Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadilan di ruang sidang
Proses hukum terhadap Pak Broto tidak berjalan singkat, namun setiap tahapannya diikuti Alika dengan keteguhan hati yang baru. Ruang sidang Pengadilan Negeri pagi itu terasa dingin dan kaku. Aroma kayu jati dan pembersih lantai menyengat, menciptakan suasana yang menekan bagi siapa pun yang duduk di kursi pesakitan. Namun, bagi Alika, ini adalah tempat di mana ia akan mengubur masa lalunya yang kelam untuk selamanya.
Alika duduk di kursi saksi dengan lengan kanan yang masih dibalut perban putih bersih di balik blus panjangnya. Ia tidak lagi menunduk. Rambutnya tertutup rapi oleh kerudung, dan tatapannya lurus ke arah majelis hakim. Di kursi terdakwa, Pak Broto tampak jauh berbeda dari pria angkuh yang biasanya menghisap cerutu di ruang tamu ayahnya. Wajahnya pucat, pakaian batiknya tampak kebesaran, dan ia terus menghindari kontak mata dengan Alika.
"Saksi, silakan jelaskan kejadian pada malam penghadangan tersebut," perintah Hakim Ketua dengan suara berat yang menggema di ruangan.
Alika menarik napas panjang, menenangkan debaran jantungnya. Ia menjelaskan semuanya dengan kalimat yang lugas dan tanpa keraguan. Ia menceritakan bagaimana ia mengikuti mobil Farhan karena firasat buruk, bagaimana mobil SUV hitam itu sengaja memotong jalan di tengah hutan jati yang gelap, hingga saat Pak Broto turun dan memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menghancurkan mobil Farhan.
"Dia bilang, uang lima ratus juta tidak bisa membayar rasa malunya," kata Alika, suaranya tenang namun tajam. "Lalu dia mengeluarkan pisau lipat. Dia mengincarnya ke arah suami saya, Farhan. Saya menghalanginya, dan pisau itu mengenai lengan saya."
Jaksa Penuntut Umum kemudian menunjukkan barang bukti: sebilah pisau lipat dengan bercak darah yang sudah mengering, rekaman suara ancaman dari ponsel Farhan, serta foto-foto kerusakan mobil. Pak Broto mencoba membela diri melalui pengacaranya, berdalih bahwa itu hanyalah perselisihan bisnis yang memanas dan tidak ada niat membunuh.
Namun, kesaksian dari dua anak buah Pak Broto yang tertangkap lebih dulu justru menyudutkan bos mereka sendiri. Mereka mengaku dijanjikan uang besar jika berhasil "memberi pelajaran" yang membuat Farhan cacat atau tidak bernyawa.
Di barisan kursi penonton, Ayah Alika duduk di kursi rodanya, didampingi Ibu dan Alya. Ibu Alika terus menggenggam tangan Alya, sesekali menyeka air mata saat mendengar betapa bahayanya situasi yang dihadapi putri-putrinya malam itu. Ayah Alika hanya terdiam, namun rahangnya mengeras setiap kali pengacara Pak Broto mencoba memutarbalikkan fakta tentang Alika.
Setelah persidangan yang melelahkan selama hampir lima jam, Hakim Ketua akhirnya membacakan putusan.
"Menimbang seluruh bukti dan keterangan saksi, pengadilan menyatakan terdakwa Broto Kusumo terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana percobaan pembunuhan berencana dan pemerasan. Menjatuhkan pidana penjara selama tujuh tahun."
Ketukan palu hakim sebanyak tiga kali menandai berakhirnya dominasi Pak Broto atas keluarga mereka. Alika memejamkan mata sejenak, merasakan beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya luruh seketika.
Begitu sidang ditutup, Pak Broto digiring keluar oleh petugas kejaksaan dengan tangan terborgol. Saat melewati kursi Alika, pria tua itu sempat berhenti sejenak, menatap Alika dengan kebencian yang masih tersisa. Namun, Alika tidak membalas dengan amarah. Ia hanya menatap balik dengan pandangan kosong, seolah Pak Broto kini hanyalah debu di jalanan yang sudah ia lewati.
Farhan segera menghampiri Alika di kursi saksi, membantunya berdiri dan merangkul bahunya pelan. "Sudah selesai, Al. Semuanya benar-benar sudah berakhir."
Di luar ruang sidang, keluarga besar Ahmad berkumpul. Ayah Alika memanggil kedua putrinya untuk mendekat. Ia meraih tangan Alika dan Alya, menyatukannya di atas pangkuannya yang tertutup selimut.
"Keadilan sudah ditegakkan. Tapi yang paling penting, Ayah bangga karena kalian berdua tetap berdiri tegak," ujar Ayah dengan suara serak. "Mulai hari ini, tidak ada lagi nama Pak Broto di rumah kita. Tidak ada lagi utang, tidak ada lagi rasa takut."
Alya memeluk Alika dengan erat. "Terima kasih sudah melindungiku, Al. Kalau malam itu kamu tidak nekat, mungkin sekarang aku sudah terjebak di rumah pria itu."
Alika tersenyum tipis, mengusap punggung kakaknya. "Kita saling menjaga sekarang, Kak. Tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita."
Keluarga itu berjalan meninggalkan gedung pengadilan. Sinar matahari siang itu terasa sangat terik, namun bagi Alika, cahaya itu tidak lagi menyilaukan. Itu adalah cahaya kebebasan yang sesungguhnya. Ia menoleh ke arah Farhan yang sedang membukakan pintu mobil untuknya. Pria itu tersenyum tulus, sebuah senyum yang menjadi sauh bagi hidup Alika yang dulu terombang-ambing.
Masa lalu memang tidak bisa diubah, namun di bawah langit yang cerah itu, Alika tahu bahwa masa depannya tidak lagi ditentukan oleh noda oli di tangannya atau catatan merah di jalanan, melainkan oleh langkah kaki yang ia ambil bersama orang-orang yang benar-benar mencintainya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...