NovelToon NovelToon
The Best Sniper

The Best Sniper

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:25.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.

Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.

Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.

Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Rasa Dibalik Misi

Masih dengan memakai topengnya, Gladys sengaja berjalan dengan anggun melewati mantan kekasihnya yang sedang mengobrol dengan seseorang.

Nolan (mantan kekasih Gladys) yang tentu mengenali Gladys, langsung mengalihkan perhatiannya dan menyudahi obrolannya. Ia pun lalu mengikuti Gladys yang sengaja memancing ke tempat yang sedikit ramai.

"Dih! Suruh ngobrol buat ngalihin perhatian, malah tebar pesona sama mantan." Gerutu Ryu. Netra elangnya terus memantau keberadaan Gladys dan Nolan.

"Hey!" Nolan yang ada tepat di belakang Gladys, menyentuh bahu Gladys hingga membuat Gladys menghentikan langkah.

Gladys pun tersenyum, karena aksinya membuahkan hasil. Gladys kemudian berbalik badan dan menatap ke arah Nolan yang ada di belakangnya.

"Gladys? Kamu Gladys, kan?" Tanya Nolan yang di jawab anggukan oleh Gladys.

Nolan pun tersenyum. Ia terlihat senang saat melihat Gladys juga ada di sana. Keduanya menjalin hubungan selama hampir empat tahun, sebelum memutuskan berpisah beberapa minggu Gladys di terima bekerja di kantor BIN.

"Kak Nolan, di sini?" Tanya Gladys yang pura - pura terkejut.

"Iya." Jawab Nolan tanpa memberi tau alasannya berada di sini.

"Kamu salah satu peserta lelang juga?" Tanya Nolan.

"Iya, aku tadi ikut lelang di meja nomor delapan." Jawab Gladys yang juga tersenyum meski hatinya menggerutui pria di depannya itu.

Mereka berdua pun mulai mengobrol. Tampaknya obrolan keduanya itu seru, hingga sesekali membuat mereka terkekeh.

"Ck! Malah nostalgia. Gak bisa di biarin sih ini." Kata Ryu yang segera melancarkan tugasnya.

Ia berjalan dan sengaja lewat di belakang Nolan. Dengan gerakan cepat, Ryu menarik slip belanja yang masih berada di tangan Nolan.

Nolan yang sedang asyik mengobrol dengan mantannya yang sudah lama tak ia jumpai pun tak sadar jika kini slip belanja itu sudah berpindah tangan.

Tak langsung menghampiri Gladys, Ryu berjalan menuju ke meja pembayaran terlebih dulu untuk mengambil kalung yang berhasil ia menangkan. Netranya sesekali melihat ke arah Gladys yang masih mengobrol dengan Nolan.

"Padahal aku udah kasih kode kalau udah berhasil ambil slipnya. Tapi dia masih asyik aja. Bener- bener gak bisa di biarin ya, ini." Gerutu Ryu sambil melangkah ke arah Gladys dan Nolan.

"Sayang!" Panggil Ryu yang tiba - tiba langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Gladys.

Tak cukup sampai di sana, Ryu bahkan menyempatkan diri mengecup dahi Gladys. Ia sengaja memamerkan kemesraan di depan Nolan yang air mukanya kini berubah sedikit masam.

Gladys tentu saja terkejut saat tiba - tiba mendapat perlakuan seperti itu dari Ryu. Ia bahkan hampir menghindar saat Ryu hendak mengecupnya, karena kaget. Untung saja Ryu menahan pinggangnya dengan erat hingga membuatnya tak bisa bergeser.

"Udah selesai, Bang?" Tanya Gladys untul mengalihkan sedikit rasa canggungnya.

"Udah, Sayang. Ini kalungmu." Ujar Ryu sambil menunjukkan kalung dengan liontin batu yang indah dan langka itu. Ia lalu memberikan kotak berisi kalung itu pada Gladys.

"Ini siapa?" Tanya Ryu sambil melihat ke arah Nolan.

