NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Paradoks Sang Penjaga

​Kalimantan tidak pernah benar-benar sunyi.

Di balik rimbunnya pohon meranti dan suara serangga malam, selalu ada bisikan alam yang memberitahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Elena duduk di beranda rumah panggung kayunya, tangannya sibuk mengasah belati keramik—sebuah rutinitas yang tidak bisa ia tinggalkan meski Reza berkali-kali menyuruhnya untuk "santai sedikit".

​"Kopi?" Reza muncul dari balik pintu kelambu, menyodorkan cangkir seng berisi kopi hitam pekat.

​"Makasih, Rez," Elena menerima cangkir itu, tapi matanya tetap terpaku pada kegelapan hutan di depan mereka.

"Kau ngerasa nggak? Udah tiga hari burung-burung di sekitar sini nggak bersuara pas jam segini."

​Reza ikut duduk di pagar kayu, menghela napas panjang.

"Mungkin mereka cuma butuh liburan, El. Kita udah di tengah hutan yang bahkan GPS pun bingung cari koordinatnya. Paman Han udah pasang sensor getar sejauh dua kilometer. Kalau ada tikus lewat pun, kita pasti tahu."

​"Tapi tikus nggak bawa jam tangan Patek Philippe yang retak, Rez," gumam Elena.

​Kalimat itu membuat suasana mendadak dingin.

Bayangan tentang paket misterius di gunung Merapi dulu kembali menghantui.

Elena tahu, meski Adrian sudah jadi abu di Pulau Bayangan, sistem yang mereka ciptakan punya cara untuk terus hidup.

Seperti virus yang bermutasi.

​Pesan dari "Langit"

​Tiba-tiba, suara statis terdengar dari radio panggil di dalam rumah.

Dante, yang menempati pondok sebelah yang penuh dengan kabel dan antena parabola rahasia, berteriak kencang.

​"EL! REZ! KALIAN HARUS LIHAT INI! SEKARANG!"

​Elena dan Reza melompat dari beranda, berlari melintasi jembatan gantung kecil menuju pondok Dante.

Di dalam, ruangan itu terang benderang oleh puluhan monitor yang menampilkan garis-garis kode hijau yang berputar sangat cepat.

​"Gue baru aja nangkep transmisi satelit yang seharusnya udah mati tahun '90-an," ujar Dante, jarinya menari di atas mechanical keyboard-nya yang berisik.

"Ini bukan dari Lazarus. Ini lebih tua. Ini protokol AETERNA."

​"Apa lagi itu?" tanya Reza, frustrasi.

"Kenapa setiap kali kita hancurkan satu organisasi, muncul lagi nama baru yang kedengarannya kayak nama perumahan mewah?"

​"Aeterna adalah 'induk' dari segala riset Adiwangsa," Elena menjawab pelan, wajahnya pucat.

"Kakek pernah cerita pas aku masih kecil. Dia bilang Adiguna hanyalah 'tangan', tapi Aeterna adalah 'otak'. Mereka adalah konsorsium orang-orang terkaya di dunia yang mendanai riset keabadian sejak Perang Dunia II."

​Layar monitor Dante tiba-tiba menampilkan sebuah citra satelit real-time.

Sebuah titik merah berkedip tepat di atas lokasi mereka di Kalimantan.

​"Mereka nggak kirim pasukan, El," bisik Dante. "Mereka kirim Satelit Icarus."

​"Maksudmu?"

​"Mereka nggak butuh berantem sama kita. Mereka cuma perlu tembakkan laser energi kinetik dari orbit, dan seluruh hutan ini bakal jadi kawah sedalam lima puluh meter dalam hitungan detik."

​Permainan Catur Global

​Sebuah jendela chat muncul di layar utama Dante. Isinya hanya satu baris kalimat:

"Selamat malam, Subjek 01. Mari kita bicara sebelum dunia menjadi terlalu panas."

​Sebuah link video aktif.

Di layar muncul seorang pria tua yang terlihat sangat ramah, duduk di sebuah perpustakaan megah di Inggris.

Ia memakai kardigan wol dan sedang menyesap teh.

