NovelToon NovelToon
Istri Rampasan Mafia Dingin

Istri Rampasan Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Pengantin Pengganti
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Tak Berdarah

Namun, baru saja dia melangkah keluar ke koridor penghubung antar gedung, langkah kaki Sonya mendadak terkunci di atas lantai marmer.

​Dari arah kejauhan lorong yang menghubungkan ruang bawah tanah, Sonya melihat sosok Batara berjalan dengan langkah kaki yang terburu-buru. Namun, fokus mata Sonya tidak tertuju pada suaminya, melainkan pada sosok wanita yang berjalan di samping pria itu.

​Talitha Munic. Adik tirinya itu kini berjalan dengan langkah kaki yang sengaja dibuat-buat lemas, dan kedua tangan lentiknya tampak bergelayut manja, memeluk lengan kekar bertelanjang dada milik Batara dengan sangat erat. Wajah Talitha tampak mendongak, membisikkan sesuatu dengan senyuman manis yang penuh kemenangan ke arah wajah kaku Batara.

​Deg...

​Dada Sonya seketika berdenyut sangat nyeri, sebuah rasa sakit fisik yang anehnya jauh lebih menyiksa dibandingkan rasa sakit tusukan jarum di lengannya tadi. Ada seulas rasa sesak yang meremas paru-parunya, membuat Sonya kesulitan untuk menarik napas di udara pagi yang dingin. Dia tidak mengerti dengan apa yang sedang dia rasakan saat ini. Mengapa hatinya terasa begitu hancur dan terbakar cemburu melihat suaminya didekati dan disentuh dengan begitu intim oleh adiknya sendiri? Bukankah selama ini dia menganggap pernikahan ini hanyalah sebuah paksaan dan kutukan?

​Mengapa rasanya sesakit ini, Tuan Batara? batin Sonya lirih, matanya mulai memanas oleh air mata yang siap tumpah.

​"Lebih baik aku segera kembali ke kamar... aku sangat lemas," gumam Sonya pada dirinya sendiri, membalikkan badannya dengan cepat agar tidak perlu menyaksikan pemandangan yang merusak jiwanya itu lebih lama lagi.

​Meskipun tim dokter sudah memberikan dosis obat penambah darah terbaik dan suplemen paling mahal ke dalam sistem tubuhnya, efek kehilangan dua labu darah pada tubuh ringkih Sonya tidak bisa disembunyikan. Wajahnya semakin memucat, dan kedua lututnya terasa bergetar hebat seperti jeli setiap kali dia melangkahkan kakinya di atas lantai.

​Salah seorang anak buah senior Inferno yang sedang berjaga di dekat pintu penghubung mansion utama melihat sosok Sonya yang berjalan dengan tertatih-tatih, meraba-raba dinding marmer sebagai pegangan dengan mata yang tampak sayu dan setengah terpejam.

​"Nyonya Besar? Anda tidak apa-apa?" tanya pria bertubuh kekar itu dengan nada panik, segera melangkah maju namun tetap menjaga jarak sopan agar tidak menyinggung privasi sang nyonya.

​Sonya menoleh sedikit, memaksakan sebuah senyuman tipis yang sangat layu. "Kepalaku... kepalaku sangat pusing, Penjaga. Bisa bantu aku... antarkan aku kembali ke kamar di mansion utama? Kakiku... tidak kuat berjalan lagi..."

​Pria itu mengangguk lemah dengan wajah tegang, segera membukakan pintu akses khusus dan berjalan di samping Sonya dengan sikap siaga penuh, siap menyangga tubuh sang nyonya jika wanita itu mendadak pingsan di jalan.

​Sementara itu, di dalam ruang laboratorium transfusi khusus gedung medis, proses pengambilan darah Talitha baru saja dimulai. Tubuh Talitha dibaringkan di atas ranjang medis, sementara sebuah jarum kanula berukuran besar ditancapkan ke dalam pembuluh darah lengan kanannya, mengalirkan cairan merah pekat ke dalam kantong darah steril.

​Darah Talitha diambil sebanyak dua labu penuh atas perintah mutlak dari Batara.

