NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Sandiwara di Kamar Utama

​Pintu kayu jati berukir mewah itu perlahan terbuka. Adrian berdiri di ambang pintu dengan senyuman yang dipaksakan melebar, meski keringat dingin tampak jelas membasahi pelipisnya. Di hadapannya, berdiri dua orang petugas dari Komnas HAM, Bambang dan Radit, yang mengapit Aruna. Wajah Aruna tetap datar, seolah dia hanyalah selembar kertas kosong yang pasrah ditiup angin.

​"Silakan, Pak Bambang, Pak Radit... silakan masuk," sambut Adrian, suaranya dibuat seramah mungkin, mencoba mengusir ketegangan yang pekat.

​Begitu Aruna melangkah melewati ambang pintu, Adrian langsung bertindak cepat. Dengan gerakan yang sengaja dibuat lembut namun penuh kepemilikan, ia menarik bahu Aruna dan merangkulnya mesra. "Sayang... akhirnya kamu pulang. Aku cemas sekali sejak kamu di pengadilan tadi."

​Aruna tidak menghindar, tidak juga membalas rangkulan itu. Tubuhnya terasa sedingin es di bawah lengan Adrian. Ia membiarkan suaminya memainkan peran sebagai pria penyayang, demi membuat jerat yang sedang dipasang terasa semakin nyata.

​Di ruang tengah, Nyonya Adiwangsa berdiri dengan tangan saling meremas di depan perut. Senyum tuanya terlihat kaku dan aneh. "Selamat datang, Pak... Ini rumah kami. Sangat harmonis, tidak ada masalah apa-apa seperti yang diisukan," ucap wanita tua itu, mencoba meniru ketenangan putranya walau matanya berkilat cemas saat Bambang dan Radit mulai mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.

​"Terima kasih atas sambutannya, Pak Adrian, Ibu Adiwangsa," jawab Bambang datar. Sorot matanya yang tajam tidak melewatkan gestur kaku dari pemilik rumah. "Sesuai prosedur pelaporan yang masuk, kami harus melakukan inspeksi singkat ke beberapa ruangan di rumah ini untuk memastikan Ibu Aruna tinggal di lingkungan yang layak dan aman."

​"Oh, tentu saja. Silakan diperiksa, Pak. Rumah kami tidak ada yang disembunyikan," sahut Adrian tangkas.

​Saat Bambang dan Radit mulai berjalan melintasi selasar menuju lantai dua, Adrian perlahan mundur beberapa langkah. Memanfaatkan celah saat kedua petugas itu memunggungi mereka, Adrian menyelinap ke arah dapur. Di sana, tiga orang pembantu rumah tangga sedang berdiri berkerumun dengan wajah ketakutan.

​Adrian mencengkeram lengan salah satu pembantu dengan kuat, matanya melotot penuh ancaman yang tertahan. "Dengar kalian semua," bisik Adrian, suaranya mendesis bagai ular. "Jika orang-orang di depan itu bertanya apa pun tentang Aruna, kalian harus jawab bahwa Aruna diperlakukan dengan sangat baik di sini! Katakan dia ratu di rumah ini! Jika ada satu saja kata yang salah keluar dari mulut kalian... hari ini juga kalian saya pecat tanpa pesangon dan saya pastikan kalian tidak akan pernah bisa mendapat pekerjaan di kota ini lagi! Paham?!"

​Para pembantu itu mengangguk cepat dengan tubuh gemetar. Hasutan dan intimidasi Adrian berhasil mengunci mulut mereka.

​Sementara itu, Bambang dan Radit melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama di lantai dua. Kamar itu tampak rapi, wangi, dan sangat mewah. Sprei sutra baru saja diganti oleh Adrian beberapa menit lalu. Namun, saat Radit memeriksa area walk-in closet—lemari besar pakaian—ia mengernyitkan kening.

​Di salah satu sudut gantungan, terdapat beberapa helai gaun malam mewah berwarna merah menyala dan tas desainer bermerek yang ukurannya jelas bukan milik Aruna yang bersahaja. Itu adalah barang-barang Valerie yang tertinggal karena Adrian terburu-buru membereskannya tadi.

​Bambang melangkah mendekat, menyentuh gaun merah itu dengan ujung jarinya. "Pakaian ini... sepertinya bukan ukuran tubuh Ibu Aruna," ujar Bambang tenang, menoleh ke arah Adrian yang baru saja menyusul masuk ke kamar.

​Jantung Adrian serasa melompat keluar dari dadanya. Wajahnya sempat pias sedetik sebelum otak manipulatifnya bekerja dengan kecepatan penuh. Dengan gerakan kilat, Adrian langsung menyambar gaun tersebut dari gantungan, lalu tertawa renyah yang terdengar sangat hambar.

