NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Di bawah atap kantin

Kantin siang itu cukup ramai. Suara percakapan mahasiswa bercampur dengan dentingan sendok dan piring, menciptakan riuh yang terasa hidup. Di salah satu sudut, Anindia dan Keanu duduk berhadapan. Dua gelas minuman dingin, serta makanan ringan telah tersedia di atas meja mereka.

Anindia terlihat jauh lebih banyak berbicara daripada sebelumnya. Matanya berbinar, tangannya sesekali bergerak mengikuti arah ceritanya.

"Terus ya, Mas... Dosennya tuh bener-bener gak ada ampun," ujar Anindia antusias. "Padahal udah jelas kita baru pertama kali bahas materi itu, tapi langsung disuruh jelasin ke depan. Tanpa persiapan lagi."

"Dan yang bikin tambah panik, beliau tuh tipe yang kalau jawabannya kurang dikit aja, langsung dipotong." Lanjutnya. "Kayak... Aduh, belum selesai mikir udah disuruh lanjut."

Keanu duduk santai di hadapannya, satu tangannya bertumpu di meja. Ia mengangguk pelan beberapa kali, benar-benar mendengarkan di awal.

"Hmm," respon Keanu singkat, matanya masih mengikuti setiap perubahan ekspresi Anindia.

Anindia terus bercerita, kini terlihat lebih santai. Bahkan, ia sempat tertawa kecil ketika mengingat momen di kelas tadi.

"Tapi lucu sih, Mas," ujar Anindia. "Ada temen aku yang sampai salah jawab karena grogi. Bukannya jelasin materi, malah ngomong hal lain," lanjutnya sambil terkekeh.

Keanu awalnya masih fokus pada cerita itu. Namun perlahan, perhatiannya mulai bergeser. Bukan lagi pada isi cerita, melainkan pada cara Anindia bercerita.

Tanpa sadar, tatapan Keanu melembut. Ia hanya diam, tidak lagi memberi respon seperti sebelumnya. Kini, ia hanya memperhatikan Anindia. Dengan tatapan yang penuh, sesuatu yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.

Anindia menghela nafas kecil, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Materinya juga susah, Mas. Beneran bikin mikir keras," keluhnya. "Untung aja aku masih bisa ngikutin."

Anindia melirik ke arah Keanu, menunggu respon seperti biasanya. Namun, tidak ada jawaban. Keanu masih diam, tatapannya masih tertuju padanya.

Anindia mengernyit sedikit. Beberapa detik berlalu, tapi tetap tidak ada reaksi. "Mas?" Panggilnya sekali, mencoba memastikan.

Tetap tidak ada perubahan. Anindia menghela nafas kasar, lalu bersedekap dada. Bibirnya maju sedikit, tanda sedang kesal.

"Mas!" Tegurnya sedikit lebih keras. "Aku ngomong panjang lebar gak didengerin ya?"

Keanu sedikit tersentak, seolah baru kembali dari pikirannya sendiri. Kedua alisnya terangkat tipis, lalu ia berkedip sekali.

"Dengar," jawab Keanu santai, tanpa mengubah banyak ekspresi.

Anindia mendengus kesal, jelas belum puas dengan jawaban suaminya. "Kalau dengar, terus kenapa diem?" Omelnya, nada suaranya naik sedikit. "Dari tadi aku cerita panjang lebar, kamu cuma 'hmm' doang."

Anindia memalingkan wajahnya sejenak, masih dengan tangan bersedekap. "Kayak ngomong sendiri."

Keanu menatap Anindia beberapa saat. Kali ini tidak ada jeda, tidak ada pura-pura berpikir. "Habisnya..." Ujarnya, sengaja menggantung.

Anindia masih menunggu, meski tidak menoleh sepenuhnya. Keanu sedikit memiringkan kepalanya, matanya tetap tertuju pada wajah Anindia.

"Aku lagi sibuk liatin bidadari," lanjut Keanu santai. "Lagi cerita, terus ekspresinya berubah-ubah gitu... Cantik."

Detik itu juga, semua Omelan Anindia hilang begitu saja. Wajahnya memanas dalam sekejap. Tangannya yang tadi bersedekap perlahan turun. Ia langsung menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan senyum yang muncul tanpa izin.

"Ih..." Gumam Anindia pelan, setengah malu juga setengah tidak siap dengan jawaban barusan.

Keanu ikut tersenyum tipis melihat reaksi Anindia. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia sedikit mendekat. Sikunya bertumpu di meja, sementara telapak tangannya menopang dagu. Tatapannya tidak berpaling sedikitpun dari wajah Anindia.

Anindia yang awalnya berusaha untuk menenangkan diri, justru kembali salah tingkah. Ia menghela nafas kecil, berusaha terlihat biasa saja meski pipinya masih terasa hangat.

Keanu terkekeh pelan. "Tadi di kelas, aku juga kena," ujarnya pada akhirnya.

Anindia yang tadinya menunduk, langsung mengangkat wajahnya sedikit. "Kena gimana maksudnya, Mas?"

