NovelToon NovelToon
Di Bawah Lampu Operasi

Di Bawah Lampu Operasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Starry Light

Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.

Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.

Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.

Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belum Fix

Ruang kerja itu terasa sempit untuk Devan dan Savira. Dunia mereka berhenti, tidak peduli di luar ruangan para staf rumah sakit sibuk. Ada suara lari-lari kecil. Resusitasi di IGD, perawat kerepotan mencari pembuluh darah anak yang tantrum dan menjerit. Hidup terus berjalan. Berisik. Kacau.

Dalam ruangan yang terkunci dari dunia luar. Waktu ikut mati. Hanya ada Devan dan Savira. Deru napas Devan yang berat, menekan udara diantara mereka. Isakan tangis Savira yang tertahan di tenggorokan. Takut pecah terlalu keras.

Cahaya lampu meja menggambar bayangan mereka di dinding. Berdempetan. Terlalu dekat untuk dibilang profesional. Terlalu sunyi untuk diabaikan.

Savira menunduk.

Tangannya mengepal di selimut sofa. Buku-buku jarinya memutih. Seolah kalo dilepas, semua pertahanannya ikut runtuh.

Dunia luar masih bising. Tapi di sini, hanya ada detak jam dinding. Tik. Tak. Tik. Tak.

Menghitung mundur kewarasan yang dia punya.

Kata-kata Devan tadi masih menggema di kepalanya.

"Aku mencintai kamu."

"Wanita itu kamu."

Terlalu besar. Terlalu nyata.

Untuk residen sepertinya yang dari awal cuma numpang belajar.

Savira menggeleng. Pelan. Hampir nggak kelihatan.

Bukan untuk Devan. Tapi untuk dirinya sendiri.

TIDAK.

Ini salah.

Ini gila.

Ini... akan menghancurkannya lagi.

Air matanya jatuh. Satu. Dua.

Tapi dia buru-buru menghapusnya dengan punggung tangan.

Kayak kalo dia hapus cepat-cepat, berarti itu nggak pernah ada.

Dia mundur. Jaraknya nambah 30 cm.

Tapi rasanya kayak sejauh langit.

Tubuhnya bilang lari.

Tapi kakinya... kakinya nggak bergerak.

Karena di sudut matanya, dia lihat Devan.

Diem. Nggak maksa. Nggak ngejar.

Cuma nunggu. Dengan mata yang sakit, tapi tetap di situ.

Dan itu... yang paling dia takuti. "Dok...saya," suaranya terbata-bata. "Ini tidak..."

Tangan Devan kembali menangkup pipi Savira. Membawa wajah cantik itu lebih dekat. "Ini kebenarannya, Ra. Kebenaran jika saya mencintai kamu. Kamu adalah wanita yang saya pilih." Katanya semakin membuat Savira bimbang.

"Lalu bagaimana dengan pertunangan itu?" tanya Savira. Lemah. Jika saja tadi siang tidak mendengar kabar pertunangan Devan. Mungkin saat ini ia tidak ragu menyambut penyataan cinta itu.

Devan menarik Savira dalah pelukannya. Memberikan rasa aman dan nyaman yang tidak terbantah. "Dengar, Ra." katanya lembut, menahan Savira yang memberontak dalam pelukannya.

"Karena inilah saya minta kamu percaya dengan saya? Bukankah kemarin sudah saya katakan kalau ini tidak mudah? Karena itu saya butuh kamu percaya pada saya. Dalam situasi apa pun." penolakan Savira melemah. Otaknya mencerna sedikit-sedikit.

"Tapi kabar itu valid, Dok. Pak Ronald sendiri yang mengatakan." cicitnya.

Devan mengurai pelukannya. Menatap intens Savira. "Jadi. Karena kabar ini kamu menangis di ruang scrub?" Tembak Devan.

Mata Savira membulat. Bagaimana Devan bisa tahu jika ia menangis di ruang scrub? Dan sejak kapan pria dingin dan kaku ini suka menggoda? Ini bukan seperti dokter Devan yang biasanya.

Devan tersenyum melihat ekspresi Savira. Senyum yang mampu menghangatkan sekaligus melelehkan hatinya. Ini pertama kalinya Savira melihat seorang dokter Devan tersenyum. Bukan senyum formal seperti biasanya. Tapi sebuah senyum tulus yang lebih manusiawi.

Ruangan itu kini menjadi lebih hangat.

"Saya...saya tidak..." Savira kehilangan kata-kata. Pikirannya kosong.

Devan mengangkat tangannya pelan. Jempolnya mengusap bawah mata Savira. Persis di tempat air mata tadi jatuh.

