Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria misterius dan keluarga baru.
Diandra tampak memperhatikan pria di hadapannya itu dengan tatapan menyelidik yang dalam. Ia mencoba mengingat wajahnya yang terasa tidak asing, seolah ia pernah bertemu dengannya sebelumnya.
Matanya seketika melebar ketika berhasil menemukan potongan puzzle yang hilang dari ingatannya.
Ah, dia pria yang menempel pada Kaiden saat di pesta waktu itu. Aku memang tidak terlalu memperhatikan wajahnya, tapi aku ingat betul dengan gaya rambutnya yang terikat setengah itu.
Di saat Diandra masih tampak fokus memperhatikan pria berkemeja putih itu, para pria lainnya mulai berbisik satu sama lain.
"Nona." panggil Jhoni, seketika menyadarkan Diandra dari lamunannya.
"Ah... ya. Apa Anda mau memesan yang lainnya?" tanyanya, seketika membuat dirinya gelagapan.
"Tidak. Tapi, kau sepertinya tertarik pada teman kami yang tampan ini. Kau bahkan tidak berkedip melihatnya."
Wajah Diandra memerah seketika. Ia baru sadar kalau tindakannya membuat orang lain salah paham. Ia lalu berdeham pelan, mencoba mengembalikan ketenangan dirinya yang sempat hilang.
"Oh, bukan begitu. Hmm... aku hanya merasa seperti pernah melihat wajahnya di suatu tempat. Tapi, ku rasa aku sudah salah mengira." ucapnya, mencari alasan yang terdengar masuk diakal. "Maaf, kalau hal itu membuat kalian merasa tidak nyaman."
"Oh, kau mungkin pernah melihatnya di majalah atau media sosial. Niel seorang model." jelas Jhoni.
Diandra lalu tertawa kecil. "Haha... Iya. Mungkin aku pernah melihatnya di media sosial."
Setelah itu, tanpa berlama-lama lagi, Diandra segera undur diri dari hadapan mereka.
Suasana kembali normal dan berjalan dengan percakapan yang lancar di antara keempat pemuda itu.
Namun, tidak dengan Diandra yang berdiri di balik meja kasirnya. Ia sedang memeriksa sesuatu di ponselnya.
Ia mengetikkan nama "Niel" di mesin pencaharian. Dan beberapa artikel tentang pria bernama Niel bermunculan di sana. Ia mencoba mengetikkan kata tambahan "seorang model terkenal".
Dan Artikel tentang pria dihadapannya itu langsung terlihat di layarnya. Ia lalu menggulir layar ponselnya untuk mencari salah satu Artikel tentang pria itu lalu membukanya.
"Nathaniel Arka. Dia seorang model papan atas yang namanya sedang naik daun akhir-akhir ini... namanya bersih dari skandal. Dan... ia punya fans fanatik juga."
Diandra tampak fokus membaca setiap artikel yang membahas tentang pria itu, hingga dia tak sadar bahwa pria yang sedang ia selidiki sudah berdiri tepat di belakangnya. Ikut membaca apa yang sedang terpampang di layar posel, pria itu mengangkat sebelah alisnya.
"Menarik sekali." gumamnya pelan.
Diandra langsung terkejut. Tubuhnya menegang, lalu perlahan menoleh ke belakang.
Tatapan mereka bertemu. Pria itu tersenyum tipis, sementara Diandra segera mematikan ponselnya.
"Sejak kapan kau berdiri di situ?" tanyanya gugup.
"Cukup lama untuk tahu kalau kau sedang menyelidikiku."
Wajah Diandra seketika memerah karena malu.
"A-Aku tidak sedang menyelidikimu." Diandra terkekeh hambar. "Aku hanya penasaran karena mereka bilang kalau kau adalah seorang model terkenal. Jadi, aku hanya iseng saja... mencari tahu. Haha..."
Gadis itu tampak sangat malu. Rasanya ia ingin segera menghilang dari pandangannya.
"Hmm... kau mau apa di sini?" tanya Diandra, mengalihkan pembicaraan.
"Aku sudah memanggilmu sejak tadi, tapi kau tidak mendengar. Jadi, aku lebih mendekat." pria itu menyandarkan tubuhnya pada meja, lalu menatap Diandra dengan tatapan mata yang tajam.
Diandra berusaha bersikap tenang. "Oh, begitu."
"Di mana toiletnya?" tanya Niel kemudian, setelah memperhatikan gadis itu sejenak.
"Toilet? Ada di ujung lorong sebelah kiri." ia tampak mengarahkannya pada pria itu.
Pria itu lalu tersenyum tipis dan berterima kasih. Namun, sebelum benar-benar pergi ke toilet, ia sedikit mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Diandra yang refleks mundur satu langkah.
"Jangan terlalu sering mencari tahu tentang seseorang. Bisa jadi kau justru menemukan sesuatu yang tidak ingin kau ketahui."
