Lin Xiaoxi tewas kelaparan, namun jiwanya digantikan oleh Chu Yue, Putri Tabib jenius dari masa kuno. Terbangun di tubuh gadis desa miskin, ia dibekali Ruang Dimensi berisi herbal ajaib untuk mengubah nasibnya.
Di kota, sang penguasa Mo Yan sedang sekarat karena penyakit aneh yang tak tersembuhkan. Takdir mempertemukan mereka di jalanan, di mana satu tusukan jarum Xiaoxi menyelamatkan nyawa sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 二一
Malam itu, Mo Yan melangkah menyusuri koridor lantai atas kediamannya dengan kening yang berkerut dalam. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Xi'er. Sebagai pria yang sangat menghargai kebersihan dan keteraturan, indra penciumannya yang tajam menangkap sesuatu yang tidak beres. Aroma parfum floral yang biasanya tercium dari ruangan itu kini telah berganti dengan sesuatu yang jauh lebih... eksotis.
Ia membuka pintu walk-in closet Xi'er dan seketika aroma pahit menyengat bercampur bau tanah basah menghantam hidungnya. Mo Yan mematung. Matanya menyapu ruangan mewah yang baru saja ia dekorasi dengan biaya miliaran itu.
"Lin Xiaoxi... apa yang kau lakukan?" geram Mo Yan pelan.
Ia mulai menggeledah. Di balik deretan gaun sutra yang harganya setara dengan satu unit mobil, Mo Yan menemukan gundukan akar kayu yang diikat dengan benang kasur, digantung rapi di rak gantungan tas Hermes. Di dalam kotak sepatu beludru, bukan sepatu cantik yang ia temukan, melainkan jamur-jamur kering yang tampak sangat menyeramkan dengan warna kehitaman. Bahkan, kotak perhiasan kaca yang seharusnya berisi kalung berlian, kini penuh dengan serbuk berwarna abu-abu yang baunya seperti belerang.
"Kau benar-benar keterlaluan." gumam Mo Yan sambil menarik keluar seikat akar besar yang baunya paling menyengat.
Tepat saat itu, Xi'er masuk ke ruangan sambil mengunyah buah apel dengan santai. Ia membeku saat melihat Mo Yan berdiri di tengah istana kain nya sambil memegang akar kesayangannya dengan ekspresi seperti ingin membakar seluruh gedung.
"Tuan kaku! Taruh kembali akar Bumi Langit itu! Kau tidak tahu betapa susahnya aku mengeringkan bagian inti itu!" teriak Xi'er, segera berlari dan mencoba merebut akar itu dari tangan Mo Yan.
"Xi'er! Aku sudah bilang jangan menaruh barang-barang ini di sini!" Mo Yan menjauhkan tangan dari jangkauan Xi'er, suaranya naik satu oktav. "Lihat gaun-gaun ini! Baunya sekarang seperti lemari tua yang tidak pernah dibuka selama seratus tahun! Bagaimana kau bisa tidur dengan aroma yang menyesakkan seperti ini?"
"Menyesakkan kau bilang?!" Xi'er berkacak pinggang, wajahnya memerah karena emosi. "Aroma ini adalah aroma kehidupan! Ini lebih baik daripada parfum kimiamu yang membuatku ingin bersin setiap saat! Gaun-gaun ini justru beruntung bisa bersanding dengan akar obat tingkat tinggi. Mereka akan menjadi lebih awet karena tidak akan ada kutu yang berani mendekat!"
Mo Yan memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Ini kamar tidur Xi'er. Bukan gudang pengeringan mayat tanaman! Aku akan memerintahkan pelayan untuk memindahkan semua ini ke gudang belakang besok pagi. Jika aku menemukan satu akar pun di ruangan ini lagi, aku akan menyumbangkan semua gaun ini ke panti asuhan!"
"Kau berani menyentuh harta karunku, aku akan memastikan kau tidak bisa tidur selama tujuh hari tujuh malam!" ancam Xi'er, matanya berkilat menantang.
Perdebatan itu berakhir dengan Mo Yan yang keluar dari ruangan sambil membanting pintu pelan, sementara Xi'er terus menggerutu sambil memeluk botol-botol obatnya. Namun, kemarahan Mo Yan perlahan mereda dan berganti dengan pemikiran yang lebih serius. Ia duduk di ruang kerjanya, menatap profil biodata "Lin Xiaoxi" yang ada di komputernya.
Hanya lulusan SMP. Tanpa keahlian formal.