 Namanya Sir Alistair, salah satu pemegang saham utama Aeterna.

​"Elena, manisku," suara Alistair terdengar sangat sopan, hampir seperti seorang kakek yang merindukan cucunya.

"Kau telah menyebabkan banyak kerugian finansial bagi kolega-kolegaku. Menghancurkan Lazarus itu... yah, agak sedikit berlebihan, bukan?"

​"Kau mau apa, Alistair?" desis Elena.

​"Aku mau kau melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Adiguna: Menjadi bagian dari dewan. Kami punya kekosongan kursi sekarang setelah Adrian... um, 'pensiun'. Jika kau setuju untuk kembali ke London dan memberikan data biometrikmu untuk menstabilkan sistem global kami, aku akan mematikan satelit Icarus sekarang juga."

​"Dan kalau aku nolak?"

​Alistair tersenyum sedih.

"Maka Kalimantan akan kehilangan salah satu paru-paru dunianya malam ini. Bersama dengan ibumu, kekasihmu, dan si peretas jenius itu. Kau punya waktu sepuluh menit sebelum satelit itu mencapai posisi puncak."

​Alistair memutus sambungan. Keheningan yang mengerikan menyelimuti pondok Dante.

​"Kita nggak bisa lari," ujar Reza, tangannya mengepal.

"Sepuluh menit nggak cukup buat keluar dari zona ledakan."

​Elena menatap monitor. Pikirannya berputar seperti mesin turbo.

Residu AI Lazarus yang dulu pernah tertanam di otaknya memberikan sebuah kalkulasi instan—sebuah sisa-sisa kemampuan yang ternyata tidak hilang sepenuhnya.

​"Dante, kau masih punya akses ke sistem navigasi satelit cadangan Lazarus yang kita bajak di Singapura?" tanya Elena cepat.

​"Punya, tapi Icarus itu sistem militer kelas berat, El! Enkripsinya mustahil ditembus dalam sepuluh menit!"

​"Kita nggak perlu tembus enkripsinya," Elena mendekati monitor, jarinya menunjuk ke arah satelit kecil yang meluncur di orbit yang lebih rendah dari Icarus.

"Itu satelit komunikasi cuaca milik perusahaan cangkang Adiguna. Kita tabrakkan itu ke Icarus."

​Dante ternganga. "Itu kayak ngelempar kerikil ke tank, El!"

​"Nggak kalau kita meledakkan tangki bahan bakar satelit cuaca itu tepat di dekat lensa laser Icarus. Cukup buat bikin koordinatnya meleset beberapa derajat. Kalau laser itu meleset sepuluh kilometer saja, kita selamat."

​"Rez! Siapkan jip! Kita harus bawa Ibu ke bunker tua peninggalan Jepang di lembah sebelah!" perintah Elena.

​Menit-menit berikutnya adalah kekacauan yang terorganisir.

Reza menggendong Sarah yang bingung ke dalam jip, sementara Paman Han menyiapkan peralatan medis darurat.

Dante berkeringat dingin di depan laptopnya, melakukan sinkronisasi data yang paling mustahil dalam sejarah kariernya.

​"Lima menit lagi, El!" teriak Dante.

"Gue butuh kode otorisasi terakhir dari biometrikmu! Icarus nolak akses eksternal!"

​Elena menempelkan telapak tangannya ke sensor scanner Dante.

"Pakai identitas 01. Biarkan mereka tahu siapa yang menghancurkan mainan mereka."

​KREK... KREK...

​Layar menunjukkan dua satelit di orbit mulai mendekat satu sama lain.

Di langit Kalimantan yang gelap, sebuah titik cahaya mulai terlihat membesar. Itu bukan bintang.

Itu adalah laser Icarus yang mulai melakukan pemanasan.

​"Dua menit!" Dante berteriak. "Satelit cuaca udah di jalur! Gue kunci posisinya!"

​"SEKARANG, DANTE!" teriak Elena.

​Di layar, sebuah ledakan kecil terjadi di orbit bumi.

