NovelToon NovelToon
Sekar

Sekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.

Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wulan dan Baskoro!

Sore itu, Wulan pulang ke rumah orang tuanya untuk berkunjung.

Bu Lastri yang sedang duduk di ruang depan langsung tersenyum melihat putrinya datang.

Namun setelah berbincang beberapa saat, wanita itu tiba-tiba bertanya,

"Kamu belum ada tanda-tanda hamil, Wul?"

Wulan yang sedang duduk di lantai langsung terdiam sejenak.

"Belum, Bu." Jawabnya pelan.

Bu Lastri tampak sedikit kecewa.

"Padahal sudah hampir sebulan lebih menikah."

Wulan hanya tersenyum tipis.

Namun di dalam hatinya, ia merasakan sesak yang tidak bisa diungkapkan.

Bagaimana mungkin dirinya bisa hamil?

Sampai saat itu, Lindu bahkan belum pernah menyentuhnya sebagai seorang istri.

Pria itu juga tidak pernah menunjukkan kedekatan yang seharusnya ada antara suami dan istri.

Memikirkan itu membuat hati Wulan kembali terasa sedih.

Dia sadar Lindu masih berusaha menerima pernikahan mereka.

Dan Wulan tidak ingin memaksanya.

Namun sebagai seorang perempuan, terkadang dia tetap tidak bisa mengabaikan rasa sedih yang muncul di hatinya.

"Kamu harus cepat kasih cucu buat keluarga Ramli." Lanjut Bu Lastri tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Wulan hanya mengangguk pelan.

"Iya, Bu."

"Jangan iya-iya saja." kata Bu Lastri.

Wulan mengangkat wajahnya.

Bu Lastri melanjutkan.

"Sekarang itu banyak suami yang menceraikan istrinya karena nda kunjung hamil."

Kalimat itu membuat Wulan menghela napas panjang.

Sejak tadi dia berusaha menahan diri, namun ucapan ibunya mulai membuatnya kesal.

"Bu..." katanya pelan.

"Apa?"

"Wulan nda hamil bukan karena kemauan Wulan."

Bu Lastri terdiam.

"Kalau memang belum hamil, ya mungkin memang belum ada rezekinya."

Nada suara Wulan mulai terdengar sedikit lebih tegas dari biasanya.

"Semua itu kan kehendak Allah."

Bu Lastri tampak tidak puas dengan jawaban itu.

"Tapi tetap harus diusahakan."

"Ya diusahakan, Bu." Jawab Wulan.

"Tapi bukan berarti bisa langsung terjadi begitu saja."

Suasana mendadak menjadi canggung.

Bu Lastri menatap putrinya beberapa saat. Sementara Wulan berusaha menahan perasaannya.

Karena yang membuatnya sedih bukan hanya pertanyaan soal kehamilan.

Melainkan kenyataan yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.

Bahwa hingga saat itu, rumah tangganya dengan Lindu masih terasa seperti dua orang yang dipersatukan karena keadaan.

Dan rahasia itu memilih ia simpan sendiri.

"Ibu cuma khawatir sama kamu." kata Bu Lastri akhirnya.

Wulan menunduk.

"Aku tahu, Bu."

Meski begitu, kali ini dia berharap ibunya berhenti membicarakan soal kehamilan.

Bu Lastri menghela napas panjang.

"Nduk, Ibu ngomong begini bukan karena mau menyusahkanmu."

Wulan diam.

"Sekarang kamu itu istrinya Lindu."

Bu Lastri menatap putrinya dengan serius.

"Lindu itu pemuda tampan, baik, kerja keras, dan keluarganya juga sangat berkecukupan. Nda seperti keluarga kita."

Wulan menunduk mendengarkan.

"Belum lagi mertuamu orang terpandang di kampung ini."

Bu Lastri lalu meraih tangan putrinya.

"Ibu cuma khawatir."

"Khawatir apa, Bu?"

"Khawatir kalau nanti kamu dibenci karena nda bisa memberikan keturunan."

Wulan langsung mengangkat wajahnya.

"Bu..."

"Ibu sudah banyak lihat kejadian seperti itu."

Bu Lastri melanjutkan dengan nada yang lebih pelan.

"Awalnya suami baik. Mertua juga baik."

"Tapi kalau bertahun-tahun nda punya anak, kadang semuanya berubah."

Wulan terdiam, meski dia tidak sepenuhnya setuju dengan ucapan ibunya, dia tahu Bu Lastri berbicara karena rasa khawatir.

"Makanya Ibu mengingatkan."

"Tapi Bu." Sahut Wulan pelan.

"Belum tentu juga seperti itu."

"Memang belum tentu."

Bu Lastri mengangguk.

"Tapi Ibu cuma ingin kamu menjaga rumah tanggamu baik-baik."

Wulan menarik napas panjang.

Dia tahu ibunya tidak bermaksud jahat. Namun tetap saja, pembicaraan itu membuat hatinya terasa tidak nyaman.

Karena yang tidak diketahui Bu Lastri adalah.

Masalah terbesar dalam rumah tangganya bukan soal belum adanya anak.

Melainkan kenyataan bahwa hingga saat itu, dirinya dan Lindu masih belum benar-benar menjadi pasangan suami istri seperti yang dibayangkan orang-orang.

