NovelToon NovelToon
Nadia Anak Yang Diabaikan

Nadia Anak Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 pembuktian

Suasana jadi tegang. Semua orang terpaku pada dua papan tulis yang berisi soal yang sama dari Prof. Hengki. Beberapa siswa dan guru bahkan ikut mencatat soal itu di buku mereka. Rasa penasaran membuat banyak orang ingin mencoba mengerjakannya sendiri.

Sebuah monitor besar menampilkan hitungan mundur yang terus berjalan.

“1,2,3 mulai”

MC berkata dengan lantang. Suasana semakin menegang. Monitor menampilkan hitungan mundur yang terus berkurang. Nadia dan Yulia maju ke hadapan papan tulis masing-masing.

Yulia mengerutkan dahi saat melihat soal dari Prof. Hengki. Dengan kemampuan yang biasanya membuatnya unggul, soal itu tetap terasa sangat sulit. Bukan hanya dia yang merasakan hal itu. Beberapa guru matematika yang ikut memperhatikan juga terlihat mengernyit.

Yulia lalu menoleh ke arah Nadia.

Matanya langsung membelalak.

Nadia ternyata sudah mulai mengerjakan soal itu.

Rasa panik langsung merayap di dada Yulia. Jantungnya berdetak semakin cepat. Tak ingin dipermalukan di depan semua orang, dia buru-buru mulai mengerjakan soal dengan pendekatan yang selama ini dia pelajari.

Di antara para penonton, beberapa guru dan siswa juga ikut mencoba memecahkan soal tersebut. Suasana aula berubah seperti ruang ujian dadakan.

“nadia sudah selesai”

ucap salah seorang penonton saat melihat Nadia meletakkan kembali spidolnya lalu mundur beberapa langkah ke belakang.

Mendengar itu, Yulia semakin panik. Pikirannya mulai kacau. Tangannya bergerak semakin cepat, tetapi justru semakin banyak kesalahan yang dia buat. Dia terus memaksa dirinya menyelesaikan soal meski rasa gelisah mulai mengganggu konsentrasinya.

Waktu tinggal dua menit lagi.

Nadia sudah menyelesaikan soal itu hanya dalam waktu tiga menit.

Hal itu benar-benar terasa ajaib.

Namun setelah diperhatikan lebih teliti, cara penyelesaian yang digunakan Nadia bukan cara yang umum digunakan. Beberapa profesor yang menjadi dewan juri langsung mengernyit sambil memperhatikan papan tulis Nadia.

Beberapa guru matematika justru langsung mencibir.

“apa-apaan ini, penyelesain seperti apa ini, ini tidak sesuai dengan teori” komentar Ibu Siwi.

Komentar Ibu Siwi langsung diikuti bisik-bisik guru lain yang juga merasa janggal melihat cara Nadia mengerjakan soal.

“TETTTTTT!”

Bel berbunyi.

Monitor menampilkan angka 00.00 yang menandakan waktu telah habis.

Yulia belum menyelesaikan soalnya.

Sementara itu, Nadia sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu.

“ini soal yang susah sekali, penyelesaian yang di lakukan peserta yulia adalah cara yang benar beri dia waktu 1 jam pasti bisa menyelesaikannya” komentar seorang guru.

“benar sekali peserta nadia mengerjakannya asal-asalan,,tidak sesuai teori,,harusnya yulia yang jadi juara”

Yulia yang awalnya kecewa dan gugup mulai merasa lebih tenang. Dadanya terasa lega karena banyak orang yang membelanya. Hanya para guru matematika yang terus berkomentar. Sementara para profesor masih fokus memperhatikan penyelesaian yang dilakukan Nadia.

Prof. Hengki maju perlahan menuju papan tulis Yulia.

Beliau memperhatikan jawaban itu dengan tenang sambil sesekali menganggukkan kepala.

Kemudian beliau berjalan menuju papan tulis Nadia.

Seketika matanya berbinar.

Beliau menatap papan tulis itu dengan saksama, seperti menemukan sesuatu yang sangat berharga.

“peserta nadia mengerjakan dengan benar” ucap Prof. Hengki.

Mendadak suasana jadi riuh.

Bisik-bisik antar guru terdengar di mana-mana hingga akhirnya Ibu Siwi maju ke depan.

“prof apanya yang benar sudah jelas kalau peserta nadia ini mengerjakan dengan asal-asalan ini tidak sesuai dengan teori yang ada prof”

“benar prof, nadia mengerjakan dengan asal-asalan saya yakin dengan jawaban dari yulia, pendekatannya sudah benar dia hanya perlu waktu saja prof” ujar ibu guru yang lainnya.

Beberapa guru lain langsung ikut memprotes.

“bukan berarti tidak sesuai teori itu salah, bagi seorang peneliti dan penemu ini adalah cara yang benar, dan bukannya tidak ada di teori hanya kalian saja yang kurang belajar, penyelesaian seperti ini sama seperti yang di lakukan oleh galileo” ucap Prof. Hengki.

“enggak mungkin prof, beberapa tahun saya mempelajari matematika tidak ada cara seperti ini” ucap Ibu Siwi.

“oh jangan-jangan anda adalah orang yang melindungi nadia, jangan-jangan anda tertarik sama nadia sehingga anda mau melakukan berbagai cara membela nadia”

Kali ini Rini yang maju.

