NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 - Awan Kapas

Belinda sedang duduk di ruangannya, fokus menatap layar laptop untuk menyusun laporan harian Alleria cake shop serta beberapa tugas penting yang sudah menjadi tanggung jawabnya. 

Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi. “Kayaknya minggu ini bener-bener lebih rame dibanding minggu lalu. Dan… banyak banget yang mesti diurus,” gumamnya sambil menghela napas berat.

Baru saja ia hendak membuka kembali beberapa halaman laporan untuk diperiksa ulang, ponsel di atas mejanya berdering. Belinda melirik nama yang muncul di layar, menghela napas panjang, lalu mengangkat panggilan tersebut.

“Ya Halo, Mbak? Ada apa?”

“Halo, Bel. Gimana kondisinya di sana hari ini? Lancar, kan? Apa ada masalah? Atau ada apa gitu?”

Baru di awal panggilan, Belinda sudah dihujani pertanyaan yang sudah tidak asing lagi di telinganya.

“Lancar-lancar aja, Mbak. Gak ada masalah atau kendala apa pun sama sekali. Oh, iya, setelah ini aku akan kirimin laporan mingguan cake shop,” jawab Belinda tenang.

“Oh, oke, Bel. Makasih banyak lho ya. Nanti biar aku langsung cek semua sekalian,” ujar suara di seberang telepon, sebelum tiba-tiba terputus oleh suara tangisan bayi yang cukup nyaring di latar belakang. “Aduhhh... iya, Bel. Maaf ya aku belum bisa dateng ke cake shop. Soalnya ya kamu ngerti sendiri lah, bayiku masih sering rewel.”

“Tenang aja, Mbak. Aman, kok. Semuanya masih bisa aku handle,” balas Belinda penuh pengertian.

“Sebentar, Bel. Tunggu bentar,” ujar suara di seberang sana yang mendadak hening sejenak. Tatapan Belinda kembali tertuju pada layar laptop di depannya, memeriksa kembali angka-angka laporan.

Untuk sesaat, tak ada suara dari seberang telepon selain gumaman halus menenangkan sang bayi, sebelum akhirnya obrolan berlanjut.

“Oh, iya, Bel. Kayak yang udah pernah kita obrolin sebelumnya, menurutmu gimana soal menu baru yang aku saranin?”

Belinda menghentikan aktivitas jemarinya, kembali fokus pada pembicaraan. “Menarik sih kalo menurutku, Mbak. Soalnya, kalo dilihat dari laporan beberapa bulanan terakhir, emang ada beberapa menu yang penjualannya sangat minim. Biar pelanggan juga selalu tertarik untuk datang ke cake shop, mungkin bagus juga kalo kita buat menu baru serta menghapus beberapa yang kurang laku.”

“Nah, oke! Sekalian buat maksimalin bahan yang ada biar selalu terpakai dan tetep baru terus. Kamu ada ide menu baru gak, Bel?”

Belinda diam sejenak, memutar bola matanya pelan. Jujur saja, ia belum memikirkannya sejauh itu dan baru menganggapnya sekedar wacana.

“Emm… jujur belum sih, Mbak.”

“Yaudah, nanti biar aku coba nyari beberapa referensi buat menu baru kita. Oh iya, dan satu lagi,” ucap orang itu, menahan jeda sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, “gimana menurutmu kalo kita juga bikin semacam menu khusus gitu?”

“Menu khusus? Yang kayak gimana ini maksudnya, Mbak?” tanya Belinda seraya mengerutkan dahi bingung.

“Ya menu yang cuman ada di hari atau event tertentu gitu. Jadi kita buat limited edition, biar terkesan eksklusif gitu,” jelaskan wanita itu antusias dari seberang telepon.

“Ohh..." Belinda manggut-manggut, senyum tipis terukir di wajahnya. "Menarik sih itu, Mbak. Kesannya nanti cake shop jadi gak monoton menu-menunya. Hmm, kayaknya ide bagus.”

“Nah, kalo gitu, kapan menurutmu nih kita bisa mulai test food-nya?”

“Hmm, tunggu bentar, Mbak.” Belinda tak langsung menjawab. Ia membungkuk, menarik laci mejanya, lalu mengeluarkan satu bundel kertas. Jemarinya lincah membolak-balik halaman demi halaman hingga terhenti pada satu catatan penting.

“Kayaknya akhir bulan ini waktu yang paling cocok deh, Mbak. Apalagi di awal bulan depan bakal ada event kayak tahun kemaren. Mungkin Kita bisa sekalian nyoba ngeluarin menu khusus kita pas saat itu juga. Gimana menurutmu, Mbak?”

“Wah, pas banget! Ide bagus itu, Bel. Yaudah deh, nanti kita obrolin lagi soal menunya pas aku udah bisa ke sana aja.”

