Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Aku Jatuh Cinta Padamu
Atlas langsung meninggalkan kamar pengawal. Ia menenangkan ekspresinya agar tidak terlihat tegang saat masuk dan bertemu Cordelia lagi.
"Aku harap dia tidur, jadi dia tidak akan bertanya terlalu banyak tentang ke mana aku pergi selama beberapa jam terakhir. Dan lebih baik kalau aku memintanya pergi. Aku tidak ingin melibatkannya terlalu jauh."
Atlas membuka pintu kamar dengan pelan, dan saat kepalanya muncul, Cordelia menyambutnya dengan senyuman.
"Atlas, kau kembali!"
"Ya, bagaimana kabarmu, Cordelia?"
Atlas mendekati Cordelia dan memberinya ciuman hangat di bibir. Cordelia sudah berpakaian rapi, dan wajahnya dipoles riasan tipis.
"Kau terlihat cantik, Cordelia. Sepanjang pekerjaanku, aku selalu memikirkanmu dan tidak sabar untuk kembali ke sini."
"Aku juga tidak sabar bertemu denganmu. Tapi, Atlas, ada sesuatu yang perlu kau ketahui. Aku tidak bisa pergi bersamamu besok. Ada beberapa hal yang perlu kuselesaikan mengenai mantan pacarku, seperti yang sudah kuceritakan kepadamu, kami memiliki bisnis bersama... jadi aku harus menyelesaikan urusan yang belum selesai. Aku harap kau mengerti. Kita masih bisa tetap berhubungan dan bertemu."
Atlas membelai wajah Cordelia dengan lembut. "Tentu, selesaikan apa yang perlu kau urus. Kita hidup di zaman modern, jarak bukanlah penghalang. Aku bisa datang menemuimu kapan saja aku mau, begitu juga denganmu. Kau bisa menemuiku kapan saja."
"Berjanji untuk menungguku. Kau masih belum banyak bercerita tentang dirimu sendiri, Atlas."
"Ya, itu mudah. Jadi, kau pergi sekarang?"
Cordelia mengangguk. "Ya, penerbanganku berangkat malam ini. Sebenarnya, aku ingin memberitahumu sejak tadi malam, tapi kita terlalu larut dalam suasana, dan aku tidak ingin mengganggu waktu kita bersama."
"Baiklah kalau begitu. Pergilah."
Cordelia mengernyitkan dahinya. "Berikan nomor ponselmu, Atlas. Aku belum mendapatkannya."
"Uh, berikan saja nomormu. Aku akan meneleponmu nanti. Aku janji nomor yang sedang kugunakan sekarang hanya sementara. Percayalah padaku."
"Aku ragu untuk percaya, rasanya kau tidak akan kembali ke hidupku. Tapi aku akan mengambil risiko dari pertemuan ini." Cordelia kemudian berdiri, mengambil tas tangannya, dan menyerahkan kartu nama kepada Atlas. "Aku akan menunggu teleponmu."
Atlas menciumnya di bibir. Mereka berpelukan, dan Cordelia berjalan menjauh dari Atlas. Matanya tampak berkaca-kaca saat ia berkali-kali menoleh ke arah Atlas sambil berjalan di lorong hotel menuju lift.
Setelah Cordelia tidak lagi terlihat, Atlas akhirnya masuk ke kamar. Ia melirik sekilas kartu nama yang ditinggalkan Cordelia sambil bersandar di pintu.
"Cordelia, kupikir aku jatuh cinta padamu. Tapi saat kau pergi, sebenarnya aku merasa lega. Maafkan aku, Cordelia, aku tidak akan menghubungimu lagi." Atlas merobek kartu nama itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
…
"Berhenti di sini. Sepertinya ini klub malam terbesar di kota."
Sebuah sedan kuning yang membawa Atlas dan pengawalnya tampak berhenti di depan klub malam bernama Starkit Night.
"Menurut data internet, itu benar, Tuan. Ini adalah klub malam terbesar di kota. Apa kau ingin turun?"
"Ya, aku ingin menghabiskan waktu di sini. Kau tidak perlu masuk, tunggu aku di tempat parkir."
Atlas kemudian keluar dari mobil. Di depan klub, terlihat dua orang sedang mengantre. Tatapan petugas keamanan yang melakukan pemeriksaan terlihat meremehkan Atlas. Sekali lagi, itu karena penampilan Atlas yang kurus dan tidak meyakinkan.
