Violet Evania, ia merupakan seorang gadis yang mempunyai pandangan berbeda tentang pernikahan. Baginya, menikah berarti neraka.
Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian. Karena semua itu, di pelajari, dari pernikahann orang tuanya. Sang ayah yang ringan tangan, dan mulut setajam silet, mampu merubah pandangannya.
Disisi lain, Ryhs Sinclair, seorang CEO di perusahaan Developer Perumahan ternama, ia malah beranggapan jika menikah artinya mengikat. Sedangkan ia butuh kebebasan seperti burung-burung yang berterbangan liar di langit sana.
Bagaimana jika dua orang dengan tujuan yang sama, malah disatukan dalam ikatan pernikahan?
Yuk, ikuti kisahnya di novel ini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengobati Demam
Dan disini lah, Rsyh. Di kamar mandi sambil mencuci pakaian dalam milik Violet.
Walaupun ada bibi yang khusus mencuci pakaian. Alan tetapi, Violet selalu memisahkan pakaian dalamnya. Dia gak nyaman, kalau ada orang lain yang menyentuh barang pribadi miliknya.
Dan Rysh, terlihat menikmati dengan pekerjaannya.
"Kamu terlihat seksi, kalo memakai yang ini," Rysh mengangkat salah satu bra renda berwarna merah.
Muka Violet memerah. Padahal, dia ingin mengerjai Rysh. Berharap lelaki itu risih. Tapi, yang terjadi malah— sebaliknya.
"Apalagi, cd yang kurang bahan ini," tambah Rysh semakin membuat muka Violet panas.
"Udah Rysh, biarin aja aku yang lanjutkan," larang Violet, karena mulai gak nyaman.
"Gak apa, kapan lagi kan— aku bisa menghayal dengan ini," Rysh menaik turunkan alisnya.
🍇🍇🍇
Di tempat lain, Carina menatap jengah ke perusahaan Rysh. Ini udah kesekian kalinya dia mencoba kesana.
Namun, baru saja dia masuk ke lobby,satpam akan mengusirnya.
Dan yang membuatnya semakin jengkel, itu semua merupakan perintah langsung dari Rysh.
Dan lagi-lagi kenyataan membuat Carina jengkel. Rysh lebih rela kehilangan kerja sama dengan perusahaannya, jika masih mengutus Carina sebagai utusan.
Padahal, mati-matian Carina merayu dan membujuk papanya, agar bisa bekerja di perusahaan om pihak mamanya. Namun, kini semua tidak lah, berarti apa-apa lagi.
"Apapun caranya, aku harus mendapatkan mu kembali Rysh. Tidak sebagai istri, tapi sebagai pasangan," gumam Carina.
Carina masih saja menunggu sampai jam makan siang. Namun, orang-orang yang di nantikan tak kunjung datang. Alhasil dia memilih pergi, menduga, jika Rysh ada jadwal di luar.
Carina yang merasa lapar, memilih untuk makan di salah satu cafe terdekat untuk mengganjal perutnya.
Begitu masuk, dia menatap sekeliling ruangan, mencari tempat yang bisa di duduki dengan tenang.
Namun, matanya menangkap seseorang. Seseorang yang mungkin bisa membantunya untuk mengubah rencana yang sudah tersusun.
"Hai …" Carina menyapa, sembari mengulurkan tangannya.
Lelaki yang memakai kemeja hitam itu, menatap Carina sembari mengernyit bingung. Akan tetapi, dia tetap menyambut uluran tangan tersebut.
"Kamu?" tanya Zafran.
"Oo, aku Carina … beberapa bulan lalu, aku pernah melihatmu makan bersama Violet, si wanita menyebalkan itu," ujar Carina, sembari menarik kursi di depan Zafran.
"Lancang sekali mulutmu," Zafran menatap nyalang ke arah Carina.
Kini, giliran Carina tersenyum. Dia menangkap jika Zafran menyukai Violet. Maka dari itu, dia gak terima jika wanitanya di rendahkan.
"Ayo kita kerja sama, kamu bisa mendapatkan Violet, dan aku bisa bersama lelaki ku," ajak Carina, menatap Zafran dengan senyuman manisnya.
"Kamu salah orang jalang," balas Zafran membalas tatapan Carina. Tajam. "Violet itu, sahabat ku, penolongku … dan akan— ku pastikan kamu gak bisa mendekatinya, apalagi melukainya,"tambah Zafran.
"Bukannya kamu menyukainya?" tebak Carina.
"Kalo pun, aku menyukainya. Maka aku lebih bahagia, jika ia bersama orang yang di cintainya, dan mencintainya. Bukan egois seperti mu," cibir Zafran menghina.
"Kamu?" Carina menunjuk ke arah Zafran.
"Apa? Aku lebih mulia dari pada kamu kan," kekeh Zafran.
"Dasar lelaki gila," umpat Carina, langsung berdiri dan meninggalkan kafe.