“Oke, Mbak.”

Panggilan telepon pun berakhir. Belinda meletakkan ponselnya di atas meja, memasukkan kembali bundel kertas ke dalam laci, lalu menghela napas panjang sambil meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas kepala.

Hari sebenarnya masih sore, namun beban tugas dan tanggung jawab yang ia pikul sejak setahun belakangan ini kerap terasa cukup menguras energi.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu memecah keheningan, diikuti panggilan seseorang yang suaranya tak asing lagi di telinga Belinda.

“Mbak...”

Belinda sudah hafal siapa pemilik suara dibalik pintu pintu. “Masuk aja, Kin. Pintunya gak dikunci,” sahutnya sembari menegakkan posisi duduk.

Kinan mendorong pintu perlahan, melangkah masuk, lalu duduk di kursi depan meja kerja Belinda dengan sikap ragu.

“Ada apa, Kin?” tanya Belinda membuka obrolan.

“Emm... jadi gini, Mbak. Semester ini kan aku ada praktik mengajar di SMA dari hari Senin sampai Jum’at. Dan mungkin baru selesainya jam dua sampai jam tiga sore,” ucap Kinan dengan nada sedikit terbata-bata.

“Iya, terus?” Belinda mengangguk pelan, menunggu penjelasan dari Kinan.

“Terus... aku bermaksud minta izin, apa Mbak bisa mengurangi waktu kerjaku? Tapi…” Nada bicara Kinan mendadak menjadi lebih pelan, jemarinya bertautan gelisah. “Misal emang gak bisa, gak apa-apa juga, Mbak. Tapi mungkin aku berangkat kerjanya jadi agak sedikit telat.”

“Sampai akhir tahun?” potong Belinda memastikan.

“I-iya, Mbak. Maaf kalo kesannya agak mendadak atau gimana, tapi aku masih pengen kerja di sini.”

Belinda diam sejenak. Tangan kanannya menopang kepala, jemarinya mengetuk meja pelan saat ia mulai menimbang-nimbang. Keheningan menyelimuti ruangan, membuat Kinan menunggu jawaban dari Belinda dengan perasaan gelisah yang kentara dari kakinya yang tak henti bergerak.

Hingga akhirnya, Belinda menghembuskan napas pelan dan mulai bersuara.

“Bisa aku atur nanti sih itu, Kin. Tapi, asal jangan sampai mengganggu kerjaanmu di sini, ya. Apalagi mulai bulan depan di tempat kita bakalan lebih rame karena akan ada beberapa event. Jadinya bisa dipastikan pelanggan yang datang bakal melonjak di akhir pekan atau pas hari H event.”

Senyum lega seketika mengembang lebar di wajah Kinan. “Siap, Mbak! Aku janji hal itu gak bakal sampe ngeganggu kinerjaku disini.”

“Nanti tinggal kabari aku aja kalo sekiranya kamu telat atau pas ada halangan mendadak.”

“O-oke, Mbak! Ma-makasih banyak sekali lagi, Mbak Bel. Kalo itu, aku mau balik kerja lagi.”

“Oke, Kin.”

Kinan beranjak dari kursi, melangkah keluar dari ruangan Belinda dengan raut wajah yang dipenuhi senyuman. Hatinya begitu lega karena semester padat ini setidaknya kini terasa lebih ringan berkat jam kerjanya yang bisa lebih fleksibel.

Dari balik jendela cake shop, cahaya senja terpancar, tampak selaras dengan suasana hati Kinan yang sedang membumbung tinggi.

Malam harinya, suasana di Kosan Nathan terasa begitu hening dan damai. Di atas meja hanya tersisa piring kecil bekas kue serta gelas yang hampir kosong. Tak ada lagi kata-kata yang terucap usai ratusan obrolan tak penting diantara mereka.

Nathan bersandar santai di sofa sembari mendengarkan musik lewat headset-nya, sementara Riki masih fokus menatap layar laptop, sibuk bermain game.

Tak lama berselang, suara mesin motor berhenti tepat di depan pagar kost, disusul suara teriakan seseorang dari luar.

“Permisi, paket!”

Setelah beberapa kali panggilan dan ketukan pagar tak mendapat jawaban, Riki akhirnya menyadari kehadiran kurir tersebut. Tanpa mengalihkan pandangan dari laptop, Riki menepuk lengan Nathan.

Nathan menoleh, lalu melepaskan headset-nya yang menutupi telinganya.

“Kayaknya ada orang manggil-manggil tuh di depan. Kamu cek gih, Nath,” pinta Riki.

Nathan tak langsung menjawab, ia diam sejenak, mencoba memastikan pendengarannya. Benar saja, kurir itu kembali memanggil sambil mengetuk pagar.

