NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Cemburu

Suasana di lobi gedung pertemuan itu terasa hidup. Harum kopi dari stan minuman di sudut ruangan bercampur dengan aroma buku-buku baru yang masih terbungkus plastik. Dimas berdiri di balik meja panjang, memegang bolpen perak dengan gaya tenang, sementara antrean pembaca yang didominasi mahasiswa mulai mengular.

Dinara duduk agak jauh, di sebuah kursi empuk dekat pilar besar. Ia sengaja tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang menjadi pusat perhatian. Dengan hijab berwarna abu-abu yang tersampul rapi, ia sesekali berpura-pura menekuni buku hukumnya, namun matanya tidak bisa berbohong. Ia terus memantau setiap interaksi yang terjadi di meja tanda tangan itu.

Awalnya semua berjalan normal. Dimas memberikan senyum ramah, membubuhkan tanda tangan, dan sesekali melempar candaan singkat yang membuat pembacanya tertawa. Hingga sampailah giliran seorang mahasiswi dengan rambut panjang tergerai dan gaya bicara yang—menurut penilaian instan Dinara—terlalu dibuat-buat.

"Aduh, Kak Dimas... aku tuh baca novel Kakak sampai nangis semalaman, lho. Kok bisa sih bikin karakter cowok sepeka itu? Jangan-jangan Kakak sendiri aslinya romantis banget ya?" Gadis itu bicara sambil mencondongkan tubuhnya ke atas meja, jaraknya hanya terpaut jengkal dari wajah Dimas.

Dimas tertawa kecil, suara tawa yang biasanya Dinara sukai, tapi kali ini terdengar sangat mengganggu di telinganya. "Ah, itu cuma imajinasi saja. Kalau aslinya romantis atau enggak, itu rahasia perusahaan."

"Masa sih? Boleh minta nomor telepon nggak, Kak? Buat konsultasi... eh, maksudnya buat nanya-nanya soal teknik kepenulisan gitu," lanjut gadis itu sambil memberikan kerlingan yang sangat jelas maksudnya.

Dinara merasakan dadanya berdenyut aneh. Ada rasa panas yang merambat dari perut hingga ke lehernya. Ia menutup buku hukumnya dengan suara buk yang cukup keras, meski tak terdengar sampai ke depan. Iki bocah opo gak ngerti lek wong ganteng iki wis ono sing nduwe? (Ini anak apa tidak tahu kalau orang ganteng ini sudah ada yang punya?), batin Dinara geram.

Ia berdiri, merapikan gamisnya, dan berjalan mendekat dengan langkah yang tenang namun tegas. Sosok "singa" yang biasanya tersembunyi di balik kelembutan seorang calon hakim mulai menampakkan taringnya.

Dimas melihat Dinara mendekat. Ia sebenarnya sudah menyadari perubahan raut wajah istrinya dari kejauhan. Alih-alih merasa takut, Dimas justru merasa sangat terhibur. Ia sengaja tidak langsung memotong pembicaraan dengan mahasiswi itu, ingin melihat sampai di mana batas kesabaran "asisten ahli hukumnya" ini.

"Permisi, Mas," suara Dinara memecah suasana. Ia berdiri tepat di samping Dimas, meletakkan tangannya di bahu suaminya dengan pose yang sangat posesif.

Mahasiswi itu tertegun, menatap Dinara dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Eh, ini siapa ya, Kak Dimas? Asistennya?"

Dimas baru saja mau menjawab, namun Dinara lebih cepat.

"Saya editor pribadinya. Luar dalam," jawab Dinara dengan senyum yang sangat manis, namun matanya menatap tajam. "Ada yang bisa dibantu? Untuk urusan konsultasi kepenulisan, semua jadwal harus lewat saya. Dan maaf, Mas Dimas tidak menerima konsultasi lewat telepon pribadi, apalagi di luar jam kerja."

Mahasiswi itu tampak kikuk, namun ia belum menyerah. Ia menyodorkan novelnya ke arah Dimas. "Oh... nggih, Mbak. Kalau gitu Kak Dimas, minta tanda tangannya di halaman depan ya. Kasih pesan khusus dong buat aku, namanya Siska."

Dimas meraih bolpennya, namun sebelum ujung bolpen menyentuh kertas, Dinara sudah lebih dulu mengambil alih buku tersebut.

