[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]
----------
Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.
Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...
----------
[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma #03
Di tengah kepungan prajurit elit Kekaisaran Nian, Lingxi kecil terpaksa menggunakan kartu as yang menguras energinya. Dengan sisa tenaga dalam yang tipis, ia memaksakan jiwanya untuk selaras dengan dimensi ruang.
"Teknik Ketiga, Teleportasi Void, Aktif!"
CLINGG ... CLINGG ... CLINGG
Udara melesat dalam kilatan cahaya berwarna zamrud setiap kali tubuh mungilnya berpindah tempat. Lingxi menarik napas panjang yang terasa membakar paru-parunya, sebelum akhirnya kembali berteleportasi bertubi-tubi. Ia bergerak zigzag di udara, berusaha menghindari puluhan serangan teknik pertama dari para prajurit elit yang terus menghujaninya dengan energi dahsyat yang menjengkelkan.
Pertama, ia muncul di atas atap paviliun utama Desa Lembah Berdarah. Namun, keberadaannya tertangkap basah hanya dalam hitungan detik. Sebuah tombak energi hampir saja merobek bahunya, namun dengan refleks yang luar biasa, ia kembali merapalkan teknik ketiga. Dalam sekejap, ia menghilang dan muncul kembali di dahan pohon beringin raksasa yang berdiri kokoh di pusat desa.
Di atas dahan beringin yang tinggi, Lingxi jatuh terduduk. Cucuran keringat sudah tak terhitung jumlahnya, membasahi wajah dan hanfu sederhananya yang kini penuh noda lumpur. Napasnya terburu-buru, pendek dan tersengal, menunjukkan bahwa kapasitas batinnya telah mencapai batas maksimal.
Dengan tangan yang gemetar, ia segera menyeka keringat yang membanjiri wajahnya, berusaha agar penglihatannya tetap jernih dari tetesan asin yang perih di mata.
Lingxi menatap hampa nan pilu ke langit berwarna kelabu. Huft ... huft ... melelahkan sekali. Kakek Naga ... ke mana dirimu? Kenapa kau belum datang menjemput Lingxi?" ucapnya dalam hati.
Keheningan di atas pohon itu terasa menyakitkan. Rasa rindu pada sosok pelindungnya bercampur dengan keputusasaan yang mulai menggerogoti tekadnya untuk bertahan hidup. Tepat saat ia hendak mengumpulkan sisa-sisa energi batinnya untuk kembali merapalkan teknik ketiga, sebuah bayangan melesat naik dari balik kerimbunan daun beringin.
"Kena kau, Iblis Kecil! Teknik Ketiga, Tombak Kristal Dua Jiwa!"
Lingxi tersentak, namun terlambat. Salah seorang prajurit muda dengan Ranah Jiwa Baru telah menembus pertahanannya. Dengan putaran tubuh yang kuat, prajurit itu menghantamkan pangkal tombaknya tepat ke arah perut Lingxi.
BRAKKKK!
Hantaman itu begitu telak hingga terdengar bunyi retakan halus. Tubuh mungil Lingxi terpental jauh dari dahan pohon, melayang di udara beberapa saat sebelum terhempas keras ke tanah berlumpur di bawahnya.
"Agh ...!" rintih Lingxi seraya mencengkram erat perutnya.
Ia terseret beberapa meter di atas tanah, membuat luka di lututnya kembali terbuka dan rasa sakit baru menjalar di seluruh tubuhnya. Pandangannya mulai mengabur, sementara bayangan para prajurit elit mulai berjalan mendekat untuk mengakhiri perburuan ini.
Hujan gerimis mulai turun, membasahi luka-luka Lingxi dan menciptakan kabut tipis di medan tempur yang tidak seimbang itu. Suara tawa kemenangan para prajurit terdengar samar di telinga Lingxi yang berdenging, menandakan bahwa waktu baginya untuk benar-benar melarikan diri semakin menipis.
Lingxi memaksakan diri untuk kembali berdiri, walau kondisi fisiknya sudah berada di titik nadir. Dengan kaki yang gemetar hebat dan napas yang terputus-putus, ia berjalan tergopoh-gopoh. Sesekali, ia menatap ke gelapnya rembulan dengan sorot mata hampa seolah harapan telah sirna. Namun, saat sepasang bola mata milik dua prajurit muda di depannya menatap dengan nafsu yang menjijikkan, sesuatu di dalam batin Lingxi pecah. Rasa takut itu berubah menjadi api yang membakar.
