Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
SELAMAT MEMBACA !!!
Begitu matanya mereka bertemu, wajah Yana seketika berubah cerah, sudut bibirnya melengkung lembut membentuk senyum tulus melihat siapa yang mengunjunginya.
Dia lalu berdiri menghampiri mereka, Rena dan Runa langsung mencium tangan Yana. Sedangkan Yana sendiri mencium tangan Mommynya.
"Tumben! Mampir ke sini, Mom?" tanya Yana kepada ibunya dengan bingung. Nggak biasanya ibunya datang ke Butiknya.
"Hmmm...Mommy mau membelikan baju untuk mereka berdua sebagai hadiah, Sayang," jawab Freya sambil duduk di sofa.
"HAH!! Dalam rangka apa, Mom?" tanya Yana semakin bingung dengan jawaban ibunya.
"Hmmm...Begini, Sayang. Tadi pagi Kak Rena bilang dengam Mommy! Kalau dia ingin pakai hijab kayak Mommy dan Kakak!" seru Freya dengan bahagia, anak-anaknya mau dengan ikhlas menutup auratnya.
Yana tersenyum, "Benarkah Kak Rena mau pakai hijab, Sayang? Terus Dek Runa bagaimana?" tanya Yana kepada dua bocil itu.
"Ya, Kak. Aku ingin belajar memakai hijab dan memakai baju panjang, Kak," jawab Rena dengan tersenyum.
"Ya, Kak Yana. Aku juga ingin terlihat cantik dengan memakai hijab seperti Mommy dan Kakak. Aku sangat senang sekali kalau melihat wajah kalian hehehe," jawab Runa dengan terkekeh.
Mereka tertawa bersama melihat tingkah lucu Runa, "Dalam hati Yana bersyukur keadaan mereka berdua semakin membaik. Terutama Rena gadis kecil itu sudah jarang sekali didatangi mimpi buruk yang dulu kerap menghantuinya.
"Alhamdulillah adik-adiknya Kak Yana, pintar sekali deh. Ayo ikut Kakak ke bawah, Kakak pilihkan baju yang cocok buat kalian berdua!" ajak Yana menggandeng kedua bocil itu.
Freya mengikuti mereka dari belakang. "Sayang! Nanti makan malam di rumahnya Opa Radit ya. Bang Nathan katanya ke sini lho!" seru Freya memberitahukan kepada putrinya.
"HAH!! BENARKAH, MOM! ASYIK BISA BERTEMU BANG NATHAN LAGI!" sorak heboh Yana sambil bertepuk tangan.
Rena dan Runa juga ikut bertepuk tangan seperti Yana dan lalu mereka tertawa bersama. Yana memilihkan baju-baju gamis anak beberapa potong. Kaos dan rok juga diambilkan oleh Yana. Hijab juga diambil untuk mereka berdua.
"Mbak Reni, tolong dihitung belanjaan saya!" perintah Freya kepada kasir Butik.
Banyak pelanggan yang kagum, padahal Butik punya putrinya tapi Freya tetap bayar. Begitulah cara bisnis keluarga Kavindra Adhitama.
*********
Brak pintu dibuka kasar dari luar masuklah Frans, mantannya Luna. Ririn kewalahan untuk menghadang Frans untuk nggak masuk ke dalam ruangannya Luna, tapi apa daya tenaganya Ririn kalah kuat dari Frans.
"Biarkan saja, Rin. Kamu ikut duduk saja di dalam, kita dengarkan apa yang ingin disampaikan kepada kita!" perintah Luna kepada Ririn, dia sudah nggak mau terjerumus lagi dengan perhatian Frans yang ternyata hanya dibuat mainan.
"Silahkan! Katakan ada keperluan apa anda ke sini? Tuan Frans yang terhormat?" tanya Luna sedikit menyindir mantan kekasihnya itu.
Frans mengepalkan tangannya, kesal dan nggak terima dengan ucapannya Luna.
"Aku mau kita balikan lagi, Sayang. Aku khilaf sudah menduakan kamu tapi hatiku tetap milik kamu. Tolong maafkan kesalahanku dan kita balikan lagi ya. Mau ya Sayang!" seru Frans.
"Situ waras nggak sih?" tanya Ririn sewot mendengar ucapan dari mantan pacar sahabatnya. Tapi dirinya sudah bersumpah untuk membela sahabatnya dari laki-laki modelan mokondo kayak orang yang berada di depannya.
"Tutup mulutmu, Rin! Jangan ikut campur!!" teriak Frans dengan menatap tajam sahabat pacarnya.