"Jangan kamu pikir saya tidak tahu." katanya. "Kamu berada di ruang scrub hampir setengah jam. Terlalu lama hanya untuk cuci tangan." ujarnya realistis.

"Dan saat kamu keluar. Mata kamu sembab, wajah kamu juga pucat..." Devan sengaja menjeda kalimatnya. "... apa tebakan saya salah?" Pancingnya.

Savira tergagap. Bibirnya kebuka. Dia kepergok. Habis-habisan. Bisakah dokter Devan kembali ke mode datar saja? Dan kenapa harus sedetail itu? Sejak kapan seorang dokter Devan menghitung berapa lama ia di ruang scrub? Lalu, mata sembabnya?.

Karena tak kunjungan mendapatkan jawaban. Devan mendekatkan wajahnya, kembali mengikis jarak yang di ciptakan Savira.

"Tidak salah, kan?" suaranya seperti berbisik. Membuat jantung Savira berdebar-debar. "Kamu nangis karena dengar kabar saya mau tunangan."

Ia memiringkan kepalanya. Senyum tipis terukir di bibirnya. Sebuah senyum kemenangan. Sebab Savira masih membisu.

"Artinya kamu peduli, Ra. Kamu cemburu." Telak. Kalimat terakhir itu jatuh pelan. Tapi membuat dada Savira seperti meledak.

Savira membalas tatapan Devan. Mata jernihnya berair, menandakan kerapuhan sang pemilik.

"Tapi pertunangan itu..." Suaranya patah di tengah. Hampir tak terdengar.

Ruangan itu lagi-lagi membisu. Lampu temaram membuat bayangan bulu mata Savira yang basah jatuh di pipinya. Napasnya berantakan. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan diri agar tidak menyentuh jas putih dokter Devan.

Devan menunggu. Sabar. Membiarkan Savira mengatakan isi hatinya. Seperti menunggu pasien buka suara sebelum di bius.

"Pertunangan itu pasti, Dok." Savira mengulangnya lagi. Kali ini lebih jelas, meski suaranya bergetar. "Seluruh staf rumah sakit sudah tahu. Apalagi kabar itu datang dari pak Ronald."

Ia tertawa getir. Tanpa suara. "Jadi, untuk apa dokter bilang menginginkan saya?" imbuhnya putus asa.

Devan menghela napas. Kali ini bukan lega. Tapi lelah. Savira adalah gadis baik. Tidak mudah menyakinkan nya, jika hatinya sudah keburu sakit duluan.

Devan melepas tangannya dari wajah Savira. Tapi tangan itu tidak jatuh. Perlahan, ia meraih tangan Savira yang dingin. Digenggamnya kuat. Sekuat hatinya menginginkan gadis itu.

"Tidak ada sesuatu atau keputusan yang valid, jika sumbernya bukan dari saya. Itu yang harus kamu ingat." Suara Devan lebih tenang. "Entah itu dari pak Ronald, atau dari papa saya sekalipun. Bukan berarti itu benar." Ia berharap jika Savira percaya padanya.

"Ra. 35 tahun saya hidup untuk Handaru. Hidup saya bukan milik saya. Dan saat saya melihat kamu tiga tahun yang lalu..." ingatannya melayang jauh ke belakang.

Suara di luar ruangan menghilang. Rumah sakit yang gaduh ikut mati. Saat ia melihat Savira mimisan di tangga darurat. Rambut lepek, jas snelli yang kebesaran, kantung mata hitam pekat karena jaga 36 jam. Tangan kecilnya menutup hidung, tapi darahnya menetes ke lantai beton.

Untuk pertama kalinya Devan menghentikan langkahnya, hanya untuk melihat seorang koas yang bahkan tidak ia kenal. Wajah lelah Savira begitu menarik perhatiannya.

Apalagi 30 menit setelah apa yang dilihatnya di tangga darurat. Ia melihat Savira yang tertawa renyah di bangsal anak. Kantung matanya menghilang, ditutupi dengan concealer tebal.

Tapi senyumnya...senyumnya palsu. Devan sering menggunakan senyum itu saat bersama pasien, atau rekan sejawatnya. Dan sejak hari itu, matanya selalu mencari Savira diantara barisan koas yang lewat, atau berkumpul.

Savira tercengang mendengar cerita Devan. Ia tidak menyangka jika selama ini dirinya diintai oleh Devan. Kenapa ia tidak sadar? Dan kenapa setelah kabar pertunangan itu sampai di telinganya?

*

*

*

*

*

To be continued

1
Oktafiani Azzahra
alur nya bagus banget
Aryati Ningsih
lanjut Thor ..semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!