​Namun, sepanjang proses pengambilan darah yang berlangsung selama dua puluh menit itu, suasana di dalam ruangan tidak pernah terasa tenang. Talitha terus-menerus merengek dengan suara yang dibuat-buat manja, sengaja mengambil setiap kesempatan yang ada untuk merebut perhatian dan memancing emosi Batara yang berdiri tegak membeku di sudut ruangan dengan kedua lengan bersedekap di dada.

​"Aww! Sakit sekali, Tuan Batara!" keluh Talitha dengan nada mendesah, matanya melirik manja ke arah pria itu. "Dokter ini sangat kasar menusukkan jarumnya! Lenganku rasanya seperti mau patah! Tuan... kemarilah, pegang tanganku agar rasa sakitnya berkurang. Jika tidak... aku akan mencabut jarum sialan ini sekarang juga dari lenganku!"

​Mendengar ancaman itu, tim dokter dan perawat yang bertugas di dalam ruangan seketika mengeluarkan keringat dingin di dahi mereka. Perasaan mereka benar-benar tegang, was-was, dan berada di ujung tanduk.

​Sebenarnya, kondisi klinis Jevan saat ini sudah berada dalam fase sedikit stabil berkat dua labu darah pertama yang disumbangkan oleh Sonya secara rahasia tadi. Namun, karena Jevan masih membutuhkan setidaknya satu labu darah tambahan untuk mengembalikan tekanan darah arterialnya ke batas aman, dan tim dokter terpaksa harus bersandiwara mengikuti arahan skenario darurat dari Sonya agar tidak membocorkan donor rahasia tersebut, mereka hanya bisa menahan napas cemas, takut jika Batara akan mendadak murka dan menyadari adanya kejanggalan di meja operasi.

​Batara tetap bergeming di posisinya, wajah tampannya sedingin patung marmer kuno, mengabaikan seluruh rengekan manja dari Talitha seolah-olah wanita itu hanyalah seekor lalat yang berisik. "Jika kau berani menyentuh jarum itu, Talitha... aku sendiri yang akan menancapkan pisau komando ke dalam pembuluh darah lehermu untuk menguras sisa darahmu secara paksa," jawab Batara dengan nada suara yang sangat datar namun dipenuhi ancaman pembunuhan yang nyata.

​Talitha mendengus kesal, menggigit bibir bawahnya melihat ketidakpedulian pria itu. Namun, sifat liciknya segera menyusun rencana baru di dalam otaknya yang cerdik.

​Setelah kantong darah kedua terisi penuh, perawat segera mencabut jarum dari lengan Talitha dan menekan bekas lukanya dengan kapas alkohol. Begitu proses selesai, Talitha mendadak mendudukkan tubuhnya dengan gerakan yang lemas, memegangi kepalanya dengan pasrah.

​"Aduh... kepalaku sangat pusing, duniaku rasanya berputar," keluh Talitha, menatap Batara dengan pandangan memohon yang dibuat-buat lemah. Dia mengulurkan kedua lengannya ke arah pria itu. "Tuan Batara... tubuhku sangat lemas setelah kehilangan begitu banyak darah demi menyelamatkan nyawa pelayan kesayanganmu itu. Aku tidak kuat berjalan... gendong aku kembali ke kamar di mansion utama, Tuan."

​Batara melangkah mendekati ranjang medis, menatap Talitha dari atas dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa jijik yang amat sangat. "Jangan ngelunjak, Talitha! Kita tidak memiliki kesepakatan atau klausul seperti itu di dalam negosiasi bawah tanah tadi! Jika kau pusing, tidur dan membusuklah saja di atas ranjang medis ini sampai pagi!"

​Talitha tersenyum sinis, menurunkan kedua tangannya namun matanya berkilat menantang. "Tuan Batara... kamu tega sekali pada wanita yang baru saja menjadi dewa penolong bagi anjing setiamu itu. Coba bayangkan jika Jevan tersadar nanti dan mengetahui bahwa tuannya yang agung ini memperlakukan wanita penyelamat seperti seekor binatang curian... dia pasti akan sangat kecewa dan merasa bersalah sepanjang sisa hidupnya, bukan?"