"Biar saya saja yang tanda tangan," ujar Dinara tenang.

"Lho, kan aku mintanya Kak Dimas?" protes gadis bernama Siska itu.

Dinara mengeluarkan bolpen dari saku tasnya sendiri. Dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas—tipe tulisan orang yang terbiasa mencatat risalah sidang—ia menuliskan sesuatu di halaman pertama buku itu.

“Untuk Siska. Semoga setelah baca buku ini, kamu jadi lebih rajin belajar dan ingat kalau mencari referensi itu penting, tapi mencari milik orang lain itu dilarang undang-undang. Tertanda, Istri Penulis.”

Dinara membubuhkan tanda tangannya di bawah tulisan itu, lalu mengembalikan buku tersebut kepada si mahasiswi yang kini wajahnya pucat pasi. Tanpa kata lagi, mahasiswi itu menyambar bukunya dan segera menghilang di balik kerumunan.

Dimas berusaha keras menahan tawa sampai bahunya berguncang. Setelah area meja sedikit sepi, ia menoleh ke arah Dinara yang masih berdiri tegak dengan sisa-sisa aura "singanya".

"Wah... Mas baru tahu kalau istri Mas ini punya bakat jadi jaksa penuntut umum di lapangan," goda Dimas sambil menarik ujung jilbab Dinara pelan. "Cemburu ya, Sayang?"

"Gak usah geer, Mas. Dinara cuma menegakkan keadilan. Kasihan kan kalau dia berharap sama Mas, padahal Mas itu sudah 'disita' oleh negara lewat akad nikah," jawab Dinara, meski pipinya mulai merona merah karena sadar aksinya tadi cukup nekat.

"Halah, ngakua ae (mengaku saja). Pake bawa-bawa undang-undang segala lagi di bukunya. Kamu tadi itu kelihatan kayak singa lapar, Dek. Mas jadi ngeri, tapi kok ya malah tambah sayang." Dimas meraih tangan Dinara di bawah meja, meremasnya erat.

"Mas sih, kenapa diladeni? Pakai ketawa-ketawa segala lagi," keluh Dinara pelan, kini nada bicaranya kembali lembut, rasa panas di dadanya sudah menguap digantikan rasa malu.

"Lho, Mas kan harus ramah sama pembaca. Tapi Mas seneng kok. Ternyata bener kata orang, kalau istri sudah cemburu, itu tandanya cintanya sudah nggak bisa diukur pakai meteran kain," Dimas mengerling nakal. "Nanti di rumah, Mas mau dong ditanda tangani juga. Di sini," Dimas menunjuk dadanya sendiri.

"Mas Dimas! Ojo ngawur (Jangan sembarangan), ini tempat umum!" bisik Dinara setengah gemas.

"Hahaha, nggih nggih. Habis ini kita pulang ya. Mas sudah capek tanda tangan. Mas mau lihat tanda tangan 'Istri Penulis' yang tadi saja di rumah, sambil nggak pakai hijab biar Mas bisa lihat rambut singanya yang cantik," bisik Dimas tepat di telinga Dinara.

Dinara hanya bisa menunduk, menyembunyikan senyum bahagianya. Ia menyadari satu hal; ia memang cemburu, dan itu karena ia sudah benar-benar jatuh ke dalam pesona suaminya sendiri. Perasaan yang dulu ia ragukan saat masih di Blitar, kini telah mekar sepenuhnya di Surabaya.

"Ayo, Mas. Pulang dhisik, terus kita mampir shalat Maghrib di masjid depan. Dinara mau doa biar Mas nggak diganggu mahasiswi lagi," ajak Dinara.

"Siap, Sayang. Doanya yang kencang ya, biar Mas makin setia," sahut Dimas sambil mulai membereskan peralatannya.

Mereka berjalan menuju parkiran, menuju SUV hitam yang setia menemani petualangan mereka. Di dalam mobil, kemacetan Surabaya tidak lagi terasa menjengkelkan bagi Dinara. Ia merasa menang. Bukan hanya menang dari mahasiswi tadi, tapi menang karena ia tahu, hati Dimas telah terkunci rapat untuknya—dan kuncinya telah ia simpan di tempat yang paling aman.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!