"Oh! Ini temen aku, Bang." Jawab Gladys.

"Lan, kenalin. Ini suami gue." Kata Gladys sambil tersenyum.

"Ryu!"

"Nolan."

Keduanya saling berjabat tangan dengan tatapan sama - sama mengintimidasi hingga membuat Gladys merasakan aura ketegangan di sana.

"Kita pulang yuk, Bang." Ajak Gladys. Tentu saja untuk menghindari 'aura mistis' yang terasa saat ini.

"Ayo, Sayang." Jawab Ryu.

"Lan, gue sama suami gue, duluan ya." Pamit Gladys.

"O.K. Hati - hati ya, next kita ngobrol lagi. See you." Ucap Nolan yang hanya di jawab anggukan oleh Gladys. Sementara Ryu justru terlihat kesal dengan kata - kata perpisahan yang di lontarkan oleh Nolan.

"See you? Ch! harapanmu." Lirih Ryu.

"Kenapa, Bang?" Tanya Gladys.

"Gak ada apa - apa." Jawab Ryu.

"Ini gak mau di lepasin pinggangku?" Tanya Gladys sambil melihat ke arah tangan Ryu yang melingkar dengan kokoh di pinggangnya.

"Mantan kamu masih lihatin kita. Nanti dia curiga kalo aku lepasin tanganku sekarang." Jawab Ryu yang tentu cuma beralasan saja.

Gladys pun hanya menurut dan membiarkan tangan Ryu melingkar di pinggangnya. Entah mengapa, Gladys juga merasa aman dan nyaman saat berada di sisi Ryu seperti ini.

Tak seperti biasanya, di sepanjang jalan menuju ke Apartemen kali ini, Ryu lebih banyak diam. Gladis pun menjadi sedikit bingung dengan sikap Ryu yang tiba - tiba berubah ini.

"Bang?"

"Hm?"

"Abang sariawan? Apa masuk angin?" Tanya Gladys. Ryu pun menoleh dan menatap Gladys dengan bingung.

"Aku baik - baik aja." Jawab Ryu.

"Kenapa memangnya?" Tanya Ryu kemudian.

"Tumben diem aja. Kayak orang lagi sariawan." Jawab Gladys yang membuat Ryu tersenyum smirk.

"Kayaknya kalian berdua masih akrab banget. Masih komunikasi sampe sekarang?" Tanya Ryu.

"Komunikasi, ya masih sering, sesekali." Jawab Gladys

"Yah, awalnya agak canggung sih. Tapi aku berusaha bikin akrab, biar misi berjalan." Imbuhnya lagi.

"Kenapa memangnya?" Tanya Gladys sambil menelisik wajah Ryu.

"Gak apa - apa. Syukurlah, berkat kalian yang masih akrab, misi kita juga berjalan." Jawab Ryu yang berusaha menutupi perasaannya.

Ucapan Ryu itu, entah mengapa terdengar sedikit 'sumbang' di telinga Gladys. Rasanya ia sudah gatal ingin meledek Ryu, namun sebisa mungkin ia menahannya.

"Oh iya, ini kalungmu, Bang." Kata Gladys yang kemudian menyerahkan kotak perhiasan yang ada di dalam tasnya.

"Untukmu." Jawab Ryu.

"Hah?"

"Untukmu. Kan aku bilang kalung itu untuk istriku." Kata Ryu.

"Kenapa tiba - tiba beliin aku kalung semahal ini sih, Bang? Perhiasanku dari Abang dan Bunda juga udah banyak." Cicit Gladys.

"Aku beli karena aku lihat kamu suka sama kalung itu." Jawab Ryu.

"Aku gak pernah bilang gitu, kan." Sergah Gladys.

"Mulut kamu emang gak bilang, tapi tatapan kamu teriak - teriak, tadi." Kata Ryu yang membuat Gladys langsung terdiam.

Tak bisa ia pungkiri, ia memang sangat tertarik dengan kalung itu saat di pamerkan. Namun, ia justru takut saat kalung itu berada di tangannya saat ini.

