Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana tidak menyenangkan
Gilang berdiri kaku diteras. HP Nisa masih berada ditangannya. Layarnya menyala. Menampilkan video resep kue pelangi. Matanya bulat melihat Bagas yang berdiri disamping mobil. Bawa kantong plastik yang berisi mainan.
" Papa?" Suaranya kecil, antara kaget dan takut salah orang.
Bagas langsung menghampiri Gilang. Bagas jongkok didepan Gilang. Biar tingginya sama sejajar. Tenggorokannya terasa kering. " Gilang..Papa kangen."
Detik itu juga Gilang ikut memeluk Bagas. Dia merasa ini nyata." Papa.."
Tubuh kecil itu masuk kedalam pelukan Bagas. Cepat. Tanpa aba aba. Kantong plastik yang dipegang Bagas jatuh. Bola yang ada didalamnya mengelinding sampai ke kaki Nisa.
Bagas memeluk anaknya erat. Hidungnya mencium bau sampo yang dulu sering dipakai anak anak. Dadanya sesak. " Maafkan papa, Ya. Papa sudah lama tidak menemui kamu."
Gilang mengangguk dibahu Bagas. Suaranya terendam. " Gilang kira..Papa sudah lupa sama Gilang."
"Tidak. Tidak sedetikpun Papa lupa sana Gilang." Bagas mengusap rambut Gilang. Matanya terasa panas.
Pintu rumah terbuka lagi. Kali ini Galang keluar bawa buku gambar. Dia melihat pemandangan di teras. Seketika Galang langsung berhenti. Wajahnya datar. Tapi tangannya mengepal buku.
Bagas melepaskan pelukkan Gilang dan menatap anak sulungnya. " Galang.."
Galang sama sekali tidak menjawab. Dia berjalan kebelakang Nisa. Matanya mengawasi Bagas. Seperti mengawasi orang asing.
Nisa paham. Dia mengelus pundak Galang. " Gas, masuk dulu. Jangan didepan diluar."
Bagas mengangguk, mengambil bola dan dinosaurus yang jatuh.
Didalam Raya ,sedang menyetrika baju kerja, buat besok, Suara pintu berbunyi. Raya menengok. Dia pikir anak anaknya sudah masuk kedalam.
" Kenapa lama sekali..?" Ucapan Raya terhenti saat melihat Bagas yang kini sudah berada di ruang tamu.
Hening. Hanya suara strika yang masih berbunyi.
Bagas berdiri diruang tamu dengan Gilang yang masih menempel dipinggannya. Galang diam dibelakang Nisa. Bu Sri datang dari dapur dan juga kaget saat melihat Bagas.
" Siapa yang menyuruh kamu datang kesini?" Pertanyaan tajam Raya.
Bu Sri melihat Raya. Begitu juga dengan Nisa yang merasa tidak enak. Karena dia yang sudah menyuruh Bagas masuk kedalam. Nisa pikir tidak ada salahnya kalau Bagas ingin bertemu dengan anak anaknya. Toh sudah lama juga anak anak tidak bertemu dengan Bagas.
" Maaf Raya. Mbak yang menyuruh Bagas masuk kedalam..karena." Belum sempat Nisa melanjutkan ucapanya. Raya sudah lebih dulu motong.
" Kenapa mbak kasih masuk? mbak tahu sendirikan aku benci sama dia?" Raya menunjuk wajah Bagas. Nisa merasa bersalah. Sepertinya Raya juga marah kepadanya sekarang.
" Mbak cuman ingin melihat Gilang bahagia Raya. Hampir setiap hari Gilang bertanya tentang papanya. kamu tidak tahu karena kamu kerja. Kalau Mbak salah mbak minta maaf." Nisa segera pergi ke kamarnya.
" Mbak..Maafkan aku mbak.." Raya merasa bersalah karena membentak Nisa.
" Bagas. Lebih baik kamu pulang dulu. Kehadiran kamu disini hanya membuat suasana jadi tegang." Tegas Ibu.
"Aku tahu, Bu. Tapi tolong biarkan aku bicara dengan anak anak. Lima menit saja. Aku merindukan mereka." Bagas mengiba .
" Mama, papa bawa dinosaurus. Boleh ya Gilang main sama papa?" Gilang ikut bersuara.
Raya melihat anak bungsunya itu. Matanya penuh harap. Sama persis dengan mata Bagas yang melamarnya sepuluh tahun silam.
Galang akhirnya buka suara.Datar." Kalau kamu mau main sama papa, main diluar saja. Jangan didalam nanti Mama sedih."
Deg, Bagas seperti ditampar dengan kata kata Galang. " Apa Galang tidak mau ikut main sama papa?" Bagas bicara dengan suara bergelar menyembunyikan rasa kecewa dihatinya.