Keanu mengangkat bahu ringan, "Ditegur dosen."

Alis Anindia langsung terangkat, "Hah, kok bisa sih?"

Keanu tersenyum miring, jelas tidak merasa bersalah. "Ya... Lagi melamun dikit," ujarnya santai. "Terus dipanggil, disuruh jawab."

Anindia menatapnya, antara kaget dan tidak percaya. "Terus gimana? Bisa?"

Keanu diam sejenak, lalu menghembuskan nafas pelan, pura-pura serius. Tapi, jawaban yang keluar justru di luar prediksi.

"Gak bisa jawab," ujar Keanu.

Anindia langsung menutup mulutnya, menahan tawa yang hampir lepas. "Ya ampun... Serius?" Ujarnya, suaranya campuran antara geli dan juga heran.

Keanu mengangguk kecil, masih dengan ekspresi santai. "Serius, sayang." Ia sedikit mendekat lagi, suaranya menurun sedikit. "Gimana mau fokus, kepikiran kamu terus."

Anindia langsung menyenggol pelan lengan Keanu, tidak terlalu keras tapi cukup untuk menunjukkan protesnya. "Ih, sempat-sempatnya," ujarnya sembari menahan senyum. "Orang lagi serius juga."

Keanu terkekeh pelan, tidak merasa bersalah sedikitpun. "Ya kan gak salah," ujarnya.

Anindia menggeleng kecil, tapi kali ini sudut bibirnya tidak bisa ditahan lagi. "Kamu itu ya, Mas. Bisa aja."

Keanu terkekeh pelan, bahunya bergetar sedikit karena menahan tawa. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih gelas di hadapannya, lalu menyeruput minumannya perlahan.

Tatapannya sesekali masih tertuju pada Anindia, seolah tidak pernah selesai memperhatikannya. Sementara Anindia yang menyadari itu langsung memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan rambutnya.

"Kenapa dilihatin terus, sih?" Gumam Anindia pada dirinya sendiri.

Keanu menurunkan gelasnya perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. "Gak kenapa-napa," jawab Keanu ringan yang jelas mendengar gumaman itu. "Cuma pengen aja."

Keanu meletakkan gelas itu kembali di atas meja. Jemarinya masih bertumpu santai pada gelas itu, sementara tatapannya kembali naik ke arah Anindia. Senyumnya berubah sedikit tengil, khas dirinya.

"Lagian sih," ucap Keanu santai.

Anindia yang tadi berusaha menghindar, tanpa sadar kembali menoleh. Keanu menatapnya lekat, tanpa ragu.

"Yang namanya Anindia Hastari itu bikin jatuh cinta setiap hari," lanjut Keanu pelan.

Anindia langsung terdiam, benar-benar terdiam. Wajahnya bersemu langsung merah. "Mas..." Ujar Anindia, kehabisan kata-kata.

Sementara Keanu hanya menyandarkan tubuhnya lebih santai, luas dengan reaksi yang ia dapatkan. Sudut bibirnya masih terangkat, jelas menikmati momen itu.

Anindia akhirnya mengalihkan pandangan, mencoba menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup tidak karuan. Namun, bukannya diam, ia justru mendengus kecil.

"Ih, ngomongnya sekarang enak," ujar Anindia dengan nada suara yang kembali seperti biasanya. "Dulu bawaannya kesal mulu."

Keanu mengangkat alis, tertarik dengan arah pembicaraan itu. Anindia akhirnya menoleh, kali ini dengan ekspresi setengah kesal juga setengah malu mengingatnya.

"Siapa yang dulu bilang aku berisik?" Ujar Anindia sembari menunjuk dirinya sendiri. "Terus bawel, cerewet... Apa lagi ya?"

Anindia mengernyit, mencoba mengingat. "Oh iya," lanjutnya cepat. "Apa-apa selalu salah dimata kamu. Dikira aku selalu cari masalah terus."

Nada suaranya terdengar seperti mengeluh, tapi tidak benar-benar marah. Lebih seperti mengenang masa lalu yang sekarang terasa lucu.

Sementara Keanu hanya diam, memperhatikan Anindia dengan senyum yang kembali muncul.

"Padahal kamu juga sama aja," tambah Anindia, sedikit melirik tajam. "Nyebelin, suka nyolot, gak mau ngalah."

Anindia menghela nafas kecil, lalu menggeleng pelan. Sudut bibirnya terangkat tanpa bisa ia tahan. "Sekarang malah sok romantis."

Keanu langsung tertawa mendengar itu semua. Ia menggeleng singkat, tidak menyangkal sedikitpun.

"Iya-iya, dulu emang nyebelin," ujar Keanu mengakui, masih dengan sisa tawa di wajahnya.

Anindia tidak protes apa-apa lagi. Ia hanya diam memperhatikan. Keanu kemudian sedikit merapikan posisinya, tubuhnya condong ke depan lagi. Tatapannya kembali melembut, tidak lagi se-tengil sebelumnya.

"Yang lalu biarlah berlalu," ujar Keanu pelan. "Yang penting sekarang, aku akan selalu ada buat kamu. Gak peduli apapun yang terjadi."