Setelah mengatakan hal itu, ia kembali berdiri tegak dan pergi ke toilet.
Diandra tampak terpaku di tempat. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang.
Entah mengapa, ucapan pria itu justru membuat rasa penasarannya semakin besar.
🥀🥀🥀
Sementara itu, di rumah keluarga Pradipta.
Zalina, bersama ayah dan kedua mertuanya tampak makan siang bersama. Mereka tampak berbincang santai disela-sela makan siang mereka yang hangat.
Sesekali terdengar tawa kecil dari kedua orang tua Kaiden, membuat suasana makan siang itu tampak begitu akrab.
Mereka juga sempat menyinggung perihal pabrik dan tentang posisinya yang menjabat sebagai wakil direktur utama.
"Bagaimana dengan persiapan pembangunan pabriknya, Zafran?" tanya Reyhan sambil meletakkan sendoknya.
"Sejauh ini cukup baik. Kaiden bilang beberapa bagian masih dalam tahap pemeriksaan akhir, terutama mesin produksi dan sistem keamanan. Tapi semuanya sudah hampir selesai." jelas pria baya itu.
"Kalau begitu setelan pabrik resmi beroperasi, kau dan Zalina akan langsung menjabat sebagai direktur dan wakil direktur utama?" tanya Belinda.
"Iya, Ma." Zalina tersenyum tipis. "Aku akan membantu Ayah untuk mengurus manajemen dan operasional perusahaan."
Zalina menatap ayahnya dengan lembut.
"Apa kau gugup?" tanya Reyhan seolah tahu kegelisahan hati putrinya itu.
Zalina mengangguk pelan. "Sedikit."
"Itu hal yang wajar, sayang. Mengingat kalau ini pertama kalinya kau memegang tanggung jawab sebesar ini." ucap Zafran, menenangkan menantunya itu.
"Mama yakin kau bisa. Kau masih muda, tapi cara berpikirmu sudah cukup matang. Kai dan kami semua pasti juga akan membantumu. Jadi, kau tak perlu khawatir." timpal Belinda dengan ucapan yang terdengar menenangkan.
Zalina terkekeh kecil. "Terima kasih Ma, Pa dan Ayah."
Setelah makan siang yang hangat itu, mereka melanjutkan obrolan ke hal-hal ringan.
Namun kini, Zalina hanya berdua dengan ibu mertuanya. Sementara kedua pria baya itu, sedang pergi ke kantor untuk membahas masalah pabrik bersama Kaiden.
Belinda mengajak Zalina duduk di rumah tengah. Ia juga membawa beberapa kotak perhiasan bersamanya.
"Semua ini untukmu, sayang." ucap wanita cantik itu sambil menyerahkan kotak-kotak berbalut beludru itu pada Zalina. "Ibu mendesainnya khusus untukmu. Semoga kau menyukainya."
"Semua...?" Zalina menatap semua kotak yang ada di atas meja dengan mata yang melebar, tampak ragu untuk menerimanya.
Ibu mertuanya itu tampak terkekeh kecil, kemudian mengangguk.
"Tentu saja. Bukalah."
Dengan hati-hati Zalina membuka kotak pertama. Matanya seketika berbinar melihat sebuah kalung berlian yang berkilauan di hadapannya.
"Ini... sangat indah, Ma. Tapi... apa ini tidak terlalu berlebihan." gumamnya merasa canggung.
Zalina terdiam cukup lama, menatap perhiasan-perhiasan indah di hadapannya.
Ia pernah memiliki perhiasan seperti ini sebelumnya, namun terpaksa ia jual karena membutuhkan uang. Saat itu, ia sama sekali tidak memikirkan rasa kehilangan. Baginya, kebutuhan hidup jauh lebih berharga dari pada benda-benda mewah yang melekat di tubuhnya.
Namun, kini keadaan justru sedang berbalik. Ibu mertuanya dengan tulus menghadiahkan banyak perhiasan mahal kepadanya.
"Kenapa kau malah melamun?" tanya Belinda lembut.
"Terima kasih, Ma." ucapnya tulus.
Belinda tersenyum, lalu menggenggam tangan Zalina.
"Tidak perlu berterima kasih, Nak. Mama ini sekarang sudah menjadi ibumu. Jadi, tidak perlu sungkan atau pun malu. Kalau kau butuh apa-apa. Mama akan selalu ada untuk membantumu."
Ucapan itu terasa begitu tulus, dan membuat Zalina tanpa sadar mulai meneteskan air matanya. Kenapa seseorang yang bahkan tidak punya hubungan darah dengannya, bersikap tulus dan begitu peduli padanya. Sementara ibu kandungnya sendiri memilih pergi karena tak siap menanggung beban bersamanya.
🥀🥀🥀
Bonus gambar.
Diandra Citra, 22 tahun
Nathaniel Arka, 28 tahun
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...