NovelToon NovelToon
Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
​Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
​Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
​Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
​Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Ibu Suri, Bebek Bambu, dan Rahasia "Air Mata Dewa"

​[Halaman Depan Kediaman Jenderal - Siang Hari]

​Suasana tegang menyelimuti kediaman. Para pelayan berbaris rapi, menunduk dalam-dalam. Bahkan debu pun sepertinya takut untuk terbang.

Sebuah tandu emas megah berhenti. Tirai sutra dibuka.

​Turunlah wanita tua itu. Ibu Suri Gayatri.

Rambutnya putih digelung rapi dengan tusuk konde emas. Wajahnya penuh kerutan tegas yang memancarkan aura otoritas absolut. Dia memakai kain batik motif Parang Rusak (motif khusus bangsawan tinggi) yang harganya bisa buat beli satu kecamatan.

​Di sebelahnya, turunlah Diah Pitaloka. Dia tersenyum manis sambil memegang lengan Ibu Suri, berbisik-bisik akrab layaknya keponakan kesayangan.

​Arga maju, berlutut hormat. "Selamat datang, Bibi Ibu Suri."

​Aku (dengan perut yang mulai membuncit sedikit) ikut membungkuk, berusaha sopan. "Selamat datang, Yang Mulia Ibu Suri."

​Ibu Suri menatap Arga dengan hangat, lalu tatapannya beralih padaku. Matanya memicing, memindai dari ujung kaki ke ujung kepala.

"Jadi ini istri penggantimu? Yang katanya jago masak itu ?" ujar ibu suri dengan tatapan mengejek

​"Dia istri sah saya, Bibi. Dan dia sedang mengandung cicit Bibi," bela Arga sopan namun tegas.

​Ibu Suri mendengus. "Hamil itu mudah. Kucing pun bisa hamil. Yang sulit adalah menjadi Istri Jenderal yang bermartabat."

​Beliau berjalan masuk tanpa menoleh lagi padaku. "Siapkan kamarku. Dan buang bau aneh ini. Bau apa ini? Seperti gula gosong?"

​"Itu aroma Kopi Gula Aren, Bibi. Bisnis Tantri," jawab Arga.

​"Minuman rakyat jelata," komentar Ibu Suri pedas. "Di istana, kita minum teh melati. Diah, buatkan aku teh."

​"Baik, Bibi," Diah tersenyum penuh kemenangan padaku, lalu melenggang masuk.

​Aku mengelus dada. Sabar, Kirana. Sabar. Orang tua. Hormati orang tua. Jangan dikasih sianida.

​[Ruang Makan - Malam Hari]

​Makan malam terasa seperti upacara pemakaman. Hening dan mencekam.

Ibu Suri hanya mencuil sedikit makanan yang kusiapkan (Padahal itu Ayam Goreng Lengkuas paling enak sedunia).

​"Hambar," komentar Ibu Suri. "Ayamnya kurang meresap. Bumbunya kasar."

​Arga mau protes, tapi aku menahan tangannya di bawah meja.

​"Arga," kata Ibu Suri tiba-tiba. "Besok adalah upacara syukuran 4 bulan kehamilan istrimu. Sesuai tradisi leluhur, sajian utamanya haruslah Bebek Timbung Kencana."

​Arga tersedak air minumnya.

"Bebek Timbung Kencana? Bibi, resep itu sudah hilang 50 tahun yang lalu sejak Nenek meninggal. Tidak ada koki istana yang bisa membuatnya."

​"Bebek Timbung Kencana," lanjut Ibu Suri tanpa peduli, "Adalah simbol keselamatan janin. Bebek dimasak dalam bambu gading, dengan rempah rahasia. Rasanya harus amrik (wangi meresap sampai tulang) dan dagingnya lepas tanpa digigit."

​Ibu Suri menatapku tajam.

"Kalau kau memang pantas menjadi ibu dari pewaris Jenderal, kau harus bisa menyajikannya besok siang. Jika tidak... aku akan menyarankan Raja untuk mencari selir yang lebih... berbudaya untuk mendampingimu mengurus anak."