Tepat saat Atlas hendak maju untuk diperiksa dan mendapatkan tiket masuk, seorang pria dengan kemeja putih dan jeans serta seorang wanita cantik dengan gaun merah memotong di depan Atlas.
"Permisi?" Atlas menyentuh bahu pria tinggi itu.
"Ya? Ada apa?"
"Kau memotong antreanku. Seharusnya kau berada di belakangku, bro."
"Apa? Hahaha!" Pria berkumis tipis itu dan wanita berambut merah keriting itu langsung tertawa, begitu juga petugas di depan mereka.
Atlas tetap berekspresi datar, tidak terpengaruh, dan mengamati apa yang akan dilakukan tiga orang di depannya.
"Maaf, bro. Apa kau mengantre untuk masuk ke klub ini? Apa kau sadar ini tempat paling mahal yang dikunjungi banyak pebisnis dan selebriti di seluruh dunia? Aku tidak salah dengar, kan?" Pria itu memandang Atlas dengan hina.
"Ya, apa yang dikatakan Alfred benar. Aku tidak mau repot memeriksa seseorang yang bahkan tidak bisa masuk ke area publik." Penjaga pintu itu menambahkan dengan nada sinis.
Atlas menjawab dengan tenang, "Ya, aku tidak mabuk. Aku sepenuhnya sadar datang dan menginjakkan kaki ke tempat ini. Apa yang salah dengan apa yang kulakukan?"
Ketiga orang itu kembali tertawa, wajah mereka dipenuhi penghinaan terhadap Atlas. Kali ini, wanita yang merangkul lengan pria itu berbicara. "Sudahlah. Mungkin dia menghasilkan uang dari bosnya atau baru saja mencuri dompet seseorang. Bahkan orang miskin juga butuh hiburan. Ayo, Sayang, kita masuk. Aku tidak ingin berlama-lama di luar hanya untuk memedulikan pria kotor seperti dia."
"Aku sudah memperingatkanmu, bro. Jangan kaget kalau kau tidak bisa menikmati apa pun di dalam." Pria itu menepuk bahu Atlas lalu kembali ke petugas keamanan.
Atlas hanya bisa menghela napas panjang, ia tidak ingin memedulikan penghinaan itu. Namun, ia merasa puas saat mendengar keluhan dari wanita berbaju merah.
"Apa yang kau lakukan?! Bagaimana kau bisa menjatuhkan dompetmu? Aku tidak membawa uang untuk membayar tiket masuk!"
"Tenang, Sayang. Dompetku pasti tertinggal di kamar hotel. Hei, petugas, apa aku bisa masuk dulu dan mentransfer uangnya nanti? Kau mengenalku, aku sudah datang ke sini puluhan kali."
Atlas tersenyum penuh kemenangan. Hatinya dipenuhi kegembiraan, terutama saat mendengar jawaban dari penjaga keamanan yang mengatakan bahwa mereka harus membayar tunai.
"Aku tidak mau kembali ke hotel! Kalau kau mau, pergilah sendiri! Kau sangat menyebalkan!" Wanita itu menghentakkan kakinya dengan frustrasi.
Atlas kemudian memotong di antara mereka dan berkata, "Biar aku yang membayar tiket masuk mereka berdua. Berapa biaya masuk klub ini?"
"$850." Penjaga keamanan itu menjawab dengan ragu.
Atlas membuka tasnya, mengambil setumpuk uang, lalu menyerahkannya kepada penjaga.
"Biaya tiket untuk kami bertiga."
"Hei, apa yang kau--"
"Tidak apa-apa, anggap saja traktiranku sebagai perkenalan. Lagi pula, kasihan pacarmu, sudah berdandan tapi gagal masuk."
"Hei, uangmu terlalu banyak, ini $4000."
Atlas menyeringai. "Simpan saja sisanya untuk dirimu sendiri. Berikan tiketku."
Ketiga orang itu terlihat tercengang, tidak mampu berkata apa-apa. Atlas mengambil tiket emas dari tangan penjaga. Ia kemudian memandang pria yang terkejut itu dan pacarnya. "Aku masuk duluan, nikmatilah hiburanmu dengan seorang pria yang tidak layak memasuki klub ini.”
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