Anindia terdiam lagi. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena hatinya kembali dibuat penuh begitu saja. Ia menunduk sedikit, seutas senyum tipis terukir di bibirnya.

Akhirnya, Anindia berdehem pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tangannya tanpa sadar meremas ujung bajunya. Sementara pandangannya benar-benar turun, tidak berani menatap Keanu terlalu lama.

Suasana tiba-tiba terasa terlalu hangat. Dan jujur saja, hal itu yang membuat Anindia salah tingkah.

"Aku..." Anindia membuka suara, sedikit terbata.

Keanu menatapnya, menunggu apa yang ingin dikatakan oleh istrinya itu. Anindia sendiri cepat-cepat berdiri dari kursinya, hampir terlalu cepat. "Aku ke toilet dulu ya, Mas," ujarnya buru-buru, mencari alasan.

Keanu mengangkat sebelah alisnya, matanya menunjukkan senyum yang tertahan. "Sekarang?" Tanyanya santai, sedikit menggoda.

Anindia langsung mengangguk cepat, terlalu cepat untuk terlihat normal. "Iya Mas, sekarang."

Anindia bahkan tidak menunggu respon lagi. Tangannya langsung merapikan tas kecilnya, lalu berbalik begitu saja.

Namun, sebelum benar-benar pergi, ia sempat melirik ke arah Keanu. Dan itu kesalahan, karena Keanu masih menatapnya dengan ekspresi yang masih sama, tenang tapi penuh arti.

Anindia langsung memalingkan wajahnya lagi. "Pokoknya itu... Ah, Sebentar ya, Mas!" Ujarnya sembari berjalan terburu-buru menjauh dari meja.

Keanu akhirnya tidak bisa menahan tawanya. Ia menggeleng pelan, menyandarkan kembali punggungnya ke kursi.

"Salting," gumam Keanu pelan pada dirinya sendiri, jelas menikmati setiap detik reaksi istrinya.

Langkah Anindia masih sedikit terburu-buru saat ia memasuki area toilet. Begitu pintu tertutup di belakangnya, semuanya terasa jauh lebih tenang dari riuhnya kantin tadi.

Ia langsung menuju wastafel, menyalakan keran tanpa banyak pikir. Air dingin mengalir, dan tanpa ragu ia membasuh kedua tangannya. Bahkan, beberapa tetes air sengaja ia percikkan ke wajahnya.

Anindia menghela nafas panjang. "Duh... Kenapa jadi gini, sih?" Gumamnya pelan, menatap bayangannya sendiri di depan cermin.

Pipinya masih terlihat sedikit merona. Ia menempelkan ujung jarinya ke pipi, seolah memastikan sendiri. Lalu, ia menggeleng kecil, sedikit tidak percaya.

"Padahal udah sering," lanjut Anindia lirih. "Tapi tetap aja."

Ia berhenti sejenak, ingatan tentang Keanu tadi kembali terlintas. Anindia menutup keran perlahan, lalu bertumpu ringan di sisi wastafel. Tatapannya kembali ke cermin, kali ini lebih lama.

"Kamu kenapa sih, Nindi?" Gumamnya, diselingi dengan senyum kecil yang muncul.

Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantung yang belum sepenuhnya tenang.

Beberapa detik, ia hanya diam. Membiarkan dirinya menikmati sekaligus menenangkan perasaan yang berantakan karena satu orang. Akhirnya, Anindia menarik nafas dalam, menghembusnya perlahan.

"Oke, biasa aja, Nindi." Bisiknya pelan, meyakinkan dirinya sendiri.

Ia merapikan rambutnya sedikit, memastikan penampilannya kembali rapi. Setelahnya, ia berdiri tegak, menatap dirinya sekali lagi di depan cermin.

"Balik lagi, sebelum dia makin tengil," ujarnya.

Anindia melangkah keluar dari toilet dengan langkah yang jauh lebih tenang. Ekspresinya kembali seperti biasa, meski wajahnya masih terasa hangat. Kakinya kembali melangkah menuju ke arah kantin.

Dari kejauhan, meja yang tadi mereka tempati sudah terlihat. Keanu masih di sana, duduk santai. Satu tangannya memegang gelas, sesekali menyeruputnya perlahan. Sementara tangan satunya, sibuk dengan ponselnya.

Namun, langkah Anindia sedikit melambat. Ada seseorang di dekat meja itu, seorang mahasiswi berdiri di sampingnya.

Penampilannya rapi, dengan senyum yang terlihat percaya diri. Gadis itu mencondongkan sedikit tubuhnya, mencoba menarik perhatian.

Anindia tidak langsung mendekat. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari sana, memperhatikan tanpa sadar.

Keanu masih fokus pada layar ponselnya. Sedangkan gadis itu akhirnya membuka suara.

"Lagi sendirian, ya?" Ujar gadis itu ringan, dengan seutas senyum. Lalu, ia menarik kursi di depan Keanu, bersiap untuk duduk.

"Boleh duduk?"

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!