NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembalinya Adrian Dengan Kegagalan

Lantunan salawat dan ayat-ayat suci terus mengalir dari bibir puluhan warga yang berkumpul di balai desa. Suasana begitu khusyuk sekaligus mencekam. Di tengah lingkaran, Aki Sukra duduk bersila dengan mata terpejam, keringat dingin bercucuran di dahinya. Tangannya memegang tasbih, sementara Pak RT dan Kang Kosim terus memukul kentongan, sebuah tanda bahwa desa sedang berada dalam kondisi bahaya.

Tiba-tiba, pintu kayu balai desa dihantam dari luar.

BRAKKK!

Lantunan doa warga mendadak terhenti. Semua mata langsung tertuju ke arah pintu.

Di ambang pintu, berdiri sesosok tubuh yang nyaris tidak dikenali. Itu Adrian. Kondisinya sangat mengenaskan. Bajunya robek-robek, tubuhnya dipenuhi lumpur hitam, dan darah segar masih mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Dia berjalan terhuyung-huyung, memegangi dadanya yang sesak, sebelum akhirnya ambruk berlutut di lantai balai desa.

"Nak Adrian!". Pak RT langsung meletakkan pemukul kentongannya dan berlari menghampiri, diikuti oleh Kang Kosim. Mereka berdua segera memegangi tubuh Adrian yang gemetaran hebat.

"Jiwa tempat itu sudah mengunci jalannya.". Bisik Aki Sukra lirih. Aki Sukra perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung berubah sendu saat melihat Adrian kembali seorang diri.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Adrian mencengkeram lengan baju Pak RT. Air matanya pecah, bercampur dengan tanah dan darah di wajahnya. Isak tangis penyesalan terdengar begitu memilukan di dalam balai desa yang mendadak sunyi senyap.

"Pak. Aki. Maaf saya gagal. Kamera Dinda hancur. Saya gagal melemparnya ke lubang Jarian." Bisik Adrian terbata-bata, suaranya parau dan bergetar hebat karena syok.

"Lalu di mana Nak Bagas,? Kenapa kamu cuma sendiri Nak Adrian?!". Tanya Kang Kosim dengan wajah panik, matanya menatap ke arah kegelapan di luar pintu, berharap Bagas akan muncul.

Adrian menggelengkan kepalanya lemah, tatapannya kosong penuh trauma.

"Bagas dibawa, Kang. Makhluk besar berbulu hitam yang nunggu Jarian, dia marah. Tubuh saya hempas. Dan sebelum saya sempat bangun, makhluk itu mencengkeram Bagas. Bagas dibawa hilang ke dalam kegelapan hutan,". Tangis Adrian pecah.

Mendengar penjelasan Adrian, jeritan histeris pelan terdengar dari beberapa warga yang hadir. Suasana balai desa langsung riuh oleh rasa takut yang mencekam. Pak RT terduduk lemas, wajahnya pucat pasi.

Aki Sukra menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Beliau berdiri, berjalan mendekati Adrian, lalu meletakkan tangannya di atas kepala pemuda itu sambil merapalkan doa penenang. Perlahan, gemetar di tubuh Adrian mulai berkurang, meski rasa sakit di dadanya belum hilang sepenuhnya.

"Energi yang saya rasakan tadi ternyata adalah amarah dari penunggu Jarian. Mereka merasa haknya diganggu, dan sekarang mereka meminta bayaran yang lebih besar,". Kata Aki Sukra, suaranya terdengar berat dan berwibawa di antara kepanikan warga.

Aki Sukra kemudian menatap Pak RT dan Kang Kosim dengan tatapan yang sangat serius.

"Pagar gaib yang kita buat lewat tawasulan ini hanya bisa menahan makhluk itu agar tidak masuk ke desa. Tapi pagar ini tidak akan bisa menarik kembali Nak Bagas dan Nak Dinda dari jantung Jarian. Waktu kita tidak banyak. Sebelum malam Jum’at kliwon besok malam, jika ini terjadi maka jiwa Bagas akan dilebur menjadi bagian dari hutan itu selamanya," Ujar Aki Sukra tegas.

