NovelToon NovelToon
Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Barr

Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.

​Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.

​Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]

​Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.

​Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian

Lantai batu di sektor empat bawah tanah terasa sangat dingin, perlahan menyerap kehangatan dari sepasang sandal ninja yang dikenakan Ren. Di atas permukaan tanah, langit Konoha mungkin sedang cerah, dipenuhi tawa ceria para genin baru yang merayakan kelulusan mereka bersama keluarga. Di sana, kelompok populer seperti Tim 7 mungkin sedang mendengarkan petuah hangat tentang arti persahabatan dari instruktur mereka. Namun di bawah sini, belasan meter di bawah kehangatan tersebut, atmosfernya begitu pekat oleh aroma karat besi dan kelembapan yang menyesakkan dada.

​Ren berdiri tegak, menatap pria paruh baya yang berada di depannya. Pria itu mengenakan seragam pelindung kelabu tanpa lambang klan, dengan syal tinggi sewarna arang yang menutupi separuh wajah hingga dagunya. Di samping kiri dan kanan Ren, dua remaja sebayanya—Taito dan Suzume—berdiri kaku seperti patung. Pandangan mata mereka tampak kosong, tipikal anak-anak yang emosinya telah dikikis habis oleh doktrinasi ketat sejak usia dini.

​Pria bersyal tinggi itu tidak membuka gulungan kertas, tidak pula meminta mereka memperkenalkan diri. Sepasang matanya yang kelabu menatap Ren dengan intensitas yang sanggup membuat genin biasa berlutut ketakutan.

​"Nama saya adalah Kitsune," suara pria itu terdengar serak, menggema rendah di antara pilar-pilar batu yang kokoh. "Mulai hari ini, saya adalah pemegang kendali atas hidup dan mati kalian. Di atas sana, anak-anak klan besar sedang bermain gim tentang kerja sama tim. Namun di bawah sini, aturan yang berlaku sangat berbeda. Tugas pertama kalian bukan belajar menjadi rekan, melainkan membuktikan apakah kalian memiliki hak untuk tetap bernapas esok hari."

​Sret.

​Tanpa ada aba-aba, Kitsune menarik sebilah belati panjang dari balik jubahnya. Aura membunuh yang semula tertahan langsung meledak ke seluruh ruangan, membuat suhu udara rasanya merosot drastis dalam sekejap.

​"Ujian kalian sederhana," lanjut Kitsune, ujung belatinya menunjuk tepat ke arah dada Ren. "Bertahan hidup dari seranganku selama lima menit. Jika kalian mati, artinya kalian memang hanya sampah yang salah tempat. Dan bagi mereka yang mencoba menyembunyikan kemampuan aslinya... lubang ini akan menjadi kuburan massal kalian."

​Wusss!

​Lampu minyak yang menempel di dinding mendadak padam secara serentak. Kegelapan gulita langsung menyapu seluruh area latihan, menyisakan keheningan yang mencekam sebelum kekacauan dimulai.

​Pertarungan hidup dan mati telah resmi dibuka.

​Di dalam kegelapan total itu, Ren tidak panik. Bukannya merasa tertekan, isi kepalanya justru bekerja dengan ketenangan yang luar biasa. Evolusi Tubuh Tahap Dua yang baru saja diaktifkan oleh Sistem langsung menunjukkan taringnya. Kerapatan jaringan sarafnya yang meningkat hingga tiga ratus persen membuat seluruh indranya menjadi jauh lebih tajam.

​Srat!

​Ren menangkap distorsi udara yang bergerak cepat dari arah jam dua. Kecepatan transmisi sinyal dari otaknya ke otot kaki berlangsung secepat kilat. Tanpa perlu mengaktifkan mata Sharingan miliknya, tubuh fisik Ren bergerak secara mandiri dengan refleks yang sempurna. Dia menekuk lututnya serendah mungkin, menjatuhkan bobot tubuh ke lantai.

​Tang!

​Dua bilah kunai beradu tepat di posisi kepala Ren berdiri satu milimeter sebelumnya. Percikan bunga api dari benturan logam itu sempat menerangi ruangan selama sepersekian detik, memperlihatkan Taito yang melesat maju dengan pedang pendeknya untuk menahan serangan Kitsune, sementara Suzume melompat mundur untuk mengambil posisi intai. Mereka bergerak efisien, namun target utama Kitsune sejak awal sudah jelas: Ren.

