Jangan lupa follow Ig noer_azzura16 for visualnya ya.
Diandra menjadi sugar baby seorang pria dingin selama tiga tahun lebih ketika dia berada di luar negeri. Selain nama dan nomor ponselnya, Diandra sama sekali tidak tahu apapun tentang pria itu.
Namun, tiba-tiba ayahnya menyuruhnya kembali, setelah mengasingkannya selama 7 tahun, ketika adik tirinya akan bertunangan.
Diandra yang memang punya dendam pada ayahnya dan keluarga baru ayahnya itu. Memutuskan kembali, ada dendam yang harus dia tuntaskan.
Namun, siapa sangka. Jika tunangan sang adik tiri, ternyata adalah seseorang yang mengenal Diandra luar dan dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08- MCI 08
Raez menendang daun pintu sampai tertutup dengan keras. Pintu otomatis, yang kalau tertutup rapat, maka akan langsung secara otomatis terkunci.
"Heiii, tidak pernah dengar ya kalau di negara ini masuk ke rumah orang lain tanpa ijin, kamu bisa dilaporkan ke petu.... emppttt"
Mata Diandra terbelalak, pria itu mendorongnya sampai mentok menabrak dinding, bahkan saat Diandra sedang mencoba menjelaskan, kalau masuk tanpa ijin itu akan di hukum. Pria itu malah menciumnya dengan cepat, sangat kuat, dan kasar.
'Brengsekkk! apa-apaan dia. Bukannya hubungan kita sudah selesai. Aku tidak bisa membiarkan dia seenaknya seperti ini!' batin Diandra yang langsung menggigitt bibir bawah Raez.
"Kau..."
Raez melepaskan ciumannya, tapi tidak dengan cekalan kedua tangan Diandra di atas kepala wanita itu.
"Apa kamu seekor anjingg?" pekik Raez kesal.
Diandra mendengus kesal, tapi tatapan puasnya tidak bisa dia sembunyikan. Dia melihat bibir bawah Raez mengeluarkan sedikit darahh.
"Aku bisa jadi seperti itu kalau kamu main cium sembarangan lagi! bukan hanya bibirmu yang akan aku gigit, aku akan gigit leher dan dadamu, supaya calon istrimu yang baik itu melihatnya!" pekik Diandra.
Memangnya takut apa? dia sedang berada di rumahnya sendiri. Dia dulu menurut sekali pada Raez, karena Raez adalah pohon uangnya. Kenyataannya sekarang, pria itu adalah calon suami musuh besarnya. Kenapa dia harus bersikap manis seperti dulu.
"Tidak disangka, hanya tidak bertemu tiga hari, kucing penurutku sekarang berubah menjadi harimau yang sangat liar!"
Diandra merasa tersinggung dibilang kucing penurut oleh pria yang tak kunjung melepaskan tangannya itu.
'Kucing? dia bilang aku kucing? kucing kepalamu! baiklah, kalau tanganku ini lepas, aku perlihatkan bagaimana seekor kucing mencakar seluruh tubuhmu!' pekik Diandra dalam hati.
Raez menatap mata Diandra yang benar-benar berbeda, tak seperti tatapan mata seseorang yang tak berdaya dan butuh perlindungan darinya, sama seperti ketika mereka masih di Madrid.
"Aku penasaran, bagaimana kalau sampai seorang Romi Kusuma, mengetahui anak sulungnya menjadi sugar baby di luar negeri selama tiga tahun?"
Alih-alih takut, Diandra malah terkekeh.
"Kamu mengancam ku? katakan saja pada pria tua itu. Dia tidak akan perduli!"
Raez menatap Diandra. Tatapannya berubah, tadinya sangat tengil, tapi begitu dia membicarakan ayahnya, tatapannya berubah menjadi sedikit sendu.
"Yang harusnya takut itu kamu! bagaimana kalau adik tiriku, melihat calon suaminya mencium kakak tirinya?" tanya Diandra yang memasang kembali wajah tengil itu.
"Kamu yang mengempeskan ban mobilku kan? kenapa? mencoba cari perhatian?" tanya Raez.
'Ya ampun, percaya diri sekali dia!' batin Diandra.
"Cari perhatian? cari perhatian siapa? kamu? yang benar saja? Untuk apa aku harus cari perhatianmu, bagian mana dari tubuhmu itu yang belum aku lihat dan sentuh?" tanya Diandra tanpa ragu.
Kesabaran Raez sungguh teruji. Bagaimana bisa ada seorang wanita yang mulutnya asal bunyi tidak tertolong seperti itu?
"Kamu, benar-benar..."