​Aku terdiam. Masak bebek dalam bambu? Oke, itu teknik slow cooking. Tapi bumbunya? Rempahnya? Aku buta sama sekali.

​"Jangan khawatir, Bibi," tiba-tiba Diah Pitaloka bersuara. "Kebetulan sekali, saat aku belajar di perpustakaan luar negeri, aku menemukan salinan naskah kuno resep Nenek Buyut. Di sana tertulis resep Bebek Timbung Kencana."

​Mata Ibu Suri berbinar. "Benarkah, Diah? Ah, kau memang cerdas dan berdedikasi."

​Diah menoleh padaku dengan tatapan menantang.

"Tapi, supaya adil... bagaimana kalau kita berlomba, Tantri? Aku akan masak pakai resepku. Kau masak pakai... insting koki mu itu. Biar Bibi yang menilai mana yang asli."

​Ini jebakan. Diah punya kunci jawaban (resep), aku disuruh ngerjain soal buta.

Tapi kalau aku nolak, aku dianggap kalah sebelum perang.

​"Baik," jawabku mantap. "Tantangan diterima. Siapkan bebeknya."

​[Dapur Utama - Pagi Hari H]

​Dapur dibagi dua. Kubu Diah dan Kubu Tantri.

Diah tampak percaya diri. Dia membuka gulungan naskah kuno yang kertasnya sudah menguning. Dia menimbang bumbu dengan timbangan emas. Presisi sekali.

​Aku mengintip sedikit.

Bumbunya standar Base Genep (Bumbu lengkap Bali/Jawa Kuno): Lengkuas, kunyit, jahe, kencur, bawang, cabai, ketumbar, merica, pala.

Dimasukkan ke dalam bambu, lalu dibakar di atas bara api.

​Tapi ada satu baris di resep Diah yang membuat dia bingung. Aku mendengarnya bergumam.

"Tambahkan secawan 'Air Mata Dewa' agar daging menjadi lembut selembut sutra."

​"Air Mata Dewa?" gumam Diah. "Itu pasti metafora puitis untuk Embun Pagi yang murni."

​Diah segera menyuruh pelayannya mengumpulkan embun dari daun talas di taman.

​Aku tersenyum tipis.

Air Mata Dewa?

Sebagai Chef yang mempelajari sejarah kuliner, aku tahu istilah-istilah puitis resep kuno seringkali misleading.

Embun? Embun itu cuma air biasa (H2O). Nggak ada efek kimiawi ke daging bebek yang alot.

​Bebek itu daging yang keras dan amis. Butuh acid (asam) atau enzyme untuk melunakkannya.

Apa cairan alami zaman dulu yang dianggap "Suci/Dewa" tapi bisa melunakkan daging?

​Nanas? (Terlalu asam, merusak rasa).

​Air Kelapa? (Mungkin).

​Tuak Manis / Nira (Air sadapan bunga kelapa/aren sebelum jadi alkohol).

​Di zaman kuno, Nira sering dipakai dalam ritual dan sesajen untuk Dewa. Rasanya manis, mengandung ragi alami dan asam amino yang bisa memecah serat daging (tenderizer), sekaligus memberi aroma karamel yang wangi saat dipanggang.

​Itu kuncinya! Nira Aren Fermentasi.

​"Sari!" bisikku. "Lari ke penderes (penyadap) aren di belakang kebun. Minta satu bumbung air Nira yang baru disadap pagi ini. Yang masih manis, belum jadi arak!"

​"Siap, Nyonya!"

​Aku mulai meracik.

Aku tidak menimbang bumbu. Aku pakai perasaan (feeling).

Bebek kupijat-pijat dulu supaya rileks (serius, ini ngaruh).

Lalu bumbu halus yang sudah kutumis, kucampur dengan daging bebek.

​Dan bahan rahasianya: Satu cangkir Nira Aren.