Tanpa ampun dan tanpa peringatan, Lingxi kembali merapalkan teknik andalannya. "Jangan ... berani ... menyentuhku!" desisnya dengan perasaan geram.
"Teknik Kedua, Delapan Belas Pukulan Penghancur Rembulan!" Ia melesat di antara kedua prajurit tersebut, membagi delapan belas serangannya dengan mengerikan.
Prajurit Kiri Lingxi menyarangkan tendangan tumit tepat ke arah sendi lutut bagian dalam, memaksa prajurit itu terjatuh dalam posisi berlutut. Tanpa membuang detik, ia menghujamkan sikutan beruntun ke arah tulang selangka dan pelipis, membuat helm baja lawan penyok dan pandangannya kabur seketika.
Prajurit Kanan, dengan memutar tubuhnya—Lingxi menggunakan momentum untuk menghantamkan kepalan tangannya ke arah tenggorokan lawan, bermaksud mengunci jalur napasnya. Ia kemudian meluncurkan serangkaian pukulan cepat ke titik-titik meridian di dada, mengacaukan aliran Qi prajurit tersebut.
Pukulan Puncak, Lingxi melompat di antara keduanya, mengepalkan kedua tangannya yang dialiri cahaya perak redup, lalu menghantamkan tinju ganda tepat ke arah ulu hati kedua prajurit tersebut secara bersamaan.
DHUAAAKKK!
Kedua prajurit itu terpental ke belakang, memuntahkan darah segar yang segera tersapu oleh air hujan. Mereka terkapar di tanah berlumpur, mengerang kesakitan karena tidak menyangka kekuatan seorang bocah bisa menghancurkan pertahanan mereka.
Prajurit Kanan mengerang sambil memegangi dadanya. "Ugh ... s-sialan, bagaimana mungkin tenaga dalamnya ... sesakit ini?"
Lingxi berdiri diam di tengah hujan, napasnya menderu seperti tungku panas. Surai putihnya yang basah menempel di wajahnya yang masih pucat pasi. Ia menatap kedua lawannya dengan tatapan dingin, meski tangannya sendiri sudah mati rasa akibat benturan keras tadi.
"Jangan pernah memandang rendah Sekte Naga Giok." Lingxi berbicara pelan dengan nada yang sangat tajam.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
Di tengah guyuran gerimis yang kian menderu, dua prajurit muda itu terkapar di tanah berlumpur, mengerang kesakitan sambil memegangi perut dan dada mereka yang baru saja dihantam Pukulan Penghancur Rembulan. Cedera pada organ dalam mereka membuat aliran Qi menjadi kacau, memberikan celah sempit bagi Lingxi untuk mengakhiri ancaman ini.
Lingxi menatap mereka dengan tatapan dingin. Ia tahu, jika ia tidak segera melumpuhkan Dantian mereka, para prajurit ini akan kembali bangkit dan mengejarnya. Dengan sisa tenaga yang ia paksa keluar, Lingxi mulai membentuk segel di telapak tangannya.
"Teknik Pertama, Lilitan Air!" Pusaran air dari tetesan hujan mulai berkumpul di telapak tangannya, siap meluncur untuk mengunci pusat energi kedua lawannya.
Namun, keberuntungan benar-benar telah meninggalkan gadis kecil itu hari ini. Tepat sebelum teknik itu dilepaskan, sebuah bayangan melesat dari arah gubuk tua yang berjarak sepuluh meter di sampingnya.
Belum sempat Lingxi menoleh, sebuah tangan besar yang terbungkus sarung tangan logam kasar langsung mencekik lehernya dengan kekuatan yang luar biasa. Tubuh mungil Lingxi terangkat dari tanah, membuat kakinya menendang-nendang udara dengan sia-sia. Pelakunya adalah Jenderal Huang Zhong, yang muncul dengan aura membunuh yang menyesakkan.
Huang Zhong menatap Lingxi dengan pandangan merendahkan, sementara simbol Tanduk Petir di jubahnya tampak berkilat tertimpa cahaya petir dari langit. "Berani sekali kau menyentuh anak buahku, Bocah Kecil."