"Jangan meninggikan suara di sini!! Anda itu siapa hah!! Sehingga dengan seenaknya membentak sahabat saya. Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Tolong jangan ganggu saya lagi. Silahkan keluar dari ruangan saya!" ucap dingin Luna, dia nggak terima sahabatnya dibentak oleh orang seperti mantannya itu.
" Tapi Lun..,"
Luna sudah mengangkat tangannya untuk memberikan isyarat jelas agar pembicaraan itu nggak dilanjutkan lagi. Ia benar-benar sudah muak dengan mantan kekasihnya itu.
Luna berdiri dengan perlahan, berjalan ke arah pintu membuka pintu ruangan dengan lebar-lebar dan menoleh sekilas matanya tajam. Dan terucap; "Silahkan keluar".
Frans yang diperlakukan seperti ini, nggak terima. Ia akan menuntut bales dengan kedua wanita di depannya itu. Jangan salahkan dirinya kalau berbuat kasar.
"Awas kalian berdua ya!" teriak Frans sambil berlalu dan keluar dari ruangan itu
"Apa?! Berani mengancam kami, Hah?! Lihat saja leher anda itu... masih terlihat jelas bekas kecupan! Masih berharap balikan, apakah pantas anda menjadi kekasih saya lagi!? Kalau saya menerima anda kembali, berarti saya buta dan nggak punya akal sehat. Bahkan saya sendiri melihat dengan kedua mata kepala saya, mantan kekasih saya ini tidur bersama salah satu dokter di rumah sakit ini. Apakah saya harus menerima perbuatan keji itu? Sungguh menjijikan sekali seandainya saya menerima anda kembali. Sekarang pergilah segera... atau mau saya panggilkan satpam?!" ucap Luna dengan nada dingin, wajahnya merah padam menahan amarah dan kekecewaaan yang sudah nggak sanggup ia sembunyikan lagi.
Ririn bergegas berdiri dan menghampiri dan berdiri tegak di sampingnya, memeluk tubuh Luna yang langsung menangis dipelukannya. Ia mengusap punggung Luna sebagai bentuk dukungan nyata agar sahabatnya itu nggak merasa sendirian menghadapi mantan kekasihnya itu.
Dalam hatinya Luna ini adalah tangis yang terakhir untuk menangisi si brengsek itu.
Tiba-tiba hapenya berbunyi, ia melepaskan tubuhnya dari pelukan Ririn. Lalu berjalan ke meja kerjanya melihat siapa yang menelponnya, ternyata ibunya.
"Assalamualaikum, Mom!" dengan nada suara seraknya.
"Walaikumsalam, Sayang. Ada apa, Sayang? Apa kamu sakit, Sayang!!?" tanya Freya dengan nada panik mendengar suara putri sulungnya habis menangis.
"Nanti aku ceritain kalau sudah sampai rumah ya, Mom! Ada apa telpon aku, Mom?" tanya Luna.
"Hmmm...Mommy hanya ingin kasih tau, kalau nanti malam kita ingin pergi ke rumah Opa Radit, Sayang. Bang Nathan sekarang ada dirumahnya Opa Radit," jawab Freya.
Deg jantung Luna, tiba-tiba berdebar saat mendengar nama Nathan, sudah lama banget terakhir ketemu saat Luna masih SMA sampai sekarang.
"HAH!! BENARKAH, MOM? Tapi nanti malam ada operasi ibu yang akan melahirkan dan membutuhkan Luna harus hadir sebagai dokter anak, Mom," jawab Luna menyesal, nggak bisa berkumpul dengan keluarganya. Tapi untuk membatalkannya Luna nggak enak, dikira nggak profesional dalam bekerja.
"Ya nggak apa-apa, Sayang. Lain waktu juga kamu bisa bertemu dengan Bang Nathan. Ya sudah Mommy tutup ya, Assalamualaikum ."
"Walaikumsalam ya, Mom. Sampaikan maafku kepada Bang Nathan nggak bisa ikut menyambut kedatangannya."
Luna mengakhiri panggilan telponnya sedikit menyesal, dia juga kangen dengan abangnya itu, tapi mau bagaimana lagi tuntutan kerja di mengharuskan berada di ruang operasi bersama dokter bedah dan dokter kandungan.
*********
Keluarga Kavindra sudah bersiap, Rena dan Runa sudah mulai memakai baju menutup auratnya. Walaupun Freya nggak terlalu ketat menutup aurat yang penting anak-anaknya sudah mau menutup bagian tertentu yang harus ditutupi.
"Mom! Lihatlah aku....."