Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Menikah
"Ibu tidak mau ya, kalau pernikahanmu diadakan secara mewah, Ron! Ingat, Ruhi mbakmu itu belum menikah. Dan satu lagi, Ibu tidak setuju kalau uangmu dipakai pesta demi Nina, wanita yatim piatu tak punya asal-usul itu!"
Rukmini menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi jati tua. Raut kebencian tampak jelas dari guratan wajahnya yang mengeras.
"Betul kata Ibu," timpal Ruhi, kakak perempuan Roni, sembari mengecat kuku jarinya tanpa memandang sang adik. "Kau tahu sendiri kan, Mbak tidak mau kau langkahi begitu saja? Lagipula, kalaupun kau nekat menikah, tidak perlu ada pesta-pesta segala. Apalagi cuma untuk Nina, gadis miskin dari desa terpencil di perbatasan hutan itu."
Roni mengembuskan napas kasar. Dadanya terasa sesak berhimpitan dengan rasa kecewa. "Aku akan bicara baik-baik dengan Nina dulu, Bu. Bagaimana pun dia calon istriku. Lagi pula, uang yang aku kumpulkan selama ini sebagian besar juga hasil kerja keras Nina saat di desa."
Rukmini berdecih sinis. "Ibu tidak butuh pendapat gadis kampungan itu! Kau harus menurut pada ibumu. Daripada uangmu habis untuk pesta tak berguna, lebih baik disimpan untuk pernikahan mbakmu nanti!"
Tak sanggup lagi menahan amarah yang mulai memuncak, Roni memilih bangkit dan melangkah keluar rumah tanpa membalas perkataan ibunya.
"Eh, mau ke mana kau, Ron?! Orang tua belum selesai bicara, malah main pergi! Pasti ini gara-gara pengaruh wanita miskin itu!" teriak Ruhi melengking, yang makin membakar kebencian di hati Rukmini.
Roni adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Si bungsu sudah lama menikah serta hidup terpisah bersama pasangan. Ruhi yang belum berumah tangga, menjadikan kehadirannya dan Rukmini bak benalu toxic yang selalu mendikte hidup Roni.
Mengendarai sepeda motornya, Roni membelah jalanan kota menuju desa perbatasan. Jalan setapak berbatu dan pepohonan rimbun menyambut kedatangannya. Rumah Nina terletak sangat terisolasi, bersisian langsung dengan kerapatan hutan belakang desa.
Sesampainya di sana, Roni menyampaikan keputusan keluarganya. Tentu saja, ia memilah kata-kata agar hinaan dari ibu dan kakaknya tidak sampai melukai hati wanita pujaan hatinya itu.
Nina yang duduk di hadapannya menyimak dengan tenang. Wajah ayunya sama sekali tak memancarkan kemarahan. Ia tersenyum lembut, lalu mengusap punggung tangan Roni. "Tidak apa-apa, Mas. Ikuti saja keinginan Ibumu."
"Kamu yakin tidak apa-apa kalau kita hanya akad sederhana, Nin?" tanya Roni, menyuarakan rasa bersalahnya.
"Sama sekali tidak apa-apa, Mas. Yang terpenting bagi Nina adalah pernikahan kita sah secara agama dan hukum, serta mendapat ridho dari Ibunda. Aku tidak ingin rumah tangga kita mengawali langkah dengan ketidak ikhlasan orang tua."
Hati Roni kian terenyuh. Kelembutan dan ketulusan Nina selalu berhasil meluluhkan jiwanya. Ia tak pernah habis pikir mengapa ibu dan kakaknya begitu membenci Nina, hanya karena sekat kasta dan status sosial semata.
"Baiklah, Nin. Mas janji akan membahagiakanmu," ucap Roni sembari mengusap lembut jemari Nina sebelum berpamitan.
Sepeda motor Roni perlahan membelah jalan setapak meninggalkan halaman. Nina berdiri memandangi kepergian calon suaminya dengan tatapan sendu.
"Sudah pulang Roni nya, Nak?" suara serak Nek Nilam menyentak melamunnya Nina. Sang nenek baru saja kembali dari tepi sungai membawa tempat cuci baju.
"Eh, Nenek. Iya, Mas Roni cuma sebentar," sahut Nina sembari membantu mengangkut wadah dari tangan neneknya.
Nek Nilam memperhatikan raut wajah cucu kesayangannya yang memendam duka. "Padahal Nenek jalan pelan, kok kamu bisa sekaget itu? Apa yang sedang kamu pikirkan, Nduk?"
Nina memaksakan senyum tipis, lalu menceritakan keputusan acara pernikahan mereka yang hanya digelar berupa akad nikah sederhana tanpa resepsi.
"Nenek jangan khawatir, Nina ikhlas kok," bisik Nina lembut sembari menggenggam jemari keriput neneknya.
Bukan karena tak ada pesta yang membuat hatinya mencelos, melainkan impian kecil yang telah mereka susun bersama dari tabungan sederhana semasa Nina bekerja di perkebunan dulu, kini harus terkubur dalam-dalam demi mengalah pada ego calon mertuanya.
_______
Sebulan kemudian, hari bahagia yang dinanti tiba. Tidak ada terop megah atau alunan gamelan. Rumah kayu sederhana milik Nek Nilam hanya diramaikan oleh tetangga dekat yang membantu memasak di dapur.