​"Itu bukan urusanku!" jawab Batara ketus, membalikkan badannya dengan cepat dan melangkah lebar menuju pintu keluar laboratorium.

​"Tuan Batara! Tuan... tunggu aku!" teriak Talitha, mencoba melompat turun dari ranjang medis demi mengejar langkah suaminya.

​Namun, efek kehilangan darah secara tiba-tiba ditambah kondisi fisiknya yang belum stabil setelah disekap berhari-hari rupanya bukan sepenuhnya sandiwara. Begitu kedua telapak kaki Talitha menyentuh lantai, tubuhnya benar-benar limbung, kepalanya berdenyut hebat, dan dia langsung terjatuh berlutut di atas lantai dengan suara hantaman yang cukup keras.

​Batara menghentikan langkahnya di ambang pintu, menoleh sedikit ke belakang tanpa ada niat sedikit pun untuk mengulurkan tangan membantu. Dia hanya memberikan kode mata yang dingin kepada dua orang pengawal bertubuh kekar yang berjaga di luar pintu. "Angkat dia. Gendong dia dan bawa ke kamar tamu di lantai dua mansion utama. Tempatkan dia di kamar yang lebih layak huni sesuai dengan kesepakatan kesepakatan awal."

​Kedua pengawal itu segera maju, mengangkat tubuh lemas Talitha dengan kasar dan membawanya berjalan mengikuti langkah kaki Batara yang tegap menuju ke gedung mansion utama.

​Sesuai perintah Batara, Talitha akhirnya ditempatkan di salah satu kamar tamu VIP di sayap barat lantai dua mansion utama, sebuah kamar yang sangat mewah, luas, dengan tempat tidur berukuran besar dan fasilitas yang jauh lebih layak huni dibandingkan kamar isolasi bawah tanah yang pengap dan kotor.

​Setelah para pengawal membaringkan tubuh Talitha di atas ranjang sutra, Batara berdiri di ambang pintu kamar, bersiap untuk pergi dan mengunci pintu dari luar.

​Namun, sebelum daun pintu tertutup, Talitha mendudukkan dirinya di atas ranjang, menyibakkan rambut panjangnya ke belakang bahu dengan seulas senyuman sensual yang sangat licik di wajah cantiknya yang pucat.

​"Tuan Batara... jangan lupa dengan janjimu sendiri," ucap Talitha dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan agar menggema di lorong. "Nanti malam... setelah matahari terbenam, datanglah ke kamar ini untuk menunaikan janji negosiasi kita di ruang isolasi tadi. Datanglah... aku pasti akan membuatmu merasakan malam panjang kita yang sangat indah dan tidak akan pernah bisa kau lupakan seumur hidupmu, Tuan Moretti."

​Batara tidak membalas ucapan menjijikkan itu menggunakan kata-kata. Dia hanya mengeluarkan suara dengusan rendah penuh penghinaan dari hidungnya. "Cih!"

​Brak!

​Batara menutup pintu kamar tersebut dengan hentakan yang cukup keras, lalu memutar anak kunci emasnya dari luar dengan kasar, mengurung Talitha di dalam kemewahan kamar tamu tersebut sebelum melangkah pergi menuju ruang kerjanya dengan hati yang dipenuhi kabut kemarahan yang kian menebal.

​Di dalam kamar tamu yang mewah, setelah suara langkah kaki tegap Batara perlahan-lahan menghilang dari koridor luar, senyuman lemas di wajah Talitha Munic seketika lenyap, digantikan oleh binar mata yang penuh dengan kelicikan dan ambisi yang membara.

​Dia menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang, mengabaikan rasa pusing yang masih sedikit tersisa di kepalanya, lalu berjalan perlahan menuju ke arah meja rias besar yang terbuat dari kayu mahoni berukir emas di sudut ruangan. Talitha duduk di atas kursi beludru, menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin kaca besar yang jernih.

