NovelToon NovelToon
The Wiragata Legacy

The Wiragata Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Mafia
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Mellsqueen

​Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
​Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
​Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pecahnya Darah Kesucian

Cahaya matahari yang menembus gorden tebal kamar utama kediaman Wiragata terasa menyilaukan mata Halra. Ia mengerang pelan, mencoba menggerakkan tubuhnya, namun sebuah rasa sakit yang luar biasa—campuran antara pegal linu, perih yang tajam, dan rasa ngilu yang mendalam—menghantam sekujur tubuhnya, terutama di bagian intinya.

Halra membuka matanya perlahan, dan pandangannya langsung tertuju pada sprai sutra berwarna gelap di bawahnya. Napasnya tercekat. Di tengah sprai yang kusut itu, terdapat noda kecokelatan yang mengering—sebuah bukti nyata dan tak terbantahkan atas apa yang terjadi semalam. Bukti bahwa benteng pertahanan terakhirnya telah runtuh.

Bayangan mengerikan semalam langsung menyerbu ingatannya, menghancurkan harapannya bahwa itu semua hanyalah mimpi buruk belaka.

Ia teringat bagaimana Sano menyeretnya masuk ke kamar dengan tatapan yang berkilat gelap, penuh dengan amarah yang meletup-letup dan gairah yang menakutkan. Sano melepaskan jas yang tadi dipakaikannya dengan kasar, lalu mencengkeram kedua bahunya.

"Kau memancing ini, Halra," desis Sano tepat di depan wajahnya. Suaranya bukan suara suaminya yang tenang, melainkan suara pria yang dikuasai oleh ego dan kecemburuan buta.

Halra mencoba berontak, mencoba memukul dada bidang Sano dengan kedua tangannya yang kecil, namun kekuatannya tidak seberapa dibandingkan dengan amukan Sano. Sano dengan cepat melucuti pakaian halra dengan kasar, gadis itu mencoba mempertahankan sisa pakaian yang ada, namun tangan kekar sano merobek Bra berenda itu dengan mudahnya,tinggal satu kain yang menutupi keindahan di bawah sana, halra menyilangkan tangannya di depan buah dadanya yang besar dengan kuncup merah muda itu, sano bak kesurupan menarik kaki halra dengan bringas, dan langsung menarik celana dalam tipis bertali samping dan menciumnya lalu membuangnya kelantai.

Sano kemudian membuka sabuk dan celanya menyisakan dalaman yang audah terlihat kepla senjatanya yang menyembul di baki dalaman itu, Sepersekian detik sano membukanya dan melemparkannya ke halra, Saat Halra melihat tubuh atletis suaminya yang telanjang—otot-otot yang kencang dan perut six-pack yang terukir sempurna—wajahnya memanas karena syok dan rasa takut yang luar biasa. Terlebih lagi, saat pandangannya jatuh pada Mr. P Sano yang panjang, berotot, dan sedang dalam puncak ketegangannya yang mengerikan, seluruh keberanian Halra seolah menguap.

Melihat Halra yang ketakutan bak seekor kelinci yang terpojok, Sano justru semakin beringas. Dengan satu gerakan cepat, ia menindih tubuh Halra yang mungil ke atas ranjang. Halra menjerit dan mencoba menghindar, merayap ke sudut tempat tidur, namun Sano lebih cepat.

Sano menarik kedua kaki Halra dengan kasar, memaksanya membuka diri. Halra meringkuk, berusaha melindungi dirinya dengan kedua tangan menutupi wajahnya yang basah oleh air mata.

Namun, yang terjadi selanjutnya di luar dugaan Halra. Sano, yang tadi seperti orang kesurupan, tiba-tiba melunak.

Perlahan, dengan gerakan yang sangat lembut dan menyesatkan, Sano mulai menciumi setiap inci tubuh mulus Halra. Ciumannya turun dari leher, bahu, hingga ke kedua dada besar Halra yang ranum dan memerah akibat emosi. Sano membenamkan wajahnya di sana, menghisapnya perlahan, menjilatnya dengan lembut, seolah sedang mencoba menenangkan badai yang ia ciptakan sendiri.

Sentuhan lembut itu membingungkan Halra. Di tengah isak tangisnya, ia merasakan sensasi asing yang perlahan menjalar.erangan nikmat keluar dari bibir merahnya.

"Ahh..."Cakaran demi cakaran yang ia layangkan di punggung Sano, raungan protesnya, bahkan jambakan di rambut Sano saat ia kewalahan, tidak membuat pria itu bergeming sedikit pun. Sano terus melanjutkan aksinya dengan sabar, seolah menikmati setiap perlawanan Halra dan aroma ketakutan yang bercampur gairah dari tubuh istrinya.

Sano mengangkat tubuh Halra, memposisikan dirinya di antara kedua kaki istrinya. Ia menatap mata Halra yang sayu dan basah, sebuah tatapan yang penuh dengan dominasi dan kepemilikan mutlak.