​"Ah! Ini... ini hadiah perdamaian kita, Pak Bambang!" seru Adrian penuh kepalsuan, memeluk gaun itu di dadanya sebelum menyerahkannya ke tangan Aruna. "Aku menyiapkannya khusus untuk Aruna sebagai kejutan malam ini. Aku ingin mengajak istriku makan malam romantis di luar untuk merayakan perdamaian kami. Iya kan, Sayang? Kamu suka, kan?"

​Adrian menatap Aruna dengan pandangan mata yang menyiratkan perintah mutlak agar wanita itu mendukung kebohongannya.

​Aruna menatap gaun merah milik Valerie yang kini berada di pelukannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat samar—senyuman yang diartikan Adrian sebagai kepatuhan, namun sebenarnya adalah senyum ejekan.

​"Iya, Mas... terima kasih banyak," jawab Aruna sambil mengangguk pelan.

​Adrian menghela napas lega yang luar biasa. Ia segera berbalik menatap Bambang untuk meyakinkan petugas itu. "Soal berkas perceraian yang ada di pengadilan itu, sebenarnya memang kami hanya ada perselisihan kecil, Pak. Wajar namanya rumah tangga, bumbu-bumbu pernikahan. Dan saya mungkin kemarin sedang terlalu lelah, terbawa emosi sesaat, sehingga nekat mengajukannya ke pengadilan. Tapi sekarang... kami sudah membicarakannya baik-baik. Kami sudah berdamai. Ya, Sayang...?"

​Adrian kembali mencari afirmasi dari istrinya, membelai rambut Aruna dengan tangan yang sebenarnya terasa dingin oleh kecemasan.

​Aruna kembali mengangguk perlahan. "Iya, Mas."

​Bambang menatap interaksi suami-istri itu dengan pandangan mendalam. Sebagai petugas yang sudah bertahun-tahun menangani kasus domestik, ia tahu betul ada sesuatu yang tidak beres di balik ketundukan Aruna. Namun, karena sang korban sendiri memilih untuk mengangguk di depan suaminya, Bambang tidak bisa mengambil tindakan hukum represif saat ini. Mereka butuh strategi yang lebih halus.

​Setelah memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik yang baru atau ruang penyekapan yang kentara, Bambang dan Radit mengajak mereka kembali ke ruang tamu bawah.

​"Baik, Pak Adrian, Ibu Adiwangsa... proses inspeksi awal kami rasa sudah cukup untuk hari ini," ujar Bambang sambil merapikan catatannya.

​"Syukurlah kalau begitu, Pak," sahut Nyonya Adiwangsa dengan senyum yang dipaksakan.

​Bambang kemudian berbalik sepenuhnya menghadap Aruna. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi ponsel pintar baru berwarna hitam. Ia menggenggam tangan Aruna, lalu meletakkan ponsel tersebut di atas telapak tangan wanita itu.

​"Ibu Aruna... jika ada apa-apa, jangan pernah takut untuk melapor kepada kami," ucap Bambang dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh Adrian. "Ponsel ini diberikan khusus oleh lembaga kami. Ponsel ini sudah dilengkapi dengan sistem alat canggih dan pelacak GPS yang terhubung langsung ke pusat komando perlindungan perempuan. Jadi, jika terjadi sesuatu yang darurat, Ibu cukup menekan satu tombol saja, dan tim kami akan segera bertindak ke lokasi."

​Bambang memberikan tatapan peringatan yang sangat tajam kepada Adrian sebelum melanjutkan, "Satu hal yang paling penting, Ibu Aruna... jangan sampai ponsel ini mati. Jika ponsel ini mati atau kehilangan sinyal dari rumah ini, maka kami dari Komnas HAM akan menganggap Anda sedang tidak baik-baik saja, dan kami akan langsung datang ke sini bersama aparat kepolisian untuk melakukan penjemputan paksa. Paham, Ibu Aruna?"

​"Paham, Pak Bambang. Terima kasih banyak," jawab Aruna, menggenggam ponsel itu erat-erat. Di dalam hatinya, ia tersenyum puas. Ponsel ini adalah tameng baja yang diberikan Paman Aldo melalui tangan Komnas HAM. Kini, Adrian tidak akan pernah berani menyentuhnya seujung kuku pun sampai dua minggu ke depan.

​"Terima kasih atas sambutannya, Pak Adrian, Bu Adiwangsa. Kami pamit dulu," ucap Bambang resmi.

​"Ya, Pak... Terima kasih kembali. Hati-hati di jalan," jawab Adrian dengan wajah yang kini sudah basah oleh keringat dingin.