Lingxi berusaha melepaskan cengkeraman itu, namun cekikan Huang Zhong semakin menguat, memutus jalur napasnya seketika. Wajahnya yang semula pucat kini mulai membiru, sementara matanya yang berkaca-kaca menatap hampa ke arah armor tembaga sang Jenderal.
Sial ... sial ... sial ...! L-Lingxi sulit b-bernapas! ucap Lingxi dalam hati.
Huang Zhong tertawa rendah yang mengerikan. "Kau adalah kunci yang dicari oleh Kekaisaran Nian. Jangan harap kau bisa mati semudah itu sebelum aku menyerahkanmu pada Sekte Iblis Guntur."
Cengkeraman Huang Zhong di leher Lingxi semakin mengunci jalur napasnya, membuat paru-paru gadis kecil itu terasa seperti terbakar. Lingxi mencoba menggerakkan jemarinya yang gemetar, berniat merapalkan teknik ketiga sebagai upaya terakhir untuk melarikan diri. Namun, belum sempat energi itu memercik, tekanan domain yang luar biasa dari sang Jenderal langsung memadamkan aliran Qi miliknya hingga lenyap tak berbekas.
Dunia di sekitar Lingxi mulai memudar. Suara deru hujan dan tawa keji para prajurit Kekaisaran Nian perlahan menggema mendekat. Di bawah cekikan yang tak kenal ampun itu, ia bisa merasakan dinginnya maut yang mulai merayap naik. Pandangannya menggelap, menyisakan kegelapan total yang seolah siap menelannya selamanya.
Sampai pada akhirnya sesuatu membuatnya tersentak ...
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
"Nona Yu! Yu Lingxi!" Sebuah suara yang berat namun penuh kekhawatiran menembus kabut hitam di kepalanya.
Lingxi merasakan guncangan kuat di bahu, sebuah sentuhan fisik yang menarik jiwanya kembali dari Lembah Berdarah tahun-tahun silam. Matanya yang semula kosong dan kaku perlahan-lahan kembali fokus, menangkap cahaya sore yang menembus celah dedaunan pohon jeruk.
"Sadarlah! Apa yang terjadi pada Anda? Anda berdiri kaku seperti patung tak bernyawa!" suara Shen Zhengtian bergetar karena panik, wajahnya sangat dekat dengan Lingxi.
Lingxi terengah-engah, napasnya memburu seolah ia baru saja benar-benar terlepas dari cekikan Huang Zhong. Keringat dingin mengucur di pelipisnya, dan tangannya secara refleks memegang lehernya sendiri yang terasa perih karena memori traumatis tersebut.
Ia menatap Shen Zhengtian dengan tatapan linglung sejenak, sebelum akhirnya menyadari bahwa pria di depannya ini bukanlah musuh berbaju hitam atau Jenderal haus darah, melainkan pemuda yang baru saja menyelamatkannya dari serangan kunai.
"Zhengtian ... aku ... aku ha—"
Shen Zhengtian mengendurkan guncangan di bahu Lingxi, namun tetap memegangnya agar gadis itu tidak jatuh. "Wajahmu pucat pasi. Jika kau masih merasa sakit karena luka itu, katakan padaku," selanya menatap cemas ke cahaya yang berpendar menghiasi bola mata pertama yang indah milik Lingxi.
Lingxi menundukkan kepalanya, membiarkan rambut putih yang bak sutra menutupi sisa-sisa ketakutan di wajahnya. Ia menyadari bahwa munculnya simbol Tanduk Petir pada plat besi yang dilemparkan pria misterius tadi telah membuka luka lama yang selama ini ia kunci rapat di dasar jiwanya.
Lingxi menarik napas panjang untuk menenangkan diri. "Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit teringat sesuatu yang ... tidak menyenangkan. Maaf sudah membuatmu khawatir, Zhengtian" ucapnya lirih sembari menghela napas lega.
"Sekarang bukan saatnya mengkhawatirkan kondisiku, alangkah baiknya kita kembali ke Kakek Naga dan Kakek Tua Bangka itu," sambungnya dengan melangkah maju terlebih dulu meninggalkan Shen Zhengtian di belakang.
"Ehh, tunggu saya, Nona Yu!"
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
...…To Be Continued…...
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/