​Sang Jonin pembimbing mendengus dingin melihat refleks Ren yang di luar dugaan. Memanfaatkan sisa percikan api, Kitsune memutar tubuhnya di udara, mengirimkan satu tendangan melingkar yang mengarah tepat ke rusuk kiri Ren.

​Tekanan angin dari tendangan itu terasa sangat berat. Ren tahu, jika dia menggunakan ketahanan fisik aslinya, tulang rusuknya pasti akan hancur. Namun, dia juga harus berhati-hati. Jika dia bergerak terlalu lincah seperti seorang master bela diri, kecurigaan Danzo bahwa dirinya adalah agen tidur musuh akan terbukti.

​Kalkulasi taktis berputar cepat di benak Ren. Dia sengaja menyilangkan kedua lengannya untuk menerima benturan tersebut, meniru reaksi seorang genin berbakat yang terdesak namun masih sempat bertahan.

​Bumm!

​Benturan keras terjadi. Tubuh Ren terlempar ke belakang, terseret beberapa meter di atas lantai batu hingga menciptakan bunyi gesekan yang nyaring. Rasa kebas sempat menjalar di lengannya, namun sistem pertahanan biologis di dalam tubuhnya langsung menetralisir rasa sakit tersebut dalam hitungan detik.

​"Refleks yang bagus untuk ukuran murid yang selalu berada di peringkat tengah," suara Kitsune kembali terdengar dari kegelapan, berpindah posisi dengan kecepatan yang mengagumkan. "Tapi memblokir serangan fisik tidak akan menyelamatkanmu dari ini."

​Kitsune mendarat di tanah, jemarinya bergerak membentuk runtutan segel tangan dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti oleh mata manusia biasa. Udara di dalam ruangan bawah tanah yang sempit itu mendadak menjadi sangat kering dan bergetar hebat.

​Ren bisa merasakan aliran chakra yang sangat besar berkumpul di tenggorokan sang Jonin. Ini adalah serangan skala menengah yang mematikan. Kitsune benar-benar berniat membunuhnya jika dia tidak bisa menghindar.

​Dari sela bibir sang Jonin, sebaris nama teknik diucapkan dengan nada yang dingin dan penuh penekanan:

​"Fūton: Daitoppa!"

​Gelombang badai berbentuk meriam angin raksasa melesat menyusuri lantai batu, menghancurkan apa pun yang dilewatinya. Angin topan itu mengunci seluruh sudut pelarian Ren, menyapu debu dan bebatuan hingga menciptakan badai kecil yang siap menguliti kulit dan dagingnya.

​Ren berdiri di jalur kehancuran tersebut. Dengan kapasitas chakra dasarnya yang kini melonjak lima kali lipat akibat hadiah Sistem, tangki energinya terasa sangat penuh. Dia tidak perlu menggunakan Jutsu tingkat tinggi untuk selamat. Kontrol chakranya yang super efisien adalah senjatanya yang paling mematikan.

​Sembari menahan terpaan angin yang mulai merobek ujung jubahnya, Ren merentangkan kedua tangannya ke depan. Dia tidak membentuk segel tangan yang rumit, melainkan langsung memanipulasi chakra murninya untuk dialirkan ke lantai batu di bawah kakinya.

​"Doton: Doryūheki!"

​Prattt!

​Tanah di depan Ren terbelah. Sebuah dinding batu yang tebal, padat, dan kokoh naik secara vertikal dengan kecepatan tinggi. Dinding itu sengaja dia buat sedikit kasar dan tidak terlalu rapi agar terlihat seperti hasil karya seorang genin yang panik, namun di bagian dalamnya, Ren memperapat struktur molekul tanahnya menggunakan kekuatan fisik Tahap Dua miliknya.

​Duarrr!

​Badai angin milik Kitsune menghantam dinding batu buatan Ren dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Angin kencang itu mengikis permukaan dinding batu, menciptakan retakan-retakan besar dan menerbangkan puing-puing ke segala arah. Taito dan Suzume terpaksa berlindung di balik pilar lain untuk menghindari hantaman tekanan udara yang berbalik.