Satelit cuaca itu meledak, puing-puingnya menghantam Icarus tepat di bagian panel optiknya.

​Detik berikutnya, sebuah pilar cahaya putih yang sangat terang menyambar bumi.

Bumi bergetar hebat.

Suara ledakan yang memekakkan telinga terdengar dari arah timur, sekitar lima belas kilometer dari posisi mereka.

Hutan di kejauhan seketika berubah menjadi bola api raksasa.

​Angin kencang hasil ledakan menghantam pondok mereka, memecahkan kaca-kaca jendela, tapi struktur bangunannya tetap berdiri.

​Elena terengah-engah, debu menyelimuti wajahnya.

Ia segera melihat ke arah monitor Dante yang masih menyala.

 Sinyal satelit Icarus menunjukkan status: MALFUNCTION.

​"Kita... kita masih hidup?" bisik Sarah dari dalam jip.

​Elena berjalan keluar ke beranda, menatap langit di mana sisa-sisa pilar cahaya itu menghilang.

Ia mengambil radio panggil milik Dante dan menekan frekuensi yang tadi digunakan Alistair.

​"Alistair," suara Elena dingin dan tajam.

"Kau baru saja membuang satelit miliaran dolarmu untuk membakar sekumpulan pohon pisang."

​Hening sejenak di seberang sana.

Lalu terdengar suara tawa Alistair yang terdengar agak dipaksakan.

"Luar biasa. Kau benar-benar putri Adiwangsa yang paling berbakat. Kau memenangkan ronde ini, Elena."

​"Ini bukan ronde, Alistair. Ini adalah pengumuman perang," balas Elena.

"Mulai sekarang, aku nggak akan lagi nunggu kalian kirim paket atau satelit. Aku yang akan datang ke London. Dan saat aku sampai di sana, aku nggak akan bawa data biometrik. Aku akan bawa sesuatu yang bisa bikin Aeterna bangkrut dalam semalam."

​Elena memutus sambungan dan meremukkan radio itu di tangannya.

​Reza menghampiri Elena, menatap api yang masih berkobar di ufuk timur. "Jadi, kita ke London?"

​Elena menoleh, menatap Reza dengan mata yang kembali dipenuhi api dendam—tapi kali ini, dendamnya lebih murni, lebih terarah.

"Kita nggak bisa terus-terusan lari, Rez. Selama Aeterna masih ada, kita cuma bakal pindah dari satu hutan ke hutan lain sampai kita tua atau mati."

​"Lagipula," Elena tersenyum miring, senyum yang dulu bikin para musuhnya gemetar ketakutan di Jakarta.

"Aku kangen pakai gaun desainer dan minum sampanye sambil menghancurkan hidup orang kaya yang sombong."

​Dante keluar dari pondok sambil membawa hardisk eksternal.

"Gue udah nemu daftar nama anggota dewan Aeterna, El. Ada sepuluh orang. Semuanya punya skandal yang kalau bocor bisa bikin ekonomi dunia guncang."

​Paman Han mendekat, memberikan Elena sebuah jaket kulit hitam yang selama ini disimpan di dasar koper.

"Kalau begitu, Nona, mari kita tunjukkan pada mereka bahwa Elena Adiguna bukan lagi 'subjek' yang bisa mereka atur."

​Malam itu, di tengah hutan Kalimantan yang masih berbau hangus, sebuah rencana besar disusun.

Mereka bukan lagi para pengungsi yang terbuang.

 Mereka adalah tim pembunuh elit yang kini memiliki target paling besar dalam sejarah dunia.

​Elena Adiguna menatap foto ibunya, lalu menatap Reza.

Ia tahu jalan di depan akan jauh lebih berdarah daripada apa yang terjadi di Jakarta atau Singapura.

Tapi ia tidak takut. Karena kali ini, ia bukan lagi bertarung untuk bertahan hidup.

​Ia bertarung untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi "Nyonya yang Terbuang" di masa depan.

​"Ayo, Rez," ajak Elena sambil melangkah menuju jip.

"Kita punya penerbangan ke London yang harus dipesan secara... tidak resmi."

​Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!