NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 - File 531-MB

Studio animasi Universitas Naratama berbau spidol, komputer baru, dan ambisi mahasiswa yang belum dihantam deadline.

Ayla masuk lima belas menit terlambat.

Bu Ratri, yang kebetulan mendampingi sesi pengenalan studio, menatap jam dinding lalu menatap Ayla.

“Alasan?”

Ayla berdiri di pintu dengan ransel di satu bahu. “Macet.”

Nisa yang duduk di baris kedua langsung menunduk. Dia tahu wajah Ayla. Itu wajah orang yang baru saja menyelesaikan urusan yang jelas bukan sekadar macet.

Bu Ratri juga tahu, tetapi memilih tidak bertanya di depan kelas.

“Duduk.”

“Terima kasih, Bu.”

Ayla duduk di sebelah Nisa. Nisa langsung berbisik, “Kamu masih hidup.”

“Aku juga senang melihatmu.”

“Aku serius. Kemarin kamu pergi dengan satuan khusus, terus hari ini telat. Aku sudah menyiapkan tiga skenario.”

“Apa saja?”

“Ditahan, diculik, atau jadi pemeran film.”

Ayla menatapnya.

Nisa membelalak. “Jangan bilang yang ketiga hampir benar.”

“Fokus kelas.”

“Ayla!”

Di depan, dosen studio menjelaskan dasar pipeline animasi, pembagian tim, dan tugas akhir orientasi: membuat video pendek berdurasi satu menit tentang identitas diri. Mahasiswa lain mulai mencatat. Ayla membuka laptop, tetapi bukan untuk mencatat.

Pesan dari Lestari masuk.

File 531-MB berhasil dibuka sebagian. Kamu harus lihat.

Di bawahnya ada alamat gedung operasional Arga dan waktu: pukul 16.00.

Ayla mengetik:

Aku ada kuliah.

Lestari:

Pak Arga bilang jangan pakai alasan mahasiswi animasi.

Ayla:

Dia mulai mengenalku.

Lestari:

Itu bukan kabar baik untuk siapa pun.

Ayla menutup layar pesan.

Di sisi lain kelas, beberapa mahasiswa menatapnya. Setelah video lari, parkiran, dan audisi yang entah bagaimana bocor sebagian, posisi Ayla di kampus berubah aneh. Dia bukan disukai sepenuhnya. Bukan dibenci sepenuhnya. Lebih seperti karakter misterius yang membuat orang ingin dekat tapi takut terseret.

Alina tidak hadir di kampus hari itu.

Namun namanya tetap ada di mana-mana.

Sebuah unggahan akun gosip kampus muncul menjelang akhir kelas.

Kak Alina kabarnya sakit setelah kejadian kemarin. Semoga cepat pulih. Jangan sampai konflik keluarga bikin orang baik ikut terseret.

Nisa menunjukkan layar pada Ayla. “Ini mulai lagi.”

Ayla membaca komentar. Banyak yang masih membela Alina. Sebagian mulai mempertanyakan kenapa setiap orang di sekitar Alina selalu bergerak membela sampai membuat masalah. Narasi publik belum runtuh, tetapi mulai pecah.

“Kamu mau balas?” tanya Nisa.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Dia sedang mencoba terlihat terluka. Kalau aku memukul sekarang, dia dapat panggung.”

Nisa menghela napas. “Kamu bicara seperti sedang main catur.”

“Aku benci catur.”

“Kenapa?”

“Terlalu lama. Aku lebih suka permainan yang selesai sebelum orang sempat merasa pintar.”

Nisa menatapnya dengan ngeri kecil.

Kelas selesai pukul tiga. Ayla keluar bersama Nisa, tetapi baru sampai koridor, Dimas menghadang mereka. Wajah senior itu tampak kurang tidur.

“Ayla, bisa bicara?”

Nisa langsung waspada. “Kalau soal kemarin—”

Dimas mengangkat tangan. “Bukan mau ribut.”

Ayla menatapnya. “Kamu punya tiga menit.”

Dimas menarik napas. “Aku mau minta maaf. Soal hari pertama. Aku terlalu cepat percaya cerita.”

Ayla menunggu.

Dimas tampak tidak nyaman karena dia tidak menjawab.

“Dan soal Alina,” lanjutnya. “Aku tidak tahu apa yang terjadi di keluargamu. Tapi aku mulai sadar... mungkin aku cuma melihat bagian yang dia ingin orang lihat.”

Ayla berkata, “Bagus.”

Dimas berkedip. “Cuma itu?”

“Kamu mau sertifikat perkembangan karakter?”

Nisa menutup mulut.

Dimas hampir tersenyum, lalu menggeleng. “Aku cuma mau bilang, kalau ada yang pakai akun kampus lagi untuk menyebar cerita tentangmu, aku bisa bantu cari dari sisi panitia.”

Ayla memperhatikan wajahnya. Kali ini tidak ada akting. Hanya rasa bersalah dan sedikit keinginan memperbaiki.

“Baik.”

Dimas tampak lega.

“Tapi kalau kamu berbohong,” tambah Ayla, “aku tidak akan pakai versi kampus.”

Wajah Dimas kembali pucat. “Aku mengerti.”

Setelah Dimas pergi, Nisa berkata, “Kamu mengancam orang yang baru minta maaf.”

“Supaya dia konsisten.”

“Aku benar-benar harus menulis semua dialogmu.”

“Buat tugas identitas diri?”

Nisa berhenti. “Eh. Itu ide bagus.”

“Jangan.”

“Terlambat. Aku sudah terinspirasi.”