“Permisi, Mas! Paket!” Suara itu samar, namun kini terdengar cukup jelas.

“Tuh beneran, kan? Kayaknya ada yang nganter paket,” celetuk Riki lagi.

Nathan bangkit berdiri, berjalan membuka pintu kos, lalu melangkah ke depan pagar. “Paket buat siapa, Mas?”

“Atas nama Nathan, Mas. Alamatnya benar disini.”

“Oh...” Nathan menerima paket tersebut. Senyum seketika terukir di wajahnya begitu membaca nama pengirim yang tertera di resi. “Benar, mas. Terima kasih banyak.”

Setelah kurir pergi, Nathan kembali masuk ke dalam kos. Riki tampaknya sudah selesai dengan game-nya dan kini duduk santai sambil menghabiskan sisa minumannya.

“Paket siapa, Nath? tanya Riki melirik paket di tangan temannya,

“Paketku,” jawabnya singkat.

Nathan kembali duduk di samping Riki dan meletakkan paket tersebut di atas meja. Riki yang penasaran segera meraih bungkusan itu, menatap resi pengiriman untuk mengintip nama pengirimnya. Ternyata, paket itu bukan dari toko online, melainkan kiriman langsung dari seseorang.

“Widih, paket dari Bali! Apaan tuh isinya?”

“Dih, kepo,” sahut Nathan terkekeh mengejek.

Riki menaruh kembali paket itu ke atas meja dengan raut sok sinis. Keduanya kembali terdiam cukup lama, hingga Riki membuka obrolan dengan topik baru.

“Eh, Nath. Pernah naik gunung gak?”

Nathan, yang tadinya hendak memasang headset-nya kembali, mengurungkan niat. “Gak pernah sama sekali dan belum kepikiran juga mau naik gunung.”

“Yah, sayang sekali. Padahal indah banget pemandangannya! Terus camping kemaren terasa beda, lebih gimana gitulah.”

“Lebih gimana?” tanya Nathan sedikit penasaran.

“Ya, lebih seru aja dari sebelum-sebelumnya. Dari pas awal pendakian aja berasa seru dan… yah, kerasa sedikit capek sih. Tapi begitu sampai di puncak, bener-bener semua rasa capek langsung ilang!”

“Terus?”

“Terus pas camping di puncak juga seru banget! Saling tukar cerita, tukar pikiran, terus juga makin memperkuat chemistry gitu. Apalagi ini kita kan udah masuk semester akhir, makanya mungkin gak bakal bisa naik gunung lagi kalo udah lulus nanti.”

Sebelum Riki sempat menyelesaikan ceritanya, suara motor yang berhenti di depan kos memotong pembicaraan. Mereka saling menoleh, hingga Riki beranjak dari sofa dan mencoba mengintip dari balik celah tirai jendela.

“Devan tuh kayaknya,” gumam Riki sambil menoleh sekilas ke arah Nathan.

Riki kembali mengintip. “Ah, beneran Devan! Dianterin sama cewek. Tapi... kok kayak beda ya sama cewek yang pernah kesini kemaren?”

“Temennya paling,” sahut Nathan acuh tak acuh.

“Gak mungkin banget sih kalo cuman temen. Keliatan mesra gitu kok, Nath! Ini mah pasti cewek barunya lagi,” ujar Riki dengan gaya yang dibuat-buat dramatis.

Nathan hanya tersenyum datar. “Halah, kebanyakan nonton drama.”

Riki kembali duduk di sofa, menatap Nathan dengan tatapan tajam bak detektif yang baru saja membongkar kasus besar. “Dibilangin gak percaya! Devan itu diam-diam menghanyutkan, Nath. Keliatannya aja kalem, tapi dia tuh jago menjarah hati cewek-cewek. Emang aura playboy-nya kuat banget.”

Tak lama kemudian, pintu kos terbuka. Devan melangkah masuk dan langsung disambut oleh lirikan tajam serta ekspresi yang menyimpan sejuta penasaran dari Riki.

“Gitu amat lirikanmu, Rik,” ucap Devan setengah geli sambil melepas jaketnya.

“Pacar baru lagi, Van?” Goda Riki tanpa ragu. “Beda soalnya sama yang kemaren ke sini.”

“Bukan, kocak. Dia cuman temen. Motorku lagi bermasalah dan terpaksa nginep di bengkel. Terus dia nawarin buat nganterin aku pulang.”

“Ohh…” sahut Riki manggut-manggut.

“Tapi emang cantik juga, sih, dianya,” ucap Devan sambil menyeringai tipis.

Riki memasang senyum dramatis sambil mengelus dagu, seolah tengah menganalisa sesuatu yang sangat penting. “Hmm… menarik.”

