Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Langkah Sunyi dalam Keremangan
Malam kian larut, menyisakan keheningan yang begitu pekat di dalam kamar utama. Setelah kepergian kedua orang tuanya dan pengaruh obat penurun panas yang diberikan dokter mulai bekerja, Mita perlahan-lahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya, namun rasa panas yang membakar tubuhnya tadi sore perlahan mulai mereda, menyisakan rasa lemas dan linu yang masih setia bersarang di setiap persendian.
Mita menolehkan kepalanya pelan ke sudut ruangan. Di sana, di atas kursi kerja, Sam tampak tertidur pulas dengan posisi duduk yang tidak nyaman, kelelahan setelah seharian didera ketegangan emosi dan kepanikan.
Mita menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Sandiwara untuk hari ini telah usai. Keberadaan orang tua Sam yang sempat mengancam rahasia mereka berhasil dilewati. Kini, tidak ada alasan lagi baginya untuk tetap berada di atas ranjang pria ini.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia kumpulkan secara paksa, Mita mulai menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia menurunkan kedua kakinya ke lantai dingin, menahan ringisan kecil saat rasa nyeri yang familier itu kembali menyengat tubuh bagian bawahnya. Mita bertumpu pada pinggiran ranjang selama beberapa saat, mengatur napasnya yang menderu pelan agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun yang bisa mengusik tidur Sam.
Tanpa sepatah kata pun, Mita mulai bergerak lincah namun penuh kehati-hatian dalam keremangan kamar.
Ia melangkah menuju lemari besar milik Sam. Satu per satu, jemarinya yang masih agak gemetar menurunkan beberapa setelan pakaian yang tadi siang ia gantung secara terburu-buru di sana. Mita melipatnya dengan gerakan cepat, menumpuk kain-kain itu di atas lengannya. Setelah itu, ia beralih ke meja kerja, memungut beberapa buku pelajaran berkuliah yang sempat ia tebar secara acak sebagai pemanis sandiwara.
Semua barang pribadinya kini telah kembali ke dalam dekapannya. Kamar utama ini telah bersih dari jejak keberadaannya, kembali menjadi kamar milik Sam yang dingin dan tak tersentuh. Mita memutar kenop pintu kamar dengan sangat pelan, membukanya sedikit demi sedikit agar tidak menimbulkan derit. Dengan langkah kaki yang diseret pelan menahan sakit, Mita melangkah keluar dari kamar utama.
Namun, baru dua langkah Mita menyusuri lorong yang sepi itu, pandangannya mendadak mengabur. Rasa pening yang hebat kembali menghantam kepalanya tanpa ampun, membuat dunianya seolah berputar terbalik. Kaki Mita yang lemas tak lagi mampu menopang berat badannya.
Tumpukan baju dan buku-buku di pelukannya seketika terlepas, berserakan di atas lantai bersamaan dengan tubuh Mita yang limbung dan terjatuh dengan suara debum pelan.
Suara itu langsung menyentak Sam dari tidur ayamnya di dalam kamar. Dengan jantung berdebar kencang, Sam bergegas membuka pintu kamar dan langsung terkejut mendapati Mita sudah terduduk lemas di atas lantai lorong yang dingin dengan napas terengah-engah.
Tanpa banyak bicara, Sam segera berlutut di sampingnya. Rasa khawatir dan bersalah kembali membuncah di dada pria itu. Dengan gerakan sigap namun penuh kehati-hatian, Sam menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Mita, lalu mengangkat dan menggendong tubuh kurus gadis itu ke dalam pelukannya. Sam membawa Mita melangkah menuju kamar pribadi gadis itu yang berada di sebelah.
Sam membaringkan tubuh Mita yang terasa kembali menghangat ke atas ranjangnya sendiri. Saat Sam hendak berbalik untuk memungut pakaian yang berserakan di luar, Mita menahan pergerakannya dengan suara yang teramat lirih dan parau.
"Mas... maafkan aku," bisik Mita, matanya menatap Sam dengan sorot rasa bersalah yang mendalam. "Aku belum sempat untuk membereskan semua barang-barangku dari kamarmu..."
Mendengar ucapan itu, dada Sam terasa seperti dihantam benda tumpul. Di saat kondisi fisiknya sedang hancur seperti ini, Mita masih saja memikirkan kenyamanan dirinya.
"Tidak usah, Mit. Biarkan dulu saja barang-barangmu di sana, tidak ada yang terganggu," potong Sam dengan nada suara yang melunak drastis. "Sekarang kamu fokus istirahat saja dulu, ya."
Sam kemudian berbalik mengambil segelas air putih dan sekotak obat yang tadi ditinggalkan oleh dokter di atas nakas. "Oh, iya, ini obatnya. Kamu harus minum dulu agar demamnya cepat turun."
Sam duduk di tepi ranjang, lalu dengan telaten membukakan beberapa pil kapsul dari kemasannya. Ia meletakkan obat kapsul tersebut di telapak tangan Mita yang terasa panas, lalu membantu menyodorkan gelas berisi air minum ke bibir gadis itu, memastikan Mita meminum obatnya dengan tenang malam itu.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)