Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Semoga Mommy tidak pergi pagi-pagi.
Keira memang tidak pergi pagi-pagi.
Karena ketika ia membuka mata, hal pertama yang ia lihat bukan langit-langit kamar Kevin, melainkan garis rahang Kevin dari jarak yang terlalu dekat.
Ia membeku.
Kepalanya bersandar di lengan pria itu. Satu tangannya masih berada di dekat dada Kevin, sementara barisan bantal yang semalam ia susun rapi sudah berantakan seperti benteng yang kalah perang.
Kevin sudah bangun.
Ia menatap Keira dalam diam, matanya tidak dingin seperti biasa. Ada sesuatu yang lembut di sana, sesuatu yang membuat Keira lebih panik daripada ancaman apa pun.
"Jangan bergerak dulu," katanya pelan.
Keira langsung kaku. "Kenapa?"
"Lenganku mati rasa."
Wajah Keira memanas. Ia segera ingin bangun, tetapi Kevin menarik napas pendek.
"Pelan."
"Kenapa tidak kau tarik dari tadi?"
"Kamu tidur."
"Itu bukan alasan."
"Itu alasan yang cukup."
Keira akhirnya duduk dengan hati-hati. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya hangat, dan harga dirinya terasa tertinggal entah di sisi ranjang mana.
Kevin menggerakkan jarinya perlahan, seperti seseorang yang baru mendapatkan kembali darah di lengannya.
"Berapa lama?" tanya Keira.
"Tiga jam."
"Kamu gila?"
"Mungkin." Kevin menatapnya. "Tapi sepadan."
Keira benar-benar ingin melempar bantal.
Sebelum ia menemukan bantal yang tepat, pintu berbunyi klik. Panel elektronik kembali normal, lalu pintu terbuka dari luar.
Naomi muncul dengan wajah terlalu cerah untuk pagi hari.
"Pagi!"
Keira menarik selimut sampai dada. "Naomi."
Naomi melihat ranjang, bantal yang jatuh, lengan Kevin yang masih dipijat pelan, lalu menepuk tangan sekali.
"Jadi! Jadi! Aku bilang juga metode klasik selalu berhasil."
Kevin menatap adiknya. "Keluar."
"Aku keluar setelah laporan." Naomi mengeluarkan ponsel. "Engkong sudah di ruang makan. Anak-anak sudah siap. Dan Ci Keira, tenang, aku tidak memotret apa pun. Aku wanita beretika."
Dari belakangnya terdengar suara Tiffany, "Ci Naomi memotret pintu saja."
Naomi menutup mata. "Tiffi, itu rahasia operasional."
Keira menutup wajah dengan satu tangan.
Lima belas menit kemudian, ia duduk di meja sarapan Hartono Estate dengan rambut sudah rapi, wajah sudah tenang, dan telinga masih merah.
Meja itu tidak sebesar makan malam keluarga, tetapi terasa jauh lebih hangat. Ada bubur ayam, cakwe, telur pindang, buah potong, dan teh panas. Engkong duduk di kursi utama dengan senyum yang membuat semua keriputnya tampak ikut berpesta.
Naomi duduk di samping Tiffany. Ethan dan Darren duduk bersebelahan, kali ini tanpa pertukaran identitas. Pak Hadi berdiri tidak jauh, wajahnya tetap sopan, meski sudut bibirnya jelas menahan senyum.
"Keira," kata Engkong, mendorong semangkuk bubur ke arahnya, "makan. Semalam pasti melelahkan."
Keira hampir tersedak udara.
Kevin mengambil cangkir tehnya. "Engkong."
"Apa? Aku bicara soal menjaga pasien."
Naomi batuk kecil yang terdengar sangat palsu.
Keira mengambil sendok. "Terima kasih, Engkong."
Darren menatapnya dengan mata yang lebih terang dari biasanya. "Mommy tidak pergi."
Keira berhenti.
Semua lelucon di meja tiba-tiba melunak.
Ia menyentuh kepala Darren. "Mommy masih di sini."
Darren mengangguk kecil, lalu kembali makan. Bagi orang dewasa, kalimat itu sederhana. Bagi anak yang pernah kehilangan ibu sebelum sempat mengingat wajahnya, itu seperti janji pagi hari.