Nina tampak begitu anggun dalam balutan kebaya putih tulang dan kain batik cokelat tua. Rambutnya disanggul rapi menyingkap leher jenjangnya yang halus.
"Kamu cantik sekali hari ini, Nin," puji seorang sahabatnya yang ikut membantu merias.
"Terima kasih ya," balas Nina tersenyum tipis menatap bayangannya di cermin.
Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil hitam berhenti di depan halaman. Kehadiran rombongan pengantin pria menyedot perhatian warga sekitar. Namun, senyum Nek Nilam perlahan memudar ketika melihat siapa yang turun dari mobil tersebut.
Roni datang hanya didampingi beberapa teman dekatnya. Sama sekali tidak terlihat keberadaan Rukmini maupun Ruhi. Ayah Roni sendiri telah lama meninggal dunia.
Saat Nina dituntun keluar kamar, Roni terpaku. Pesona alami Nina menepis segala ketegangan di dadanya. Namun, bisik-bisik kasak-kusuk tetangga yang duduk di pelataran tak ayal menembus rungu mereka.
"Kasihan ya Nina, keluarga suaminya tidak ada satu pun yang sudi datang."
"Iya, apa memang tidak direstui?."
"Seserahannya juga ala kadarnya saja..."
Roni menunduk dalam, rasa malu dan bersalah menghimpit dadanya. Ia telah membujuk ibunya setengah mati tadi pagi, namun Rukmini dan Ruhi justru mengunci pintu kamar dan menolak pergi.
Penghulu memecah kecanggungan. "Sudah siap semuanya? Mari kita mulai."
Prosesi ijab kabul berlangsung khidmat. Dalam satu tarikan napas, Roni mengucapkan janji sucinya. Nina dan Roni kini resmi menjadi sepasang suami istri.
Setelah acara usai dan para tetangga kembali ke rumah masing-masing, teman-teman Roni pun pamit pulang menuju kota. Roni memutuskan untuk menginap di rumah sang istri.
Langkah kaki Roni berderit di atas lantai kayu saat ia memasuki kamar Nina. Tampak Nina sedang duduk melamun di tepi ranjang bambu bertutup sprei hijau yang warnanya telah memudar.
"Mas, maafkan keadaan rumahku ya," bisik Nina pelan, jemarinya saling bertautan canggung.
Roni mendekat dan duduk di samping Nina. Ditatapnya manik mata wanita yang kini sah menjadi istrinya itu. "Kenapa harus minta maaf, sayang? Di mana pun kita berada, asal bersamamu, tempat itu akan selalu terasa hangat."
Pipi Nina merona merah mendengar ucapan manis suaminya. "Mas Roni pinter gombal sekarang. Sudah ah, aku mau membersihkan diri dulu."
Gadis itu tergesa masuk ke kamar mandi belakang. Tak lama kemudian, ia kembali dengan daster rumahan yang sopan. Bergantian, Roni masuk untuk membersihkan diri.
"Nin, belum tidur?" panggil Nek Nilam pelan dari luar kamar.
Nina melangkah keluar menemuinya. "Belum, Nek. Mas Roni sedang mandi. Nenek kok belum istirahat?"
"Nenek belum ngantuk," sahut Nek Nilam lalu duduk di kursi kayu ruang tamu. Nina menyusul dan menyuguhkan sisa kue hajatan.
"Boleh saya bergabung, Nek?" Roni yang baru selesai mandi menyapa dengan ramah.
"Sini, Nak Roni. Duduklah," sambut sang nenek ramah.
Roni mendaratkan tubuhnya di samping Nina. Raut wajahnya berubah serius. "Nek, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya sampaikan terkait rencana kami setelah ini."
Nek Nilam menyimak dengan penuh perhatian.
"Saya berniat memboyong Nina untuk tinggal di kota, bersama Ibu dan kakak saya. Biar bagaimanapun, sebagai anak laki-laki, saya punya tanggung jawab menjaga Ibu," terang Roni penuh harap.
Nek Nilam menatap Nina, menyerahkan keputusan penuh pada cucunya. "Nenek terserah Nina. Bagaimana, Nduk?"
Nina mengangguk perlahan. "Nina ikut kata Mas Roni saja. Nina ingin berbakti pada suami."
Roni bernapas lega. Ia berjanji dalam hati akan memboyong Nina besok pagi. Setelah perbincangan singkat itu, Nek Nilam pamit tidur lebih dulu. Nina dan Roni pun beranjak kembali ke kamar kecil mereka.
Ketika tubuh mereka yang lelah mulai direbahkan di atas tempat tidur...
PRAAAKKK!
"Aaaakh!" Nina menjerit kaget.
Ranjang kayu lapuk itu patah di bagian tengah, membuat Roni dan Nina guling-terguling jatuh ke lantai dalam gulungan selimut.
Keheningan melintas sejenak. Keduanya saling pandang dalam kegelapan remang, sebelum akhirnya...
"Buaaa-hahaha!"
Tawa renyah pecah di antara Roni dan Nina. Kebahagiaan sederhana meleburkan rasa canggung di antara mereka malam itu. Di kamar sebelah, Nek Nilam yang mendengar suara gaduh itu hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum bahagia.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