Sano menatap Halra dengan intensitas yang membuat waktu seolah berhenti. Di bawah tatapan itu, Halra merasa telanjang bukan hanya secara fisik, tetapi juga jiwanya terkupas habis. Tidak ada lagi ruang untuk menghindar.

Sano membuka kedua paha halra membenamkan kepalanya di tengah-tengah lembah kecil yang mulus tanpa rambut halus, sedikit tembam dan menggairahkan, Sano mulai mengeluarkan lidahnya dan mulai menjilati titik kecil berwarna merah muda milik halra, erangan tak terelakan, tubuhnya menggeliat merasakan sensasi luar biasa yang tidak pernah ia rasakan, sesekali sano menekan titik itu dan memutarnya perlahan dengan kedua jarinya, halra berkali-kali mencapai klimaknya, sano terus mengulum kacang merah kecil itu tanpa peduli halra yang sedang kalang kabut di buatnya.

selesai memuaskan halra sekarang gilirannya menuntun miliknya memasuki lembah ranum itu, perlahan karena masih tersegel, sano mencoba mendorong miliknya perlahan namun belum tembus, halra terus mencengkram tangan sano dengan kesakitan, tak mau menyerah begitu saja akhirnya dengan satu gerakan yang mantap namun tetap dalam kendali, Sano melakukan dorongan terakhirnya.

Sebuah jeritan tertahan lolos dari bibir Halra. Rasa sakit yang tajam, panas, dan mendadak menghantam seluruh tubuhnya—sebuah ledakan rasa sakit yang menandai berakhirnya masa lalunya. Tubuh Halra menegang seketika, kukunya mencengkeram sprai dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipinya.

Sano berhenti sejenak, membiarkan tubuh mereka menyatu dalam keheningan yang tegang. darah mengalir sedikit dari celah antara swnjata sano dan lembah milik halra, Ia merasakan perlawanan terakhir dari pertahanan Halra yang telah runtuh. Napasnya memburu di dekat telinga Halra, bercampur dengan aroma feromon maskulin dan ketakutan yang menguar dari tubuh istrinya.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Sano mulai bergerak—perlahan, hati-hati, namun tak terbantahkan. Setiap gerakan adalah sebuah klaim. Halra terisak pelan di bawah setiap hantaman, tubuhnya yang mungil gemetar hebat, kewalahan menghadapi campuran antara rasa sakit fisik yang luar biasa dan gelombang sensasi asing yang perlahan mulai menjalar, menggantikan rasa takutnya dengan gairah yang membakar tanpa bisa ia kendalikan.

Ciuman Sano kembali turun membungkam bibir Halra, menyerap setiap isak tangis dan erangan protes yang perlahan berubah menjadi desahan pendek yang tertahan. Malam itu, di atas ranjang yang menjadi saksi bisu pertempuran ego dan gairah mereka, Halra akhirnya menyerahkan segalanya kepada pria yang paling ia cintai sekaligus ia benci.Sano melepaskan senjatanya yang di mana kepala senjatanya ada bekas darah merah, melihat itu sano nampak bangga, karena dialah yang memiliki halra seutuhnya

Kembali ke masa sekarang. Dengan tertatih-tatih dan menahan rasa sakit, Halra bangkit dari ranjang. Ia melirik sekilas ke pangkal pahanya, dan terlihat gumpalan darah kering yang menghitam di sana, bukti perenggut paksa kesuciannya. Ia berjalan tertatih menuju kamar mandi, langkah kakinya terseret.

Begitu sampai di depan cermin besar di kamar mandi, Halra melepaskan jubah sutranya. Ia menatap bayangan dirinya sendiri di cermin, dan seketika dunianya seolah berputar.

Seluruh tubuhnya—leher, bahu, dada, lengan, hingga pinggangnya—dipenuhi oleh tanda kepemilikan dari Sano. Puluhan cupangan berwarna ungu kemerahan menghiasi setiap inci kulit mulusnya, menciptakan pola yang mengerikan namun juga indah dalam kegilaan possessifnya. Cupangan di lehernya terlihat begitu jelas, seolah Sano ingin memastikan dunia tahu bahwa wanita ini sudah ada yang memiliki.

Halra menyentuh salah satu cupangan di lehernya dengan jari gemetar. Bayangan malam itu, campuran antara paksaan, rasa sakit yang luar biasa, dan sentuhan lembut Sano yang membingungkan, kembali menyerang ingatannya. Air mata panas kembali menggenang di pelupuk matanya.

Ia bukan lagi Halra yang sama seperti kemarin. Ia sekarang adalah wanita yang telah ditandai—baik secara fisik maupun emosional—oleh pria yang paling membingungkan dalam hidupnya. Di bawah guyuran air hangat shower yang menyentuh kulitnya yang terluka dan penuh tanda, Halra menyadari bahwa hidupnya telah berubah selamanya, dan permainan dendam ini kini menjadi jauh, jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.

Apa langkah selanjutnya yang akan diambil Halra setelah menerima tanda kepemilikan fisik dari Sano? Akankah ini membuatnya menyerah pada takdirnya, atau justru memicu rencana balas dendam yang lebih gelap lagi?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!