Mo Yan tahu Xi'er sangat cerdas. Pengetahuannya tentang anatomi manusia dan kimia herbal jauh melampaui dokter spesialis mana pun yang pernah ia temui. Namun, di dunia korporat yang kejam, kecerdasan tanpa selembar kertas bernama ijazah adalah sia-sia.
Keesokan harinya, Mo Yan memanggil Xi'er ke ruang makan. Di atas meja sudah tersedia tumpukan buku tebal yang membuat Xi'er ingin segera lari kembali ke laboratoriumnya.
"Apa lagi ini? Kau ingin aku memakan kertas-kertas ini sebagai pengganti nasi?" tanya Xi'er curiga.
"Itu buku pelajaran Xi'er. Aku sudah mengatur agar kau mengikuti program Kejar Paket dan Home Schooling mulai minggu depan" ucap Mo Yan tegas. "Kau akan belajar matematika, sejarah, bahasa Inggris, dan sains modern. Aku ingin kau memiliki gelar pendidikan yang layak."
Xi'er terdiam sejenak, lalu ia meledak dalam tawa yang penuh dengan penghinaan diri sendiri. "Pendidikan? Kau ingin aku belajar seperti anak kecil? Tuan kaku, kau benar-benar menghinaku! Apa kau tahu siapa aku? Aku adalah putri dari Tabib Agung! Aku sudah menghafal ribuan kitab pengobatan kuno, aku bisa membaca rasi bintang, dan aku mengerti strategi perang! Dan kau ingin aku duduk dan menghitung satu ditambah satu?!"
Xi'er berdiri, matanya memancarkan kebanggaan seorang bangsawan yang terluka. "Aku tidak bodoh! Kau yang bodoh karena tidak bisa melihat kecerdasanku!"
"Aku tahu kau pintar Xi'er." potong Mo Yan dengan suara tenang namun menusuk. "Tapi dunia ini tidak peduli pada rasi bintang atau kitab kunomu. Di dunia ini, jika kau tidak punya ijazah, kau hanyalah gadis miskin yang tidak punya masa depan. Orang-orang akan terus meremehkanmu, menganggapmu hanya sebagai peliharaan Mo Yan yang tidak tahu apa-apa. Apa kau ingin selamanya dipandang rendah seperti pelayan di mal itu?"
Xi'er terdiam. Kata-kata Mo Yan menghantam egonya tepat di jantung. Ia berlari ke kamarnya, membanting pintu, dan berdiri di depan cermin raksasa yang tadi pagi ia maki. Ia menatap pantulan dirinya. Di sana, yang ia lihat bukanlah Putri Tabib Agung yang megah, melainkan seorang gadis remaja bernama Lin Xiaoxi yang kurus, dengan kulit pucat, dan latar belakang keluarga yang hancur.
"Mereka benar..." bisik Xi'er, suaranya gemetar. "Di dunia ini, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang gembel yang kebetulan menumpang di rumah orang kaya."
Rasa pahit menjalar di tenggorokannya. Ia menyadari bahwa pengetahuan medisnya yang hebat sekalipun tidak akan diakui oleh rumah sakit modern jika ia tidak punya lisensi. Ia akan selalu menjadi tabib liar yang bisa ditangkap kapan saja.
Setengah jam kemudian, Xi'er keluar dari kamar dan kembali ke ruang makan di mana Mo Yan masih duduk dengan sabar. Xi'er mengambil salah satu buku matematika dan membantingnya ke meja.
"Baiklah! Aku akan belajar sihir angka dan bahasa anehmu itu!" seru Xi'er, meskipun matanya masih sedikit sembab. "Tapi aku punya syarat!"
Mo Yan menaikkan alisnya. "Syarat apa?"
"Kau sendiri yang harus mengajariku angka-angka ini jika aku tidak mengerti! Aku tidak mau diajari oleh orang asing yang membosankan. Dan jika aku berhasil lulus, kau harus memberiku kebun herbal seluas satu hektar di belakang rumah ini sebagai upahnya!"
Mo Yan menatap wajah Xi'er yang penuh dengan tekad dan sedikit sisa kemarahan. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh kepala Xi'er sejenak sebelum gadis itu menghindar.
"Sepakat. Bersiaplah, Tabib Agung. Matematika jauh lebih sulit daripada meracik bubuk gatalmu itu."
Xi'er mendengus, namun dalam hati ia berjanji akan menaklukkan dunia modern ini, bukan hanya sebagai asisten Mo Yan, tapi sebagai Lin Xiaoxi yang baru, yang akan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut di bawah kakinya.
Makasih double up nya othor tayaaaangg/Kiss/