Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rapat perdana
tiga hari berlalu, pada saat aku terfikirkan untuk mengundang orang-orang penting untuk sebuah webinar wali santri mengenai pernikahan dini, malamnya aku mengutarakan maksudku kepada Abah dan ibu, mereka menyetujui namun menyuruhku untuk mengatur acara dan sebagainya, dan Abah akan mengundang wali santri, dan malam ini aku akan memimpin rapat dengan semua guru dan ustadz-ustadzah yang mengajar di pesantren, terkait acara ini. Karena aku membutuhkan tenaga untuk menyambut dan mengarahkan agar acara bisa lancar, ini bukan sekedar menyampaikan wawasan tapi juga kesadaran jadi aku akan membuat acara senyaman mungkin agar mereka mudah mengerti dan paham, juga berharap agar selanjutnya tidak ada lagi perjodohan dini dan sepihak lagi.
Aku sudah membuat power point terkait pengarahan, tata letak, konsumsi, dan siapa-siapa yang akan menjadi pembicara atau narasumber nantinya, juga maksud dari acara ini dibuat. Aku sudah menyiapkan sedetail mungkin dan beberapa kali aku minta koreksi dengan Abah dan ibu, dan sekarang sudah final, jadi sebentar lagi aku akan menyampaikan semuanya untuk di rembuk dan di musyawarahkan bersama-sama.
" rapat dimulai "
Aku duduk di depan para ustadz, guru dan ustadzah, di dampingi Abah dan ibu, jujur ini pertama kalinya aku memimpin rapat di pesantren, meski aku sudah pernah merasakan mengisi webinar di beberapa kota tapi kali ini rasanya beda, aku sedikit gugup.
" assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah dan terimakasih kepada semua yang sudah hadir, mohon maaf jika kami menyita waktu ustadz dan ustadzah, kami ingin menyampaikan dan meminta pendapat juga bantuan jenengan semuanya......................... " ucapku panjang dan menjelaskan dengan sedetail mungkin dengan power point agar mudah untuk menggambarkan acara, waktu berlalu, rasa gugup dan suasana yang kaku akhirnya luntur, aku bisa menjelaskan dengan santai dan menjawab pertanyaan para ustadz dan ustadzah dengan lancar. sedikit sedikit aku melihat ke arah Abah dan ibu, mereka tersenyum melihat anaknya ini menjelaskan di depan, yang awalnya tidak pernah menghadiri rapat pesantren dan jarang mau berkumpul dengan para guru kini Abah dan ibu melihat anaknya berbicara di depan semuanya, entah apa yang mereka rasakan aku hanya melihat senyumannya yang terlihat bangga.
Waktu berlalu, rapat telah usai, beberapa ustadzah mengajakku mengobrol dan berjabat tangan, entah se-introvert apa aku dulu, padahal mengobrol tidak semenakutkan dan se-enjoy itu dengan mereka, entah kenapa aku dulu tidak mau keluar dan bertemu, hahahahahha....
Aku kembali ke rumah bersama Abah dan ibu setelah para ustadz dan ustadzah pulang. Aku menggandeng tangan mereka dan berjalan ke rumah, para santri sudah ada di kawasannya masing-masing tapi masih terdengar suara berbincang, mungkin mereka belum tidur atau justru tidak bisa tidur, memang aku membuat rapat malam karna aku hanya memiliki waktu malam karna aku dan ibu harus ke butik.
" mbak leea... Terimakasih banyak ya " ucap ibu tiba-tiba
" terimakasih untuk apa Bu..." jawabku sambil mengernyit dahi
" Abah dan ibu tadi liat Lea sangat Lues berbicara di depan dan keputusan yang Lea ambil untuk menyelamatkan para santri terhadap ketidak pastian hidup, sepertinya Abah dan ibu tidak khawatir untuk penerus pesantren selanjutnya " ucap Abah sendu
" eh.... aleea kan penulis Abah, leea juga tidak yakin bisa mengelola pesantren sebaik Abah dan ibu " jawabku yakin
" tapi Abah dan ibu ingin nanti jika sudah pensiun dan berumur 60 tahun, Abah dan ibu hanya di rumah bersama cucu menikmati waktu sesekali umrah dan berhaji, liburan dan sebagainya " ucap ibu sambil membayangkan hal yang jauh itu, masalah nya Abah masih umur 50 tahun dan ibu 46 tahun, jadi itu waktu yang lama dan mereka masih bisa mengelola pesantren karna keduanya fisiknya lebih muda dan segar ketimbang umurnya.