" Aku mau tidur.." Galang segera berlari ke kamar.
" Galang, tidak boleh seperti itu sama papa.." Bu Sri menyusul Galang ke kamar.
Biar bagaimanapun Galang adalah seorang anak dan seorang anak wajib hormat kepada orangtuanya, Sekalipun orangtuanya manusia paling jahat didunia.
"Lebih baik kamu pulang saja, Bagas." Raya kesal.
Nisa sudah berada dikamar, Raka melihat Nisa yang tiba tiba masuk dengan wajah yang disembunyikan.
" Ada apa sayang? " Raka bertanya sambil mencoba melihat wajah Nisa.
Raka baru saja selesai menelpon klien lainnya. Mendapati Nisa yang masuk kedalam kamar dengan wajah seperti itu. Membuat Raka penasaran.
" Bukan apa apa, Aku hanya mengantuk." Nisa langsung naik ketempat tidur. mengambil selimut dan menutup seluruh tubuhnya.
Hal yang selalu dilakukan Nisa ketika kesal atau marah padanya. Diam diam Nisa akan menangis sendiri. Mereka sudah menikah dua puluh tahun .Jadi Raka sudah hafal dengan kebiasaan istrinya.
" Sayang..Apa aku salah? kalau aku salah , aku minta maaf!" Bujuk Raka.
Nisa membuka selimut pelan. hanya menampakkan wajahnya. Matanya merah. Sepertinya habis menangis. " Kamu tidak salah sayang.Hanya aku saja yang terbawa perasaan. "
Raka menaikkan alisnya. Dia tidak mengerti dengan ucapan Nisa barusan. " Terbawa perasan kenapa?" Raka mengelus kepala Nisa . Lembut.
" Bagas datang. Dia sekarang ada diruang tamu, kamu temui dia dulu, Mas. Nanti aku cerita."
"Bagas?"
Nisa mengangguk, Sekarang Nisa tidak ingin bercerita kepada Raka tentang ucapan Raya barusan. Dia sedikit tersinggung.
"Baiklah, kalau begitu, Mas keluar dulu ya. kamu jangan sedih ya. Nanti kita cerita." Raka mencium kening Nisa lembut. Sebelum dia keluar dari kamar.
Raka muncul dari kamar, Melihat Bagas. Dia tidak bicara.Hanya berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.
Bagas salah tingkah. Disatu sisi Raya sudah mengusirnya dan disisi lain, Gilang ingin bermain dengannya.
Bu Sri baru keluar dari kamar, Matanya berat. Hening tiga detik. Hanya ada suara jam dinding yang memecah kesunyian.
Raka akhirnya bicara. tenang tapi dalam. " Gas.."
Bagas langsung melihat Raka." Mas, Saya ..hanya.."
" Duduk dulu." Raka menunjuk kursi tamu.Bukan mengusir dan bukan juga membuat betah." Kamu datang kesini mau bertemu dengan anak anak?"
Bagas menurut, duduk diujung kursi. Gilang ikut duduk disebelahnya. Tapi tangannya tidak lepas dari lengan baju Bagas. Takut papanya pergi lagi.
Raka menatap Raya. Sekalian melihat strika yang masih menyala." Raya, matikan dulu strikanya, Ibu tolong ambilkan minum untuk Bagas, ya!"
Bu Sri mengangguk. ke dapur. Suasana kaku. Tapi tidak meledak karena ada Raka.
Raya mematikan strikaannya. Raka melihat kearah Gilang yang masih duduk di sebelah Bagas. " Gilang senang ya, papa datang?"
Gilang angguk kencang." Iya, Pak De. Gilang sangat senang, Papa juga bawa dinosaurus untuk Gilang dan bola untuk abang. Tapi Abang Galang malah marah."
Raka tersenyum mendengar jawaban Gilang yang memang merindukan Bagas. Tapi bagaimanapun dengan Galang?
" Bagus." Raka memuji Gilang. Terus menatap Bagas. Matanya tidak marah. Tapi tegas." Kamu memang sudah membuat Gilang bahagia, sekaligus membuat ribut dan suasana rumah ini menjadi tegang."
Bagas hanya bisa terdiam mendengar ucapan Raka. Semua yang dikatakannya benar. kehadirannya hanya membuat keributan.
TAK APA JIKA KAMU MENGHARAPKAN PADA YANG LAIN.. BUNUH SEMUA MUSUHMU BUNUH SEMUA ORANG YANG MEMBUNUH IBU MU
MATA DI BALAS MATA.. HIDUNG DIBALAS HIDUNG .. KEJAHATAN DIBALAS KEJAHATAN