"Kenapa? Apa pengelihatanku tadi salah?" Tanya Ryu.

"Pakai saja kalungnya. Aku sengaja beli untukmu." Ujar Ryu kemudian.

"Terima kasih, Bang..." Lirih Gladys dengan perasaan campur aduk yang sulit di lukiskan.

Begitu sampai di Apartemen, mereka segera bergantian untuk membersihkan diri. Gladys pun menghangatkan sup iga yang tadi sudah masak untuk makan malam mereka.

"Kamu belajar masak dari kapan?" Tanya Ryu.

"Dari SMP, aku udah sering masak." Jawab Gladys.

"Serius?" Tanya Ryu yang seolah tak percaya.

"Ibu sama Bapak itu, dulunya pedagang. Waktu mereka lebih banyak di pasar untuk berjualan. Jadi, sepulang sekolah, aku terbiasa masak untuk makan siangku. Sering juga aku masak untuk makan malam Ibu dan Bapak kalau beliau pulang lebih lambat." Cerita Gladys.

"Pengalaman memang gak bisa di bohongin, ya. Masakan kamu semuanya enak, gak pernah gagal." Ujar Ryu dengan jujur.

"Jadi pingin buka Rumah Makan." Kekeh Gladys.

"No! Gak boleh." Kata Ryu dengan tegas.

"Kenapa? Kan masakan aku enak. Lumayan lah, buat sampingan, tambah penghasilan." Jawab Gladys.

"Emang uang yang aku kasih, gak cukup? Bilang sama aku kalau kurang. Gak usah cari kerja sampingan. Aku mampu, nafkahin kamu." Kata Ryu sambil menatap ke arah Gladys. Wajahnya terlihat benar - benar serius.

Setelah berucap seperti itu, suasana di meja makan mendadak menjadi hening. Baik Gladys maupun Ryu, sama - sama hanyut dalam pikiran mereka masing - masing.

1
Ppinkykhaenafk_
kasian cemburu 😭😭😭
Murti Puji Lestari
makanya abang, kalau suka bilang kalau cinta ngomong
Murti Puji Lestari
cembokur ya bang 😅😅😅
Munas Tuti
he..he...Ryu cemburu beneran gituuu
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mode posesifnya bang Ryu sdng on nih jd Gladys harap maklum ya 😉😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Ryu kl dah cinta sama Gladys ungkapin sblm Gladys nya di ambil sama Nolan nyesel nantinya lho 😉😂
This Is Me
Percaya...bang Ryu, percaya kalau uang abang buanyaaaaakkkk🤭🤭🤭
rizky tria
mode posessif Yanda nih bang Ryu 😁
Munas Tuti
ihhh Ryu cemburu, ngerass lbh ganteng lagii
This Is Me
Ingat, Gladys, suamimu itu anak sultan. €14.000 duit kecil untuknya
🎃
bundaa , anak nya cemburu noh🤣
abang cemburu berat ini 🤣
help 🤣🤣🤣🤣
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai bang Ryu cemburu nih 😂😂
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
cemburu?? ya ngomong dng box
Sonya Kapahang
cemburu, Bang..?? inget Misi, Bang.. Kontrak doang, nikahnya kontrak doang.. ga usah pake hati 🤣🤣🤣🤣🤣
💟노르 아스마💟
🤣🤣🤣🤣🤣 cemburu bang????
Munas Tuti
gimana siiih Gladys kok gak ngerti klo sdh nikah sah sscara agama da negara
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
sekali dayung dua tiga pulau terlampaui ya Ryu karna sambil menjalankan misi Ryu akan memenangkan hatinya Gladys 😂😘
This Is Me
Makin sweet aja pasangan ini 😍
utama
kak buat Ryu ditengah jalan misi menyatakan isi hati ya pasti seru🥰
lanjut kak author
This Is Me
Lanjutin aja jadi nikah beneran😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!