​Begitu mobil dinas Komnas HAM itu bergerak keluar dari pagar halaman rumah dan menghilang di belokan jalan, topeng ketenangan di wajah Adrian runtuh seketika. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa marmer, memijat dadanya yang terasa sesak akibat ketakutan yang luar biasa.

​Namun, rasa takut akan ponsel pintar di tangan Aruna membuat Adrian tidak punya pilihan lain selain memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Saat melihat Aruna membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju lorong belakang—arah menuju kamar pembantu yang sempit dan pengap—Adrian langsung melompat dari sofanya dan berlari mencegah Aruna.

​"Aruna! Tunggu! Mau ke mana kamu?" cegah Adrian, memegang pundak Aruna dengan sangat hati-hati, takut gerakannya dianggap sebagai kekerasan oleh sistem ponsel pintar di tangan Aruna.

​"Aku mau kembali ke kamarku di belakang, Mas. Mau membersihkan diri," jawab Aruna polos.

​"Tidak, tidak! Jangan ke sana lagi!" jawab Adrian dengan suara bergetar panik. "Mulai detik ini, ini kamarmu, Aruna! Kamar utama di lantai dua! Semua barang-barangmu sudah dipindahkan kembali ke sana. Kamu adalah istriku, tempatmu ada di atas, bukan di kamar pelayan."

​Aruna menatap suaminya dengan tatapan dalam. "Terima kasih, Mas."

​Saat mereka berjalan naik ke lantai dua, Adrian tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya yang membakar dada. Ia menutup pintu kamar utama rapat-rapat, lalu menatap Aruna dengan pandangan penuh selidik yang sarat akan kecemasan.

​"Aruna... jawab jujur kepadaku," bisik Adrian, mencoba mengintimidasi namun suaranya terdengar rapuh. "Kapan kamu melaporkan kami ke Komnas HAM? Bagaimana bisa mereka tahu seluruh detail tentang perselisihan kita di rumah ini?"

​Aruna memiringkan kepalanya sedikit, memasang wajah bingung yang sangat natural dan manipulatif. "Aku tidak pernah melapor ke siapa pun, Mas. Sejak kemarin ponselku kan disita olehmu, dan aku tidak boleh keluar rumah. Bagaimana mungkin aku bisa menghubungi mereka?"

​Adrian tertegun. Logika kata-kata Aruna ada benarnya. Aruna dikurung tanpa alat komunikasi. Lalu bagaimana bisa?

​"Mungkin... mungkin tetangga kita, Mas," lanjut Aruna, memberikan umpan pengalih perhatian yang cerdik. "Bukankah beberapa hari lalu saat Ibu berteriak-teriak di halaman depan, suaranya terdengar sampai keluar pagar?"

​Mendengar itu, mata Adrian langsung menyipit penuh amarah. "Benar... Pasti si Wati! Tetangga sebelah rumah yang selalu kepo dan mengurusi urusan keluarga kita! Sialan wanita tua itu, berani-beraninya dia ikut campur!" batin Adrian, langsung memakan umpan fitnah dari Aruna bulat-bulat.

​Namun, Adrian masih merasa ada yang janggal. "Tapi... bagaimana mereka bisa tahu tentang detail di dalam rumah? Sampai tahu kalau kita ada perselisihan di ruang tengah hingga inspeksi ke rumah segala?!"

​Aruna melangkah menuju meja rias, meletakkan ponsel barunya di sana dengan tenang, lalu berbalik menatap Adrian dengan senyuman misterius. "Mas... ingatkan kejadian kemarin lusa? Saat ada petugas yang menyamar sebagai pengantar air mineral masuk ke dalam rumah untuk mengganti galon di ruang tengah? Jangan-jangan... orang itu adalah informan mereka yang sengaja memasang alat perekam suara di bawah meja atau di sela-sela ruangan saat kita sedang lengah."

​Mendengar analisis Aruna, seluruh tubuh Adrian seketika meremang. Bulu kuduknya berdiri. Otaknya langsung menghubungkan kejadian itu dengan ketakutannya selama ini.

​"Benar juga... Sial! Ini bahaya sekali!" seru Adrian panik, pandangannya langsung liar memeriksa setiap sudut langit-langit kamar dan kolong meja, mengira rumahnya benar-benar telah disusupi oleh agen mata-mata pemerintah.

​Adrian yang bodoh tidak pernah menyadari, bahwa perekam suara itu memang ada di setiap sudut rumahnya—namun bukan dipasang oleh pengantar air mineral atau Komnas HAM, melainkan oleh tangan istrinya sendiri yang kini sedang menatapnya dengan kepuasan kelam di balik bayangan cermin. Sandiwara baru telah dimulai, dan kali ini, Aruna adalah sutradara tunggalnya di dalam kamar utama.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!