Kevin melihatnya.
Lalu Tiffany mengangkat tangan.
"Aku mau bilang sesuatu."
Ethan langsung menendang pelan kaki adiknya di bawah meja.
Tiffany tetap berdiri di kursinya dengan wajah malaikat kecil yang sama sekali tidak bisa dipercaya.
"Daddy dan Mommy tidur satu kamar!"
Seluruh meja diam satu detik.
Lalu Naomi tertawa paling dulu.
Engkong menyusul, tawanya membuat Pak Hadi buru-buru menuangkan air hangat. Bahkan Kevin menunduk dengan sudut bibir naik.
Keira ingin menghilang ke bawah meja.
"Tiffi," katanya pelan, "turun dari kursi."
"Tapi benar kan, Mommy?"
"Tiffany."
Ethan berbisik, "Misi terlalu jelas."
Darren tersenyum kecil. Sangat kecil, tetapi cukup membuat Keira kehilangan marahnya.
Di tengah tawa itu, Kevin mengulurkan tangan di atas meja.
Keira merasakannya sebelum melihat.
Jari Kevin menyentuh punggung tangannya. Ia tidak menarik paksa. Ia hanya meletakkan tangannya di sana, menunggu.
Keira menatapnya.
Semua orang di meja melihat.
Jika ia menarik tangan, Kevin akan melepaskan. Ia tahu itu sekarang.
Namun pagi itu, di rumah yang tidak pernah mengusirnya, di antara tawa anak-anak dan Engkong yang pura-pura tidak melihat sambil tersenyum lebar, Keira tidak menarik.
Kevin perlahan menggenggam tangannya.
Hangat.
Tenang.
Terlalu berbahaya untuk hati yang baru belajar mengetuk.
Naomi menutup mulut dengan dua tangan. "Aku tidak menangis. Ini alergi kebahagiaan."
Engkong mengangguk puas. "Sarapan seperti ini bagus untuk jantung."
Keira menunduk, tetapi kali ini bukan karena malu saja. Ada bagian kecil dalam dirinya yang tiba-tiba ingat bagaimana rasanya duduk di meja keluarga tanpa harus bersiap disakiti.
Setelah sarapan, Keira pamit untuk pulang. Kevin mengantar sampai foyer, masih dengan jarak sopan, tetapi matanya tidak lagi menyembunyikan apa pun.
"Aku akan antar."
"Rio sudah di depan."
"Aku tahu."
"Pak Kevin."
"Kevin," koreksinya pelan.
Keira menatapnya sebentar. "Kevin, jangan membuatku terbiasa."
"Dengan apa?"
"Dengan ini."
Kevin tidak menjawab cepat. Ia hanya berkata, "Kalau suatu hari kau terbiasa, aku akan pastikan kau tidak menyesal."
Ponsel Keira bergetar sebelum ia bisa membalas.
Nama Rio muncul di layar.
"Bos," suara Rio langsung tegang begitu panggilan tersambung. "Undangan baru masuk. Vania Mulyono mengirim undangan ulang tahun untuk lusa."
Keira berjalan keluar perlahan.
"Vania?"
"Ya. Bukan undangan biasa. Ada catatan tangan. Dia menulis: Kalau Keira masih berani menyebut dirinya bagian dari keluarga Mulyono, datanglah."
Kevin mendengar nama itu. Tatapannya langsung dingin.
Rio melanjutkan, "Menurut saya ini bukan pesta. Ini tantangan."
Keira menatap gerbang Hartono Estate yang terbuka di depannya.
Hangat pagi tadi belum hilang dari telapak tangannya, tetapi masa lalu sudah mengetuk dari sisi lain.
"Baik," katanya pelan. "Kalau Vania ingin aku datang, aku akan datang."
Ia menutup telepon, lalu menoleh ke Kevin.
"Sepertinya sarapan hangatmu selesai di sini."
Kevin mengambil jas dari Feng tanpa melepaskan tatapannya dari Keira.
"Kalau mereka menyentuhmu lagi, kali ini aku tidak akan hanya menonton."