Ayla meninggalkan kampus pukul setengah empat. Kali ini Arga tidak menjemput di depan gerbang. Dia hanya mengirim lokasi dan satu pesan:

Jangan naik kendaraan yang tidak kamu pesan sendiri.

Ayla membalas:

Kamu perhatian.

Arga:

Saya belajar dari pola masalahmu.

Ayla tersenyum kecil dan memesan mobil sendiri.

Gedung operasional Arga terasa lebih dingin dari sebelumnya. Lestari menyambut Ayla di ruang analisis dengan mata berbinar dan rambut berantakan.

“Aku berhasil membuka lapisan pertama.”

“Kamu terlihat seperti belum tidur.”

“Tidur bisa nanti. Data dulu.”

Di layar besar, folder 531-MB terbuka. Isinya beberapa file rusak, sebagian gambar lama, dan satu rekaman pendek tanpa suara.

Arga berdiri di sisi meja. Bima di belakangnya. Maya duduk di kursi lain sambil minum kopi seolah ruang operasi negara adalah lounge pribadi.

“Kamu terlambat,” kata Maya.

“Kuliah.”

“Menggemaskan.”

Ayla mengabaikannya dan melihat layar.

Lestari memutar rekaman.

Gambar buram menampilkan ruangan laboratorium. Beberapa orang memakai jas pelindung. Di tengah ruangan ada tabung transparan besar. Kamera bergerak cepat, seolah direkam sembunyi-sembunyi. Lalu muncul seorang anak perempuan kecil di sudut ruangan, duduk di lantai, memegang lutut.

Wajahnya kotor.

Matanya menatap kamera.

Arga menoleh pada Ayla.

Ayla tidak bergerak.

Maya menurunkan cangkir perlahan.

Bima berkata pelan, “Itu kamu?”

Ayla menatap layar.

Anak kecil dalam rekaman itu bukan Ayla.

Tetapi matanya mirip.

Terlalu mirip.

Lestari memperbesar metadata yang tersisa.

Nama file: MB-subject-before-transfer.

Tanggal: empat belas tahun lalu.

Arga berkata, “MB bukan Mamba?”

Tidak ada yang menjawab.

Ayla akhirnya bicara.

“Putar ulang.”

Lestari memutar ulang.

Di detik terakhir rekaman, sebelum gambar mati, ada suara yang berhasil dipulihkan sebagian. Suara pria tua, patah-patah.

“Jika Mamba hidup, proyek ini tidak boleh jatuh ke tangan Surya.”

Ruangan itu sunyi.

Arga menatap Ayla.

“Kali ini,” katanya pelan, “kamu harus mulai menjawab.”

Ayla melihat anak kecil di layar.

Untuk pertama kalinya hari itu, wajahnya kehilangan semua gurauan.

“Aku juga baru mulai punya pertanyaan.”

Maya berdiri dan mematikan layar dengan remote cadangan.

Ruangan langsung terasa lebih kecil.

“Tidak semua pertanyaan harus dijawab malam ini,” katanya.

Arga menatapnya. “Dengan hormat, Bu Maya, empat korban sudah mati. Saya tidak bisa menunggu orang-orang Besi Kelabu merasa nyaman.”

Maya tersenyum, tetapi matanya dingin. “Dengan hormat juga, Pak Arga, kalau kau membuka pintu yang salah, korban berikutnya bisa lebih banyak.”

Bima melihat Arga, lalu Maya, lalu Ayla. “Aku merasa ini bagian saat orang biasa sebaiknya diam.”

“Benar,” kata Ayla.

Lestari masih menatap layar mati. “File ini punya lapisan lanjutan. Tapi ada kunci yang belum lengkap. Mungkin perlu kata sandi, mungkin data biometrik, mungkin pemicu dari perangkat Surya.”

“Jangan buka dulu,” kata Ayla.

Arga langsung menoleh. “Kenapa?”

“Karena dia ingin kita terburu-buru.”

Arga tidak membantah. Itu yang membuat Ayla sedikit lebih tenang. Pria ini keras kepala, tetapi bukan bodoh.

Ayla mengambil foto anak kecil itu dari hasil tangkapan layar, lalu mengirimkannya pada Bara.

Balasan tidak datang.

Itu lebih buruk daripada jawaban apa pun.

Ponsel Reno masuk beberapa detik kemudian.

Kamu di mana? Mama tanya. Ada akun gosip yang bilang kamu anak eksperimen. Aku belum jawab.

Ayla membaca pesan itu dua kali.

Surya bergerak lebih cepat dari dugaan.

Dia membalas:

Jangan jawab. Jangan biarkan Alina jawab. Jangan biarkan Mama menerima tamu.

Reno:

Tamu apa?

Ayla menatap Arga.

“Kita harus ke rumah Prameswari.”

Arga mengambil jasnya tanpa bertanya lagi.

Sebelum keluar, Ayla menatap lagi layar yang sudah mati. Permukaannya hitam, tetapi bayangan wajahnya sendiri terlihat samar di sana. Untuk sesaat, wajahnya dan wajah anak dalam rekaman seperti bertumpuk.

Maya melihat itu, tetapi tidak mendekat.

“Ayla,” kata Arga dari pintu.

“Aku datang.”

Dia memalingkan wajah lebih dulu. Bukan karena takut pada rekaman itu, katanya pada diri sendiri. Hanya karena membuang waktu di depan layar mati tidak berguna.

Namun saat berjalan keluar, jari-jarinya masih terasa dingin.

Di lorong, Lestari berbisik pada Bima, “Kalau file itu benar, kasus ini jauh lebih tua dari empat korban.”

Bima menjawab pelan, “Dan jauh lebih kotor.”

Ayla mendengar keduanya.

Dia tidak menoleh.

Karena mereka benar.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!