Wulan menggenggam tangan ibunya pelan.

"Bu, nda usah terlalu khawatir."

Bu Lastri menatap putrinya.

"Semua pasti baik-baik saja."

Wulan berusaha tersenyum.

"Lagipula Wulan baru sebulan menikah."

"Masih terlalu cepat kalau sudah memikirkan yang macam-macam."

Bu Lastri akhirnya mengangguk pelan.

Meski kekhawatiran itu belum sepenuhnya hilang dari hatinya, ia tidak melanjutkan pembicaraan tersebut.

Wulan pun merasa sedikit lega.

Setelah beberapa saat berbincang tentang hal-hal lain, dia melirik ke luar rumah.

Hari sudah semakin sore.

Sinar matahari mulai menguning di ufuk barat.

Wulan lalu berdiri dari tempat duduknya.

"Bu, Wulan pamit pulang dulu."

"Lho, kok cepat?"

"Tadi Wulan izinnya cuma sebentar. Nda menginap."

Bu Lastri ikut berdiri.

"Iya sudah kalau begitu."

Wulan lalu menyalami tangan ibunya.

Bu Lastri mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Hati-hati di jalan."

"Iya, Bu."

Setelah mencium tangan kedua orang tuanya, dia melangkah meninggalkan rumah.

Angin sore berembus pelan saat Wulan menyusuri jalan desa menuju rumah mertuanya.

Di sepanjang perjalanan, dia memikirkan banyak hal.

Tentang pernikahannya dan juga tentang Lindu.

Di dalam pikirannya yang kalut, seseorang memanggil Wulan.

Wulan yang sedang berjalan menyusuri jalan desa itu mendengar seseorang memanggil namanya dari belakang.

"Wulan!"

Langkahnya langsung terhenti, dia menoleh perlahan.

Dan seketika matanya membesar.

"Baskoro..."

Pria itu berdiri beberapa meter di belakangnya.

Masih mengenakan pakaian kerja yang dipakainya di penggilingan. Di pundaknya tergantung tas kecil, sementara wajahnya tampak sedikit lelah setelah seharian bekerja.

Wulan terdiam beberapa saat.

Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu Baskoro lagi secepat ini.

Apalagi setelah pertemuan mereka di penggilingan beberapa hari lalu.

Baskoro berjalan mendekat, senyum tipis terlihat di wajahnya.

"Saya kira memang kamu." Katanya.

Wulan masih tampak gugup. Dia segera menoleh ke kanan dan kiri jalan.

Beruntung saat itu tidak ada warga yang melintas. Namun hal itu tidak membuatnya tenang.

Wajahnya justru terlihat semakin tegang.

"Ada apa kamu manggil aku?" tanyanya dengan nada tertahan.

Baskoro tampak sedikit terkejut melihat reaksi Wulan.

"Aku cuma..."

"Seharusnya kamu nda manggil aku."

Suara Wulan terdengar lebih tegas.

Baskoro terdiam.

Wulan kembali melirik ke sekitar dengan gelisah.

"Bagaimana kalau ada yang lihat kita?"

"Aku cuma mau menyapa."

"Tetap saja nda boleh."

Baskoro mengernyit.

Wulan menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya.

"Aku sekarang sudah jadi istri orang, Baskoro."

Kalimat itu membuat senyum di wajah Baskoro perlahan memudar.

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kamu seharusnya menjaga jarak."

Wulan menatapnya dengan serius.

"Orang kampung itu suka bicara macam-macam."

"Kalau ada yang lihat kita berdiri berdua begini, nanti yang jelek namaku jadi jelek."

Baskoro menundukkan pandangan sesaat, dia tampak memahami maksud Wulan.

Namun tetap ada sorot kecewa di matanya.

"Aku nda ada niat buruk, Wulan."

"Aku juga nda bilang kamu punya niat buruk."

Wulan menjawab cepat.

"Tapi kita harus tahu batas."

Suasana mendadak menjadi sunyi.

Angin sore berembus pelan melewati jalan desa yang mulai sepi.

Wulan menggenggam ujung kerudungnya erat.

"Aku minta, lain kali jangan panggil aku lagi seperti tadi."

Baskoro terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.

1
M.S Inisial
Suka banget sama karya author satu ini
Yulia Lia
ceritanya bagus
Riska Salahudin
seru kak
Yulia Lia
lanjut KK ,,nah yg kmaren ngatain sekar lari SM laki2 lain taunya dia ada di dlm sumur
Yulia Lia
lanjut ya kk
Yulia Lia
mudah2 itu Sekar biar gosip yg berenar gk bener
Nurr Tika
warga heboh knp sekar mati
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
harusnya tdi di angkat sekalian yah, gara" takut akhirnya lupa
Siti Yatmi
jgn2 Sekar itu..ya Tuhan ...
Wiwit
lanjut thor
Nurr Tika
bnr kah itu mayat sekar
Riska Salahudin
pasti sekar
Nurr Tika
mayat sekar di buang ke sumur
Nurr Tika
bagus
Nurr Tika
lanjut
Nurr Tika
oh ternyata baskoro dan wulan ada hubungan
Elgi 07
aduhhh thor keren sekali ceritanya. serasa gantung banget babnya.
sepatal city
thor bagus banger, selalu di buat penasaran sama karya horor author
Nanda
mantappu............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!