"Apa? lepaskan aku? jika tidak, aku akan teriak, supaya warga perumahan ini datang kemari. Aku tidak masalah, kalau harus digerebekk bersama kamu. Paling kita diarak keliling kampung dan dinikahkan..."
"Kamu, benar-benar tidak tahu malu!" sela Raez melepaskan tangan Diandra.
Diandra tersenyum penuh kemenangan. Raez benar-benar terlihat marah. Garis rahang pria tampan itu mengeras, dan terlihat jelas.
Ketika Raez melepaskannya, Diandra jutsru mendekat ke arah Raez. Menggerakkan tangannya perlahan, lebih tepatnya jemarinya di dada pria tampan itu.
"Kenapa? hanya ingin menikah dengan adik tiriku yang baik itu? benar-benar tidak akan menyesal...!"
"Agkhh!"
Diandra memekik sedikit, karena pria yang dia goda itu mencengkeram pergelangan tangannya lagi. Kali ini lebih keras.
"Jangan main-main denganku Diandra. Kamu tidak tahu siapa aku? kamu tidak akan bisa menanggung akibatnya!"
Raez menghentakkan tangan Diandra, membuat wanita itu terhuyung ke belakang.
"Permisi tuan Raez, eh salah, tuan Dave Mahendra yang terhormat. Tolong perhatikan baik-baik ya, yang datang ke rumahku itu anda! kenapa anda bertingkah seolah aku menganggu mu? aneh!" kesal Diandra melipat kedua tangannya di depan dada.
Raez menghela nafasnya panjang. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet. Pria itu meraih satu kartu hitam di tangannya, dan meraih tangan Diandra.
"Beli baju yang pantas! jangan muncul di depan keluargaku dengan pakaian seperti ini! paham!"
Diandra masih diam, dia hanya menatap kartu itu dan Raez bergantian. Tapi meski kartu itu diletakkan Raez di telapak tangannya. Diandra tidak menggenggamnya.
"Ini, bayaran ciuman tadi?" tanya Diandra.
Raez melebarkan matanya. Dia benar-benar belum pernah bertemu dengan wanita yang komersialnya luar biasa seperti Diandra.
"Apa kamu pikir, ciuman mu semahal itu?" tanya Raez.
Diandra mengernyitkan keningnya. Bukankah pria itu sedang mengejeknya.
Tapi, Raez menarik pinggang Diandra dan menciumnya lagi.
Diandra berusaha mendorong Raez, tapi ukuran tubuh mereka memang tidak sebanding.
Setelah beberapa menit, Raez melepaskan Diandra.
"Sekarang baru sepadan. Ingat untuk tidak macam-macam lagi, Diandra! aku tidak main-main!"
Pria itu pergi begitu saja setelah membuat bibir Diandra basah.
Pintu itu tertutup lagi dengan kencang. Diandra mendengus kesal, tapi pria itu meninggalkan kartunya di lantai. Diandra memungut kartu itu, setidaknya melihat kartu itu rasa kesalnya sedikit berkurang. Persetann dengan harga diri! Diandra sudah lama menelan mentah-mentah harga dirinya sendiri sejak lama. Sejak dia hampir mati kelaparan dan tak punya tempat tinggal di luar negeri.
**
Keesokan harinya, Celine yang mendengar cerita Diandra, kalau semalam mantan sugar Daddy itu datang dan memberinya kartu, setelah menciumnya. Dan hal itu mengubah Celine merasa sedikit heran.
"Keningmu kenapa?" tanya Diandra melihat kening Celine berkerut.
"Di, menurutmu aneh tidak sih pria itu? kalau dia marah, ya marah saja lah. Kenapa sampai bisa memberimu kartu? mana kartu hitam lagi. Kamu banting di lantai, bunyinya beda, Di!" kata Celine yang merasa aneh.
"Ya mungkin saja dia kebanyakan uang, bingung bagaimana mau menghabiskannya. Lagipula semua aset kita asalnya dari kantong pria itu! dia sangat kaya!" kata Diandra.
Celine kembali berpikir. Wanita itu lulusan jurusan bisnis, tentu dia akan sangat memperhitungkan untung dan rugi.
"Diandra, coba kamu pikirkan ini? dia sangat kaya, dan kamu akan biarkan saja pria yang sangat kaya itu, menikah dengan adik tirimu?" tanya Celine membuat Diandra terdiam.
***
Bersambung...
Ternyata Raez sudah tau jika Diandra berbohong soal hamil palsu.. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ucapan Diandra bikin ngakak.. Raez lagi esmosi, bisa² nya di ngelece..🤣🤣🤣🤣🤣
Takdir mereka di tangan author, aku mah pasrah aja bacanya 🤣