Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Kepergok
Nathan hanya diam. Tatapannya masih tertuju pada Laluna yang berdiri di hadapannya. Untuk pertama kalinya, Laluna melihat sisi Nathan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Bukan seorang CEO yang dingin. Bukan pria yang selalu terlihat kuat dan tidak tersentuh oleh apa pun.
Melainkan seorang pria yang sedang ketakutan kehilangan seseorang.
"Aku tahu aku mabuk," ucap Nathan pelan. Suaranya terdengar serak. "Tapi semua yang aku katakan itu bukan karena alkohol."
Laluna terdiam. Nathan menundukkan kepalanya sedikit, lalu tertawa kecil yang terdengar hambar.
"Aku hanya... takut. Hanya takut."
Kalimat sederhana itu membuat dada Laluna terasa sesak. "Takut apa?" tanyanya perlahan.
Namun, belum sempat Nathan menjawab pria itu kehilangan kesadarannya dan terjatuh di pelukan Laluna. Laluna segera menepuk nepuk pria itu, namun mustahil sepertinya pria itu tengah tertidur.
Laluna segera menatap ke arah Jordi untuk membantunya membawa Nathan ke dalam mobil. Di dalam mobil, Laluna membiarkan Nathan untuk tidur di pangkuannya, ia mengelus elus pucuk rambut pria itu dan sesekali menatap ke arah wajah tampannya.
"Kita kembali saja ke apartemenku, aku sudah meminta Rina untuk pulang," ujar, LaLuna.
Jordi hanya mengangguk, ia segera mempercepat laju mobilnya menuju ke apartemen mewah milik Laluna di tengah kota. Sesampainya di sana, Jordi segera membantu Laluna untuk menggendong Nathan yang tengah mabuk.
" Nona, apa saya boleh tidur disini? Maksud saya tidur di kamar lain, untuk menjaga tuan dan Nyonya."
Laluna hanya mengangguk, lagi pula ia bisa meminta bantuan Jordi jika misal Nathan bangun dari tidurnya. Setelah memastikan Nathan berbaring dengan nyaman di atas tempat tidur, Jordi segera menarik selimut hingga menutupi tubuh pria itu. Wajah Nathan terlihat jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit sebelumnya.
Tidak ada ekspresi dingin yang biasanya selalu ia tunjukkan. Tidak ada tatapan tajam yang membuat orang lain merasa segan. Malam ini, Nathan hanya terlihat seperti seseorang yang sangat lelah.
Jordi melangkah keluar dari kamar, sementara Laluna masih berdiri di dekat pintu. Pandangannya tidak pernah lepas dari pria yang kini tertidur pulas itu.
"Nona," panggil Jordi pelan.
Laluna menoleh. "Tuan Nathan benar-benar jarang seperti ini."
Laluna sedikit mengernyit. "Maksudmu apa?"
Jordi terdiam sejenak, seolah berpikir apakah ia boleh mengatakan hal tersebut atau tidak.
"Selama saya bekerja dengan tuan, saya belum pernah melihat beliau menunjukkan sisi lemahnya kepada siapa pun. Bahkan ke Nyonya dan tuan pun dia tidak pernah menunjukannya. "
Tatapan Laluna kembali mengarah pada Nathan.
"Dia selalu terlihat kuat. Bahkan ketika banyak hal buruk terjadi, dia tetap berdiri seolah tidak ada yang bisa menghancurkannya." Jordi tersenyum tipis. "Tapi malam ini berbeda. Saya melihat tuan Nathan menunjukan kerapuhan dan kegagalannya."
Laluna tidak menjawab.Ia masih mengingat suara Nathan yang terdengar begitu rapuh ketika mengatakan bahwa ia takut ditinggalkan. Selama ini ia mengira Nathan adalah pria
yang tidak memiliki perasaan. Pria yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Namun ternyata, ada luka yang ia sembunyikan jauh di dalam dirinya. Walau Laluna juga tidak tahu luka apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh suami kontraknya itu.
"Jordi," panggil Laluna pelan.
"Ya, Nona?"
"Kenapa Nathan bisa menjadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi saat kalian pergi dari hotel?"