" insyaallah deh ya... Kan masih lama " ucapku menenangkan dan di sambut tawa Abah dan ibu.
Aku berjalan ke kamar, aku duduk di meja dan meninjau ulang hasil musyawarah barusan, beberapa ustadzah mengusulkan untuk membuat acara sambutan yang di isi dengan minat dan bakat para santri dan santriwati, juga membuat pertunjukan kecil seperti menyampaikan pesan dari seorang anak kepada orang tuanya, dan aku setuju agar santri juga tidak jenuh dan bisa mengekspresikan diri agar lebih pede, juga hasil dari musyawarah untuk mengundang orang yang cocok dengan konsep acara itu ada dokter obgyn, diknas pendidikan dan juga seorang kiyai terkemuka, kenapa bukan Abah? Agar wali santri mudah untuk percaya dan tidak bisa menyepelekan dan juga agar pesantren kita lebih maju, upgrade dan up to date.
Aku mencari beberapa kontak orang orang ini, dari web site dan Instagram, aku tulis beberapa nama dokter obgyn dengan kemampuannya yang sudah jelas dan banyak pengalaman, dan kepala diknas pendidikan setempat, juga satu lagi seseorang penyiar agama yang banyak membahas mengenai pernikahan. Aku catat semuanya karna besok akan aku hubungi agar bisa menemukan waktu yang fleksibel.
Setelah semua selesai, aku menutup buku catatanku dan menaruhnya di laci, saat aku buka laci di dalamnya ada dua amplop Warna hitam, seketika hembusan wangi yang membalut amplop itu menyeruak keluar dari laci, wangi yang sama tapi wanginya agak sedikit pudar tapi masih tetap wangi sekali. Ku ambil dua amplop itu dan ku jejerkan di atas meja, ku pandangi keduanya, ingin kubuka dan kubaca lagi setiap katanya, tapi itu akan membuat aku merasakan perasaan aneh yang sudah lama aku coba untuk hilangkan. Aku hanya bisa memandangi dan tidak aku buka, dan aneh wanginya tetap keluar meski sudah di balut plastik, mahal mungkin parfumnya. tak mau lama, aku taruh lagi semuanya di laci, dan memutuskan istirahat.
Aku rebahkan tubuh ini yang sedari pagi tidak memiliki waktu untuk sekedar bersantai, ku pandangi langit-langit kamarku sebelum akhirnya aku terlelap.
Pagi harinya, aku ke gedung produksi mensurvei apa yang kurang Karan aku mau memasukkan Nisa sebagai karyawan, entah di bagian apapun agar setidaknya dia bisa berbaur dan belajar, aku panggil ila agar aku terbantu karena aku juga harus membuat surat untuk beberapa narasumber, dan mengirimkannya hari ini. Aku sibuk sekali hari ini belum lagi aku mencari catering untuk jamuan makan para tamu dan vendor.
" mbak lea... Gimana kalau Nisa di tempatkan di butik saja mbak? " ucap ila
" memangnya kurang yang di butik, bagian packing online sudah cukup?" tanyaku lagi
" sebenarnya tidak kurang si... Terkadang kita yang di butik sedikit kewalahan, kan sekarang saya banyak ikut meeting mbak, jadi saya jarang di butik" jelas ila
" o yasudah kalau gitu, nanti sampaikan ke Nisa mulai besok bisa masuk ke butik, aku minta tolong ya ila buat ajari dia beberapa hari, dan kamunpantau terlebih dahulu" ucapku sedikit tegas
" baik mbak "jawab ila
Jujur sebenarnya aku belum tau sama sekali dengan Nisa, aku belum ketemu karna aku sibuk sekali apalagi aku sudah tidak ada jam mengajar di pesantren lagi, jadi aku tidak tau yang mana yang namanya Nisa.