Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02# Bahkan Kamu Pun Berpihak Padanya
“Di mana kakak-kakakku yang dulu? Di mana Kak Bastian yang dulu selalu menjagaku, bahkan dari seekor nyamuk pun? Di mana Kak Adnan yang dulu tak rela aku terkena hujan, meski setetes pun? Kenapa? Kenapa kalian semua berubah?! Kenapa?!” seru Ayla di sela-sela tangisnya. Kedua tangannya mencengkeram kuat gaun putih yang ia kenakan. Hatinya terasa hancur lebur melihat kenyataan pahit bahwa keluarganya kini berubah menjadi orang asing yang kejam.
“Sudah cukup! Kalau bukan karena kau, bagaimana mungkin ibu Alena meninggal dunia? Dia itu ibu tunggal, satu-satunya orang yang Alena miliki. Dia rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanmu dari kobaran api. Kaulah pembawa sial itu, sedangkan Alena hanyalah gadis malang yang kehilangan segalanya karenamu!” bentak Adnan dengan suara lantang, tanpa sedikit pun peduli pada perasaan adiknya.
Bagi Ayla, kata-kata itu bukanlah hal baru. Sudah berkali-kali ia disebut pembawa sial, disebut sebagai sumber segala penderitaan yang menimpa Alena.
“Diamlah, Adnan. Biar aku yang bicara,” potong Bastian, menahan adiknya itu.
“Kenapa, Kak? Apa kau merasa iba padanya? Apa kau tak melihat kondisi Alena tadi? Gelang pemberianmu pun putus dan jatuh ke kolam. Semua ini pasti ulah Ayla! Dia iri pada Alena, berniat merebut apa saja yang dimiliki kakak angkatnya itu, sampai-sampai gelang itu jatuh, lalu dia berani mendorong Alena ke dalam kolam!” ungkap Bastian panjang lebar. Matanya memendam amarah yang begitu besar, seolah ia sudah menjadi hakim yang memvonis Ayla bersalah tanpa pembuktian apa pun.
“Aku tidak pernah berniat mengambil apa pun yang dimiliki Alena! Aku bahkan sudah menyerahkan segalanya yang kumiliki untuknya... termasuk kalian berdua, Mama, dan Papa. Aku melakukan itu karena aku merasa sangat bersalah atas kematian ibunya. Apakah itu masih belum cukup? Bisakah untuk sekali saja dalam hidup ini, kalian percaya padaku?” suara Ayla mulai melemah, penuh keputusasaan. Harapan yang tersisa di matanya perlahan memudar, seolah tak ada lagi gunanya ia membela diri.
“Ayla, aku tahu betul kau selalu iri pada Alena. Tapi ingatlah, semua kebaikan yang kami berikan padanya hanyalah sebagai bentuk balas budi atas pengorbanan nyawa orang tuanya yang telah menyelamatkanmu. Kali ini aku memaafkanmu, tapi ingat... lain kali tak akan ada lagi kesempatan,” ucap Bastian dingin, lalu berbalik pergi meninggalkan Ayla sendirian.
“Kau pikir kau bisa lolos begitu saja setelah menyakiti Alena? Rasakan akibatnya!” geram Adnan. Tanpa belas kasih, ia mendorong tubuh mungil Ayla hingga jatuh ke dalam kolam renang.
Byur...
Badan Ayla terhempas ke dalam air yang dingin. Ia terengah-engah, berusaha bertahan, namun ia sama sekali tak bisa berenang—fakta yang sangat diketahui oleh keluarganya, namun kini seolah dilupakan begitu saja. Tak ada seorang pun yang tinggal di sana untuk menolongnya.
“Ambil gelang itu sendiri, jika kau memang sangat menginginkannya!” seru Adnan, lalu berbalik pergi dan menghilang dari pandangan.
Di dalam air, Ayla hanya diam. Ia tak melakukan apa-apa, tak lagi berniat berjuang, bahkan untuk berteriak meminta tolong pun tenaganya sudah tak ada. Ia membiarkan tubuhnya perlahan tenggelam ke dasar kolam, membiarkan air dingin menyelimuti seluruh tubuhnya.
“Kalian semua selalu bilang melakukan ini demi balas budi... tapi kalian tak sadar, selama lima belas tahun ini aku sudah menebus semuanya dengan harga diriku, dengan kebahagiaanku sendiri. Lima belas tahun... dan kalian masih menganggapnya belum cukup? Kalau begitu, kali ini biarkan aku berikan nyawaku sebagai penebus dosa yang tak pernah ada habisnya itu,” batin Ayla, sambil perlahan memejamkan mata, membiarkan dirinya hanyut semakin dalam ke dasar kolam.
Keesokan harinya...
Ayla perlahan membuka mata. Tubuhnya terasa sangat lemah, bibirnya pucat pasi. Ia teringat terakhir kali ia pingsan semalaman. Di punggung tangannya tertancap jarum infus yang menyalurkan cairan ke dalam tubuhnya.
“Aku... masih hidup?” gumamnya pelan, berusaha bangkit dan bersandar pada sandaran kepala ranjang.
“Kau sudah sadar.”