​Dinding batu itu akhirnya hancur berantakan menjadi serpihan, namun badai angin Kitsune juga telah habis kehilangan momentumnya. Di balik sisa-sisa debu yang melayang, Ren berdiri dengan napas yang sengaja dia buat sedikit terengah-engah, memegang sebilah kunai dengan tangan yang bergetar palsu.

​Kitsune berdiri tidak jauh dari sana, menatap hasil serangannya dengan sepasang mata yang menyipit. "Kontrol elemen tanah tanpa segel tangan penuh? Menarik. Kamu memanfaatkan chakra dasar dengan memompa volumenya secara kasar untuk menutupi teknik yang belum matang. Tindakan yang ceroboh, tapi efektif untuk bertahan hidup."

​Sang Jonin tidak tahu bahwa "volume kasar" yang dia lihat sebenarnya adalah fraksi kecil dari total chakra yang Ren miliki. Ren sengaja membiarkan chakranya terlihat meluap tidak teratur agar Kitsune berpikir bahwa dia selamat hanya karena faktor keberuntungan dan nekat.

​Kring!

​Sebuah bunyi lonceng kecil berdering dari sudut ruangan, menandakan bahwa waktu lima menit yang menegangkan itu telah berakhir. Lampu-lampu minyak di dinding kembali menyala secara otomatis, mengusir kegelapan dan memperlihatkan kondisi ruangan yang kini hancur berantakan di beberapa titik.

​Kitsune perlahan menyarungkan kembali belatinya ke balik jubah. Aura membunuh yang tadinya pekat berangsur-angsur menghilang, digantikan oleh ekspresi datar yang kembali menutup wajahnya.

​"Ujian selesai," kata Kitsune dingin, sambil menatap ketiga genin di depannya bergantian. Taito terluka ringan di bagian bahu, Suzume berhasil menghindari seluruh kontak fisik, dan Ren berdiri di tengah dengan pakaian yang koyak akibat tekanan angin.

​"Kalian bertiga resmi menjadi bagian dari unit ini. Tapi ingat satu hal," Kitsune berjalan mendekati Ren, berhenti tepat di hadapannya hingga Ren bisa mencium aroma pekat darah yang menempel pada syal pria itu. "Pengawasan ini tidak akan pernah berakhir. Setiap langkah, setiap helaan napas, dan setiap teknik yang kamu gunakan di luar sana akan selalu berada di bawah penilaianku. Jangan pernah membuat kesalahan, Ren."

​Ren hanya menundukkan kepalanya, menampilkan gestur seorang bawahan yang patuh dan sedikit terguncang. "Baik, Kitsune-sensei. Saya mengerti."

​Namun di balik poni rambut hitamnya yang menutupi mata, sepasang sudut bibir Ren tertarik membentuk garis tipis yang sangat dingin. Di dalam ruang kesadarannya, kalkulasi taktis yang baru telah selesai disusun.

​Danzo telah mengirimkan seekor anjing pelacak yang tangguh untuk mengawasinya. Namun, dengan fondasi kekuatan baru yang tertanam di dalam tubuhnya, Ren tahu bahwa situasi ini justru memberikan keuntungan besar baginya. Di bawah pengawasan langsung dari organisasi sekelas Root, dia kini memiliki akses dan alasan yang sah untuk terlibat dalam misi-misi paling berbahaya di dunia shinobi—tempat di mana dia bisa mengumpulkan lebih banyak hadiah dari Sistem dan melenyapkan siapa pun yang mencoba menghalangi jalannya tanpa meninggalkan jejak di bawah matahari.

1
Akbar Rifqi
typo
Axel
seringkih bubur itu apa thor?
Axel
dan kesaduran itu apa thor?
Akbar Rifqi: typo k
total 1 replies
Klarasya
lanjutt thorr, semangattt 😻
Mitha: oyong juahattt
total 2 replies
Klarasya
semangatt thorr 😻
Mitha: oyong juahat
total 1 replies
Klarasya
lanjuttt thorrr 😻
Klarasya
semangatt thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!