"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"
Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kasih Ibu Suri Kedua dan Tatapan "Pisau Dapur" Alistair
Assalamualaikum temen-temen
Maaf ya baru bisa up
karena author sibuk banget skripsian
Happy reading teman-teman 🥰
***
Di dalam paviliun, suasana terasa begitu damai dan harum aroma bunga lili. Permaisuri Isadora duduk di sisi ranjang Lia, menggenggam tangan menantunya itu dengan kelembutan yang tulus. Sosoknya, adalah definisi keanggunan yang nyata, sangat kontras dengan Selir Yasmin yang auranya selalu penuh intrik dan ambisi.
Lia teringat dalam plot novel yang pernah ia baca, Selir Yasmin adalah sosok yang sering mengancam Aurellia agar tetap menjadi "mata-mata" demi ambisi Yovan.
Berbeda seratus delapan puluh derajat, Permaisuri Isadora adalah sahabat karib mendiang ibu Alistair. Dialah yang, bersama Ibu Suri, menjadi pelindung dan pemberi kasih sayang bagi Alistair sejak kecil.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa, Nak. Jantungku rasanya mau copot saat mendengar kamu jatuh ke kolam," ucap Permaisuri dengan nada yang begitu menenangkan.
Lia tersenyum tulus.
Duh, kalau emak mertuanya modelan bidadari begini, gue sih betah lama-lama di novel ini. Nggak kayak emaknya si Pangeran Kodok yang kalau ngomong kayak lagi baca surat perjanjian utang-piutang, batin Lia santai.
"Terima kasih atas perhatiannya, Permaisuri. Aku hanya sedikit kaget saja, mungkin kolamnya kangen aku sapa," canda Lia, yang disambut tawa kecil nan anggun dari Permaisuri.
Namun, kehangatan itu seketika mendingin saat pintu kamar terbuka. Alistair melangkah masuk.
Jika tadi ia keluar dengan wajah merah padam karena malu, kini ia kembali dengan wajah yang lebih keras dari batu granit istana. Alistair berdiri di ujung ruangan, tidak mendekat, hanya menatap Lia dengan sorot mata yang tajam dan menyelidik, seolah ia sedang mencoba membedah setiap lapisan pikiran Lia.
Lia yang tadinya mau menyapa dengan centil, mendadak kaku.
Lho, lho... ini pangeran kenapa lagi? Bukannya tadi pas adegan 'salah pegang' dia yang malu-malu kucing garong? Kenapa sekarang matanya kayak mau nguliti gue hidup-hidup? Gue salah apa lagi? Apa karena gue panggil dia 'Ali' tadi?!
"Alistair, kenapa kamu berdiri di sana seperti patung penjaga?" tegur Permaisuri yang menyadari perubahan atmosfer.
Alistair tidak langsung menjawab. Ia menatap tangan Lia yang masih digenggam oleh Permaisuri, lalu beralih ke wajah Lia yang tampak bingung namun tetap terlihat ugal-ugalan.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa Putri Aurellia benar-benar sudah 'pulih' secara total," ucap Alistair dengan penekanan pada kata pulih yang terdengar sangat dingin di telinga Lia.
Lia menelan ludah.
Waduh, bau-baunya gawat nih. Perasaan gue nggak enak. Ini kayak lagi ditatap sama dosen pembimbing yang tahu kalau skripsi gue hasil copy-paste dari internet!
"Aku... aku sudah baikan kok, Ali maksudku, Pangeran!"
Lia buru-buru meralat panggilannya saat melihat dahi Alistair semakin berkerut.
Alistair hanya mengangguk singkat, namun sorot matanya tidak lepas dari Lia. Bisikan Rayyan tentang hilangnya gadis-gadis di perbatasan dan keterlibatan energi medis keturunan Tabib Agung terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ia menatap Lia dengan rasa sangsi.
Apakah wanita di depannya ini adalah malaikat yang baru saja tobat, ataukah dia aktor paling hebat yang sedang memainkan peran untuk menghancurkan kerajaan dari dalam?
"Permaisuri, biarkan Aurellia istirahat. Aku ingin berbicara berdua dengannya," ucap Alistair tanpa ekspresi.
Lia langsung merinding disko.
Waduh! Berdua doang?! Habis adegan romantis, adegan salah pegang, masa sekarang masuk ke adegan interogasi FBI? Emas-emas gue, tolong lindungi majikanmu yang cantik ini!
Permaisuri mengangguk, memberikan elusan terakhir di kepala Lia sebelum beranjak keluar. Begitu pintu tertutup rapat, Alistair melangkah perlahan mendekati ranjang, menciptakan bayangan besar yang mengurung posisi Lia.
"Aurellia," panggil Alistair rendah.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, dan aku ingin jawaban yang tidak melibatkan komedi konyolmu itu."
Lia memeluk bantalnya erat-erat.
Oke fix, nyawa gue di ujung tanduk!