayak yang ada di buku-buku pelajaran SD," Helga berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokan.
"Gua pas berdiri di sana berasa kayak debu jalanan yang gak sengaja nempel di pagar mereka."
Suara petir dari luar gedung terdengar meredam hingga ke dalam bilik IGD.
Dhuuummm...
"Sebulan ini sepi banget di rumah," ucap Helga lagi.
Matanya beralih ke botol infus yang cairannya menetes satu demi satu.
Tik. Tik.
"Kran di dapur bocor belum gua benerin. Gua males manggil tukang, lagian gak ada yang ngomel juga kalau airnya meluber ke lantai. Kadang gua sengaja nongkrong sama Varen sampe malam cuma biar gak usah cepet-cepet liat rumah yang kosong."
Helga meremas ujung jaket jinsnya yang lembap, membuat kain tebal itu membentuk lipatan-lipatan kusut.
"Gua kayaknya suka sama Regina, Mah," kata Helga lirik, nyaris berupa bisikan.
"Tapi gua mikir lagi. Orang kayak dia, yang dunianya serba lurus dan rapi, mana cocok main ke tempat kita. Gua bahkan gak tahu minggu depan kita masih bisa bayar sewa kamar bilik ini apa kagak. Lucu ya."
Ibunya tidak memberi respons. Garis hijau di layar monitor tetap bergerak dalam ritme yang sama.
Pip... Pip...
"Varen tadi sore bikin masalah lagi sama anak Tunas Bangsa di rel," Helga mengalihkan pandangan ke arah dinding seng di luar jendela kecil bilik.
"Gua terpaksa bohong sama bokapnya Regina, bilang kalau gua habis cari buku bekas di stasiun. Gua makin pinter bohong ya sekarang, Mah? Padahal dulu Mamah yang paling benci kalau gua mulai ngarang cerita."
Helga menegakkan punggungnya, bersandar pada sandaran kursi plastik yang melengkung.
Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan bungkus rokok pipih yang sudah agak basah di bagian sudutnya.
Ia hanya memutarnya di antara ibu jari dan telunjuk, tidak berniat membakarnya di dalam ruangan medis itu.
"Gua hampa banget, Mah. Kalau Mamah tidur terus begini, gua gak tahu musti rapihin kekacauan yang mana duluan. Masalah Varen, sekolah, atau perasaan gua sendiri yang makin gak jelas ini."
Tangan Helga bergerak perlahan ke atas ranjang, berniat menggenggam telapak tangan ibunya yang dingin.
Namun, tepat beberapa sentimeter sebelum kulit mereka bersentuhan, jemari Helga tertahan di udara.
Ia memperhatikan selang infus yang menancap di punggung tangan ibunya, lalu perlahan menarik kembali tangannya dan menyembunyikannya di dalam saku jaket.
Seorang perawat wanita dengan seragam biru muda masuk ke dalam bilik sambil membawa papan klip berisi catatan medis.
Kain tirai bergeser dengan bunyi derit ringkas. Srett.
"Mas Helga, ini resep obat tebusan untuk malam ini ya," kata perawat itu dengan nada formal yang netral.
"Bisa langsung diserahkan ke bagian farmasi di depan dekat kasir sebelum jam enam."
Helga menerima selembar kertas putih itu. "Iya, Suster. Makasih."
Perawat itu memeriksa botol infus sejenak, menuliskan beberapa angka di papan klipnya, lalu kembali keluar meninggalkan bilik tanpa suara tambahan selain gesekan sol sepatunya di lantai.
Helga berdiri dari kursi plastik.
Pukul 17.45 WIB, lampu lorong luar tampak berganti shift, beberapa petugas kebersihan mulai mengepel lantai dengan cairan karbol yang beraroma lebih menyengat.
Helga menatap wajah ibunya sekali lagi.
Wanita itu masih terlelap, sama sekali tidak mendengar rentetan kalimat lirih yang diucapkan anak laki-lakinya sepanjang setengah jam tadi.
Helga berjalan keluar dari bilik nomor empat, membiarkan tirai hijau itu tertutup kembali.
Saat ia berjalan melewati koridor menuju bagian farmasi, ponsel di sakunya kembali bergetar dua kali.
Bzzzt! Bzzzt!
Helga mengeluarkan ponselnya.
Di layar kunci, sebuah pesan baru dari nomor Regina Anatasya muncul, memecah deretan notifikasi lama yang diabaikannya sejak sore.
Pesan itu tertulis:
Gue tahu elo bohong soal HP lowbat tadi. Dan nomor yang SMS gue tadi, itu nomor elo kan?