Semua orang langsung melihat Rini seperti orang bodoh. Berani-beraninya dia menuduh Prof. Hengki seperti itu.

“dengan cara apa saya berbuat curang membantu peserta nadia” tanya Prof. Hengki.

Suasana hening.

Namun Rini yang tidak mau menerima kemenangan Nadia tetap berdiri dengan keras kepala.

“ya mungkin saja anda mengatur operator untuk menukar nilai nadia dengan yulia”

Suasana semakin mencekam.

Beberapa orang menggertakkan gigi menahan marah. Di antara mereka ada banyak orang yang dulu pernah dibantu Prof. Hengki saat kuliah. Namun mereka tahu profesor itu tidak suka orang lain ikut campur urusan pribadinya.

“oh anda siapanya yulia?” tanya Prof. Hengki.

“saya kakanya” jawab lantang Rini.

“oh anda yakin menuduh saya?” kembali Prof. Hengki bertanya.

“ya saya yakin, karena nadia itu anak bodoh, berandalan, sekolah di tempat yang buruk, tidak pernah kursus apapun, sekarang tiba-tiba dia jadi juara ini tidak masuk akal sama sekali” cerocos Rini.

“oh anda kakanya yulia,,,baiklah saya mengerti kalau begitu”

Prof. Hengki menarik napas dalam. Wajahnya tetap tenang meski tuduhan terus berdatangan.

Beliau lalu mengambil alat pengendali monitor yang berada di atas meja panitia.

“sebenarnya saya ingin melindungi semua peserta dengan cara ini tapi karena saya di tuduh berbuat curang maka untuk menjaga kredibelitas acara ini terpaksa saja menampilkan ini”

Layar monitor langsung berganti.

Sebuah tangkapan layar percakapan muncul di hadapan semua orang.

Terdapat bukti transfer atas nama Johan kepada Erik sebesar Rp200.000.000.

Di bawahnya terdapat percakapan singkat.

[atur nilai atas nama yulia dia harus jadi juara dan nadia jangan masuk 10 besar]

Semua orang langsung terbelalak.

Rina terlihat bingung. Dia tidak pernah memerintahkan Johan, kepala pelayan mereka, untuk mengatur nilai siapa pun.

Sementara itu, wajah Yulia langsung pucat.

Tubuhnya mulai gemetar.

Dia tahu citranya bisa hancur karena bukti tersebut.

Air mata yang selama ini menjadi senjatanya mulai mengalir membasahi pipi.

“ini tidak mungkin,,saya tidak melakukan kecurangan”

Rina buru-buru mendekati Yulia lalu memeluknya.

“kalian keterlaluan sampai sejauh ini menjebak anak saya”

Saat itulah beberapa petugas kepolisian masuk ke dalam aula sambil membawa seorang operator.

“prof ini operator yang menerima uang suap,,,” ucap polisi.

“tindak secara hukum yang berlaku dan lindungi keluarganya” jawab Prof. Hengki.

Tatapannya lalu beralih ke arah Rini.

“tolong periksa orang ini kemungkinan dia terlibat penyuapan ini”

Rini langsung panik.

Dia mencoba melawan, tetapi para petugas tidak memberinya kesempatan.

Suasana kembali riuh.

Tangisan Yulia akhirnya pecah.

“bawa juga anak dan ibu ini, periksa juga” ucap Prof. Hengki.

Bukti sudah sangat jelas.

Operator juga sudah mengaku.

Namun masih ada beberapa orang yang belum mau menerima kenyataan.

“tapi pendekatan yang di lakukan oleh peserta nadia memang tidak sesuai teori” ucap Ibu Siwi.

Lima profesor maju ke depan.

“sudahlah otak kamu enggak akan sampai, setelah prof bilang ini pendekatan galileo kami sudah mengerjakannya dan kami berhasil mengerjakan kurang lebih 4 menit,,jadi jawaban anak ini benar,,bukan tidak sesuai teori,,,teori kalian saja yang kurang,,pikiran sempit tapi kelakuan sombong,,,benar-benar bodoh” ucap Ibu Nina, guru besar dari sebuah universitas ternama.

“ya anak ini, anak jenius…ini aset bangsa” ucap Prof. Dini.

Karena hampir semua profesor menyatakan hal yang sama, siapa pun yang masih memprotes hanya akan terlihat semakin bodoh di mata semua orang.

1
Suanti
semoga aja nadia dan aldo selamat ada yg tolong biar bisa kembali kermh buat balas dendam 🤭
Anonim
Bales nadia jangan kalah,lawan si rina n the genk tuh
Anonim
Hati hati nadia,jaga nadia thor
Anonim
Kurang ajar si rangga ni bukan nya kasih tahu yg sebenar nya ke nadia,ayo nadia balas mereka semua suatu saat💪
adelina rossa
jelas nih nadia anaknya rangga sama selingkuhanya ...
Anonim
Ayo semangat nadia,semoga aldo bantuin nadia bisa ikut olimpiade y thor😍
Anonim
Si rini goblok ,bukan nya kasian sama nadia ade nya malah ngatain bikin malu,buat nadia cepet keluar dari rumah itu thor buat nadia bersinar 😍
siswati etty
semangat terus Nadia .....keren
libas saja mereka si pecundang
Anonim
Gila,,nadia keren aku suka aku suka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!