Sebuah suara yang tak asing terdengar di telinga Ayla.
Seorang pemuda tampan berjalan menghampirinya, membawa semangkuk bubur yang masih mengepulkan uap panas di tangannya.
“Kak Rey...” panggil Ayla, menatap pemuda itu dengan pandangan penuh harap dan arti.
Laki-laki itu—Reyhan—duduk di pinggir ranjang Ayla. Ia lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Ayla, mengecek suhu tubuh gadis itu.
“Syukurlah, kau sudah membaik. Demammu sudah turun,” ucapnya sambil tersenyum lembut.
“Kenapa kau ada di sini? Kapan kau datang? Dan... kenapa aku masih hidup?” tanya Ayla sambil mengerutkan kening, masih bingung dengan apa yang terjadi.
“Saat aku tiba di rumahmu kemarin, aku sudah melihat keributan itu. Dan saat kau hampir tenggelam, akulah yang menarikmu keluar dan menyelamatkanmu. Kau demam tinggi semalaman, jadi aku menjagamu di sini,” jelas Reyhan tenang.
“Ternyata Kak Rey yang menyelamatkanku... Aku pikir aku sudah tak punya harapan hidup lagi, tapi dia...” batin Ayla, hatinya kembali terasa hangat hanya karena kehadiran pemuda itu.
“Ayo, makan dulu, setelah itu minum obat,” ucap Reyhan. Ia lalu meniup bubur itu pelan-pelan agar tak terlalu panas, kemudian menyuapinya perlahan ke mulut Ayla.
Tiga puluh menit berlalu.
Ayla sudah menghabiskan makanannya dan meminum obat yang disodorkan.
“Terima kasih banyak, Kak Rey... sudah menyelamatkan dan merawatku,” ucap Ayla sambil tersenyum tipis. Di antara semua orang, hanya Reyhan yang tersisa sebagai sumber kekuatannya. Reyhan adalah kakak kelasnya saat SMA, sekaligus kekasihnya selama dua tahun terakhir.
“Tak perlu berterima kasih. Sudah sepatutnya aku melakukan ini padamu. Tapi... ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,” ungkap Reyhan. Tatapannya berubah, terasa berbeda dan membuat hati Ayla mulai tak enak.
“Ada apa?” tanya Ayla, rasa penasaran bercampur cemas mulai menyusup.
“Sebenarnya... aku tahu kau memang kurang menyukai Alena. Tapi, seharusnya kau tidak melakukan hal yang bisa menyakiti atau merugikannya seperti kejadian kemarin malam. Sekarang Alena sedang dirawat di rumah sakit karena penyakit lamanya kambuh. Seluruh keluargamu ada di sana, menjaganya,” ucap Reyhan pelan namun tegas.
Deg...
Jantung Ayla serasa berhenti berdetak sejenak. Harapannya pupus seketika. Ia mengira Reyhan akan menjadi satu-satunya orang yang berbeda, satu-satunya yang berpihak padanya. Tapi ternyata sama saja. Semua orang, tanpa terkecuali, selalu luluh dan terbuai oleh sandiwara Alena.
“Ternyata ini alasannya dia merawatku... Dia hanya ingin menyalahkanku dengan cara yang halus dan lembut,” batin Ayla terasa perih.
“Ayla, tolong mengertilah. Alena itu gadis yang sangat baik. Dia selalu menganggapmu sebagai adik kandungnya sendiri. Terimalah keberadaannya di keluarga itu, perlakukan dia dengan baik. Bagaimanapun juga, kau harus ingat... ibunya meninggal dunia karena menyelamatkanmu,” lanjut Reyhan, seolah sedang menasihati seorang penjahat.
“Jika kau pun ternyata tak ada bedanya dengan keluargaku... jika kau juga selalu membela dan mendukung Alena... maka pergilah! Keluar dari kamarku! Aku sama sekali tak membutuhkanmu lagi! Lebih baik kau pergi ke rumah sakit dan temui dia yang kau bela itu!” ucap Ayla. Hatinya sudah terlalu sakit menampung kekecewaan dari orang-orang di sekelilingnya.
“Aku hanya ingin menasehatimu agar kau tidak terus-terusan menjadi orang yang keras hati dan jahat, Ayla! Kenapa kau malah marah padaku? Baiklah... mungkin kau butuh waktu sendiri untuk merenungi segala kesalahanmu ini. Aku pergi,” ketus Reyhan. Ia pun berdiri dan berjalan keluar dari kamar Ayla tanpa menoleh lagi.
Ayla terdiam kaku di tempatnya. Tatapannya perlahan menjadi kosong. Satu per satu bulir bening jatuh membasahi pipinya yang pucat.
Ia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga, berusaha menahan rasa sakit yang menyayat hati itu. Dengan tangan gemetar dan kasar, ia mencabut jarum infus yang masih menancap di punggung tangannya, membiarkan tetesan darah segar keluar.
Perlahan, kaki kecil dan kurus itu melangkah turun dari ranjang. Selangkah demi selangkah, Ayla berjalan menjauh dari tempat tidurnya, menuju ke arah balkon kamar yang terbuka lebar.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya