Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Murka Putri Xu
Pesona Jenderal Muda Guan Yu memang tidak usah diragukan lagi, berbadan tinggi tegap, memiliki wajah yang sangat tampan, mahir dalam seni bela diri, baik menggunakan senjata maupun dengan tangan kosong.
Ia sangat jenius dan memiliki pandangan yang sangat jeli.
Bahkan ada desas desus yang beredar jika pria itu adalah ketua organisasi mata-mata tersembunyi yang terkenal yang dimiliki oleh negara.
Banyak sekali wanita yang menyukai sosok jenderal muda satu ini, namun rasa suka Putri Xu terhadap Guan Yu membuat semua wanita mengurungkan niat mereka mendekati pria itu.
Karena kalau tidak, maka mereka akan menghadapi masalah dan menanggung akibatnya.
Sementara itu Guan Yu masih berusaha mengamati, mencocokkan segala sesuatu berdasarkan pesan dari ayahnya.
"Dia seorang tabib wanita, berambut coklat keemasan. Selalu menggunakan penutup kepala, dia masih muda dan hari ini dia berusia sama dengan Putri Xu. Kau harus menjaganya, membuatnya terhindar dari masalah. Bahkan kau harus memberikan nyawamu untuk melindungi putri asli negeri ini!"
"Tidak salah lagi, itu pasti orang yang ayah maksud. Putri Kaisar Song yang dibuang lima belas tahun yang lalu. Ayah merasa bersalah saat kejadian itu dan ingin membalas rasa bersalahnya saat ini dengan meminta bantuanku," gumam Guan Yu mengerti.
"Tuan Muda," ucap Xin yang baru saja tiba dibelakangnya.
"Apa kau sudah dapat apa yang aku pinta?" tagih Guan Yu.
"Sudah," jawab Xin.
"Kerja bagus, setelah pesta ini selesai maka kita akan mulai menginterogasi bidan yang dulu membantu persalinan permaisuri Liu," balas Guan Yu.
"Baik Tuan," balas Xin patuh.
Walau ia sendiri telah mengetahui kebenaran tentang putri kaisar yang asli melalui cerita ayahnya, Guan Yu tetap mencari kebenaran melalui sumber utamanya.
Dan selama ia mengumpulkan informasi atau bukti-bukti yang diinginkan, ia memilih untuk tenang dan tidak melakukan apapun.
"Kakak, Kak Guan Yu sama sekali tidak melirikku. Tolonglah bantu aku agar kak Guan Yu bisa bicara denganku," ucap Putri Xu sambil menggoyang-goyangkan lengan baju Putra Mahkota.
"Dia sudah datang, bukankah itu sudah bagus. Untuk apa bicara dengannya?" tolak Putra Mahkota. Karena ia tahu betul sifat Guan Yu sahabatnya, selain urusan militer, keamanan negara dan berkelahi, Guan Yu sama sekali tidak tertarik dengan perbincangan tidak berbobot.
"Tapi coba sekali saja bisa kan? Ayolah, ini ulang tahunku!"
"Baiklah, baik."
"Ehem! Guan Yu, lama tidak berjumpa. Bagaimana dengan kabarmu?" ucap Putra Mahkota memulai.
"Seperti yang anda lihat, aku baik." jawab Guan Yu pendek.
"Kak Guan Yu, maukah kau bersulang denganku." Putri Xu menawarkan arak.
"Hmm.. Baiklah," jawab Guan Yu menenggak minumannya dan terus menatap kearah kubu Huang. Hingga membuat Putri Xu kembali naik pitam.
"Berani-beraninya putri rendahan itu mencuri perhatian Kak Guan Yu dariku. Aku tidak akan memaafkannya," ucap Putri Xu emosi.
Lalu memerintahkan salah satu dayangnya untuk membawakan secangkir anggur dan membisikkan sesuatu. Kemudian memberikannya kepada nona Huang.
"Nona Perdana Menteri Huang, tadi anda menolak meminum arak dariku. Tapi karena aku merasa perayaan ini belum sempurna tanpa kau meminum sesuatu dariku, maka terimalah permintaanku kali ini."
"Maaf Putri, hamba tidak bisa meminum ini."
"Kenapa? Ini hanya sari buah dan tidak mengandung alkohol, jadi kau bisa meminumnya tanpa perlu cemas," balas Putri Xu.
Kali ini Putri Xu meminta dayangnya untuk menahan Qiuye agar tidak memeriksa anggur tersebut.
Nona Muda Huang terdiam, tidak menerima ataupun meminumnya. Karena ia merasa tawaran dari Putri Xu kali ini mengandung maksud tertentu.
Entah apa sebabnya, namun kali ini ia tidak ingin terjatuh pada lubang yang sama seperti perjamuan beberapa waktu lalu.
"Maaf Nona, hamba hanya bisa meminum anggur ini setelah tabib hamba memeriksanya."
"Lancang! Berani sekali kamu menolak tawaran dariku, putri Kaisar Song! Kau bahkan berani meragukan pemberianku ini!" gertak Putri Xu marah.
Sehingga semua orang sontak berlutut dan menundukkan kepala, tapi tidak dengan Quan Yu dia terus mengamati kejadian di depan mata kepalanya.
"Harap tenang Yang Mulia Tuan Putri!" seru semua orang dan meminta agar nona Huang menerima tawaran dari sang Putri dan tidak memperpanjang masalah ini.
Namun Nona Huang tetap diam dan menatap Qiuye yang terus mengisyaratkan agar tidak meminum anggur tersebut.
"Ini jelas beracun, karena aku sempat melihat seseorang membubuhkan sesuatu." gumamku dalam hati.
Melihat Nona Huang dalam masalah, aku berlari menghadap Putri Xu dan memohon padanya.
"Yang Mulia, mohon maaf atas kelancangan hamba. Bagaimana kalau hamba yang mewakili nona muda Huang meminum anggurnya," ucapku memberanikan diri.
"Qiuye," ucap Nona Huang.
"Nona Qiuye," ucap Bibi Lan turut cemas.
"Lancang! Dasar tabib hina dan rendahan, berani sekali kau ikut campur urusan atasanmu. Kau bukan hanya akan dihukum berat, tapi seluruh keluargamu akan menanggung akibatnya!" geram Putri Xu.
"Xu Er, kenapa kau bertingkah seperti ini?" ucap Putra Mahkota malu.
"Iya Xu Er, kendalikan emosi." timpah Permaisuri Liu.
"Ini karena nona perdana menteri dan budak rendahannya ini, mereka secara tidak langsung menuduhku seakan-akan aku memberikan sesuatu didalam anggur ini!"
Semua orang kembali terdiam dan membenarkan perkataan sang putri, kenapa putri seorang kaisar melakukan hal seperti itu tanpa alasan yang jelas.
Putri Xu kembali menatap Guan Yu yang bersikap acuh tidak acuh, dan memerintahkan dayang agar menyeret Qiuye untuk dihukum cambuk.
"Pengawal..Cambuk dia tiga puluh kali! Karena telah memfitnah putri kaisar!" titah Putri Xu.
"Baik Tuan Putri!" jawab pengawal wanita istana disana.
"Yang Mulia, tolong jangan hukum tabib Qiuye. Dia hanya menjalankan perintah dari hamba saja," ucap nona Huang mencegah. Namun putri Xu enggan mendengarkan.
"Yang Mulia, ini salah paham. Hamba hanya menjalankan tugas hamba sebagai tabib," ucapku berusaha membela diri.
"Tampar mulutnya juga!" tambah Putri Xu murka. Lalu kembali ke urusan awalnya, yaitu memberikan anggur kepada nona Huang dan memastikan kali ini tidak ada yang mengganggu.
"Baiklah Putri, hamba akan meminumnya. Tapi hamba mohon lepaskan tabib Qiuye," ucap Nona Huang akhirnya menurut dan mengambil gelas anggur itu.
Aku berusaha melepaskan pegangan pengawal yang mencengkram pergelangan tanganku, lalu berlari dan merebut gelas anggur dari tangan nona Huang sebelum meminumnya.
"Qiuye," ucap Nona Huang.
"Anda tidak boleh minum ini!" ucapku lalu menggantikan nona muda Huang meminumnya.
Namun ketika gelas itu mulai mendekati bibirku, sebuah hantaman kecil mengenai gelas itu sehingga terpental dan cairannya tertuang ke lantai.
Semua mata memandang pada satu tujuan, dimana Guan Yu telah berdiri sambil melipat satu tangannya di belakang.
"Kak Guan Yu," ucap Putri Xu dengan kedua mata memerah.
"Maaf Yang Mulia karena telah ikut campur, tapi dihari ulang tahun anda, bukankah lebih baik tidak ada pertumpahan darah atau penyiksaan lainnya. Jadi hamba mohon maafkanlah dia," ucap Guan Yu.
"Benar yang dikatakan oleh jenderal muda, tidak baik melakukan hukuman atau apapun itu disaat seperti ini. Jadi maafkan saja tabib kecil ini dan jangan memaksa putri perdana menteri kembali," ucap permaisuri Liu membenarkan.
Putri Xu seketika menurunkan emosinya setelah Guan Yu akhirnya mau berbicara dengannya. "Baiklah, karena ini adalah permintaanmu. Maka aku akan turuti," balasnya merelakan.
"Terima kasih Tuan Putri, kemurahan hati anda sungguh besar sekali," ucap Guan Yu lalu menatap putra mahkota. "Pangeran Song Mu, hamba rasa acara ini tidak cocok untuk hamba, karena hamba masih ada urusan, hamba mohon pamit." ucap Guan Yu pergi begitu saja dan disusul oleh Xin pengawalnya.
Setelah kepergian Guan Yu, aku dibebaskan. Lalu Nona muda Huang memelukku dan tidak lupa memeriksa keadaanku. "Apa kau baik-baik saja Qiuye?" tanyanya cemas.
"Hamba baik Nona," jawabku turut merasa lega.
Akan tetapi amarah dendam masih terlihat dikedua mata tuan putri, ia terus menatap kami seakan tidak akan melepaskan kami berdua begitu saja.
...Bersambung....