Aku memasukkannya ke dalam potongan bambu muda, menutupnya dengan daun pisang, lalu membakarnya di atas bara api kecil.

​Aromanya...

Wangi bumbu yang bertemu manisnya nira mulai menguar. Wangi karamel gurih.

​Di sebelah sana, Diah memasukkan air embun. Baunya... ya bau bumbu rebus biasa.

​[Ruang Perjamuan - Siang Hari]

​Ibu Suri duduk di kursi utama. Di hadapannya ada dua piring sajian Bebek Timbung yang masih mengepul di dalam bambu.

​Piring 1 (Diah Pitaloka):

Bebeknya terlihat cantik, kuning bersih. Kuahnya bening (karena pakai air embun).

Ibu Suri mencicipi.

Dia mengunyah. Mengunyah lagi. Dan mengunyah lagi.

Wajahnya sedikit berkerut.

​"Rasanya enak, Diah. Bumbunya pas sesuai resep," komentar Ibu Suri. "Tapi... dagingnya masih agak melawan saat digigit. Dan ada sedikit bau amis bebek yang tertinggal."

​Diah pucat. "Itu... mungkin bebeknya terlalu tua, Bibi."

​Piring 2 (Tantri/Kirana):

Tampilannya lebih gelap, kecoklatan (efek karamelisasi nira). Kuahnya kental berminyak.

Ibu Suri mencicipi.

Saat daging itu masuk mulut, dia tidak perlu mengunyah keras.

Dagingnya lumer. Lepas dari tulang dengan sekali sentuh lidah.

Rasanya kompleks: Gurih, pedas rempah, dan ada hint manis-asam yang misterius yang menetralisir semua bau amis.

​Mata Ibu Suri melebar.

Dia terdiam lama. Ingatannya melayang ke masa kecilnya, 50 tahun lalu, saat Neneknya memasak menu yang sama.

Rasanya persis. Rasa nostalgia yang mengharukan.

​"Ini..." suara Ibu Suri bergetar. "Ini rasa yang kuingat."

​Ibu Suri menatapku. Tatapan tajamnya melembut, tergantikan rasa takjub.

"Apa yang kau masukkan, Tantri? Diah memakai resep asli tapi gagal. Kau pakai apa?"

​"Air Mata Dewa, Yang Mulia," jawabku tenang. "Tapi bukan embun. Melainkan Nira, air mata dari pohon kehidupan yang memberikan rasa manis pada bumi. Nira melunakkan daging dan menyatukan semua rasa."

​"Filosofinya: Seorang istri harus seperti Nira. Manis, lembut, tapi mampu melunakkan hati suami yang sekeras batu."

​Arga tersenyum lebar mendengar filosofi ngarang-ngarangku itu. Pintar ngeles kamu, Sayang.

​Ibu Suri meletakkan sendoknya. Dia menghela napas panjang.

"Diah, masakanmu enak. Tapi masakan Tantri... punya Jiwa."

​"Diah, kau kalah."

​Diah Pitaloka menunduk dalam, tangannya mengepal di bawah meja. Kalah lagi. Dipecundangi lagi oleh koki pasar.

​Ibu Suri berdiri, menghampiriku. Dia melepas salah satu gelang giok dari tangannya.

"Pakai ini. Ini gelang turun temurun untuk menantu yang disetujui."

​Dia memakaikan gelang itu di tanganku.

"Jaga kandunganmu. Jaga cucuku. Dan... besok ajarkan koki istana cara masak bebek ini. Aku mau nambah."

​Aku tersenyum tulus. "Terima kasih, Ibu Suri."

​Arga mengedipkan mata padaku. Level Boss Cleared.

​[Malam Hari - Teras Belakang]

​Aku dan Arga duduk santai menikmati angin malam. Gelang giok melingkar manis di tanganku.

​"Kau hebat," puji Arga. "Menaklukkan Ibu Suri itu lebih susah daripada menaklukkan benteng musuh."

​"Kuncinya cuma perut, Jenderal. Semua orang butuh makan enak."