Jordi menatap wanita itu sejenak. "Saya tidak tahu apakah saya berhak menceritakannya, Nona. Karena saya tidak berhak menceritakan masalah ini kepada siapapun."
Laluna mengerti. Ia tidak ingin memaksa. "Sudahlah. Lupakan."
Namun sebelum Jordi benar-benar pergi, pria itu berhenti.
"Tapi satu hal yang bisa saya katakan." Pria itu menghela nafas seseorang sebelum melanjutkan ucapannya. "Tuan Nathan bukan orang yang mudah percaya kepada orang lain. Jadi jika dia bisa menunjukkan sisi itu kepada Nona... mungkin Nona adalah seseorang yang sangat berarti baginya."
Setelah mengatakan itu, Jordi berjalan keluar meninggalkan kamar. Laluna kembali menatap Nathan. Entah kenapa melihat Nathan tengah tertidur membuatnya merasa bahwa pria itu terlihat mengemaskan.
....
Keesokan harinya, dari arah pintu terdengar suara ketukan yang terus kali berulang. Nathan yang keberisikan segera bangkit. Dengan kepala yang terasa pusing, ia menatap ke arah Laluna yang tengah memeluknya lalu menatap ke sekeliling. Entah kenapa kamar ini terasa asing bagi dirinya.
"Laluna buka! Ini sudah jam 8 jangan sampai telat," teriak seseorang dari balik pintu kamar.
Nathan yang kesal, segera membukakan pintu itu. Rina yang melihat ada pria asing di kamar Laluna tersentak, ia menatap dari atas ke bawah tubuh pria itu.
"K-kau siapa ada disini?" teriaknya.
Nathan yang masih setengah sadar hanya menatap Rina dengan ekspresi datar. Kepalanya terasa berat akibat sisa alkohol semalam, membuatnya sulit mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, satu hal yang ia sadari. Ia berada di kamar Laluna atau lebih tepatnya apartemen mewah milik gadis itu. Tetapi kenapa ia bisa berada disana? Bahkan sekarang ada seorang wanita asing sedang berteriak di depannya.
"Saya yang seharusnya bertanya," ujar Nathan dingin. "Siapa kamu dan kenapa berteriak di depan kamar orang lain?"
Rina terdiam sejenak. Ia tidak menyangka pria di hadapannya justru membalas dengan tatapan yang begitu tajam.
"Tunggu, ini kamar Laluna, kan?" tanyanya dengan suara lebih pelan.
Nathan tidak langsung menjawab.. Ia melirik ke belakangnya. Laluna masih tertidur di atas ranjang, rambutnya sedikit berantakan, dan tangannya masih menggenggam ujung selimut.
Pemandangan itu membuat Nathan membeku beberapa detik. Kemudian perlahan ingatannya mulai kembali. Malam tadi, suasana bar, ia yang bersikap seperti anak anak dan? Ciuman yang ia lakukan ketika dirinya kehilangan kendali.
Ekspresi Nathan berubah. Ia benar benar malu, saat mengingat itu. Seolah sikap dinginnya tiba tiba hancur di depan wanita yang ia sukai.
"Apa yang aku lakukan? Kenapa saya bisa sebodoh itu" gumamnya pelan.
Rina yang masih berdiri di depan pintu semakin curiga.
"Cepat katakan siapa kamu?apa kamu pencuri?" Rina menunjuk ke arah Nathan. "Atau kamu adalah pria yang bersama Laluna semalam?"
Nathan menatapnya. Sebelum ia sempat menjawab, suara Laluna terdengar dari belakang.
"Rina..."
Keduanya langsung menoleh. Laluna yang baru terbangun duduk di atas tempat tidur sambil mengusap matanya. Ketika menyadari Nathan berdiri di dekat pintu bersama Rina, ia langsung tersadar sepenuhnya.
"Rina? Nathan? Kenapa kalian ada disini?" teriaknya.
Laluna segera bangkit, sialnya ia harus kepergok berduaan dengan suami kontraknya oleh Rina. Padahal ia ingin menyembunyikan pernikahan ini dari siapapun, kecuali keluarganya dan keluarga Nathan, tapi sekarang? Rina sudah menatapnya penasaran.
"Siapa dia Luna? Kenapa ada pria di apartemenmu?"