"Gila-gila gini, pasti banyak yang suka. Apalagi ganteng," balas Zafran, walaupun Carina tak bisa mendengarnya lagi.
"Aku harus melindungi Violet," gumamnya lagi, dengan penuh tekad.
🍇🍇🍇
Sepanjang hari ini, pasangan itu masih betah di kamar. Rysh beralasan jika Violet harus istirahat ekstra, agar bisa segera sembuh.
"Kayaknya, aku gak demam lagi deh," cetus Violet, yang kini berada dalam pelukan Rysh.
"Makanya jangan bergerak … aku akan menyerap semua demam mu, dengan cara memeluk tubuhmu,"
"Aku bukan bayi Rysh," Violet mencoba melepaskan pelukan Rysh di tubuhnya.
Rysh menatap Violet. Sedetik kemudian, senyum menyebalkan itu, terlihat lagi.
"Kamu benar … bayi lebih mudah menyerap suhu tubuhnya, ketika badan bertemu badan, tanpa ada penghalang. Jadi, cepat buka bajumu," perintah Rysh, dengan senyum penuh tipu muslihat.
"Eh, kenapa jadi begini?" tanya Violet, ketika Rysh membuka paksa bajunya.
Bukan paksa, tapi lebih ke merobeknya.
"Kau kejam sekali Rysh," bentak Violet, melihat piayamanya yang sudah robek di mana-mana.
"Bukan aku yang kejam. Tapi, bahan bajumu saja yang murahan," cibir Rysh.
Kalau Rysh dan Violet masih di kamar. Lain halnya di luar kamar.
Ghea yang baru kembali dari luar kota, langsung bertandang ke rumah sahabatnya. Karena suaminya pun, menuju ke kantor di karenakan ada beberapa masalah yang harus di selesaikan. Mengingat, Rysh pun, lagi mengurus istrinya di rumah.
"Jadi, seharian ini mereka di kamar saja?" tanya Ghea berbisik.
"Iya… bahkan makan saja, Rysh mengambilnya sendiri, membawanya ke kamar," Dania ikut berbisik. Padahal udah jelas, Rysh maupun Violet tak bisa mendengarkannya.
Sekarang obrolan mereka beralih. Ghea mulai menjelaskan tentang pembangunan tempat catering yang sudah berjalan hampir 80%.
Bukan hanya catering. Karena nyatanya, Dania juga berencana membuka rumah makan. Itupun atas desakan dan rayuan Ghea.
"Nanti, aku mau rumah makan itu, di penuhi bunga-bunga ya," pinta Ghea, dengan mata yang mengerjap.
"Terserah kamu Ghea. Bukankah, semua pembangunannya aku serahkan sama kamu?" kekeh Dania, heran.
"Tapi, kan kamu yang terus-menerus ada sana. Jadi, aku harus memastikan yang punya nyaman dulu," balas Ghea, tak mau kalah.
"Semua uangnya dari kamu Ghea. Apa kamu lupa? Aku ini hanya seorang pekerja,"
Ghea langsung mengangkat tangannya, guna— membelai bahu sahabatnya.
"Kita patner," ralat Ghea menunjukkan deretan giginya.
🍇🍇🍇
Zafran mengutak-atik ponselnya. Dia menghubungi beberapa temannya, guna menanyakan nomor Violet.
Namun, hampir seluruh siswa kelasnya di hubungi. Tak satupun mempunyai nomor Violet. Bahkan ada beberapa dari mereka yang melupakan makhluk bernama Violet.
Selain tak pernah datang saat reuni, nomor Violet juga gak ada di grup angkatan mereka.
"Oo Tuhan … aku harus mencarinya kemana? Aku takut, wanita gila itu menyakitinya," gumam Zafran, menggigit bibirnya.
Walaupun kini, Zafran sudah sepenuhnya jadi lelaki. Namun, bawaannya yang terbiasa jadi perempuan masih terbawa.
"Tunggu … bukankah, suaminya ceo? Tapi, ceo dari perusahaan mana ya?" kembali Zafran mencoba menggali memorinya.
Namun, hasilnya tetap buntu. Dia sedikit menyesali, karena tidak meminta nomor Violet ketika ketemu beberapa bulan yang lalu.
Jika Zafran mengkhawatirkan Violet. Si empunya badan malah sedang mengobati demam, yang bahkan suhu tubuhnya saja sudah normal sejak tadi.
Rysh beralasan, selain kulit bertemu kulit, ada cara lain yang lebih ampuh, selain obat, tentunya.
Dan cara tersebut ialah, seperti yang kalian bayangkan.
"Aku capek Rysh," keluh Violet, dengan keringat yang bercucuran.
"Bukankah, aku yang bekerja? Sejak pertama mulai, sampai selesai. Kayaknya, aku sendiri yang menggoyangkannya," tutur Rysh, tanpa sensor sedikitpun.