​Tiba-tiba, Wira datang dengan wajah serius. Dia membawa gulungan surat kecil yang diikat pita hitam.

​"Jenderal. Laporan dari mata-mata di Kediaman Sengkuni."

​Arga membuka surat itu. Membacanya di bawah sinar bulan.

Wajahnya yang tadi santai, perlahan mengeras. Rahangnya mengetat.

​"Ada apa?" tanyaku waswas.

​"Sengkuni sudah gila," desis Arga.

​"Kenapa?"

​"Dia tahu dia kalah di bisnis. Dia tahu dia kalah di pengaruh istana. Sekarang dia menyewa Kelompok Pembunuh Bayaran 'Cakar Malam'."

​"Targetnya siapa? Kamu?"

​Arga menggeleng. Dia menatapku dengan sorot mata ketakutan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

​"Targetnya bukan aku."

"Targetnya adalah kau... saat aku pergi inspeksi pasukan lusa nanti."

​"Dan mereka tidak disuruh membunuhmu dengan cepat."

"Mereka disuruh... menculikmu."

​Aku merinding. Penculikan?

Sengkuni ingin menjadikanku sandera untuk mengendalikan Arga.

​Arga meremas surat itu hingga hancur.

"Aku tidak akan pergi inspeksi. Aku akan diam di sini menjagamu 24 jam."

​"Tidak bisa, Arga," potongku. "Kalau kau batal pergi, Sengkuni akan tahu kita sudah tahu rencananya. Dia akan tiarap dan menunggu kesempatan lain. Kita tidak akan pernah aman."

​Aku menatap Arga tajam. Otak strategiku (yang terasah dari film action) mulai bekerja.

​"Pergilah inspeksi, Jenderal. Pura-puralah pergi."

"Kita jadikan ini Jebakan."

"Biarkan mereka datang menculikku. Tapi pastikan, yang mereka culik bukanlah 'domba yang lemah', melainkan 'serigala berbulu domba'."

​"Maksudmu?"

​"Kita mainkan Skenario 'Home Alone'. Kita ubah rumah ini menjadi benteng penuh jebakan."

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
Nunung Elasari
recommended, ceritanya bagus.......
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ada kelegaan yang menyumbat rongga dada,
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta Arga membawa nya ke masa depan
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
tdk bisa kah takdir di rubah kembali
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
seluruh istana pasti berduka atas hilangnya Tantri yang istimewa
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
waduhh , kisah masa lalu bisa kacau kembali ini
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
huhuhu.. /Sob/ bagaimana kelanjutannya ini thor? semoga happy ending..
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
taktik gerilyaa apalagi tantri
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia2, ....
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
udah ngaku aja daripada disuruh makan ceker mercon yg isinya potongan jari2 sendiri 🙈🙀
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tambahin irisan kol dan daun bawang 😆😆
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
gak main main, 5 liter minyak jelantah 🤣🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
kAlau kirana bangun ,tantri kembali kesetelan awal donk🤣,kecuali tersisa memori dan sedikit keahlian kirana agar tantri hidupnya tak sengsara dengan kehilangan keahliannya.
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
refresh tenaga dlu ya tantrii
musuh baru akan segera datang
🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Bebek timbung = bebek betutu, hhmmm yummy....
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
yoo jadikan si cakar ayam bulan2an, yg kepleset minyak, kesiram air, kena tepung, kejepit pintu 🥳🥳🥳
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: panjangin listnya /Determined//Determined//Scream//Scream//Scream/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
eeh kirain namanya Pembunuh Bayaran Cakar Ayam 🤣🤣
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta lama sulit terganti kan ya Diah
sampai segala cara di pake buat merebut arga
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mantan jenderal kembali
seperti apa kisah cinta mu jenderal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
🤣🤣🤣 tidur dulu biar bangun udah fresh, siap atur strategi hadapi ibu suri 🥳
Ai Emy Ningrum: turing#turumiring😴😴😴😴😴💤💤💤💤💤
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!