"Aki, tolong saya. Saya yang salah, saya yang bawa mereka ke sana. Saya harus bawa Bagas dan Dinda pulang, walau harus taruhan nyawa!" Adrian, dengan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, memaksakan diri untuk kembali berdiri tegak. Matanya yang merah menatap Aki Sukra dengan penuh permohonan.

Aki Sukra terdiam sejenak melihat tekad di mata Adrian, lalu beliau melirik ke arah keris tua yang terbungkus kain kain kuning di atas altar balai desa. Ritual penyelamatan ini tampaknya tidak bisa lagi dilakukan dari jauh mereka harus menjemput korban langsung ke sarang sang penguasa kegelapan.

Aki Sukra menatap lekat-lekat sepasang mata Adrian yang menyiratkan rasa bersalah yang teramat dalam. Perlahan menggelengkan kepalanya.

"Kamu tidak bisa menyelamatkan mereka dengan keadaan mu yang sekarang, Nak Adrian. Makhluk itu tidak membawa Bagas ke dalam hutan biasa. Jiwa Bagas dan Dinda saat ini sudah diseret masuk ke dimensi lain yaitu alam ghaib Jarian,". Ujar Aki Sukra dengan suara rendah namun berwibawa.

Suasana balai desa semakin mencekam. Warga yang mendengar penjelasan itu saling berbisik ketakutan.

"Satu-satunya cara agar mereka bisa selamat adalah dengan menjemput mereka langsung dari dalam dimensi itu. Dan karena kamulah yang terikat oleh benang kelalaian ini, kamulah yang harus masuk ke sana untuk menarik jiwa mereka kembali," lanjut Aki Sukra tegas.

"Saya siap, Aki. Sekarang pun saya siap!". Potong Adrian tidak sabar, meski tubuhnya kembali terbatuk menahan sakit di dadanya.

"Tidak bisa sekarang! Tubuhmu terluka parah, dan jiwamu masih guncang karena syok. Kalau kamu memaksa masuk ke dimensi Jarian malam ini, kamu hanya akan mengantarkan nyawa secara percuma. Lagipula, ritual penyeberangan dimensi ini bukan perkara sepele. Aki perlu melakukan persiapan khusus, menyiapkan sesaji, dan menghitung purnamanya waktu ghaib agar gerbangnya bisa terbuka aman.". Bentak Aki Sukra lembut namun penuh penekanan.

"Malam ini, pulanglah ke rumah. Istirahat total, obati lukamu, dan tenangkan pikiranmu. Kembalilah ke balai desa besok malam saat matahari sudah sepenuhnya tenggelam. Kita akan lakukan ritualnya.". Aki Sukra kemudian menatap Pak RT dan Kang Kosim, memberi isyarat sebelum kembali beralih kepada Adrian.

"Tapi kali ini, kita tidak akan diam di balai desa. Besok malam, Aki sendiri yang akan memimpin ritual langsung di titik Jarian, tempat Bagas diculik. Pak RT dan Kang Kosim yang akan mendampingi Aki untuk menjaga jasadmu selama jiwamu menyeberang. ”. Aki Sukra menarik napas panjang, tatapannya beralih ke arah hutan larangan yang gelap gulita di luar sana.

"Kami siap mendampingi, Aki. Demi keselamatan warga kita juga,". Pak RT dan Kang Kosim langsung mengangguk mantap, meski gurat ketakutan tidak bisa disembunyikan dari wajah mereka sahut Pak RT tegap.

Adrian akhirnya tertunduk, menerima keputusan sang tetua adat. Dipapah oleh Kang Kosim, Adrian berjalan gontai meninggalkan balai desa untuk pulang dan beristirahat. Malam itu, desa kembali diselimuti sunyi yang tidak biasa. Di dalam benak Adrian, bayangan mata merah sang penunggu Jarian dan jeritan minta tolong Bagas terus berputar, menjadi bahan bakar bagi keberanian yang harus dia kumpulkan demi menghadapi hari esok.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!