Nathan mencibir sambil menggelengkan kepala pelan. “Emang tukang gosip dia, Van,” ucapnya, meski senyum di wajahnya tampak jelas bertolak belakang dengan nada cibirannya.

“Tau tuh. Kebanyakan bergaul dengan ibu-ibu kompleks ya gini hasilnya,” timpal Devan.

Mereka bertiga tertawa bersama, membuat suasana kos kembali terasa hidup. Kadang obrolan receh yang mengalir tanpa arah pun terasa menyenangkan. Begitulah keakraban pertemanan yang telah terjalin lebih dari dua tahun itu.

Malam semakin larut saat Kinan akhirnya tiba di rumah seusai pulang kerja. Di ruang tamu, ibunya masih terjaga, sibuk menjahit bagian baju yang sedikit robek di bawah lampu remang. Wajah Kinan tampak lesu saat melangkah masuk, namun berusaha keras ia sembunyikan di balik senyuman tipis.

“Assalamualaikum,” sapa Kinan pelan.

“Waalaikumsalam, Nak.” sahut ibunya seraya meletakkan jarum jahit ke wadah. Ia mendongak menatap Kinan, seketika menyadari raut wajah anaknya yang berbeda dari biasanya. “Anak ibu kelihatannya kecapekan sekali habis kerja.”

Kinan berusaha memasang senyuman di wajahnya. Ia melangkah mendekat, mencium punggung tangan sang ibu, lalu duduk di sampingnya.

“Gak kok, Bu. Kinan gak kecapekan.”

“Yang benar? Kelihatan sekali lho dari wajahmu,” balas ibunya dengan tatapan penuh rasa khawatir.

“Capek dikit aja,” elak Kinan sembari tersenyum yang terasa agak kaku.

“Ibu rebuskan air buat mandi ya? Biar enakan badannya,” tawar ibunya sembari bangkit dari duduknya.

Kali ini Kinan tak lagi mampu untuk menolak, mengingat badannya memang sudah amat lelah. Setelah menyalakan kompor, ibunya kembali duduk di samping Kinan dan mulai memijat pundak putrinya itu. Sentuhan hangat membuatnya merasa nyaman, hingga akhirnya Kinan mulai bercerita.

“Oh iya, Bu. Ada yang mau Kinan ceritain sama Ibu.”

“Apa itu, Nak?” tanya ibunya.

“Kayak yang udah pernah Kinan bilang sebelumnya, semester ini kan Kinan ada praktik mengajar di sekolah. Terus, tadi Kinan juga udah ngobrol sama dosen pembimbing soal rencana Kinan yang mau mencicil skripsi dari sekarang, biar nanti pas semester akhir terasa lebih ringan.”

Ibu Kinan melepaskan pijatannya, terdiam sejenak, lalu raut wajahnya berubah cemas. “Lho, lalu apa kamu tidak kecapekan nanti, Nak? Setelah praktik mengajar terus langsung berangkat kerja, sekarang ditambah dengan harus nyicil skripsi. Apa kamunya yakin itu tidak berlebihan?”

“Gak kok, Bu. Semua bisa Kinan atur waktunya biar Kinan gak sampe kecapekan. Ibu percaya aja sama Kinan,” ujar Kinan berusaha menenangkan ibunya seraya menggenggam jemari wanita itu.

“Ibu selalu percaya sama Kinan. Tapi ibu harap Kinan tidak memaksakan diri, ya. Jangan sampai nanti malah jatuh sakit,” pesan ibunya dengan nada penuh harap.

Kinan mencoba mencairkan suasana yang mendadak haru. “Tenang aja, Bu. Kan kalo Kinan kecapekan atau sakit, selalu ada ibu yang bakal ngerawat Kinan.”

Ibunya menatap wajah Kinan, lalu sebuah senyum hangat terpancar dari bibirnya. “Bisa saja kamu ini. Ya sudah, mandi dulu sana. Sepertinya air hangatnya sudah siap, biar tidak kemalaman juga.”

Kinan langsung berdiri, melempar senyuman lebar ke arah ibunya. “Siap! Ibu Kinan memang yang terbaik!”

Setelah langkah Kinan menjauh menuju arah dapur, ibunya kembali terdiam sesaat. Ia sangat menyadari betapa kerasnya sang anak berjuang keras untuk menggapai cita-cita dan impiannya serta membahagiakannya. Meski hati kecilnya tak bisa lepas dari rasa khawatir, ia tak ingin membebani jalan perjuangan Kinan.

“Ibu pasti akan melakukan apapun demi kamu bisa sukses kelak, Nak. Ibu janji,” gumamnya lirih seraya menyeka matanya yang tanpa sadar berair.

1
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!