​Dia mengusap permukaan kulit wajahnya yang cantik, meraba bibirnya yang tipis, lalu menyisir rambut panjangnya dengan jemari tangannya dengan penuh keangkuhan.

​"Sonya... Sonya... kakak tiriku yang bodoh dan penyakitan," gumam Talitha dengan suara rendah, seulas senyuman iblis yang sangat kejam perlahan-lahan terukir di wajah cantiknya di dalam cermin. "Kamu pikir dengan berpura-pura menjadi Nyonya Moretti yang suci dan mendapatkan perlindungan dari Batara, kamu bisa memenangkan permainan ini selamanya? Tidak, Sonya... kamu salah besar."

​Talitha mengepalkan kedua tangannya di atas meja rias, matanya berkilat penuh racun kedengkian yang sudah mengakar sejak masa kecil mereka di kediaman Munic. "Cepat atau lambat... Batara Moretti akan menyadari siapa wanita yang lebih berguna baginya. Darahku, kecerdikanku, dan posisiku di dunia hitam jauh lebih berharga untuk mendukung takhta kekuasaan Inferno dibandingkan tubuh ringkih dan jantung rusakmu itu. Malam ini... malam ini akan menjadi awal dari kehancuran hubungan kalian. Aku akan memastikan Batara kembali ke sisiku, karena memang sejak awal, akulah... akulah Talitha Munic yang jauh lebih pantas dan layak untuk menyandang gelar sebagai Nyonya Moretti yang asli di Kota Qislan ini!"

​Talitha tertawa rendah, sebuah tawa penuh konspirasi yang menggema sunyi di dalam kamar mewah yang terkunci itu, merajut benang-benang kehancuran baru yang siap menjerat takdir pernikahan Batara dan Sonya ke dalam badai darah yang kian mengerikan.

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
oh ternyata Ibu Yooka yang menjadi pengasuh Batar, pantes aja jalau dia paham sama sifat Batara
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Astaga Batara kamu tega banget sih jadi cowok mentang2 di takuti seenaknya ajs sama perempuan, apa kamu gak kasihan sama Sonya yang ketakutan
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
pantes aja si Jenna kasar banget ternyata dia punya obsesi terhadap bosnya sendiri
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Talitha harusnya kamu tuh berfikir kenapa orang memilih Sonya, harusnya kanu jadikan pelajaran bukan malah hidup dengan kedengkian
Muft Smoker
kak jgn sampe deeh si batara tdur sama thalita ,,
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: 😭😭😭😭😭😭
total 3 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
ladalah Jenna masih ada disana kirain sudah dibuang jauh jauh dan ini Sonya kau terlalu lemah sekali kapan kau jadi kuat dan berani 🤔😔😔
SENJA
yaelaaah lemah banget lu kan isteri mafia, hadeeeh berubah dikit kek
SENJA
kirain jena udah dipecat hadeeh
SENJA
jangan terpedaya batara si lacur lagi sandiwara
SENJA
lacur emang lah kau sampah 😤
RANDI Satriandi
tuhh kan.. bener plot twist. ternyata Sonya udh duluan donor darah
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: 🤣🤣🤣🤣 tau aja
total 1 replies
RANDI Satriandi
kok curiga saya.. Sonya abis donorkan darah untuk jevan diam².. biasanya othor yang satu ini bikin plot twist/Applaud//Applaud/
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/iya gitu
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
berani bersikap kurang ajar seperti ini, karena iri hati kah 😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
air mata buaya Betina 😑 penuh kepalsuan
Muft Smoker
kak bikin aj dstu mati lampu ,, ad sosok penjaga yg postur tubuh ny sama dg batara ,, yg masuk menggantikn batara ,, pas udh beres lampu nyalah ,, syik syak syok gx tuh si thalita ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😑 masa pakai darah Thalita, nnti makin besar kepala diaa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
harusnya gak perlu panggil tuan 🤭🤭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
gak perlu takut lagii, kmu istri Batara, harusnya mreka yg takut sama kamuu
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
pantas saja ada musuh di balikk selimut 😑
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Batara kena jebakan kahh ini? 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!